Terbit: 21 July 2022
Ditulis oleh: Rhandy Verizarie | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Anemia pada ibu hamil bisa berdampak buruk bagi ibu maupun janin. Simak penjelasan mengenai gejala, penyebab, hingga cara mengatasinya dalam ulasan berikut ini.

Anemia pada Ibu Hamil: Gejala, Penyebab, dan Pengobatan

Apa itu Anemia pada Ibu Hamil?

Anemia pada ibu hamil adalah kondisi ketika ibu yang tengah mengandung mengalami kekurangan darah.

Selama menjalani masa kehamilan, Bumil membutuhkan sel darah dalam jumlah yang lebih banyak daripada biasanya; ini karena tidak hanya ibu yang perlu asupan nutrisi dan oksigen, melainkan juga janin.

Apabila mengalami anemia,  baik ibu maupun janin tidak akan tercukupi kebutuhan nutrisi dan oksigennya—karena jumlah sel darah yang bertugas mengantarkan kedua elemen tersebut tidak memadai.

Pada perkembangannya, hal ini bisa memicu masalah kesehatan pada ibu dan janin seperti kelahiran prematur, bayi lahir dengan berat badan yang tidak ideal, bahkan kematian.

Gejala Anemia pada Ibu Hamil

Sayangnya, ciri anemia pada ibu hamil kerap kali tidak dapat terdeteksi sedari awal. Pasalnya, gejala yang muncul tampak seperti gejala kehamilan umum. Bahkan pada kasus anemia yang ringan, tidak ada gejala berarti yang dirasakan.

Gejala spesifik dari anemia yang terjadi pada wanita hamil mungkin baru dapat terlihat ketika kondisi ini sudah masuk ke dalam tahap yang lebih serius. Gejala tersebut antara lain:

  • Tubuh mudah lelah.
  • Tubuh terasa lemas.
  • Kulit pucat atau berwarna kekuningan.
  • Detak jantung tidak beraturan.
  • Napas pendek.
  • Kepala pusing.
  • Sakit kepala.
  • Nyeri dada.
  • Tangan dan kaki terasa dingin.

Selain itu, ada juga sejumlah gejala lainnya yang mungkin akan dirasakan oleh ibu hamil ketika ia mengalami anemia (namun jarang terjadi). Gejala-gejala yang dimaksud meliputi:

  • Kerontokan rambut.
  • Kulit terasa gatal.
  • Sariawan.
  • Telinga berdenging.
  • Gangguan indera perasa.

Baca Juga: 13 Sayuran Penambah Darah untuk Mencegah Anemia

Kapan Harus Periksa ke Dokter?

Selama masa kehamilan, pemeriksaan medis secara berkala sudah selayaknya Anda terapkan. Hal ini bertujuan untuk memantau kesehatan Anda dan perkembangan janin dalam kandungan. Pemeriksaan kehamilan juga berfungsi untuk mendeteksi apakah ada masalah kesehatan yang terjadi, seperti anemia ini salah satunya.

Sementara itu, segera kunjungi dokter apabila sekiranya Anda merasakan gejala-gejala yang mengarah pada kondisi ini. Penanganan medis sedini mungkin dapat meningkatkan peluang kesembuhan dan mencegah kondisi bertambah buruk.

Penyebab Anemia pada Ibu Hamil

Sama seperti anemia pada umumnya, penyebab anemia pada ibu hamil yakni karena kurangnya asupan zat besi, baik itu melalui makanan maupun suplemen. Padahal, zat besi adalah mineral yang berperan penting dalam proses produksi hemoglobin.

Hemoglobin adalah salah satu komponen protein dalam sel darah merah. Protein ini bertugas untuk mengantarkan oksigen dan nutrisi yang berasal dari makanan ke seluruh organ dan jaringan tubuh, termasuk menuju janin.

Manakala kebutuhan zat besi tidak terpenuhi, otomatis produksi hemoglobin pun menjadi terhambat. Inilah yang lantas berujung pada kondisi anemia. Oleh sebab itu, pastikan Anda mendapat asupan zat besi yang mencukupi selama hamil. Konsultasikan hal ini dengan dokter.

Faktor Risiko

Selain itu, ada juga beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko ibu hamil untuk mengalami anemia. Faktor-faktor tersebut meliputi:

  • Jarak dengan kehamilan sebelumnya dekat.
  • Hamil anak kembar.
  • Frekuensi muntah di pagi hari (morning sickness) cukup sering.
  • Mengalami menstruasi dengan intensitas tinggi sebelum hamil.
  • Memiliki riwayat anemia.

Diagnosis Anemia pada Ibu Hamil

Guna mendiagnosis masalah ini, dokter akan melakukan pemeriksaan yang terbagi menjadi 3 (tiga) tahap yakni:

  • Anamnesis.
  • Pemeriksaan fisik.
  • Tes darah.

1. Anamnesis

Pertama-tama dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berkaitan dengan riwayat medis keluarga, riwayat anemia sebelumnya, atau kondisi kronis, obat-obatan yang dikonsumsi, warna tinja dan urine, masalah perdarahan, dan kebiasaan tertentu (seperti konsumsi minuman beralkohol).

2. Pemeriksaan Fisik

Setelah itu, saat melakukan pemeriksaan fisik lengkap, dokter kan memerhatikan gejala fisik pasien seperti tanda-tanda kelelahan, pucat, penyakit kuning, pucat pada alas kuku, limpa yang membesar (splenomegali), pembesaran hati (hepatomegali), bunyi jantung, dan kelenjar getah bening.

3. Tes Darah

  • Complete Blood Count

Tes ini menentukan tingkat keparahan dan jenis anemia (mikrositik, normositik atau makrositik). Pengukuran hemoglobin (Hb) dan hematokrit (Ht). Selain itu, tes darah lengkap ini juga bertujuan untuk mengukur jumlah hemoglobin yang merupakan refleksi akurat dari jumlah sel darah merah dalam darah.

  • Stool Hemoglobin Test

Tes darah dalam tinja ini berfungsi untuk mendeteksi perdarahan pada lambung atau usus.

  • Peripheral Blood Smear

Tes ini dilakukan dengan dengan cara melihat sel darah merah di bawah mikroskop untuk menentukan ukuran, bentuk, jumlah, dan penampilan serta mengevaluasi sel-sel lain dalam darah.

  • Pengukuran Kadar Zat Besi

Kadar besi serum dapat memberi tahu dokter apakah penyakit mungkin terkait dengan kekurangan zat besi atau tidak. Tes ini biasanya disertai dengan tes lain yang mengukur kapasitas penyimpanan zat besi tubuh, seperti tingkat transferrin dan tingkat ferritin.

Tingkat transferrin bermanfaat untuk mengevaluasi protein yang mengangkut zat besi dalam tubuh. Sedangkan tingkat ferritin bermanfaat untuk mengevaluasi total zat besi yang tersedia dalam tubuh.

  • Tes Kadar Folat

Asam folat atau vitamin B12 adalah bentuk vitamin B kompleks yang larut dalam air dan tubuh membutuhkannya untuk menghasilkan sel darah merah. Oleh sebab itu, biasanya dokter juga akan melakukan tes kadar folat untuk memastikan apakah anemia yang terjadi berkaitan dengan kurangnya vitamin ini.

  • Tes Bilirubin

Tes bilirubin berguna untuk menentukan apakah sel darah merah dihancurkan dalam tubuh yang mungkin merupakan tanda dari jenis hemolitik.

  • Elektroforesis Hemoglobin

Tes ini kadang-kadang digunakan ketika seseorang memiliki riwayat keluarga dengan penyakit yang sama. Tes ini memberikan informasi tentang anemia sel sabit atau thalasemia.

  • Hitungan Retikulosit

Tes ini berguna untuk melihat ukuran sel darah merah baru sumsum tulang produksi.

  • Uji Fungsi Ginjal

Pemeriksaan fungsi ginjal dapat membantu menentukan apakah ada disfungsi ginjal atau tidak. Gagal ginjal dapat menyebabkan defisiensi erythropoietin (Epo) yang menyebabkan anemia.

  • Biopsi Sumsum Tulang Belakang

Tes ini berguna untuk mengevaluasi produksi sel darah merah. Dokter akan melakukan tes ini apabila ada indikasi pasien mengalami masalah pada sumsum tulang belakang.

Baca Juga: 10 Gejala Anemia yang Umum Terjadi (Lelah Hingga Kulit Kering)

Pengobatan Anemia pada Ibu Hamil

Cara mengatasi anemia pada ibu hamil tergantung dari penyebab yang mendasarinya. Apabila anemia terjadi karena ibu hamil kurang asupan zat besi, maka dokter akan memberikan resep suplemen zat besi, pun meminta pasien untuk menerapkan diet yang menitikberatkan pada asupan dari mineral tersebut.

Idealnya, wanita hamil memerlukan 27 miligram zat besi setiap harinya.

Ada sejumlah makanan yang baik untuk menambah asupan zat besi dalam tubuh, yaitu:

  • Daun bayam.
  • Daun kale.
  • Ikan.
  • Daging merah.
  • Daging ayam.
  • Telur.
  • Sereal fortifikasi.

Komplikasi yang Bisa Terjadi

Jika tidak tertangani dengan baik, anemia dapat menyebabkan komplikasi berupa:

  • Kelahiran prematur.
  • Risiko bayi lahir dengan berat badan yang kurang ideal.
  • Kematian ibu pasca melahirkan.

Pencegahan Anemia pada Ibu Hamil

Mencukupi kebutuhan vitamin dan mineral—terutama zat besi dan vitamin B12—adalah cara mencegah anemia pada ibu hamil yang paling utama, terkecuali apabila kondisi ini terjadi karena adanya masalah lain. Selain itu, melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin juga dapat meminimalisir risiko ibu untuk mengalami anemia.

 

  1. Anonim. Anemia in Pregnancy. https://www.webmd.com/baby/guide/anemia-in-pregnancy. (Diakses 6 November 2020)
  2. Anonim. Iron Deficiency Anemia During Pregnancy. https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/pregnancy-week-by-week/in-depth/anemia-during-pregnancy/art-20114455(Diakses 6 November 2020)
  3. Anonim. Oxford University Hospital. Iron Deficiency Anaemia During Pregnancyhttps://www.ouh.nhs.uk/patient-guide/leaflets/files/14412Panaemia.pdf. (Diakses 6 November 2020)
  4. Bellefonds, C. 2018. How to Treat and Prevent Anemia in Pregnancy. https://www.whattoexpect.com/pregnancy/anemia/. (Diakses 6 November 2020)


DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi