Terbit: 26 September 2022
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: dr. Sheila Amabel

Quiet quitting adalah istilah untuk pekerja yang melakukan pekerjaan seperlunya. Kebiasaan ini disebut-sebut memberikan manfaat, tetapi di satu sisi berdampak buruk bagi karir! Yuk, simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.

Mengenal Quiet Quitting dan Pengaruhnya pada Kesehatan Pekerja

Apa itu Quiet Quitting?

Quiet quitting adalah istilah untuk menggambarkan seorang karyawan yang melakukan pekerjaan seperlunya. Seseorang yang memiliki prinsip ini tidak mengerjarkan tugas di luar tanggung jawabnya, di luar jam kerja, dan menetapkan batasan dengan atasan.

Prinsip ini berpandangan bahwa keseimbangan kehidupan kerja adalah sesuatu yang penting dan pekerjaan yang terlalu banyak dianggap tidak sehat. Cara kerja ini membuat seorang karyawan menolak pencapaian berlebihan dan memilih untuk  menetapkan batasan di tempat kerja.

Ciri-ciri Quiet Quitting

Pekerja yang memiliki prinsip ini dapat dikenali dengan ciri-ciri berikut ini:

  • Berani menolak tugas di tanggung jawabnya.
  • Tidak bersemngat menghadiri rapat.
  • Datang terlambat atau berangkat lebih awal.
  • Tidak membalas email atau pesan di luar pekerjaan.
  • Pulang kerja tepat waktu.
  • Tidak memiliki pencapaian yang berlebihan.
  • Berkurangnya minat untuk melampaui pekerjaan dan promosi di perusahaan.
  • Tidak terlalu suka lembur.

Baca Juga: Pekerjaan yang Cocok untuk Introvert, Bekerja Mandiri dan Gaji Tinggi

Apa yang Membuat Seseorang Melakukan Quiet Quitting?

Ada berbagai penyebab alasan mengapa orang memiliki prinsip quiet quitting. Salah satu penyebab utamanya adalah ingin mendapatkan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan. Berikut ini adalah berbagai kondisi yang mungkin membuat seseorang menjalankan prinsip ini, di antaranya:

  • Gaji yang tidak sesuai.
  • Tidak mendapatkan apresiasi pekerjaan.
  • Beban kerja yang tidak terkendali.
  • Kelelahan akibat tugas terlalu banyak.
  • Rekan kerja yang menyebalkan.
  • Khawatir mendapatkan tambahan pekerjaan.
  • Bosan dengan pekerjaan.
  • Burnout, merupakan stres kronis di mana pekerja merasa lelah secara fisik, mental, dan emosional akibat pekerjaannya.

Melihat Lebih Dalam Manfaat Quiet Quitting

Sebagian besar pekerja mungkin pernah mengalami kelelahan terkait pekerjaan, yaitu kelelahan emosional atau fisik yang disebabkan oleh stres kerja yang berkepanjangan.

Sebagian besar orang yang memiliki kebiasaan quiet quitting mengklaim bahwa tidak bekerja secara berlebihan adalah cara untuk mengimbangi atau mengendalikan kelelahan. Melakukan pekerjaan seperlunya dianggap menurunkan tekanan yang disebabkan oleh pekerjaan.

Karyawan yang melakukan kebiasaan ini akan menetapkan batasan secara efektif di tempat kerja, misalnya dengan istirahat sesuai waktu, menolak tugas tambahan dari atasan dan rekan kerja yang melebihi peran dan tanggung jawab.

Hal tersebut terbukti membantu meningkatkan kesejahteraan pekerja dan mencegah kelelahan. Terutama dalam hal menjaga perbedaan antara waktu istirahat atau hari libur.

Sebagai contoh, tidak menjawab email kantor, panggilan telepon, atau pesan setelah jam tertentu dan tidak memeriksa pesan kerja selama liburan adalah dua cara yang sangat penting untuk membantu menanamkan batasan.

Cara ini bagus untuk menyeimbangkan kekhawatiran terhadap pekerjaan dengan kehidupan di luar pekerjaan dan kesehatan secara keseluruhan.

Baca Juga: 4 Cara Mengatasi Depresi yang Disebabkan oleh Pekerjaan

Dampak Buruk Quiet Quitting

Lebih sedikit bekerja, lebih sedikit dalam keterlibatan, dan kepuasan kerja yang lebih rendah mungkin membuat pekerja dengan prinsip ini merasa bahwa sebagian besar hari-harinya adalah sia-sia, tidak berarti, dan membosankan. Pandangan tersebut diketahui berdampak negatif pada kesehatan mental dan dapat memicu depresi.

Menolak tugas yang dianggap terlalu banyak dalam pekerjaan juga dapat membuat Anda merasa bersalah karena seringnya penolakan yang Anda berikan, di mana hal ini pada akhirnya juga dapat meningkatkan stres.

Selain itu, prinsip ini terkadang bisa menimbulkan reaksi tidak nyaman di tempat kerja, meningkatkan kekhawatiran tidak mendapatkan promosi, atau membuat cemas akan dipecat dari pekerjaan.

 

  1. Cullen, Katherine. 2022. Is “Quiet Quitting” Actually Good for Your Mental Health?. https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-truth-about-exercise-addiction/202208/is-quiet-quitting-actually-good-your-mental-health. (Diakses pada 26 September 2022)
  2. England, Adam. 2022. People Are ‘Quiet Quitting’ And It Could Be Great For Mental Health. https://www.verywellmind.com/how-quiet-quitting-can-affect-our-mental-health-6502057. (Diakses pada 26 September 2022)
  3. Hetler, Amanda. 2022. Quiet quitting explained: Everything you need to know. https://www.techtarget.com/whatis/feature/Quiet-quitting-explained-Everything-you-need-to-know. (Diakses pada 26 September 2022)


DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi