Terbit: 18 Mei 2021 | Diperbarui: 9 Juni 2021
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Polimenorea adalah kondisi di mana menstruasi yang lebih sering dan singkat. Hal ini dapat memengaruhi kesuburan wanita yang membuat sulit hamil. Simak penjelasan selengkapnya tentang gejala, penyebab, hingga cara mengobatinya!  

Polimenorea, Masalah Menstruasi yang Membuat Wanita Sulit Hamil!

Apa Itu Polimenorea?

Polimenorea adalah kelainan siklus menstruasi atau lebih tepat disebut abnormal uterine bleeding (AUB). Kondisi ini terjadi di mana wanita mengalami perdarahan uterus dengan interval waktu kurang dari 21 hari. Siklus menstruasi biasanya berlangsung antara 21-35 hari, dengan perdarahan selama 2-6 hari. Volume kehilangan darah rata-rata sebanyak 20-80 mililiter (ml).

Ketika gangguan haid ini terjadi, wanita akan mengalami perdarahan menstruasi yang sangat banyak dari biasanya. Sementara siklus haid yang pendek bisa mengakibatkan pematangan sel telur ataupun stadium sekresi telur dari fase menstruasi akan memendek. Hal ini  akan memengaruhi kesuburan pada wanita.

Gejala Polimenorea

Menstruasi lebih sering dan siklus yang lebih pendek dari biasanya dapat menandakan bahwa wanita mengalami polimenorea. Beberapa wanita mungkin juga menyadari hal ini jika merasa mengalami kesulitan untuk hamil.

Jika Anda memiliki gejala lain yang mungkin menunjukkan kondisi yang mendasarinya, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan diagnosis dan pengobatan yang tepat.

Hubungan antara Polimenorea dengan Kesuburan

Wanita yang mengalami kondisi ini biasanya lebih sulit untuk hamil, tetapi masih memungkinkan untuk hamil. Ada dua alasan yang membuat penderita polimenorea sulit untuk hamil, termasuk:

1. Ovulasi Lebih Cepat

Hal pertama yang menyebabkan penderita kondisi ini sulit hamil adalah ovulasi biasanya terjadi lebih cepat dari yang diharapkan dan bisa tidak teratur, ini terjadi pada waktu yang berbeda setiap bulan. Namun, kebanyakan wanita merasa terbantu untuk melacak ovulasi menggunakan tes ovulasi untuk membantu mencegah masalah ini.

2. Waktu Ovulasi dan Perdarahan Terlalu Pendek

Masalah kedua adalah bahwa waktu antara ovulasi dan perdarahan (fase luteal) sering kali terlalu pendek untuk terjadinya pembuahan dan implantasi. Biasanya pil KB dapat membantu memperpanjang fase luteal, tetapi juga menghentikan terjadinya ovulasi.

Namun, ada obat lain yang bisa diresepkan dokter untuk membantu meningkatkan kesuburan wanita. Ada banyak yang berhasil membantu wanita dengan fase luteal pendek untuk hamil.

Baca Juga: Siklus Menstruasi: Gejala, Fase, Haid Normal dan Tidak, Penyebab, dll

Penyebab Polimenorea

Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan AUB, dan wanita memerlukan pemerksaan medis menyeluruh untuk mencari tahu penyebabnya.

Kemungkinan penyebab polimenorea, meliputi:

  • Masalah anatomi. Contoh masalah anatomi yang mungkin menyebabkan perdarahan menstruasi yang tidak normal, termasuk fibroid, polip, endometriosis, hiperplasia endometrium, atau kanker tertentu (misalnya kanker rahim).
  • Ketidakseimbangan hormon. Berbagai kelainan hormon dapat menyebabkan AUB, termasuk disfungsi kelenjar tiroid, adrenal, atau hipofisis. Sindrom ovarium polikistik atau polycystic ovarian syndrome (PCOS) adalah kelainan yang ditandai dengan hiperandrogenisme, disfungsi ovulasi, dan ovarium polikistik.
  • Gangguan perdarahan. Gangguan perdarahan seperti penyakit von Willebrand atau kondisi sumsum tulang (misalnya leukemia) dapat menyebabkan mudah berdarah dan memar, serta dapat menyebabkan perdarahan uterus yang berlebihan.
  • Pengobatan. Beberapa obat-obatan, seperti steroid, kemoterapi, pengencer darah, atau produk herbal tertentu bisa memengaruhi perdarahan menstruasi.
  • Kontrasepsi. Beberapa metode pengendalian kehamilan (kontrasepsi), termasuk intrauterine device (IUD) atau pil KB, dapat menyebabkan perdarahan abnormal.
  • Infeksi. Beberapa penyakit menular seksual (PMS), seperti klamidia atau kencing nanah,  dapat menyebabkan radang rahim dan pendarahan yang tidak normal.
  • Penyakit sistemik. Beberapa penyakit, seperti penyakit hati atau ginjal, anoreksia, obesitas, atau perubahan berat badan yang cepat bisa menyebabkan perdarahan menstruasi yang tidak normal.

Diagnosis

Wanita dengan siklus menstruasi yang pendek atau terlalu sering sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan diagnosis yang tepat. Dokter akan mengajukan pertanyaan, atau melakukan tes. Bergantung pada gejala lainnya yang menyertai, dokter mungkin merujuk pasien ke ginekolog atau spesialis lain untuk pemeriksaan atau tes lebih lanjut.

Dokter mungkin dapat merekomendasikan tes berikut:

  • Pemeriksaan ultrasonografi (USG).
  • Histeroskopi, yaitu ruang lingkup tipis dan terang yang memeriksa rahim.
  • Biopsi endometrium, yang melibatkan pengambilan sampel dari lapisan rahim.
  • Sonohisterografi, tes untuk menghasilkan gambar ultrasound dari rahim yang berisi cairan.
  • CT scan, merupakan prosedur sinar-X.

Baca Juga: Gangguan Menstruasi: Gejala, Penyebab, Jenis, dan Cara Mengatasi

Cara Mengatasi Polimenorea

Perawatan dan pengobatannya tergantung pada penyebab perdarahan uterus abnormal (AUB). Jika Anda mengalami penyakit menular seksual, mungkin memerlukan pengobatan dengan antibiotik dan jika memiliki pertumbuhan tumor jinak pada rahim, mungkin perlu diangkat.

Penyebab AUB bisa jadi sekunder akibat penyakit di luar sistem reproduksi wanita. Misalnya, jika menderita penyakit tiroid, kondisi tiroid perlu pengobatan untuk meringankan AUB.

Setelah dokter melakukan pemeriksaan menyeluruh dan mengevaluasi tes diagnostik, mungkin ternyata tidak ada yang abnormal tentang peningkatan frekuensi menstruasi Anda. Untuk beberapa wanita, siklus menstruasi yang lebih pendek dari rata-rata adalah normal.

Jika merasa terganggu dengan siklus menstruasi yang sering atau jika perdarahan menyebabkan anemia, dokter mungkin menganjurkan kontrasepsi hormonal kombinasi untuk memperpanjang interval antara perdarahan.

Selain itu, pilihan lainnya menggunakan metode kontrasepsi yang menghentikan sementara aliran menstruasi atau membuat pendarahan sangat ringan, seperti Mirena, Depo-Provera, atau Nexplanon.

Komplikasi

Beberapa wanita dengan polimenorea mungkin akan mengalami anemia akibat pendarahan yang sering dan berat, kondisi di mana darah kekurangan sel darah merah sehat yang cukup.

Gejala anemia adalah kelelahan, kesulitan mengingat dan konsentrasi, kekurangan energi, pusing, kulit pucat, dan sesak napas sementara saat beraktivitas. Segera ke dokter jika Anda marasa mengalami anemia, karena kondisi ini biasanya memerlukan perawatan medis.

Beberapa wanita yang mengalami kembung dan retensi cairan di antara waktu menstruasi. Akibat polimenorea, wanita mengalami menstruasi lebih sering atau mungkin mengalami kenaikan berat badan bagi beberapa wanita.

 

  1. Cornforth, Tracee. 2020. Polymenorrhea and Abnormal Uterine Bleeding. https://www.verywellhealth.com/what-is-polymenorrhea-2721871 (Diakses pada 18 Mei 2021)
  2. Richards, Louisa. 2020. Polymenorrhea: Definition, causes, and treatment. https://www.medicalnewstoday.com/articles/polymenorrhea (Diakses pada 18 Mei 2021)
  3. Young, Becky. 2018. Polymenorrhea. https://www.healthline.com/health/polymenorrhea (Diakses pada 18 Mei 2021)


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi