Terbit: 27 July 2023 | Diperbarui: 7 August 2023
Ditulis oleh: Devani Adinda Putri | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Zoonosis adalah istilah untuk semua infeksi pada manusia yang disebabkan oleh binatang. Simak penjelasan lengkapnya mengenai gejala, penyebab, cara mengobati, hingga pencegahannya dalalm ulasan berikut.

Zoonosis: Gejala, Penyebab, Pengobatan, dan Pencegahan

Apa itu Zoonosis?

Zoonosis adalah penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia. Penyebab penyakit ini adalah paparan kuman, virus, bakteri, dan jamur berbahaya dari hewan ke hewan; yang kemudian menyebar ke manusia—baik akibat kontak langsung, paparan air liur, atau kotoran hewan.

Penyakit zoonosis bisa menyebabkan gejala ringan, sangat parah, atau berujung pada kematian. Sebagian besar jenis hewan bisa menyebabkan kondisi ini; bahkan hewan yang terlihat bersih dan sehat juga bisa membawa patogen berbahaya yang membuat orang sakit.

Berdasarkan data dari Center of Disease Control and Prevention, 6 dari setiap 10 penyakit menular pada manusia disebabkan oleh hewan. Sementara itu, 3 dari setiap 4 penyakit menular baru pada manusia juga disebabkan oleh paparan patogen dari hewan.

Faktanya, banyak penyakit serius pada manusia yang berasal dari paparan hewan. Salah satunya adalah HIV yang awalnya dinyatakan sebagai jenis penyakit zoonosis, namun kemudian bermutasi menjadi jenis penyakit yang hanya ditularkan dari manusia ke manusia.

Penyakit zoonotik juga menyebabkan infeksi atau wabah berulang seperti infeksi ebola, salmonellosis, hingga infeksi COVID-19.

Gejala Zoonosis

Gejala penyakit bervariasi tergantung beberapa indikator, termasuk:

  • Jenis hewan yang memaparkan infeksi atau penyakit.
  • Patogen apa yang menyebabkan infeksi; apakah jamur, bakteri, atau virus.
  • Area tubuh atau organ yang terpapar patogen tersebut.

Sebagai contoh, penyakit manusia yang disebabkan oleh unggas menyebabkan gejala seperti:

  • Demam.
  • Flu biasa.
  • Sakit kepala.
  • Diare.
  • Gangguan pernapasan.
  • Masalah sistem kekebalan tubuh.

Gejala yang terjadi bisa ringan hingga berat, atau mungkin tidak menunjukkan gejala sama sekali. Setiap orang juga mungkin bereaksi berbeda saat tubuhnya terserang patogen dari hewan apa pun, termasuk unggas dan serangga.

Kapan Waktu yang Tepat untuk ke Dokter?

Segera hubungi dokter bila Anda merasa sakit atau memiliki gejala mengkhawatirkan yang mengganggu aktivitas sehari-hari, terutama jika melakukan kontak langsung dengan hewan, seperti bekerja di peternakan atau berada di tempat paparan infeksi dari hewan rentan terjadi.

Bentuk penyakit zoonosis juga bervariasi, penularannya tidak selalu dari hewan yang terlihat jelas. Misalnya, infeksi nyamuk demam berdarah, infeksi malaria, atau infeksi dari gigitan serangga lainnya. Jadi, segera dapatkan penanganan medis jika infeksi tersebut mulai menunjukkan gejala yang membahayakan.

Baca Juga: Mengenali Gejala Rabies pada Hewan dan Cara Penularannya

Penyebab Zoonosis

Penyebaran dan penularan penyakit ini bisa berasal dari berbagai cara, di antaranya:

1. Interaksi Langsung

Bila Anda melakukan kontak langsung dengan hewan seperti merawat, memelihara, atau menyentuh hewan, Anda memiliki risiko yang tinggi terkena penyakit ini. Gigitan, cakaran, urine, lendir, air liur, kotoran, atau cairan tubuh hewan yang terinfeksi bisa menularkan infeksi dan penyakit tertentu pada manusia.

2. Kontak Tidak Langsung

Interaksi tidak langsung dengan hewan terkontaminasi yang mungkin tidak disadari, seperti menyentuh permukaan yang terkontaminasi di tempat di mana hewan tinggal atau berkeliaran. Anda bisa mengalami kontak tidak langsung dari kadang binatang, habitat hewan, akuarium, makanan hewan, air, atau tanah.

3. Penularan dari Makanan (Foodborne)

Banyak infeksi yang berasal dari makanan yang terkontaminasi patogen dari hewan. Misalnya, saat Anda mengonsumsi makanan mentah termasuk daging setengah matang, telur setengah matang, sayuran mentah, atau minum susu, yogurt, dan jus buah yang tidak dipasteurisasi (mentah).

Makanan yang terkontaminasi bisa menyebabkan infeksi baik pada hewan dan manusia.

4. Penularan dari Minuman (Waterborne)

Bila Anda menyentuh atau meminum air yang terkontaminasi kotoran hewan yang terinfeksi, Anda rentan mengalami penyakit ini. Maka dari itu, pastikan minum air putih matang dan bersih.

5. Gigitan Serangga (Vector-borne)

Jenis penyakit zoonotik yang disebabkan oleh gigitan serangga seperti nyamuk dan kutu adalah yang paling umum terjadi.

Transmisi penyakit bisa terjadi di mana saja, terutama bila Anda suka melakukan aktivitas di peternakan, perkebunan, pertanian, taman, atau di tempat terbuka. Hewan atau serangga yang terkontaminasi bisa saja hidup bersama manusia.

Faktor Risiko

Setiap manusia memiliki risiko yang sama terkena setidaknya salah satu jenis penyakit ini dalam hidupnya, namun penyakit ini lebih rentan terjadi pada:

  • Orang-orang yang bekerja di peternakan dan kebun binatang.
  • Siapapun yang sering melakukan aktivitas di luar ruangan.
  • Memiliki hobi mendaki, berkebun, dan diving.
  • Para pecinta binatang, terutama yang memelihara berbagai jenis binatang.
  • Orang-orang yang tinggal dekat kandang binatang.

Selain itu, orang-orang dalam kelompok berikut ini lebih rentan mengalami gejala sedang hingga parah bila terkena penyakit zoonosis:

  • Anak-anak di bawah usia 5 tahun.
  • Penderita gangguan sistem kekebalan tubuh.
  • Wanita hamil.
  • Lansia berusia lebih dari 65 tahun.

Transmisi penyakit zoonotik bisa terjadi kapan saja dan di mana saja. Gejalanya mungkin sangat ringan hingga berat.

Baca Juga: Bolehkah Penderita Asma Memiliki Hewan Peliharaan?

Diagnosis Zoonosis

Diagnosis penyakit ini berbeda-beda, tergantung pada jenisnya. Umumnya, dokter akan bertanya beberapa pertanyaan terkait:

  • Gejala apa yang dirasakan.
  • Tingkat keparahan gejala.
  • Riwayat medis.
  • Kronologi sebelum gejala penyakit muncul.
  • Pemeriksaan fisik.

Jika dokter mencurigai adanya tanda dari salah satu penyakit menular ini, pemeriksaan medis lebih lanjut mungkin dilakukan, misalnya dengan prosedur CT scan.

Jenis Penyakit Zoonosis

Setidaknya ada sekitar 200 jenis penyakit zoonosis yang sudah diteliti, namun jenisnya mungkin akan selalu bertambah. Penyakit baru yang akan muncul di masa depan diperkirakan juga berasal dari hewan.

Berikut ini beberapa jenisnya, antara lain:

  • Flu burung.
  • Influenza pada hewan.
  • Demam Q.
  • Hepatitis E.
  • Infeksi Salmonella dan E. coli.
  • Ebola.
  • Jamur kulit (ringworm).
  • Rabies.
  • Flu babi.
  • Toksokariasis.
  • Difteri zoonosis.
  • Malaria.
  • Demam berdarah.
  • Penyakit Lyme.
  • Infeksi listeria.
  • Tuberkulosis sapi.
  • Brucellosis.
  • Enzootic abortion.
  • Erysipeloid.
  • Kriptosporidiosis.
  • Giardiasis.
  • Orf infection.
  • Parrot fever.
  • Pasteurellosis
  • Glanders.
  • Toksoplasmosis.
  • Trichinellosis.
  • Tularemia.
  • Virus West Nile.
  • Hemorrhagic colitis.
  • Cysticercosis.
  • Infeksi Campylobacter.
  • Ensefalitis dari kutu.
  • Fish tank granuloma.
  • Hydatid disease.
  • Leptospirosis.
  • Louping ill.
  • Lymphocytic choriomeningitis.
  • Rat-bite fever atau demam dari gigitan tikus.
  • Demam cakar kucing (cat scratch fever).

Beberapa jenis penyakit zoonotik sudah ada vaksinnya dan bisa ditangani dengan obat yang efektif.

Baca Juga: Alergi Hewan: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatan

Pengobatan Zoonosis

Penanganan setiap jenis bisa berbeda-beda. Dokter harus memeriksa keadaan untuk menentukan perawatan dan pengobatan terbaik.

Setelah digigit hewan, walaupun hewan tersebut terlihat sehat, mohon perhatikan bila ada gejala setelahnya dan segera periksa ke rumah sakit. Apa pun gejalanya, terutama bila Anda telah melakukan kontak langsung, segera cari pertolongan medis.

Pencegahan Zoonosis

Hewan yang terkontaminasi bisa berada di mana saja, terutama jenis serangga yang rentan membawa penyakit. Walaupun demikian, ada beberapa cara mencegah penyakit ini, di antaranya:

  • Selalu mencuci tangan setelah menyentuh binatang atau permukaan yang pernah dilewati hewan.
  • Bila memiliki hewan peliharaan, lakukan vaksin sesuai anjuran serta bersihkan seluruh kandangnya secara teratur.
  • Bila Anda bekerja di peternakan, gunakan pakaian pelindung dan sarung tangan. Anda juga harus sering cuci tangan dan membersihkan tubuh setelah bekerja.
  • Cuci tangan setelah menyentuh tanaman, tanah, air akuarium, atau permukaan lainnya yang ada kaitannya dengan binatang.
  • Hindari gigitan nyamuk dan serangga dengan menggunakan pakaian panjang di ruang terbuka atau menggunakan semprotan anti serangga.
  • Tetap jaga protokol kebersihan dan keamanan saat berkunjung ke kebun binatang, tempat penangkaran hewan, dan taman margasatwa.
  • Jangan menggaruk luka bekas cakar atau gigitan binatang.

Pada akhirnya, Anda harus selalu berhati-hati karena penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia mungkin sulit dicegah. Bila mengalami gejala penyakit yang tidak Anda ketahui atau mungkin terkait hewan yang terkontaminasi, segera konsultasi dengan dokter.

 

  1. Anonim. 2017. Zoonotic Diseases. https://www.cdc.gov/onehealth/basics/zoonotic-diseases.html. (Diakses pada 13 Januari 2020).
  2. Anonim. 2017. Zoonoses. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/zoonoses#:~:text. (Diakses pada 13 Januari 2020).
  3. Wells, Diana. 2017. Zoonotic Diseases. https://www.healthline.com/health/zoonosis. (Diakses pada 13 Januari 2020).


DokterSehat | © 2024 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi