Terbit: 27 November 2020 | Diperbarui: 28 Oktober 2021
Ditulis oleh: Rhandy Verizarie | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Transplantasi rahim adalah salah satu metode baru untuk membantu wanita yang mengalami infertilitas atau kemandulan agar bisa memiliki momongan. Simak informasi lengkap mengenai tindakan medis yang satu ini mulai dari tujuan, siapa saja yang dapat melakukannya, hingga tata cara pelaksanaannya.

Transplantasi Rahim: Tujuan, Prosedur, Efek Samping, dll

Apa Itu Transplantasi Rahim?

Transplantasi rahim—disebut juga cangkok rahim—adalah suatu metode medis yang sesuai dengan namanya, dilakukan dengan cara mencangkokan rahim dari seorang pendonor kepada penerima donor yang membutuhkan. Siapa yang membutuhkannya? Ialah wanita yang menderita infertilitas akibat ada masalah pada rahimnya.

Cangkok rahim atau uterus terbilang baru, dan pada tahun 2019—bertempat di Cleveland Clinic, Amerika Serikat— seorang bayi lahir dari ibu penerima donor rahim dari wanita yang sudah meninggal. Meskipun terbukti berhasil, hingga saat ini transplantasi uterus masih belum bisa diterapkan secara luas karena para ahli masih harus melakukan penelitian dan pengembangan terhadapnya .

Mengapa Melakukan Transplantasi Rahim?

Sama seperti metode kesuburan lainnya, tujuan dari melakukan transplantasi ini tidak lain guna membantu wanita yang mengalami infertilitas sehingga tidak bisa hamil. Adalah absolute uterine factor infertility (AUFI), kondisi yang akhirnya menyebabkan infertilitas tersebut.

AUFI adalah istilah untuk menggambarkan adanya masalah pada rahim. Wanita yang mengidap AUFI umumnya mengalami kondisi-kondisi berikut ini:

  • Tidak memiliki rahim
  • Bentuk dan struktur rahim tidak sempurna
  • Riwayat operasi pengangkatan rahim

Ada sejumlah faktor mengapa seorang wanita bisa mengidap AUFI, dan sindrom Mayer-Rokitansky-Kuster-Hauser (MRKH) menjadi yang paling umum. Sindrom MRKH ini merupakan kelainan bawaan yang menyebabkan  wanita tidak memiliki bentuk dan struktur rahim maupun vagina yang sempurna (bahkan bisa tidak ada sama sekali).

Selain MRKH, faktor lainnya yang bisa memicu AUFI hingga berujung pada kemandulan adalah sebagai berikut:

  • Mioma uteri
  • Rahim rusak akibat radiasi
  • Adenomiosis
  • Sindrom Asherman

Siapa yang Dapat Melakukan Transplantasi Rahim?

Seperti yang sudah dijelaskan, transplantasi rahim utamanya untuk wanita yang mengalami infertilitas akibat kondisi yang bernama AUFI agar bisa hamil. Namun, penerapan metode ini masih belum bisa secara masif karena uji klinis yang masih sedikit dan terbatas.

Lagipula, risiko dari melakukan cangkok rahim masih terlalu tinggi, bahkan melebihi manfaatnya. Kendati demikian, bukan tidak mungkin pada masa mendatang transplantasi uterus menjadi salah satu metode lazim sebagaimana metode-metode transplantasi organ yang lainnya.

Baca Juga: Ciri-Ciri Rahim Bermasalah dan Penyebabnya yang Mengganggu Kesuburan!

Persiapan Transplantasi Rahim

Sama seperti metode cangkok organ yang lain, ada sejumlah persiapan yang harus dilakukan oleh penerima donor. Kesiapan mental dan fisik pun menjadi hal yang paling utama.

Dokter harus benar-benar memastikan jika wanita calon penerima donor berada dalam kondisi terbaik untuk mejalani prosedur medis ini. Oleh karena itu, dokter akan terlebih dahulu melakukan pemeriksaan medis secara menyeluruh terhadap pasien. Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan hasil yang bagus, pihak rumah sakit akan meminta pasien—dan anggota keluarga— untuk menandatangani formulir persetujuan.

Hal yang sama juga berlaku bagi pendonor rahim. Sebagai informasi, tindakan cangkok rahim yang telah dilakukan menggunakan rahim yang berasal dari orang yang telah meninggal dunia. Ini bertujuan untuk meminimalisir risiko mengingat penerapan metode tersebut masih dalam lingkup penelitian dan pengembangan.

Pelaksanaan Transplantasi Rahim

Setelah pasien menandatangani formulir persetujuan untuk menjalani prosedur ini—yang mana artinya ia bersedia untuk menjadi partisipan penelitian—dokter akan melakukan tindakan. Transplantasi rahim terbagi ke dalam 5 (lima) tahapan tindakan, yaitu:

  • In vitro fertilization (IVF)
  • Transplantasi uterus
  • Terapi imunosupresan
  • Implantasi embrio
  • Pemantauan kehamilan

1. In Vitro Fertilization (IVF)

In vitro fertilization (IVF) atau yang lebih umum kita kenal sebagai metode bayi tabung menjadi langkah pertama yang akan dokter lakukan. Pada tahap ini, dokter akan memberikan obat penambah kesuburan. Tujuannya agar ovarium dapat memproduksi sel telur.

Setelah itu, sel telur akan diambil untuk dilakukan pembuahan luar. Kemudian, embrio yang terbentuk dari pembuahan tersebut akan menjalani pembekuan.

2. Transplantasi Rahim

Tahap selanjutnya adalah cangkok rahim. Dokter akan mengangkat rahim beserta serviks dari pendonor untuk selanjutnya ditransplantasikan pada penerima donor. Proses ini biasanya memakan waktu sekitar 6-8 jam.

Apakah rahim yang telah tertanam pada tubuh penerima donor langsung dapat berfungsi? Tentu saja tidak. Perlu setidaknya 6 bulan ke depan sampai rahim benar-benar siap untuk mengandung.

3. Terapi Imunosupresan

Apabila transplantasi berjalan lancar, dokter akan memberikan resep obat imunosupresan. Hal ini bertujuan untuk melindungi rahim dari serangan sistem imun. Pasalnya, sistem imun pasti menganggap organ “baru” tersebut sebagai objek asing yang berbahaya.

4. Implantasi Embrio

Setelah rahim benar-benar sudah siap, barulah dokter akan melakukan implantasi embrio yang tadi menjalani proses pembekuan.

Bagaimana setelah Transplantasi Rahim?

Setelah menjalani transplantasi, dokter akan meminta pasien untuk mengonsumsi obat imunosupresan dalam jangka waktu tertentu guna mencegah rahim mengalami masalah akibat serangan dari sistem imun yang menganggapnya sebagai suatu bahaya.

Sementara ketika rahim telah menjalankan fungsinya yakni menjadi tempat tumbuh kembang embrio hingga menjadi bayi, dokter akan terus melakukan pemantauan layaknya memantau kehamilan pada umumnya.

Sayangnya, rahim hasil transplantasi ini kabarnya tidak bersifat permanen. Asupan obat imunosupresan dalam jangka panjang dapat memberikan efek buruk yang bahkan bisa sampai mengancam keselamatan jiwa. Oleh karena itu, kemungkinan besar setelah kelahiran terjadi, rahim tersebut harus kembali menjalani prosedur pengangkatan (histerektomi) guna mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

Baca Juga: 7 Gejala Kanker Rahim yang Perlu Dikenali dan Cara Mengobatinya

Efek Samping Transplantasi Rahim

Titik berat efek samping dari prosedur ini adalah konsumsi obat imunosupresannya. Obat tersebut kemungkinan besar akan menyebabkan sejumlah masalah kehamilan, seperti:

  • Bayi lahir prematur
  • Berat badan bayi kurang dari ideal
  • Bayi terlahir cacat

Sementara terkait dengan pelaksanaan pencangkokannya, risiko yang muncul meliputi:

  • Perdarahan mayor
  • Infeksi

Biaya Transplantasi Rahim

Transplantasi uterus masih dalam tahap penelitian dan pengembangan, sehingga belum ada informasi pasti berapa biaya dari tindakan tersebut.

 

  1. Anonim. What is a Uterus Transplant and how dangerous is it? https://nwhn.org/uterus-transplant-dangerous/ (accessed on 27 November 2020)
  2. Anonim. America, a Woman Gives Birth After Uterus Transplant From a Deceased Donor. https://health.clevelandclinic.org/for-the-first-time-in-north-america-woman-gives-birth-after-uterus-transplant-from-deceased-donor/ (accessed on 27 November 2020)
  3. Anonim. Penn Uterus Transplant Program. https://www.pennmedicine.org/for-patients-and-visitors/find-a-program-or-service/penn-fertility-care/uterus-transplant (accessed on 27 November 2020)
  4. Anonim. Uterus Transplant. https://www.uabmedicine.org/patient-care/treatments/uterus-transplant (accessed on 27 November 2020)
  5. Horsager-Boehrer, R. 2019. Uterine transplant: This prospect for pregnancy is not worth the risks. https://utswmed.org/medblog/uterine-transplant-motherhood/ (accessed on 27 November 2020)


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi