Terbit: 1 August 2022
Ditulis oleh: Wulan Anugrah | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Ketika berbicara soal rokok, sebagian besar orang mungkin akan langsung teringat akan dua kandungan di dalamnya yaitu nikotin dan tar. Namun, di antara kedua senyawa tersebut, manakah kandungan yang paling berbahaya bagi kesehatan? Simak penjelasannya di bawah ini.

Nikotin vs Tar, Lebih Bahaya Mana bagi Kesehatan?

Mengenal Bahaya Nikotin dalam Rokok

Nikotin adalah senyawa yang terkandung di dalam tumbuhan tembakau. Senyawa ini bersifat adiktif dan merupakan stimulan ringan sehingga memberikan efek candu.

Nikotin dapat memberikan efek relaksasi yang berlangsung sementara, meningkatkan detak jantung, dan menambah jumlah oksigen yang digunakan jantung. Efek tersebut muncul dari lonjakan hormon endorfin yang terjadi ketika nikotin memasuki tubuh seseorang.

Hormon endorfin sendiri akan diproduksi tubuh ketika merasa stres atau sakit. Endorfin dapat membantu menghilangkan rasa sakit, mengurangi stres, dan membuat perasaan lebih senang.

Berkat efeknya tersebut, para perokok akan tergoda untuk terus-menerus merokok agar merasakan sensasi nikmat yang ditimbulkannya.

Padahal, terlalu sering menggunakan nikotin akan berdampak besar terhadap cara kerja otak, terutama yang berkaitan dengan pengendalian diri, stres, dan pembelajaran.

 Sebagai stimulan, nikotin juga dapat membantu meningkatkan konsentrasi dan memori untuk sementara. Namun demikian, penggunaan jangka panjang berkaitan dengan menurunnya fungsi kognitif dan meningkatnya risiko penyakit Alzheimer.

Bahaya nikotin juga akan terasa ketika seseorang mencoba untuk berhenti dari kebiasaan merokok. Perlu diketahui, berhenti merokok akan menyebabkan gejala putus nikotin yang dapat memengaruhi ingatan atau kewaspadaan seseorang. Jika kecanduan sudah parah, gejalanya dapat mengakibatkan gangguan tidur.

Baca Juga4 Keluhan yang Umum Terjadi saat Anda Mencoba Berhenti Merokok

Mengenal Bahaya Tar dalam Rokok

Tar adalah zat kimia yang muncul dari hasil pembakaran tembakau dalam rokok. Jumlah tar di dalam produk tembakau akan meningkat jika melalui proses pembakaran.

Perlu Anda ketahui, tar mengandung zat karsinogen (penyebab kanker). Melansir National Cancer Institute, asap dari pembakaran tembakau mengandung lebih dari 7.000 bahan kimia. Sebagian besar bahan kimia tersebut merupakan komponen dalam tar.

ketika seseorang menghirup asap tembakau, tar akan membentuk lapisan lengket di organ paru-paru. Pada gilirannya, hal ini dapat merusak paru-paru dan mencetuskan kanker paru, emfisema, dan sejumlah penyakit yang berkaitan dengan paru-paru.

Selain itu, menghirup rokok tembakau juga berkaitan dengan meningkatnya berbagai risiko kanker, seperti kanker mulut dan tenggorokan.

Secara umum, berbagai bahaya tar dalam rokok, di antaranya:

  • Masalah pada Paru-paru

Tar akan menumpuk di dalam paru-paru ketika seseorang sering menghirup rokok. Seiring berjalannya waktu, jaringan paru-paru akan berubah warna menjadi menghitam. 

Tak cukup sampai di situ, bahaya tar dapat melumpuhkan hingga merusak silia di organ pernapasan. Perlu Anda ketahui, silia adalah struktur kecil menyerupai rambut yang melapisi trakea. Fungsinya adalah menyaring zat beracun ketika Anda menghirup udara.

Ketika silia rusak, fungsinya untuk menyaring racun yang masuk akan terganggu. Akibatnya, racun dari tar akan terhirup dan masuk lebih banyak ke dalam paru-paru.

Sebagian racun ada yang dikeluarkan lewat hembusan napas atau melalui batuk. Namun, ada juga racun yang berpotensi tertinggal di paru-paru. Kondisi inilah yang pada akhirnya menyebabkan penyakit paru-paru.

  • Risiko Kanker

Bahaya tar dalam rokok salah satunya adalah meningkatkan risiko kanker. Menghirup rokok berkaitan dengan peningkatan risiko kanker mulut.

Baca Juga9 Cara Jitu Atasi Stres Setelah Berhenti Merokok

Lebih Bahaya Nikotin atau Tar?

Merokok termasuk ke dalam aktivitas yang membuat kecanduan. Efek adiktif yang dihasilkan ketika merokok hadir berkat kandungan nikotin di dalamnya.

Kendati demikian, nikotin bukanlah merupakan kandungan di dalam rokok yang dapat memicu sejumlah penyakit akibat merokok, seperti kanker, penyakit jantung, dan penyakit paru-paru.

Perlu Anda ketahui, kandungan yang bertanggung jawab mencetuskan sejumlah gangguan kesehatan di atas adalah tar. Senyawa yang dihasilkan lewat proses pembakaran ini mengandung sebagian besar komponen penyebab kanker.

Jadi, kini Anda sudah mengetahui fakta bahwa nikotin dan tar merupakan dua kandungan di dalam rokok yang memberikan dampak berbeda pada tubuh.

Nikotin menjadi alasan seseorang kecanduan merokok, sedangkan tar memicu sejumlah penyakit pada perokok.

Bisa dibayangkan jika dua kandungan tersebut masuk ke dalam tubuh, efek buruk yang ditimbulkannya dapat terjadi berkali-kali lipat.

Maka dari itu, berhenti merokok dapat menjadi cara paling efektif untuk mencegah berbagai gangguan kesehatan yang telah disebutkan di atas.

Itulah penjelasan seputar bahaya nikotin dan tar. Meskipun berhenti merokok sangat sulit direalisasikan, bukan berarti mustahil untuk dilakukan.

Carilah kesibukan lain jika keinginan untuk merokok menghampiri. Alihkan perhatian Anda kepada hal-hal yang lebih positif, seperti melakukan hobi atau berolahraga. Semoga bermanfaat!

 

  1. Cleveland Clinic. Endorphins. https://my.clevelandclinic.org/health/body/23040-endorphins#. (Diakses pada 1 Agustus 2022).
  2. FDA. Nicotine Is Why Tobacco Products Are Addictive. https://www.fda.gov/tobacco-products/health-effects-tobacco-use/nicotine-why-tobacco-products-are-addictive. (Diakses pada 1 Agustus 2022).
  3. Lee, Peter N. 2017. Tar Level of Cigarettes Smoked and Risk of Smoking-Related Diseases. Inhal Toxicol. 2018;30(1):5-18. doi:10.1080/08958378.2018.1443174. (Diakses pada 1 Agustus 2022).
  4. Martin, Terry. 2022. How Tar in Cigarettes Can Hurt You. https://www.verywellmind.com/tar-in-cigarettes-2824718. (Diakses pada 1 Agustus 2022).
  5. NIH. Tobacco Tar. https://www.cancer.gov/publications/dictionaries/cancer-terms/def/tobacco-tar.  (Diakses pada 1 Agustus 2022).
  6. Sissons, Beth. 2022. Everything You Need to Know about Nicotine. https://www.medicalnewstoday.com/articles/240820. (Diakses pada 1 Agustus 2022).

DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi