Terbit: 11 November 2021 | Diperbarui: 16 Februari 2022
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Pica adalah gangguan makan yang mengonsumsi benda tertentu yang bukan makanan, misalnya pasir atau serpihan cat. Jika gangguan makan ini dibiarkan, kemungkinan penderitanya mengalami keracunan! Simak penjelasan selengkapnya mulai dari definisi, gejala, penyebab, hingga pengobatan berikut ini.

Gangguan Makan Pica: Definisi, Gejala, Penyebab, Cara Mengatasi, dll

Apa Itu Penyakit Pica?

Pica adalah gangguan makan kompulsif di mana orang makan yang bukan makanan. Ini termasuk kotoran, tanah liat, dan cat yang mengelupas adalah makanan yang paling umum dimakan. Sementara barang-barang yang kurang umum termasuk lem, rambut, abu rokok, dan bahkan feses.

Gangguan makan ini lebih sering terjadi pada anak-anak, memengaruhi 10% sampai 30% anak-anak usia 1 sampai 6. Hal ini juga dapat terjadi pada anak-anak dan orang dewasa yang cacat intelektual dan perkembangan. Dalam kasus yang jarang, wanita hamil mengidam barang-barang aneh yang bukan makanan.

Tanda dan Gejala Penyakit Pica

Gejala yang terjadi terkait dengan bukan makanan yang dimakan penderita gangguan ini. Keluhan gejala yang terjadi sebagai akibat dari racun atau kandungan beracun serta bakteri dalam non-makanan yang dimakan.

Gejala pica yang mungkin terjadi, termasuk:

  • Mual.
  • Nyeri atau kram di perut yang mengindikasikan penyumbatan usus.
  • Sembelit.
  • Diare.
  • Tukak lambung, yang menyebabkan BAB berdarah.
  • Gejala keracunan timbal, jika serpihan cat mengandung timbal tertelan.
  • Cedera pada gigi, seperti retak atau patah karena mengunyah benda keras.
  • Infeksi, yang disebabkan kuman dan parasit yang masuk ke dalam tubuh dari benda.
  • Penyumbatan usus, karena makan benda yang tidak dapat dicerna dan akhirnya menyumbat usus.
  • Gizi buruk.
  • Kelelahan.
  • Masalah perilaku.
  • Bermasalah di sekolah.

Apa yang Dimakan Penderita Penyakit Pica?

Benda yang dimakan oleh orang-orang dengan pica, berikut di antaranya:

  • Kotoran
  • Kotoran hewan
  • Kertas
  • Tanah liat
  • Es
  • Serpihan cat
  • Pasir
  • Kapur
  • Batu
  • Rambut
  • Tumbuhan atau rumput
  • Puntung rokok
  • Mainan (misalnya lego)
  • Karet gelang
  • Sampo
  • Kain
  • Wol
  • Tali
  • Bedak talek

Kapan Harus ke Dokter?

Segera konsultasikan dengan dokter jika orang tua atau pengasuh melihat perilaku tertentu pada anak, termasuk:

  • mengamati ruangan yang memiliki barang-barang non-makanan tertentu.
  • Makan barang non-makanan yang sama berulang kali, terutama dalam jangka waktu yang lama.
  • Mengalami masalah dengan mulut, seperti luka dan kerusakan pada gigi.
  • BAB berdarah atau masalah di perut.

Pica disorder dapat menunjukkan pola makan yang tidak seimbang. Oleh karena itu, penting untuk menemui dokter setiap mengidam tidak biasa yang berlangsung lebih lama dari beberapa hari.

Selain itu, penderita gangguan makan ini harus segera ke ruang unit gawat darurat (UGD) jika memiliki gejala berikut:

  • Tidak dapat buang air besar.
  • Makan apa saja yang mungkin mengandung timbal.
  • Kehilangan kesadaran atau berperilaku tidak biasa setelah makan makanan yang bukan makanan.

Penyebab Pica

Meski pun penyebabnya belum diketahui secara pasti, tetapi para ahli mengetahui ada beberapa kondisi yang menyebabkan seseorang lebih berisiko terkena pica. Hal ini termasuk:

  • Gangguan perkembangan dan cacat intelektual, seperti gangguan spektrum autisme.
  • Kondisi kesehatan mental, seperti skizofrenia atau gangguan obsesif kompulsif.
  • Orang dengan kekurangan gizi atau yang menderita kelaparan, mengakibatkan rendahnya kadar nutrisi seperti zat besi dan seng, memicu jenis keinginan mengidam tertentu.
  • Stres, seperti pada anak-anak yang dilecehkan atau diabaikan atau mereka yang hidup dalam kemiskinan.
  • Selama kehamilan (jarang terjadi), wanita hamil mengidam kotoran, yang mungkin terkait dengan kekurangan zat besi.

Faktor Risiko Pica

Profesional kesehatan paling sering mendiagnosis gangguan makan selama kehamilan atau masa kanak-kanak, menurut penelitian.

Gangguan makan pica sering kali berisiko pada anak dengan kondisi kesehatan mental tertentu, yang memengaruhi pemikiran dan perilaku seseorang. Berikut ini beberapa faktor yang meningkatkan risiko mengalami gangguan makan janis ini:

  • Autism spectrum disorder (ASD) atau autisme.
  • Skizofrenia.
  • Obsessive-compulsive disorder (OCD) atau gangguan obsesif-kompulsif.
  • Cacat intelektual lainnya.

Orang lain yang mungkin memiliki risiko gangguan makan ini lebih tinggi termasuk:

  • Mengalami kekurangan zat besi.
  • Kurang gizi

Diagnosis Pica

Kebanyakan penderita gangguan makanan ini mengunyah benda-benda seperti kuku dan es, atau memasukkan mainan dan rambut ke mulut. Perilaku ini kebiasaan yang normal. Tetapi seseorang yang didiagnosis dengan pica disorder berulang kali makan benda tersebut, bahkan jika itu membuatnya sakit.

Dokter mungkin akan melakukan langkah-langkah berikut untuk mendiagnosis:

  • Dokter akan memeriksa gejala fisik anak, ini termasuk sakit perut atau masalah usus.
  • Jika anak berisiko tinggi (biasanya anak yang cacat intelektual atau perkembangan), dokter mungkin bertanya apakah orang tua melihat anaknya makan benda tertentu dan untuk berapa lama.
  • Jika perilaku tersebut telah terjadi selama satu bulan atau lebih, dokter mungkin mendiagnosisnya sebagai pica.
  • Dokter mungkin akan melakukan tes, seperti tes darah atau rontgen. Langkah ini untuk memeriksa kemungkinan anemia, mendeteksi racun dalam darah, dan menemukan penyumbatan di usus.
  • Dokter mungkin juga melakukan tes darah untuk memeriksa kadar zat besi dan seng (zinc) anak. Kekurangan vitamin tersebut dianggap sebagai pemicu makan kotoran dan tanah liat dalam beberapa kasus.

Cara Mengatasi Penyakit Pica

Perawatannya bervariasi tergantung pada faktor mendasar yang terkait dengan kondisi tersebut. Penting bagi dokter untuk mengatasi gejala yang sering terjadi karena gangguan makan ini. Gejalanya berbeda, tergantung pada benda yang sedang dicerna. Gejala yang memerlukan

Perawatan bagi mereka yang mengalami gejala gangguan makan pica, berikut di antaranya:

  • Pengobatan sakit maag.
  • Obat untuk diare atau sembelit.
  • Suplementasi nutrisi untuk kekurangan nutrisi.
  • Mengatasi masalah medis lainnya, seperti keracunan timbal.

Perawatan untuk perilaku Pica

Perilaku orang dengan gangguan makan ini memiliki karakteristik yang mirip dengan bulimia, trichophagia (menelan rambut sendiri), dan gangguan obsesif kompulsif. Pengobatan yang dapat mengatasi perilaku pica disorder, termasuk:

Rujukan ke spesialis kesehatan mental/kesehatan perilaku.

Program modifikasi perilaku, seperti mengalihkan perhatian anak dari benda tertentu dan memberikan hadiah untuk memilih makanan daripada non-makanan.

Obat-obatan untuk mengatasi masalah perilaku, dikonsumsi untuk membantu mengurangi dorongan dan keinginan untuk makan benda tertentu.

Tenaga profesional kesehatan untuk merawat pasien Pica

Profesional yang terlatih dalam merawat penyakit pica, termasuk:

  • Seorang analis perilaku dengan pengalaman dalam penilaian perilaku fungsional dan implementasi intervensi perilaku.
  • Psikolog dengan pengalaman dalam analisis perilaku terapan, merupakan jenis terapi yang ditujukan untuk meningkatkan perilaku tertentu.
  • Dokter anak yang berspesialisasi dalam perawatan masalah perilaku.

Itulah pembahasan tentang gangguan makan pica. Segera konsultasi ke dokter bila mencurigai diri Anda atau seseorang yang Anda kenal mulai suka mengonsumsi benad-benda yang bukan makanan.

 

  1. Anonim. 2021. Pica. https://familydoctor.org/condition/pica/ (Diakses pada 11 November 2021)
  2. Anonim. 2021. What Are the Symptoms of Pica?. https://psychcentral.com/eating-disorders/pica-symptoms (Diakses pada 11 November 2021)
  3. Christiansen, Sherry. 2020. What Is Pica?. https://www.verywellhealth.com/pica-5083875 (Diakses pada 11 November 2021)
  4. Villines, Zawn. 2019. What to know about pica. https://www.medicalnewstoday.com/articles/326751 (Diakses pada 11 November 2021)


DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi