Terbit: 8 November 2022
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: dr. Sheila Amabel

Distress adalah salah satu jenis stres yang memengaruhi cara berpikir, bertindak, dan mengambil keputusan. Bagaimana cara mengatasinya? Apa saja dampak yang ditimbulkannya? Simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.

Mengenal Distress serta Dampaknya pada Kesehatan Mental dan Fisik

Apa itu Distress?

Distress adalah respons stres negatif yang dapat menyebabkan kecemasan, depresi, dan penurunan kinerja. Kondisi ini juga bisa memengaruhi cara seseorang membuat keputusan dan mengambil tindakan tentang kesehatannya.

Seseorang umumnya menggambarkan kondisi ini seperti:

  • Sedih.
  • Takut.
  • Marah.
  • Tidak berdaya.
  • Tidak punya harapan.
  • Lepas kendali.
  • Tidak yakin dengan kepercayaan, tujuan, atau makna hidup.
  • Menarik diri dari lingkungan.
  • Khawatir tentang penyakit.
  • Depresi, cemas, atau panik.

Ciri-ciri Distress

Beberapa tanda distress yang bisa Anda kenali, antara lain:

  • Durasi stres bisa jangka pendek atau jangka panjang.
  • Cenderung merasa tidak terkendali atau kewalahan.
  • Perasaan tidak mampu untuk mencapai tujuan yang diinginkan
  • Kesehatan fisik lebih mudah terpengaruh, terutama jika memiliki penyakit kronis.

Baca Juga: Post Traumatic Stress Disorder (PTSD): Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

Cara Mengatasi Distress

Tekanan psikologis yang tidak terkendali dapat memengaruhi setiap aspek kehidupan seseorang. Namun, terdapat beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk membantu meringankan tekanan tersebut.

Langkah pertama, penting untuk mendapatkan pertolongan medis ketika memiliki gejala stres psikologis. Setelah menemui dokter, ada hal-hal lain yang dapat Anda lakukan untuk membantu meringankan distress, berikut di antaranya:

1. Olahraga

Olahraga dapat mengurangi  stres dan meningkatan suasana hati karena aktivitas tersebut membuat tubuh melepaskan hormon endorfin.

2. Tidur yang Cukup

Meskipun aktivitas fisik adalah sesuatu penting, tidur juga merupakan aktivitas yang sama pentingnya. Kualitas tidur yang baik memberi kesempatan pada tubuh untuk pulih dari aktivitas sehari-hari dan stres, sehingga tenaga Anda akan pulih dengan maksimal.

Selama tidur, tubuh melakukan perbaikan pada jantung, pembuluh darah, mengatur hormon, hingga menjaga sistem kekebalan tubuh berfungsi secara optimal.

3. Diet Sehat

Banyak orang tidak menyadari bahwa diet memiliki pengaruh terhadap suasana hati. Kekurangan nutrisi dapat memengaruhi mood dan energi. Terdapat  nutrisi dalam makanan dikaitkan dengan perbaikan gejala depresi. Saat stres sudah menjadi masalah, efek dari gizi buruk dapat menambah penderitaan.

4. Menulis

Banyak orang merasa bahwa menuliskan pikiran dan perasaan akan membantu melepaskan frustrasi tanpa harus berbicara dengan orang lain. Hal ini bisa menjadi cara yang baik untuk mengakui perasaan dan merenung, tetapi jika gejalanya berulang atau parah, mungkin ada baiknya untuk mengunjungi psikolog atau psikiater.

Perbedaan Distress dan Eustress

Meskipun distress dan eustress termasuk dalam jenis stres, tetapi keduanya memiliki perbedaan. Seperti yang telah diterangkan di atas, distress melibatkan perasaan negatif dan sering kali merupakan pengalaman yang sulit. Sedangkan eustress kebalikannya, yakni stres yang baik atau positif.

Orang dapat mengalami eustress ketika merasa percaya diri dengan kemampuannya untuk memecahkan masalah atau mengatasi situasi yang sulit. Misalnya, saat menghadapi ujian dan ia siap untuk menghadapinya. Setelah itu, ia mungkin merasakan bangga.

Sebagai perbandingan, distress dapat terjadi ketika seseorang merasa tidak mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Misalnya, saat seseorang belum belajar untuk ujian yang akan datang, hal tersebut akan membuatnya merasa cemas atau panik.

 

  1. Anonim. 2020. What Is Distress?. https://www.cancer.org/treatment/treatments-and-side-effects/physical-side-effects/emotional-mood-changes/distress/what-is-distress.html. (Diakses pada 8 November 2022)
  2. Anonim. 2008. Stress and Distress: Definitions. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK4027/. (Diakses pada 8 November 2022)
  3. Villines, Zawn. 2022. Eustress vs. distress: What is the difference?. https://www.medicalnewstoday.com/articles/eustress-vs-distress. (Diakses pada 8 November 2022)
  4. Lindberg, Sara. 2019. Eustress: The Good Stress. https://www.healthline.com/health/eustress. (Diakses pada 8 November 2022)


DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi