Terbit: 10 November 2022 | Diperbarui: 18 April 2023
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: dr. Sheila Amabel

Operasi caesar merupakan metode persalinan yang dibutuhkan pada beberapa kondisi kehamilan. Siapa saja yang memerlukan prosedur ini? Adakah efek samping yang ditimbulkan setelahnya? Simak penjelasan lengkapnya di bawah ini. 

Operasi Caesar: Definisi, Prosedur, Manfaat, dan Risikonya

Apa Itu Operasi Caesar?

Operasi caesar atau caesarean section (C-section) adalah tindakan operasi untuk mengeluarkan bayi. Pada prosesnya, dokter akan memberikan sayatan pada perut dan rahim.

Metode caesar dipilih ketika persalinan normal melalui vagina tidak memungkinkan untuk atau apabila terjadi komplikasi kehamilan.

Umumnya, pasien yang menjalani persalinan dengan metode ini dapat pulang ke rumah dalam 3-5 hari setelah sebelumnya mendapatkan perawatan di rumah sakit.

Selama menjalani masa pemulihan di rumah, dokter akan memastikan kondisi pasien benar-benar pulih. Oleh sebab itu, beberapa aktivitas berat yang dapat menghambat proses pemulihan tidak disarankan untuk dilakukan.

ERACS, Metode Operasi Caesar Terbaru

ERACS (Enhanced Recovery After Caesarean Surgery) pada mulanya dikenal sebagai metode untuk mempercepat proses pemulihan pasien yang menjalani rawat jalan. Metode ini berfungsi untuk meningkatkan toleransi nyeri dan mengurangi gejala mual dan muntah setelah operasi.

ERACS kini dapat digunakan pada wanita yang melakukan operasi caesar. Hal ini sudah dilakukan sejak 2018 lalu.

Metode ini tergolong baru pada operasi caesar. Tujuannya adalah untuk mempercepat proses penyembuhan dengan mengoptimalkan kesehatan ibu, baik sebelum, selama, maupun setelah tindakan.

Operasi caesar yang akan dibahas di dalam artikel ini adalah metode operasi yang sudah dilakukan sejak lama.

Baca Juga: Persalinan ERACS, Operasi Sesar yang Tidak Sakit

Alasan Kenapa Operasi Caesar Perlu Dilakukan

Sebelum tindakan operasi dilakukan, tentunya ada beberapa alasan yang mendasarinya. Alasan proses melahirkan secara caesar tergantung pada kondisinya, apakah direncanakan atau tidak direncanakan (kasus darurat).

1. Alasan Melahirkan Caesar yang Direncanakan

Operasi yang sudah direncanakan sudah diputuskan sebelum HPL (hari perkiraan lahir), bahkan rencana ini juga bisa dilakukan pada awal kehamilan.

Beberapa alasan merencanakan prosedur ini, antara lain:

  • Kondisi medis seperti diabetes, penyakit jantung, hipertensi, penyakit ginjal, mata silinder, dan minus tinggi.
  • Penyakit infeksi, ibu hamil terdeteksi menderita infeksi HIV, gonore, atau sifilis.
  • Komplikasi kehamilan, seperti preeklampsia atau eklampsia.
  • Masalah plasenta seperti plasenta previa atau solusio plasenta.
  • Posisi janin, posisi sungsang ataupun posisi melintang berisiko jika dilahirkan secara normal.
  • Memiliki kondisi bawaan lahir yang susah dilahirkan secara normal.
  • Bayi kembar.
  • Berat janin, kondisi janin yang terlalu besar bisa berdampak negatif pada liang vagina ibu.
  • Ibu yang memiliki berat badan berlebih biasanya sulit melahirkan secara normal.
  • Usia yang lebih tua sering kali melahirkan dengan cara operasi karena kondisi fisiologisnya.

2. Alasan Melahirkan Caesar yang Tidak Direncanakan

Pada beberapa kondisi, operasi caesar perlu dilakukan. Berikut ini adalah beberapa alasan operasi yang tidak direncanakan, di antaranya:

  • Masalah kontraksi, lambat atau tidak adanya kontraksi setelah pembukaan persalinan menjadi alasan bagi seorang wanita untuk menjalani tindakan ini.
  • Kelelahan mengejan, tidak semua ibu bisa mampu mengejan dengan baik pada saat proses persalinan normal. Ada pula yang mengalami keletihan berat untuk mengejan.
  • Terlilit tali pusar, kondisi bayi yang terlilit tali pusar terkadang baru diketahui saat proses persalinan berlangsung. Apabila kondisi lilitan tali pusar membahayakan bayi, maka dokter akan mengambil tindakan operasi.
  • Ketuban pecah dini dan bayi tidak kunjung lahir.
  • Rahim pecah.
  • Kondisi gawat janin, apabila janin tidak segera dilahirkan dapat mengakibatkan kematian.

Persiapan Operasi Caesar

Persiapan caesar perlu dipenuhi sebelum hari H bagi para ibu yang telah merencanakannya. Operasi yang tidak direncanakan tidak memerlukan persiapan lebih jauh karena bersifat darurat.

Meski begitu, bukan berarti Anda meremehkan persiapan yang harus dilakukan sebelum tindakan operasi besar ini. 

Inilah beberapa persiapan operasi caesar yang sebaiknya dilakukan:

  • Mengikuti penjelasan tim medis tentang komplikasi yang mungkin terjadi.
  • Menjalani tes darah tertentu, seperti golongan darah, hemoglobin, atau tes darah lengkap.
  • Mempersiapkan kebutuhan setelah melahirkan.
  • Mempersiapkan bantuan terlebih dahulu untuk masa setelah melahirkan.
  • Berkonsultasi tentang metode KB terutama jika Anda tidak berencana melahirkan lagi.

Baca JugaWater Birth (Melahirkan di Air): Manfaat, Persiapan, dan Risikonya

Prosedur Operasi Caesar

Biasanya, tindakan bedah caesar berlangsung selama 30-45 menit. Akan tetapi, ada pula tindakan operasi  yang memakan waktu lebih lama terutama bila terjadi komplikasi pada saat operasi berlangsung.

1. Sebelum Operasi

 Berikut beberapa prosedur sebelum operasi yang umum dilakukan:

  • Mandi dengan sabun antiseptik sebelum dan saat hari H.
  • Tidak mencukur rambut kemaluan menjelang operasi.
  • Perut Anda akan dibersihkan.
  • Pemasangan kateter di kandung kemih untuk memudahkan buang air kecil.
  • Pemasangan infus di pembuluh darah yang ada di lengan.
  • Pemberian obat-obatan melalui infus.
  • Menjalani tindakan anestesi (pembiusan) regional atau total; umum atau epidural.

2. Proses Operasi

Sebelum pembedahan perut dimulai, dokter akan memberikan obat anestesi epidural agar area perut yang akan disayat menjadi mati rasa. Namun, pada kasus tertentu, dokter mungkin bisa memberikan bius total.

Setelah obat bius bekerja, dokter mulai melakukan pembedahan dengan membuat sayatan pada perut dan otot rahim, lalu mengeluarkan bayi secara perlahan. Prosedur ini biasanya tidak memerlukan waktu lama dan tidak sampai hitungan jam hingga bayi akhirnya berhasil dilahirkan.

Plasenta harus segera dikeluarkan dari rahim. Tim medis akan segera memberikan perawatan pada bayi baru lahir dan dokter pun mulai menjahit sayatan di perut dan rahim agar kembali tertutup.

3. Setelah Operasi

Setelah sayatan selesai dijahit, tim medis akan membawa Anda dan bayi  ke kamar perawatan. Biasanya, Anda akan diminta untuk tinggal di rumah sakit selama 2-3 hari pascaoperasi.

Perawatan Pascaoperasi di Ruang Rawat

Perawatan bertujuan untuk memastikan kondisi Anda benar-benar pulih sebelum pulang ke rumah. Selain itu, Anda akan diberikan obat penghilang rasa sakit setelah operasi.

Berikut beberapa tindakan pemulihan yang umum dilakukan, antara lain:

  • Anda akan diberikan obat penghilang rasa sakit.
  • Perawatan di tempat tidur hingga obat bius benar-benar hilang.
  • Pemeriksaan rutin terhadap efek anestesi.
  • Pemantauan sayatan dan jahitan guna melihat tanda-tanda infeksi.
  • Pemantauan jumlah urine 12 jam setelah operasi.
  • Pemeriksaan rutin sistem pernapasan.
  • Pemeriksaan jumlah pendarahan vagina.
  • Pemberian cairan parenteral hingga Anda cukup makan dan minum secara oral.

Kecepatan pemulihan setelah operasi bisa berbeda antar wanita. Hal ini tergantung pada jenis prosedur, jenis anestesi, dan komplikasi yang dimiliki.

Guna mendukung proses pemulihan setelah bedah caesar, ada beberapa hal yang perlu Anda lakukan di antaranya: 

  • Hindari aktivitas berat.
  • Usahakan berjalan secara perlahan di sekitar kamar.
  • Rawat luka dan jahitan pascaoperasi dengan baik dan benar. 
  • Perbanyak konsumsi air putih.
  • Istirahat yang cukup.
  • Mengonsumsi makanan sehat dan bergizi. 
  • Hindari berhubungan intim selama beberapa waktu.

Baca Juga8 Tips Memilih Rumah Sakit Terbaik untuk Persalinan agar Kelahiran Lancar

Manfaat Operasi Caesar

Berikut ini beberapa manfaat melahirkan caesar bagi ibu:

  • Mengurangi risiko cedera vagina.
  • Mengurangi risiko pendarahan hebat.
  • Menurunkan risiko kehilangan kemampuan mengontrol kandung kemih.
  • Bisa menyaksikan kelahiran bayi dengan tenang.
  • Otot-otot vagina tetap kencang.
  • Tidak mengalami episiotomi (gunting vagina).
  • Tidak harus mengejan dan mengalami kelelahan.
  • Tidak sakit terlalu sakit saat melakukan hubungan seksual.

Risiko Operasi Caesar

Para wanita yang sedang hamil perlu tahu bahwa prosedur ini memiliki beberapa risiko karena merupakan operasi besar. Risikonya bisa berdampak pada ibu dan bayi.

1. Risiko bagi Ibu

Berikut ini adalah beberapa risiko caesar bagi ibu:

  • Terkena infeksi: Ibu yang melahirkan dengan operasi caesar memiliki risiko terkena infeksi selaput rahim (endometritis).
  • Pendarahan: Walaupun tidak terlalu berisiko mengalami pendarahan hebat, kondisi ini bisa menyebabkan pendarahan hebat pasca melahirkan pada kasus tertentu
  • Iritasi kemih: Pemasangan kateter pada saluran kemih bisa mengakibatkan saluran kemih teriritasi.
  • Reaksi anestesi: Tidak semua ibu memberikan reaksi yang positif terhadap obat bius yang diberikan. Ada pula yang memberikan reaksi negatif terhadap obat bius
  • Penggumpalan darah: Darah yang ada di dalam pembuluh bisa saja menggumpal setelah prosedur ini.
  • Cedera: Operasi caesar terkadang menyebabkan cedera pada kandung kemih atau usus. Akan tetapi, ini jarang terjadi.
  • Risiko komplikasi: Ibu yang menjalani operasi memiliki kemungkinan untuk mengalami berbagai komplikasi untuk kehamilan selanjutnya

2. Risiko pada Bayi

Berikut ini adalah beberapa risiko yang bisa terjadi pada bayi, di antaranya:

  • Masalah pernapasan: Bayi yang dilahirkan dengan operasi bisa memiliki pernapasan yang tidak normal di hari-hari pertama kelahiran.
  • Cedera operasi: Walaupun jarang terjadi, prosedur ini memiliki risiko cedera goresan pada kulit bayi.
  • Infeksi: Prosedur ini mengakibatkan infeksi yang biasanya terjadi di saluran pencernaan dan pernapasan.

Baca Juga12 Pantangan Setelah Operasi Caesar yang Harus Bunda Ketahui

Efek Samping Melahirkan Secara Caesar

Inilah beberapa efek samping yang bisa terjadi setelah melakukan prosedur ini:

  • Rasa sakit tidak hilang bahkan semakin parah.
  • Peningkatan pendarahan vagina.
  • Bekas operasi menjadi kemerahan.
  • Sayatan terbuka dan terasa nyeri.
  • Sayatan berbau busuk.
  • Nyeri payudara disertai demam.
  • Keputihan patologis.
  • Nyeri saat buang air kecil.
  • Nyeri kaki bawah.
  • Buang air kecil secara tidak sadar.
  • Mual dan muntah.
  • Diare.
  • Sesak napas.
  • Gatal dan ruam kulit.
  • Pusing-pusing.
  • Cemas, depresi, dan gejala lain dari postpartum atau baby blues.

Konsultasikan dengan dokter kandungan jika mengalami beberapa efek samping di atas atau yang lebih serius.

Hal-hal yang Tidak Boleh Dilakukan Setelah Operasi Caesar

Ada beberapa pantangan yang harus dihindari setelah melakukan prosedur ini. Pasalnya, beberapa aktivitas dapat memperburuk kondisi Anda. Berikut ini adalah beberapa pantangan setelah operasi caesar, di antaranya:

  • Mengangkat beban yang lebih berat dari bayi.
  • Menggunakan pembalut tipe tampon sebelum mendapat izin dokter .
  • Melakukan douching atau cuci vagina tanpa izin dokter.
  • Melakukan aktivitas atau olahraga berat dan sering.
  • Berhubungan intim tanpa berkonsultasi dengan dokter.
  • Naik-turun tangga secara berlebihan.
  • Berenang sebelum mendapatkan izin dokter.
  • Melakukan diet menurunkan berat badan secara ketat tanpa rekomendasi dokter.
  • Menggunakan produk perawatan kulit yang tidak aman.
  • Tidur dengan posisi tengkurap.

Nah, itulah informasi penting yang perlu Anda ketahui sebelum dan setelah menjalani operasi caesar.  Konsultasikan kondisi kehamilan Anda pada dokter kandungan untuk memastikan metode persalinan mana yang paling tepat. Semoga bermanfaat!

 

  1. Anonim. Cesarean After Care. https://americanpregnancy.org/healthy-pregnancy/labor-and-birth/cesarean-aftercare/. (Diakses pada 17 April 2023).
  2. Davis, Patricia. 2018. The Do’s and Don’ts of Healing from a C-Section. https://intermountainhealthcare.org/blogs/topics/intermountain-moms/2018/03/the-dos-and-donts-of-healing-from-a-csection/. (Diakses pada 17 April 2023).
  3. Geddes, Jennifer K. 2021. Having a C-Section (Cesarean Section). https://www.whattoexpect.com/pregnancy/c-section/. (Diakses pada 17 April 2023).
  4. Herman, Michele. 2022. The C-Section Procedure: What to Expect Before, During, and After. https://www.parents.com/pregnancy/giving-birth/cesarean/all-about-c-sections-before-during-and-after/. (Diakses pada 17 April 2023).
  5. Kemenkes RI. 2022. Mengenal Operasi ERACS. https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/186/mengenal-operasi-eracs. (Diakses pada 17 April 2023).
  6. Malachi, Rebecca. 2023. 4 Best Sleeping Positions After A C-Section Delivery. https://www.momjunction.com/articles/sleeping-position-after-c-section_00469199/. (Diakses pada 17 April 2023).
  7. Mayo Clinic Staff. 2022. C-section. https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/c-section/about/pac-20393655. (Diakses pada 17 April 2023).

Smith, Lori. 2018. What is a C-section? https://www.medicalnewstoday.com/articles/299502. (Diakses pada 17 April 2023).


DokterSehat | © 2024 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi