Terbit: 3 January 2023
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: dr. Sheila Amabel

Melakukan tes kesehatan sedini mungkin untuk wanita dapat mencegah berbagai penyakit dan membantu pengobatan lebih mudah. Lantas, apa saja tes kesehatan yang dibutuhkan wanita? Simak selengkapnya dalam ulasan di bawah ini.

7 Tes Kesehatan yang Penting untuk Wanita, Yuk Cermati

Pemeriksaan Kesehatan yang Dibutuhkan Wanita

Menjalani tes skrining sedini mungkin dapat mencegah penyakit tertentu seperti kanker, diabetes, hingga osteoporosis. Cek kesehatan bisa membantu mendeteksi penyakit meskipun belum menunjukan gejala.

Berikut ini berbagai jenis tes kesehatan yang dibutuhkan oleh wanita, di antaranya:

1. Pemeriksaan Payudara

Semakin dini menemukan kanker payudara, akan semakin baik kesempatan untuk pulih. Kanker payudara yang kecil cenderung tidak menyebar ke kelenjar getah bening sekitar dan organ vital seperti paru-paru maupun otak.

Jika Anda berusia 20-30 an, dokter perlu melakukan pemeriksaan payudara sebagai bagian dari pemeriksaan rutin reguler setiap 1-3 tahun.

Mungkin Anda memerlukan skrining yang lebih sering jika memiliki faktor risiko, seperti riwayat kanker payudara pada keluarga, atau riwayat tumor pada payudara di masa lalu.

  • Skrining dengan Mammografi

Mammografi adalah sinar-X dosis rendah yang sering kali membantu menemukan tumor atau benjolan meskipun Anda belum merasakannya.

Ketika berusia 40 tahun, Anda sebaiknya melakukan tes mammografi setiap beberapa tahun. Sementara saat usia 50-75 tahun, pemeriksaan perlu dilakukan setiap tahun. Dokter akan merekomendasikan skrining yang lebih sering jika Anda berisiko

2. Pemeriksaan Serviks

Dengan melakukan pap smear reguler, kanker serviks dengan mudah dicegah. Serviks merupakan leher rahim yang berada di antara rahim dan vagina. Pap smear akan menemukan sel abnormal di serviks, di mana sel tersebut mengalami perubahan bentuk meskipun belum menjadi kanker.

Penyebab utama kanker serviks adalah human papillomavirus (HPV), virus yang biasa menyebabkan penyakit menular seksual (PMS).

  • Skrining untuk Kanker Serviks

Selama menjalani pap smear, dokter akan mengambil sejumlah sel di serviks dan mengirimkannya ke laboratorium untuk dianalisis. Prosedur dilakukan ketika wanita  sudah berusia 21 tahun dan sudah berhubungan seksual, serta dilakukan setiap 3 tahun setelahnya.

Jika berusia 30 tahun atau lebih, Anda dapat melakukan tes HPV setiap minimal 5 tahun. Jika Anda aktif secara seksual, butuh tes vagina untuk klamidia dan gonore setiap tahun.

3. Pemeriksaan Tulang

Osteoporosis adalah kondisi di mana tulang menjadi lemah dan rapuh. Biasanya wanita akan mulai kehilangan massa tulang setelah menopause.

Gejala pertamanya sering kali nyeri yang berlebihan setelah jatuh atau terpelintir, dan ini bisa dikarenakan terjadinya fraktur (patah tulang) akibat massa tulang yang hilang.

  • Skrining Osteoporosis

Tipe khusus sinar X yang disebut dual energy X-ray absorptimoetri (DXA) dapat mengukur kekuatan tulang dan menemukan osteoporosis sebelum patah tulang terjadi.

Skrining ini juga dapat membantu memprediksi risiko patah tulang di kemudian hari. Skrining osteoporosis merupakan tes kesehatan yang dibutuhkan dan direkomendasikan untuk semua wanita di atas 65 tahun atau lebih.

4. Pemeriksaan Penyakit Menular Seksual

Penyakit menular seksual sering kali tidak bergejala, itu artinya dapat menularkannya ke pasangan seks atau jika hamil, kepada bayi yang belum lahir. Pemeriksaan ini harus dimulai segera setelah aktif secara seksual, atau lebih cepat jika memungkinkan.

5. Tes HIV

HIV (human immunodeficiency virus) dapat menyebar melalui cairan tubuh atau darah dari orang yang terinfeksi, seperti penggunaan jarum suntik bersamaan atau hubungan seks tidak aman.

Wanita hamil dengan HIV dapat menularkan infeksi ke bayinya. Meskipun masih belum ada pengobatan atau vaksin untuk HIV, namun terapi dini dengan obat antiretroviral (ARV) dapat membantu sistem imun melawan virus ini.

  • Skrining HIV

Gejala HIV bisa tidak muncul selama bertahun-tahun. Cara satu-satunya untuk mengetahui apakah Anda terinfeksi virus ini adalah dengan tes darah. Tes ELISA atau EIA dapat dilakukan untuk mencari antibodi terhadap HIV.

Jika Anda mendapatkan hasil positif, mungkin memerlukan tes kedua untuk memastikan hasil. Namun, tetap saja Anda mampu mendapatkan hasil yang negatif sekalipun sebenarnya telah terinfeksi HIV, maka penting untuk mengulang tes HIV ini. Setiap orang perlu mendapatkan tes HIV antara usia 13–64 tahun.

Baca Juga: 11 Jenis Tes Kesehatan Sebelum Menikah yang Harus Anda Ketahui

6. Pemeriksaan Kulit

Terdapat beberapa tipe kanker kulit, dan tatalaksana dini dapat efektif untuk semua tipe tersebut. Tipe paling berbahaya adalah melanoma, kanker yang akan memengaruhi sel memproduksi warna pada kulitnya (seperti tahi lalat).

Beberapa orang memiliki risiko yang diwariskan dari keluarganya untuk tipe kanker tertentu, beberapa juga memiliki peningkatan risiko karena pajanan matahari yang terlalu berlebihan.

Kanker sel basal pada kulit dan kanker sel skuamosa kulit merupakan kanker kulit non-melanoma yang sering terjadi.

  • Skrining Kanker Kulit

Mendeteksi kanker kulit dapat dilakukan secara mandiri. Anda bisa memulai dengan memeriksa adanya perubahan pada kulit, termasuk adanya tahi lalat baru, pelebaran tahi lalat, maupun bercak pada kulit.

Perhatikan pula ukuran, warna, bentuk, dan batas dari pola tersebut. Anda juga perlu berdiskusi ke dokter kulit untuk memeriksa kondisi kulit Anda.

7. Pemeriksaan Tekanan Darah

Seiring bertambahnya usia, tekanan darah dapat meningkat, khususnya pada wanita yang memiliki masalah kelebihan berat badan atau kebiasaan yang buruk terkait kesehatan.

Tekanan darah tinggi dapat mengancam nyawa seperti serangan jantung atau stroke tanpa adanya peringatan apapun. Maka dari itu, diskusikan dengan dokter untuk mengontrol tekanan darah.

Turunkan tekanan darah Anda supaya dapat mencegah bahaya jangka panjang seperti penyakit jantung ataupun gagal ginjal.

  • Skrining Tekanan Darah Tinggi 

Pembacaan tekanan darah meliputi 2 komponen: pertama adalah tekanan darah sistolik ketika jantung berdetak, dan yang kedua adalah diastolik yaitu tekanan di antara 2 detak jantung.

Tekanan darah normal adalah di bawah 120/80 mmHg. Sementara tekanan darah tinggi adalah 140/90 mmHg atau lebih. Sebaiknya tanyakan kepada dokter seberapa sering Anda perlu mengecek tekanan darah.

Nah, itulah berbagai tes kesehatan yang dibutuhkan wanita unuk mendeteksi penyakit sedini mungkin. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Teman Sehat!

 

  1. Anonim. 2022. 11 Health Screening Tests Every Woman Should Have. https://www.uhhospitals.org/blog/articles/2018/08/11-health-screening-tests-every-woman-should-have. (Diakses pada 2 Januari 2023)
  2. Anonim. 2021. Essential Screening Tests for Women. https://www.webmd.com/women/ss/slideshow-screening-tests-women. (Diakses pada 2 Januari 2023)
  3. Anonim 2017. Health Tests Every Woman Needs. https://www.healthline.com/health/womens-health-tests. (Diakses pada 2 Januari 2023)
  4. Rodriguez, Diana. 2017. 10 Health Screenings All Women Should Have. https://www.everydayhealth.com/womens-health/10-screenings-all-women-should-have.aspx. (Diakses pada 2 Januari 2023)


DokterSehat | © 2023 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi