Terbit: 11 November 2022
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: dr. Sheila Amabel

Skizofrenia adalah gangguan psikologis yang bisa mengubah cara seseorang berpikir, merasa, berhubungan dengan orang lain, dan mengartikan suatu peristiwa. Kenali lebih jauh seputar penyakit ini, mulai dari gejala hingga pengobatannya dalam ulasan berikut.

Skizofrenia: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatan

Gejala Skizofrenia

Gejala yang dapat muncul bisa bervariasi, baik jenis maupun tingkat keparahannya.

Pada pria, gejala biasanya akan tampak di awal hingga pertengahan usia 20-an. Sementara pada wanita, biasanya gejala akan muncul pada akhir usia 20-an.

Di sisi lain, kondisi ini jarang menimpa anak-anak dan orang dewasa berusia lebih dari 45 tahun.

1. Gejala pada Orang Dewasa

Orang dewasa dengan gangguan mental ini umumnya mengalami delusi (waham), halusinasi, bicara tidak beraturan, dan menunjukkan perilaku tidak normal.

Secara umum, berikut ini adalah beberapa gejala skizofrenia:

  • Delusi: Orang dengan kondisi ini memiliki keyakinan palsu yang tidak benar. Sebagai contoh, ia berpikir sedang dilecehkan, padahal sebenarnya tidak.
  • Halusinasi: Kondisi ini terjadi ketika seseorang melihat atau mendengar sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi. Kondisi ini biasanya terjadi pada berbagai indra, tapi paling sering menimpa indra pendengaran.
  • Komunikasi tidak efektif: Pemikiran dan cara bicara orang dengan skizofrenia biasanya tidak beraturan sehingga penderita sulit untuk berinteraksi dengan orang lain.
  • Perilaku motorik yang tidak normal: Layaknya anak kecil, seseorang bisa menunjukkan perilaku yang tidak terduga sehingga sulit untuk melakukan tugas-tugas tertentu, bahkan tugas yang mudah sekalipun.
  • Gejala negatif: Penderita akan mengalami penurunan fungsi secara normal dan tampak kurang merawat diri, kurang menunjukkan emosi, berbicara dengan nada monoton, dan hilang minat.

2. Gejala pada Remaja

Tanda penyakit skizofrenia pada remaja umumnya hampir sama dengan orang dewasa. Namun, pada remaja biasanya akan lebih sulit dideteksi karena gejala awal menyerupai gejala yang umum terjadi pada perkembangan khas di masa remaja, seperti:

  • Menarik diri dari lingkungan.
  • Prestasi di sekolah menurun.
  • Kesulitan tidur.
  • Suasana hati yang buruk.
  • Kurang motivasi.

Baca JugaMengenali Pyromania, Gangguan Mental yang Terobsesi Bermain Api

Penyebab Skizofrenia

Sampai saat ini, belum diketahui apa penyebab pasti kondisi ini. Namun, para ahli menduga jika faktor genetik, gelombang kimia di otak, dan lingkungan berkontribusi pada penyakit ini.

Hanya saja, terdapat berbagai faktor risiko yang meningkatkan seseorang mengalami kondisi ini, di antaranya:

1. Riwayat Keturunan

Menurut penelitian, bila ada keluarga yang mengidap skizofrenia, kemungkinan kondisi ini diturunkan bisa mencapai 80 persen. 

Jika salah satu orang tua menderita skizofrenia, ada kemungkinan sebesar 13 persen Anda mengalami kondisi ini. Sementara itu, bila kedua orang tua mengidapnya, risiko bisa meningkat hingga 20 persen.

Kendati demikian, jumlah persentase ini akan bervariasi, mengingat ada berbagai faktor lain yang ikut berkontribusi terhadap kemunculan gangguan mental ini.

2. Masalah pada Otak

Orang dengan skizofrenia memiliki pengaturan zat kimia tertentu (neurotransmitter) di dalam otak yang bisa mengganggu perjalanan sinyal kelistrikan di dalam otak. Inilah yang akhirnya dapat mengganggu pola pikir dan perilaku penderita.

Penelitian lain mengungkapkan bahwa orang dengan kondisi ini memiliki struktur dan fungsi otak yang abnormal. Namun, kelainan ini tidak hanya terjadi pada semua orang yang menderita skizofrenia, melainkan bisa terjadi pada orang yang tidak mengidapnya.

3. Lingkungan

Menurut penelitian, kombinasi antara faktor genetik dengan lingkungan dapat menyebabkan terjadinya penyakit ini.

Faktor lingkungan yang bisa mencetuskan terjadinya skizofrenia pada orang yang rentan mengalaminya, antara lain:

  • Infeksi virus.
  • Paparan zat beracun.
  • Tingkat stres yang tinggi.

4. Pengaruh Sosial

Beberapa faktor sosial ikut berkontribusi terhadap skizofrenia, seperti:

  • Tinggal di lingkungan yang padat penduduk.
  • Anak-anak yang terlahir dari wanita dengan riwayat kelaparan selama tiga bulan di awal kehamilan.
  • Lingkungan keluarga dengan skizofrenia.

5. Komplikasi Kehamilan dan Persalinan

Kekurangan nutrisi, preeklampsia, diabetes, paparan racun dan virus,  serta perdarahan dalam masa kehamilan diduga berisiko menyebabkan skizofrenia pada anak.

Selain itu, komplikasi saat persalinan juga berisiko menyebabkan skizofrenia pada anak. Sebagai contoh, kekurangan oksigen saat dilahirkan (asfiksia), lahir prematur, dan berat badan lahir rendah.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa komplikasi kehamilan dapat meningkatkan risiko anak mengalaminya di kemudian hari. Jumlah peningkatan risikonya bisa mencapai lima kali lipat daripada orang yang memiliki risiko tinggi mengalaminya.

6. Pengaruh Obat-obatan

Faktor risiko lainnya yang meningkatkan kejadian skizofrenia adalah penyalahgunaan obat-obatan terlarang, terutama ganja dan metamfetamin.

Menurut penelitian, obat-obatan tersebut memiliki peran etiologis menyebabkan kondisi ini.

Namun, ada berbagai faktor yang meningkatkan kerentanan efek obat, termasuk usia saat menggunakan obat hingga riwayat keluarga.

Terkait hal itu, penelitian lain masih diperlukan guna membuktikan efek obat-obatan terhadap kejadian skizofrenia.

Baca Juga10 Cara Mendampingi Pasangan dengan Gangguan Kesehatan Mental

Diagnosis Skizofrenia

Sebelum mendiagnosis, dokter akan melakukan pemeriksaan medis secara menyeluruh. Pasalnya, gejala yang ditunjukkan bisa saja muncul karena penyalahgunaan zat tertentu atau penyakit neurologis lainnya yang mirip dengan skizofrenia.

Dokter juga akan melakukan tes urine atau tes darah untuk memastikan adanya penyalahgunaan obat.

Selain itu, tes penunjang juga kemungkinan akan dilakukan untuk menegakkan diagnosis seperti pemeriksaan MRI (magnetic resonance imaging) atau computed tomography (CT scan). Tes pemindaian ini dilakukan untuk mendeteksi adanya masalah lain pada otak, misalnya tumor otak.

Jenis-jenis Skizofrenia

Berikut ini adalah beberapa tipe skizofrenia yang bisa terjadi, di antaranya:

1. Skizofrenia Paranoid

Jenis ini paling umum ditemui. Meski begitu, gejalanya tidak langsung kentara, melainkan akan berkembang di kemudian hari.

Orang dengan kondisi ini biasanya akan mengalami halusinasi dan delusi, tetapi tidak mengalami gangguan emosi dan komunikasi.

2. Skizofrenia Katonik

Berbanding terbalik dengan skizofrenia paranoid, tipe ini paling jarang ditemui. Penderita umumya akan mengalami gerakan yang tidak biasa: bisa terbatas ataupun tiba-tiba.

3. Skizofrenia Residual

Tipe ini bisa terjadi pada orang-orang dengan riwayat psikosis tertentu. Gejala yang bisa dialami berupa gejala negatif, misalnya kebersihan yang buruk, ingatan buruk, gerakan lambat, dan kurang berkonsentrasi.

4. Skizofrenia Hebefrenik

Gejala dari tipe ini biasanya akan mulai muncul pada rentang usia 15-25 tahun. Beberapa gejala yang akan dialami, antara lain delusi dan halusinasi yang berlangsung dalam waktu singkat, serta pola bicara yang tidak teratur.

5. Skizofrenia Tidak Terdiferensiasi

Ini adalah kondisi ketika seseorang menunjukkan sejumlah gejala skizofrenia paranoid, hebefrenik, atau katatonik.

6. Skizofrenia Sederhana

Orang yang mengalaminya bisa mengalami gejala negatif, berupa gerakan lambat, kurang konsentrasi, kebersihan yang buruk, dan penurunan daya ingat

Selain itu, penderita juga bisa menunjukkan gejala halusinasi, delusi, dan pemikiran tidak teratur. Namun, gejala ini sangat jarang dialami.

7. Skizofrenia Tidak Spesifik

Kondisi ini terjadi ketika seseorang mengalami gejala-gejala skizofrenia yang tidak sesuai dengan berbagai kategori gejala yang sudah disebutkan sebelumnya.

Baca JugaMengenal Distress serta Dampaknya pada Kesehatan Mental dan Fisik

Pengobatan Skizofrenia

Orang dengan gangguan mental ini membutuhkan perawatan seumur hidup. Namun, jika perawatan dilakukan sedini mungkin komplikasi serius bisa dicegah.

Berikut ini adalah beberapa perawatan yang dapat dilakukan, di antaranya:

1. Obat-obatan

Obat antipsikotik dapat membantu mengurangi gejala sekaligus mengurangi frekuensi kemunculannya. Obat-obatan ini tersedia dalam sediaan pil, cairan, dan injeksi.

Jika obat antipsikotik tidak menunjukkan hasil yang diharapkan, dokter mungkin akan meresepkan clozapine.

2. Perawatan Psikososial

Perawatan ini biasanya dibarengi dengan penggunaan obat-obatan antipsikotik. Contoh jenis perawatan ini adalah terapi perilaku kognitif (CBT).

Demikianlah penjelasan seputar skizofrenia, mulai dari gejala hingga pengobatan yang dapat diberikan. Bila ada orang terdekat yang mengalami kondisi ini, segera konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

 

  1. Anonim. 2019. Diagnosis – Schizophrenia. https://www.nhs.uk/mental-health/conditions/schizophrenia/diagnosis/. (Diakses pada 10 November 2022).
  2. Anonim. 2020. What is Schizophrenia? https://www.psychiatry.org/patients-families/schizophrenia/what-is-schizophrenia. (Diakses pada 10 November 2022).
  3. Anonim. 2022. Schizophrenia. https://www.nimh.nih.gov/health/topics/schizophrenia. (Diakses pada 10 November 2022).
  4. Anonim. Types of Schizophrenia. https://mentalhealth-uk.org/help-and-information/conditions/schizophrenia/types-of-schizophrenia/. (Diakses pada 10 November 2022).
  5. Anonim. 2020. Schizophrenia. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/schizophrenia/symptoms-causes/syc-20354443. (Diakses pada 10 November 2022).
  6. Clarke, Jodi. 2022. Causes and Risk Factors of Schizophrenia. https://www.verywellmind.com/what-causes-schizophrenia-2953136. (Diakses pada 10 November 2022).
  7. Gururajan, Anand., dkk. 2012. Drugs of Abuse and Increased Risk of Psychosis Development. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/22833579/. (Diakses pada 10 November 2022).
  8. Janoutová, Jana., dkk. 2016. Epidemiology and Risk Factors of Schizophrenia. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/26994378/. (Diakses pada 10 November 2022).
  9. Lieber, Mark. 2018. Pregnancy Complications Might ‘turn On’ Schizophrenia Genes, Study Says. https://edition.cnn.com/2018/05/30/health/schizophrenia-genes-pregnancy-placenta-study/index.html. (Diakses pada 10 November 2022).


DokterSehat | © 2023 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi