Terbit: 28 Oktober 2021 | Diperbarui: 29 Oktober 2021
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Ngidam pada suami yang istrinya sedang hamil memang benar-benar terjadi dengan ciri-ciri atau gejala tertentu. Gejala kehamilan yang juga dirasakan oleh suami disebut sindrom Couvade. Lantas apa ciri-ciri ngidam pada suami? Yuk, simak penjelasan selengkapnya berikut ini.

Tidak Hanya Bumil, Ini Ciri-Ciri Ngidam yang Terjadi pada Suami

Ciri-Ciri Ngidam pada Suami

Bagi kebanyakan wanita hamil, ngidam makanan hanya dalam beberapa kategori, seperti makanan manis, pedas, asin, atau terkadang asam. Begitu juga halnya dengan suami yang bisa mengidam makanan tertentu selama kehamilan istrinya.

Ngidam yang dialami suami dikenal sindrom Couvade atau kehamilan simpatik, yang memiliki berbagai macam gejala. Tanda dan gejala yang mungkin dirasakan setiap suami bisa sangat berbeda—sama seperti gejala kehamilan yang sebenarnya. Ciri-ciri ngidam atau gejala kehamilan pada suami dapat dibagi tergantung pada efek psikologis atau fisik.

Ciri-ciri psikologis pada suami ngidam yang mungkin terjadi, termasuk:

  • Kecemasan.
  • Depresi.
  • Susah tidur.
  • Kegelisahan.
  • Penurunan keinginan untuk berhubungan seks atau perubahan libido.

Sedangkan ciri-ciri atau gejala fisik pada suami ngidam, termasuk:

  • Mual, muntah, dan mulas.
  • Rasa sakit atau kembung di perut.
  • Perubahan nafsu makan.
  • Keram di kaki.
  • Sakit punggung.
  • Iritasi genital atau urine.
  • Penambahan berat badan atau penurunan berat badan.
  • Distensi perut (perut terasa penuh).

Selain itu, sakit gigi menjadi salah satu gejala umum lainnya. Faktanya, sebuah artikel jurnal baru-baru ini menjelaskan bahwa jika suami mengeluh sakit gigi, memiliki gejala fisik lain seperti yang dijelaskan di atas, dan memiliki pasangan hamil, sindrom Couvade mungkin menjadi penyebabnya.

Baca Juga: Ciri-Ciri Perut Hamil dan Perut Buncit yang Mudah Dikenali

Penyebab Sindrom Couvade

Satu atau lebih dari faktor-faktor ini dapat memicu terjadinya sindrom Couvade, meskipun para ahli medis masih tidak mengetahui mengapa beberapa pria mengembangkan kondisi tersebut.

Berikut ini beberapa faktor yang mungkin menyebabkan sindrom Couvade:

  • Somatisasi. Gejala somatik adalah ciri fisik nyata yang terjadi karena tekanan emosional. Kondisi ini umum bagi calon ayah untuk merasakan kecemasan atau stres tentang kelahiran anaknya
  • Perubahan kadar hormon. Beberapa penelitian menunjukkan pria istrinya hamil mungkin mengalami perubahan hormon, seperti penurunan testosteron dan peningkatan estradiol. Kemungkinan perubahan hormonal ini memicu banyak gejala sindrom Couvade.
  • Ikatan batin. Suami lebih terikat dengan kehamilan istri dan memiliki lebih banyak ikatan batin dengan janin lebih mungkin mengalami gejala kehamilan, termasuk mengidam.
  • Penyebab psikososial. Beberapa dokter meyakini bahwa sindrom Couvade terkait dengan kesehatan mental. Penjelasan umum untuk gejalanya, termasuk kecemburuan pada kemampuan pasangan untuk hamil dan melahirkan, bersalah karena membuat pasangannya hamil, dan rasa persaingan terhadap peran orang tua. Namun, hal ini ini hanya teori potensial dan tidak ada yang terbukti melalui penelitian.

Baca Juga: 7 Penyebab Ngidam saat Hamil (No. 3 Harus Diwaspadai)

Seberapa Umum Sindrom Couvade?

Suami di seluruh dunia mengalami sindrom Couvade. Penelitian telah menemukan tingkat yang bervariasi di berbagai belahan dunia, tetapi statistik terbaru menunjukkan bahwa sindrom Couvade terjadi pada sekitar 25% hingga 52% pria di Amerika Serikat yang memiliki pasangan hamil.

Meskipun mungkin mengalami gejala yang parah, tidak sedikit yang hanya mengalami beberapa gejala ringan. Ini karena gejala hilang setelah melahirkan di hampir semua kasus, namun kondisi ini sebagian besar tidak diketahui.

Kapan Munculnya Ngidam pada Suami?

Ciri-ciri atau gejala yang terkait dengan sindrom Couvade cenderung berkembang pada trimester pertama. Jika diperhatikan, trimester pertama biasanya mengalami morning sickness, kelelahan, dan gejala fisik kehamilan yang tidak menyenangkan lainnya.

Gejala sindrom Couvade dapat mereda selama trimester kedua, yang juga cenderung terjadi pada seluruh masa kehamilan.

Bagi ibu hamil, trimester kedua terkadang secara anekdot disebut sebagai periode bulan madu karena pasangan suami istri biasanya merasa baik. Suami yang mengalami sindrom Couvade biasanya merasa baik juga.

Gejala sindrom Couvade kemudian cenderung muncul kembali dan memburuk pada trimester ketiga dan saat menjelang kelahiran. Ini sangat senada dengan penyakit kehamilan biasa dan ketidaknyamanan yang dialami saat tubuh bersiap untuk melahirkan.

 

  1. Anonim. Tanpa Tahun. What Is Sympathetic Pregnancy? Can Your Partner Really Share Your Symptoms?. https://www.babydoppler.com/blog/what-is-sympathetic-pregnancy-can-your-partner-really-share-your-symptoms/
  2. Bradford, Evonne L. 2021. Couvade syndrome (sympathetic pregnancy). https://www.babycenter.com/pregnancy/relationships/strange-but-true-couvade-syndrome-sympathetic-pregnancy_10364940 (Diakses pada 28 Oktober 2021)
  3. Marcin, Ashley. 2020. What Is Couvade Syndrome?. https://www.healthline.com/health/pregnancy/couvade-syndrome#meaning (Diakses pada 28 Oktober 2021)
  4. Villines, Zawn. 2019. Couvade Syndrome: When Expectant Dads Get Pregnancy Symptoms. https://www.goodtherapy.org/blog/couvade-syndrome-when-expectant-dads-get-pregnancy-symptoms-0116197 (Diakses pada 28 Oktober 2021)


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi