Terbit: 16 November 2020 | Diperbarui: 31 March 2023
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Ada berbagai mitos melahirkan yang beredar di masyarakat, dari yang unik hingga yang membuat khawatir. Meskipun beberapa di antaranya berguna, ada mitos lain yang perlu diuji kebenarannya. Simak sederet mitos melahirkan berikut ini!

15 Mitos Seputar Melahirkan yang Harus Diketahu oleh Ibu Hamil

Berbagai Mitos Melahirkan yang Harus Anda Pahami

Perlu Anda pahami bahwa tidak semua mitos diciptakan sama, beberapa cerita bisa menyesatkan akan tetapi ada juga cerita yang bertujuan untuk menghindari Anda dari masalah kesehatan.

Berikut adalah berbagai mitos seputar kehamilan yang beredar di masyarakat, antara lain:

1. Operasi Caesar Lebih Mudah Dilakukan

Meskipun operasi caesar mungkin memiliki beberapa keuntungan bagi beberapa orang, prosedur ini bukanlah sesuatu yang ‘mudah’ untuk dilakukan.

Tidak ada yang mudah dalam menjalani operasi ini. Anestesi yang dilakukan di area lumbal membutuhkan jarum berukuran besar agar bisa menembus tulang belakang menuju saraf tulang belakang sehingga bisa membius ibu tanpa membahayakan janin.

Lebih penting lagi, ibu yang melahirkan dengan prosedur ini tidak membuatnya menjadi lebih rendah dari wanita yang melahirkan secara normal. Sering kali operasi caesar memang dilakukan karena merupakan opsi terbaik untuk menyelamatkan ibu dan bayinya.

2. Dokter Lebih Senang Melakukan Operasi Caesar

Pertimbangan untuk melakukan operasi caesar bukan berdasarkan keinginan pribadi dokter. Pertimbangan utamanya adalah kondisi kesehatan ibu dan janin seperti preeklampsia pada ibu, persalinan yang tidak ada kemajuan, panggul sempit pada ibu, dan berbagai indikasi medis lain yang jika dipaksakan justru akan berujung fatal untuk bayi.

Beberapa dokter menyeimbangkan keahlian dan kondisi medis pasien. Pada umumnya dokter akan menghormati otonomi ibu hamil dalam memilih jenis persalinan, namun jika ada indikasi medis, maka ibu sebaiknya mengikuti saran dokter.

3. Persalinan Menyebabkan Trauma

Mitos setelah melahirkan lainnya yang cukup umum beredar di masyarakat adalah persalinan selalu menimbulkan trauma. Meski persalinan bisa menyakitkan tidak berarti bahwa rasa sakit itu secara inheren bersifat traumatis. Selain itu, tidak berarti bahwa setiap orang harus dipaksa melalui rasa sakit saat melahirkan.

Ketika seorang wanita bisa mengatasi rasa sakit saat persalinan, rasa sakit biasanya tidak membuatnya terlalu traumatis. Terkadang, pengalaman melahirkan itu sendiri bahkan bisa memberdayakan.

4. Hanya Ada Satu Cara Melahirkan yang Benar

Di rumah atau di rumah sakit? Dengan bidan atau dokter? Kelahiran vagina atau operasi caesar? Epidural atau tanpa obat? Water birth atau tidak? Doula atau tanpa doula? Induksi atau persalinan spontan? Pilihan tersebut adalah berbagai metode yang bisa Anda pilih.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa beberapa opsi di atas relatif lebih aman. Beberapa orang dengan cepat menunjukkan bahwa metode persalinan yang mereka sukai jauh lebih unggul daripada metode lainnya.

Meski begitu, klaim penelitian tersebut dan pendapat orang lain tidak memberikan gambaran lengkap tentang ‘cara yang benar untuk melahirkan.’

5. Air Ketuban Pecah secara Dramatis

Sebagian besar orang akan mengira bahwa pecah ketuban terjadi secara tiba-tiba. Padahal, pada sebagian besar kasus air ketuban tidak akan pecah dengan sendirinya, karena dokterlah yang memecahkannya dengan alat khusus.

Hanya sekitar 10 persen wanita yang mengalami pecah ketuban secara spontan. Jika Anda menduga mengalami pecah ketuban, perawatan di rumah sakit harus segera dilakukan untuk mencegah terjadinya infeksi.

Baca Juga: Mengenal Air Ketuban yang Sangat Penting dalam Kehamilan

6. Bius Epidural Meningkatkan Peluang Operasi Caesar

Para peneliti menemukan bahwa tidak ada peningkatan risiko operasi caesar ketika ibu hamil mendapatkan bius epidural dibandingkan dengan wanita yang diberi pereda nyeri analgesik.

Meski prosedur ini dapat memperlambat second stage of labor (fase II persalinan yaitu adalah ketika bayi didorong keluar jalan lahir), hal itu tidak memperlambat perkembangan persalinan.

7. Pinggul Lebar Memudahkan Persalinan

Ukuran pinggul yang lebar tidak menentukan seberapa mudah atau sulit proses persalinan. Panggul wanita bukanlah tulang yang kokoh karena terdiri dari ligamen dan beberapa tulang yang dirancang untuk bergerak dan kendur saat melahirkan.

Tulang tengkorak bayi juga belum menyatu, sehingga memungkinkannya masuk dan bergerak melalui jalan lahir.

8. Munculnya Gumpalan Lendir Tanda akan Bersalin

Saat Anda melihat mucus plug atau gumpalan lendir, hal itu bisa menjadi tanda bahwa mulut rahim mulai menipis dan mengalami sedikit pembukaan. Sedikit pembukaan pada mulut rahim dan keluarnya lendir ini tidak menandakan bahwa persalinan segera terjadi.

Meski keadaan ini dapat menjadi patokan bahwa persalinan sudah dekat, namun Anda tidak perlu terburu-buru untuk mendapatkan penanganan. Keadaan ini bisa terjadi beberapa hari hingga beberapa minggu sebelum persalinan yang sebenarnya.

9. Konsumsi Minyak Jarak, Makanan Pedas, atau Berkendara dapat Mempercepat Persalinan

Tidak ada bukti kuat bahwa beberapa hal tersebut membuat janin keluar lebih cepat. Justru, berbagai hal itu bisa membuat Anda diare, mulas, atau bokong terasa sakit.

Janin akan siap keluar saat waktunya tiba. Guna mempermudah posisi janin menempati posisi persalinan yang benar, cobalah untuk berjalan kaki ringan jelang persalinan atau melakukan posisi sujud.

10. Janin yang Kecil Memudahkan Persalinan

Ini adalah mitos melahirkan yang umum beredar di masyarakat. Padahal ukuran janin tidak membuat proses persalinan berkurang atau berlebih rasa sakitnya.

Beberapa wanita merasa bahwa berjongkok atau posisi tubuh merangkak jauh lebih nyaman daripada berbaring. Posisi janin saat bergerak melalui jalan lahir lah yang dapat memengaruhi mudah tidaknya proses persalinan.

11. Tidak Boleh Mengonsumsi Air Putih selama Masa Nifas

Mitos setelah melahirkan ini sebaiknya Anda hindari terutama jika ibu sedang menyusui. Ginjal akan memproduksi lebih banyak urine dalam beberapa minggu pertama setelah bayi lahir untuk menghilangkan kelebihan cairan yang menumpuk selama kehamilan.

12. Rutin Mengonsumsi Hati dan Daging

Masa nifas adalah adalah masa di mana tubuh wanita mengalami perubahan dari masa kehamilan ke keadaan sebelum hamil. Ini juga merupakan masa ketika kebutuhan nutrisi tubuh tinggi karena kehilangan darah dari persalinan dan menyusui.

Beberapa orang meyakini bahwa kehamilan telah ‘mendinginkan’ tubuh seorang ibu hamil, sehingga Anda membutuhkan makanan makanan ‘panas’ seperti daging.

Apa pun keyakinan Anda, penting untuk melakukan diet yang seimbang daripada hanya mengonsumsi jenis makanan tertentu untuk mengisi kembali nutrisi tubuh yang hilang, khususnya jika terjadi selama menyusui. Jika perlu, suplemen zat besi atau vitamin dapat dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi pascamelahirkan.

Baca Juga: 11 Ciri Mau Melahirkan, Ibu Hamil Tua Wajib Tahu Tandanya!

13. Persalinan Kedua Tidak Menyakitkan

Saat mengandung anak kedua, beberapa wanita mengalami pengalaman persalinan yang serupa, sementara yang lain mungkin mengalami hal yang sangat berbeda.

Kabar baiknya adalah leher rahim, otot dasar panggul, dan jalan lahir semuanya telah diregangkan oleh bayi pertama untuk kedua kalinya. Namun, ini tidak berarti bahwa kontraksi Anda sebelum dan sesudah tidak terlalu menyakitkan atau cenderung mengalami komplikasi.

Faktanya, Anda mungkin mengalami lebih banyak rasa sakit pada kehamilan kedua karena rahim kehilangan kekencangan otot ketika persalinan pertama.

14. Persalinan Anda akan seperti pada Ibu

Kabar yang beredar bahwa persalinan Anda akan sama seperti pada ibu Anda, ini berdasarkan kecenderungan genetik.

Bentuk panggul Anda adalah genetik–ada kemungkinan 50:50 Anda akan memiliki bentuk panggul yang sama dengan ibu Anda–jadi mungkin ada benarnya mitos ini.

Berdasarkan bentuknya, ukuran pintu keluar panggul (saluran) yang harus dilalui oleh bayi. Tetapi ada banyak faktor lain yang dapat membuat pengalaman persalinan Anda sangat berbeda.

15. Seks Menginduksi Persalinan

Pelepasan oksitosin yang memicu kontraksi sangat tinggi saat ibu hamil berhubungan intim–terutama jika Anda mengalami orgasme. Jadi, tidak ada alasan untuk menahan hasrat seks saat mendekati 40 minggu kehamilan.

Pada saat yang sama, air mani pria mengandung sedikit sekali hormon yang digunakan untuk menginduksi persalinan. Namun, tidak terbukti secara ilmiah bahwa seks dapat menyebabkan kelahiran.

Nah, itulah berbagai mitos seputar melahirkan yang harus dipahami oleh ibu hamil. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Teman Sehat.

 

  1. Anonim. Common myths about giving birth. https://www.pregnancybirthbaby.org.au/common-myths-about-giving-birth (Diakses pada 16 November 2020).
  2. Anonim. Confinement After Pregnancy: 12 Myths and Facts. https://www.healthxchange.sg/women/post-pregnancy/confinement-after-pregnancy-myths-facts (Diakses pada 16 November 2020).
  3. Anonim. 2021. 15 myths about pregnancy and birth – The midwife explains. https://www.cryosinternational.com/en-gb/dk-shop/private/blog/myths-about-pregnancy-and-birth/ (Diaskes pada 31 Maret 2023)
  4. Oganowski, Kristen. 2015. 8 Birthing Myths We Need to Forget. https://mom.com/pregnancy/18750-lets-erase-these-8-childbirth-myths (Diakses pada 16 November 2020).
  5. Zuidam, TJoanne Van. Top 10 Myths About Labor and Delivery. https://www.thebump.com/a/labor-myths (Diakses pada 16 November 2020).


DokterSehat | © 2024 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi