Terbit: 6 Desember 2021
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Hoarding disorder adalah gangguan mental yang membuat seseorang mengumpulkan barang baik yang berharga atau tidak bernilai. Seiring waktu kondisi ini menjadikan rumahnya berantakan oleh barang-barang tersebut. Selengkapnya ketahui gejala, penyebab, hingga pengobatannya berikut ini!

Hoarding Disorder: Gejala, Penyebab, Cara Mengatasi, Komplikasi, dll

Apa Itu Hoarding Disorder?

Hoarding disorder adalah gangguan kesehatan mental di mana seseorang menyimpan banyak barang baik yang berharga atau tidak.

Barang-barang yang ditimbun biasanya termasuk surat kabar, majalah, produk kertas lainnya, barang-barang rumah tangga, pakaian, kardus, dan lainnya. Terkadang orang dengan gangguan mental ini mengumpulkan hewan juga.

Hoarding disorder dapat menyebabkan kekacauan yang berbahaya. Kondisi ini dapat mengganggu kualitas hidup dalam berbagai hal, termasuk menyebabkan seseorang jadi stres dan malu dalam kehidupan sosial, keluarga, dan pekerjaannya. Hal ini juga dapat membuat hidup tidak sehat dan tidak aman.

Jenis Hoarding Disorder

Terdapat beberapa jenis gangguan mental ini yang mungkin dialami seseorang. Beberapa orang mungkin menunjukkan jenis tertentu, sementara yang lain mungkin memiliki jenis yang lebih umum.

Berikut ini jenis hoarding disorder:

  • Animal hoarding. Jenis ini ditandai dengan seseorang mengumpulkan banyak hewan sebagai hewan peliharaan, biasanya lebih banyak daripada yang bisa dirawat oleh orang tersebut.
  • Compulsive shopping. Orang yang memiliki belanja kompulsif terlalu asyik dengan berbelanja dan membeli barang-barang yang tidak dibutuhkan.
  • Object hoarding. Ini adalah jenis di mana seseorang menimbun barang-barang tertentu seperti kertas, buku, pakaian, atau bahkan sampah.

Tanda dan Gejala Hoarding Disorder

Orang dengan gangguan penimbunan barang-barang akan merasa sangat membutuhkan untuk menyelamatkan harta bendanya yang orang lain anggap tidak berharga.

Seiring waktu, penderitanya mungkin kehabisan ruang untuk menyimpan barang-barangnya. Hal ini mungkin harus memajang barang-barangnya dengan berantakan.

Gejala lain yang mungkin dialami orang dengan hoarding disorder, termasuk:

  • Ketidakmampuan menyingkirkan atau membuang harta benda, padahal tidak digunakan.
  • Stres yang ekstrem karena membuang barang.
  • Ketidakpastian di mana harus meletakkan barang-barang.
  • Tinggal di ruang yang tidak bisa digunakan karena berantakan.
  • Tidak percaya terhadap orang lain yang menyentuh harta bendanya.
  • Kecemasan tentang membutuhkan barang di masa yang akan datang.
  • Menarik diri dari teman dan keluarga.
  • Tekanan emosional, seperti kewalahan atau malu dengan harta benda atau situasi hidupnya.
  • Merasa bertanggung jawab terhadap barang-barang, dan terkadang menganggap benda mati memiliki perasaan.

Kapan Waktu yang Tepat Harus ke Dokter?

Orang dengan gejala gangguan mental ini harus berkonsultasi dengan dokter, terutama jika memiliki gejala berikut:

  • Gejala hoarding disorder yang berat, kronis, atau disertai gejala lain.
  • Mengganggu aktivitas sehari-hari, seperti memasak, membersihkan, mandi, bekerja, atau bersekolah.
  • Menyebabkan kecemasan atau rasa malu yang berat.
  • Menyebabkan masalah hubungan sosial yang signifikan.
  • Membuat lingkungan hidup tidak aman atau tidak sehat.

Penyebab Hoarding Disorder

Para peneliti belum mengetahui mengapa seseorang mengembangkan gangguan penimbunan barang-barang.

Namun, sering kali pengidapnya terdorong untuk mendapatkan dan menyimpan barang-barang yang terkait dengan faktor berikut:

  • Pengidap percaya barang-barangnya dapat menjadi berguna atau berharga di masa depan.
  • Barang-barang gratis atau lebih terjangkau dari biasanya.
  • Telah merasakan nilai sentimental.
  • Barang-barang tampak tak tergantikan, unik, atau sempurna.
  • Menjadikan barang-barang sebagai pengingat yang penting untuk seseorang, tempat, waktu, atau peristiwa yang orang tersebut takuti akan terlupakan.

Meskipun para peneliti tidak yakin apa penyebabnya, tetapi ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko mangalami jenis gangguan mental ini atau memperburuk gejalanya.

Ini termasuk:

  • Riwayat keluarga yang suka menimbun barang-barang.
  • Cedera otak.
  • Peristiwa yang sangat menakutkan, seperti penyakit berat atau kehilangan orang yang dicintai.
  • Perbedaan fungsi otak dan kinerja neuropsikologis yang unik dari orang yang memiliki kondisi lain, seperti gangguan obsesif kompulsif (OCD).

Penyakit hoarding disorder juga dapat menjadi gejala dari kondisi lain, yang paling umum termasuk:

  • OCD dan gangguan kepribadian obsesif-kompulsif.
  • ADHD.
  • Depresi.

Sementara yang kurang umum, hoarding disorder juga terkait dengan kondisi berikut:

Diagnosis Hoarding Disorder

Hoarding disorder adalah gejala utama dari gangguan mental ini. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition (DSM-5), mengelompokkan gangguan penimbunan dalam kategori “Obsessive-Compulsive and Related Disorders.”

DSM-5 dapat menguraikan kriteria diagnostik untuk penyakit hoarding disorder, berikut di antaranya:

  • Terus-menerus kesulitan membuang harta benda yang mungkin dianggap orang lain memiliki nilai atau kegunaan yang terbatas.
  • Gejala mengakibatkan penumpukan banyak harta benda yang membuat ruang tamu berantakan dan mengganggu tujuan penggunaannya.
  • Gejala bukan karena kondisi medis umum, misalnya gangguan kognitif.
  • Kebutuhan untuk menyimpan barang dan kesulitan membuangnya.
  • Gejala yang tidak lebih baik dijelaskan oleh gangguan kejiwaan lain, misalnya gangguan depresi mayor, skizofrenia, atau OCD.

Baca Juga: Kecanduan Belanja Tanda Gangguan Mental?

Pengobatan Hoarding Disorder

Kebanyakan penderitanya tidak mendapatkan pengobatan, biasanya karena wawasan yang buruk, kekurangan sumber daya, atau rasa malu.

Penderita yang mencari pengobatan biasanya memiliki usia 50 tahun ke atas. Adapun perawatannya dengan terapi atau penggunaan obat-obatan.

Berikut ini pengobatan untuk hoarding disorder:

1. Psikoterapi

Terapi perilaku kognitif khusus untuk penimbunan, yakni dengan membantunya untuk mengubah cara berpikir dan membuat keputusan tentang barang-barangnya, telah terbukti menjadi pengobatan yang efektif.

Mengobati gangguan mental membutuhkan waktu dan mungkin memerlukan lebih dari satu jenis perawatan, termasuk:

  • Wawancara klinis dan penilaian fungsional dari perilaku seseorang.
  • Psikoedukasi untuk meningkatkan wawasan seseorang dan membantunya lebih memahami gangguannya.
  • Bekerjasama dengan psikolog untuk menentukan tujuan.
  • Terapi kognitif untuk menemukan distorsi kognitif seseorang dan membantunya mengembangkan fleksibilitas kognitif dan restrukturisasi kognitif adaptif.
  • Mendapatkan keterampilan organisasi dan pemecahan masalah dengan pelatihan.
  • Memandu untuk merapikan dengan memilah-milah harta sambil memanfaatkan dan mempraktikkan keterampilan pengambilan keputusan.
  • Pencegahan paparan dan respons terhadap peluang memperoleh barang-barang, serta jenis eksperimen perilaku lainnya.

2. Obat-obatan

Sampai saat ini tidak ada perawatan dengan obat-obatan untuk penyakit hoarding disorder.

Obat antidepresan, seperti SSRI dan SNRI, mungkin memiliki potensi terbatas untuk pengobatan, terutama ketika seseorang memiliki kondisi kesehatan mental lain seperti OCD. Obat psikostimulan dan penambah kognitif juga masih diselidiki yang mungkin bisa menjadi salah satu perawatannya.

Kompikasi Hoarding Disorder

Gangguan mental ini dapat menyebabkan berbagai komplikasi, berikut di antaranya:

  • Meningkatkan risiko jatuh.
  • Cedera atau terjebak dengan menggeser atau menjatuhkan barang-barang.
  • Konflik keluarga.
  • Kesepian dan isolasi sosial.
  • Kondisi tidak sehat yang berisiko bagi kesehatan.
  • Bahaya karena kemungkinan memicu kebakaran.

Itulah pembahasan tetang apa itu hoarding disorder. Gangguan keehatan mental di mana penderitanya menimbun banyak barang yang padahal tidak dia gunakan atau bahkan tidak berguna sama sekali.

 

  1. Anonim. 2018. Hoarding Disorder. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/17682-hoarding-disorder (Diakses pada 6 Desember 2021).
  2. Deibler, Marla. What Is Hoarding?. https://www.verywellmind.com/what-is-hoarding-disorder-2510602#treatment (Diakses pada 6 Desember 2021).
  3. Huizen, Jennifer. 2019. What is hoarding disorder?. https://www.medicalnewstoday.com/articles/314338#What-is-OCD (Diakses pada 6 Desember 2021).
  4. Mayo Clinic Staff. 2018. Hoarding disorder. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hoarding-disorder/symptoms-causes/syc-20356056 (Diakses pada 6 Desember 2021).


DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi