Terbit: 21 July 2022 | Diperbarui: 25 July 2022
Ditulis oleh: Mutia Isni Rahayu | Ditinjau oleh: dr. Eko Budidharmaja

Selama masa kehamilan, ada banyak sekali pantangan bagi ibu hamil, salah satunya adalah aturan mengonsumsi obat. Bahkan, penggunaan obat seperti paracetamol saat hamil masih banyak dipertanyakan keamanannya. Lantas, bolehkah ibu hamil minum paracetamol? Simak di sini!

Bolehkah Minum Paracetamol saat Hamil? Ini Aturannya

Amankah Minum Paracetamol saat Hamil?

Paracetamol atau acetaminophen adalah obat yang biasanya digunakan untuk mengatasi rasa sakit hingga sedang. Obat ini dapat mengatasi sejumlah keluhan, seperti sakit kepala, nyeri otot, sakit gigi, radang sendi, sakit punggung, dan demam.

Paracetamol banyak terkandung di dalam obat bebas. Kendati begitu, obat ini tidak boleh digunakan sembarangan. Jika tidak digunakan sesuai aturan dan dosisnya, maka efek sampingnya juga akan meningkat.

Lantas, bolehkah ibu hamil minum paracetamol saat demam atau saat mengalami keluhan nyeri? Ternyata bila dibandingkan dengan jenis obat penghilang rasa sakit lainnya, paracetamol termasuk obat yang paling aman untuk ibu hamil, lho.

Bahkan, obat-obatan lain yang memberikan efek sama sebagai pereda nyeri cenderung lebih berbahaya. Sebagai contoh, golongan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) dapat berisiko menyebabkan keguguran jika dikonsumsi pada trimester awal kehamilan.

Selain itu, obat penghilang rasa sakit jenis opioid dapat meningkatkan risiko cacat lahir pada otak dan sumsum tulang belakang jika digunakan selama kehamilan.

Paracetamol untuk ibu hamil pada dasarnya masuk ke dalam kategori C menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA). Artinya, penelitian pada hewan menunjukkan adanya efek pada janin. Namun, belum ada penelitian yang cukup baik pada janin manusia.

Jadi, minum paracetamol saat hamil boleh-boleh saja dilakukan, asalkan manfaatnya lebih banyak daripada risiko efek samping yang akan menimpa Bumil. Obat ini juga sebaiknya digunakan sesuai aturan.

Sebaiknya Anda berkonsultasi terlebih dahulu kepada dokter sebelum menggunakan obat ini untuk menghindari efek samping berbahaya.

Baca JugaAmankah Penggunaan Obat Kolesterol untuk Ibu Hamil?

Risiko Minum Paracetamol saat Hamil

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, penggunaan obat-obatan, termasuk paracetamol pada ibu hamil tidak bisa dilakukan dengan sembarangan.

FDA telah merangkum berbagai risiko dari penggunaan obat nyeri selama masa kehamilan berdasarkan berbagai penelitian yang ada.

Setiap jenis obat penahan rasa sakit yang dijual bebas ternyata memiliki efek samping yang berbeda pada kehamilan. Paracetamol untuk ibu hamil sendiri dapat meningkatkan risiko adanya attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) pada anak.

ADHD merupakan gangguan yang menyebabkan penderitanya sulit untuk fokus dan cenderung hiperaktif. Kondisi ADHD biasanya sudah dapat dideteksi sejak masa kanak-kanak dan kondisi ini dapat terus bertahan hingga mencapai usia dewasa.

Selain itu, penelitian juga menunjukkan jika minum paracetamol saat hamil berisiko menyebabkan autism spectrum disorder (ASD) serta gangguan reproduksi dan urogenital.

Tak cukup sampai di situ, sejumlah penelitian ilmiah menunjukkan jika bayi yang terpapar paracetamol selama dalam rahim berisiko mengalami mengi dan mengembangkan asma di usia kanak-kanak.

Namun, belum ada bukti ilmiah lain yang cukup kuat untuk mendukung temuan tersebut. Pasalnya, bisa saja kondisi tersebut terjadi karena pada dasarnya ibu memiliki riwayat asma.

Baca JugaBolehkah Ibu Hamil Minum Obat Pencahar untuk Mengatasi Sembelit?

Anjuran Penggunaan Paracetamol untuk Ibu Hamil

Sebelum menggunakan suatu obat, mengetahui dosis yang tepat adalah hal yang wajib untuk dilakukan, termasuk ketika akan minum paracetamol saat hamil.

Dosis aman yang biasanya disarankan untuk ibu hamil adalah satu hingga dua tablet setiap harinya. Dosis maksimal yang dianjurkan adalah sebanyak 500 mg-1000 mg.

Sebagai catatan, minum paracetamol saat hamil sebaiknya dilakukan dari dosis yang paling rendah dan tentunya penggunaannya tidak untuk jangka panjang.

Selain memperhatikan dosis dari paracetamol, perhatikan juga dosis kandungan obat lainnya. Ingat, paracetamol juga dapat ditemukan dalam obat pilek, flu, hingga alergi, maka ada kemungkinan obat ini dipadukan dengan jenis obat lainnya.

Agar minum paracetamol saat hamil tetap aman, berikut adalah beberapa imbauan dari FDA terkait penggunaan obat pereda nyeri pada ibu hamil:

  • Konsultasikan dengan dokter semua penggunaan obat pada masa kehamilan, baik itu obat resep maupun obat bebas yang akan digunakan. Penggunaan suplemen multivitamin pada dasarnya juga harus di bawah pengawasan dokter.
  • Hindari penggunaan OAINS selama kehamilan karena risikonya terlalu besar bagi janin. Penggunaan pada trimester ketiga dapat menyebabkan menutupnya pembuluh darah pada janin sebelum waktunya.
  • Penggunaaan obat resep harus sesuai dengan petunjuk dokter. Jangan hentikan penggunaan obat tanpa berkonsultasi kembali dengan dokter.
  • Minta petunjuk dengan jelas dan terperinci pada dokter tentang obat-obatan yang Anda gunakan.
  • Jika terjadi efek samping, segera laporkan pada tenaga profesional untuk ditindaklanjuti.

Baca JugaBadan Sering Kedinginan saat Hamil, Normalkah?

Selain penggunaan obat, Bumil juga dapat mengobati keluhan nyeri dan demam dengan cara alami, seperti istirahat yang cukup, kompres hangat, menghirup aromaterapi, dan pijat.

Kini, Anda sudah mengetahui bahwa minum obat paracetamol saat hamil aman dilakukan, asalkan dengan petunjuk dan pengawasan dari dokter. Hindari menggunakan obat ini sembarangan karena dapat mengakibatkan efek samping yang berbahaya.

 

  1. Anonim. 2017. Paracetamol. medicinesinpregnancy.org/medicine–pregnancy/paracetamol/. (Diakses pada 21 Juli 2022).
  2. Anonim. 2021. Paracetamol. https://www.drugs.com/paracetamol.html. (Diakses pada 21 Juli 2022).
  3. Anonim. 2021. Using Paracetamol During Pregnancy May Alter Foetal Development. https://www.clinicbarcelona.org/en/news/using-paracetamol-during-pregnancy-may-alter-foetal-development. (Diakses pada 21 Juli 2022).

DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi