Terbit: 29 Desember 2021 | Diperbarui: 30 Desember 2021
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Berbagai vaksin wanita tersedia untuk mencegah penyakit tertentu. Penting untuk wanita menerima vaksin ini, terutama jika berisiko tinggi terhadap penyakit, misalnya hepatitis B. Ladies, yuk, ketahui jenis vaksin yang dianjurkan untuk wanita berikut ini!

7 Jenis Vaksin yang Penting untuk Wanita

Jenis Vaksin untuk Wanita

Menurut CDC, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS, wanita harus melakukan tes kesehatan tahunan terhadap risiko infeksi karena kesehatan, usia, pekerjaan, perjalanan, gaya hidup, dan riwayat vaksinasi.

Ada berbagai jenis vaksin wanita agar terhindari dari penyakit tertentu dan tetap bisa melakukan aktivitas.

Berikut ini sejumlah vaksin untuk wanita:

1. Vaksin Human Papillomavirus (HPV)

Sebagian besar kanker serviks terkait dengan HPV. Vaksin HPV secara umum dianggap aman dan efektif. Wanita dapat divaksinasi hingga usia 26 tahun, dan biasanya ada sedikit atau tanpa efek samping. Berikut ini beberapa fakta HPV:

  • Perempuan dan anak laki-laki berusia 11 atau 12 tahun harus menerima vaksinasi HPV.
  • Idealnya, remaja harus mendapatkan vaksin sebelum kontak seksual pertamanya.
  • Wanita hamil atau orang yang memiliki penyakit sedang atau berat tidak boleh mendapatkan vaksinasi HPV.

Sebaiknya jangan mendapatkan vaksin HPV jika memiliki riwayat reaksi alergi terhadap lateks, ragi, atau elemen apa pun dalam vaksin HPV.

Efek samping vaksin ini biasanya ringan, seperti pembengkakan, kemerahan, atau nyeri di tempat suntikan. Efek samping lainnya adalah sakit kepala, pusing atau pingsan, mual, muntah, kelelahan, dan lemas.

2. Vaksin MMR

Siapa pun yang lahir setelah tahun 1956 harus divaksinasi campak (measles), gondongan (mumps), dan Rubella, setidaknya 1 dosis vaksin MMR.

Berikut ini beberapa fakta vaksin MMR:

  • Petugas kesehatan dan turis mancanegara mungkin memerlukan dosis kedua vaksin MMR.
  • Bagian rubella dari vaksin MMR dapat mencegah sindrom rubella kongenital. Wanita usia subur harus menjalani skrining untuk kekebalan terhadap rubella.
  • Wanita yang tidak kebal, belum divaksinasi, dan tidak hamil harus mendapatkan vaksinasi MMR.
  • Setelah menerima vaksin MMR, wanita harus menunggu setidaknya 3 bulan sebelum hamil.
  • Vaksin MMR dianjurkan untuk orang dewasa berusia 50 tahun ke atas.

Perlu diperhatikan, jangan mendapatkan vaksinasi MMR jika pernah mengalami reaksi terhadap neomycin, gelatin, atau dosis vaksin MMR yang didapatkan sebelumnya.

3. Vaksin Influenza

Termasuk vaksin wanita, orang dewasa dan anak-anak usia 6 bulan ke atas harus mendapatkan vaksin influenza setiap tahun. Jika memiliki gejala demam, tunggu sampai pulih untuk mendapatkan vaksin ini.

Berikut ini fakta tentang vaksin influenza:

  • Wanita yang menjalani program hamil selama musim flu harus divaksinasi.
  • Wanita yang berisiko tinggi komplikasi terkait flu harus divaksinasi sebelum musim flu.
  • Orang dewasa sehat berusia 49 tahun ke bawah (tidak termasuk wanita hamil) dapat menerima vaksin flu hidup yang dilemahkan. Siapa pun harus mendapatkan vaksin influenza yang tidak aktif.
  • Fluzone, vaksin dosis tinggi, tersedia khusus untuk orang berusia 65 tahun ke atas.

Sebelum menerima vaksin influenza, konsultasikan dengan dokter jika memiliki reaksi alergi terhadap suntikan flu, telur, atau memiliki Guillain-Barre Syndrome.

4. Varisela

Wanita usia subur yang tidak hamil dan tidak kebal pada varisela (cacar air) harus mendapatkan vaksin varisela. Fakta tentang varisela, di antaranya:

  • Jika belum pernah mengalami cacar air atau hanya menerima satu dari dua dosis vaksin varisela, sebaiknya konsultasikan ke dokter tentang apakah memerlukan vaksinasi lagi.
  • Vaksin wanita ini dianjurkan untuk orang dewasa berusia 50 tahun ke atas.
  • Vaksin tidak dianjurkan untuk wanita hamil. Tanyakan pada ginekolog tentang skrining untuk kekebalan varisela dalam persiapan untuk pembuahan.

Jangan menerima vaksinasi varisela jika memiliki reaksi alergi terhadap vaksin varisela, neomycin, atau gelatin.

Baca Juga: 11 Jenis Vaksin untuk Anak dan Dewasa untuk Mencegah Infeksi

5. Td/Tdap

Orang dewasa di bawah usia 65 tahun, penyedia layanan kesehatan, dan siapa pun yang berurusan dengan bayi harus mendapatkan vaksin Tdap, dengan suntikan booster setiap 10 tahun.

Vaksin Tdap untuk mencegah tetanus, difteri, pertusis (batuk rejan). Penyakit ini dapat menyebabkan penyakit serius atau bahkan kematian.

Fakta-fakta tentang Td/Tdap, meliputi:

  • Wanita usia subur harus mendapatkan vaksin ini.
  • Wanita hamil yang belum menerima vaksin ini dalam 10 tahun terakhir mungkin memerlukan vaksinasi selama kehamilan.
  • Vaksin ini diwajibkan untuk mereka yang mengalami gangguan sistem kekebalan tubuh.
  • Lansia harus menerima vaksinasi ini , karena kematian bayi terkait Pertusis telah meningkat sejak tahun 2000.
  • Jangan menerima vaksin Td atau Tdap jika pernah mengalami reaksi alergi terhadap vaksin ini.

Sebaiknya konsultasikan dengan dokter sebelum mendapatkan jenis vaksin untuk wanita jika pernah menderita Guillain-Barre Syndrome.

6. Hepatitis A

Hepatitis A adalah infeksi hati yang disebabkan oleh virus hepatitis A. Penyakit ini disebabkan virus yang disebarkan oleh kotoran atau tinja dan kemudian menyebar melalui makanan.

Tidak hanya rajin mencuci tangan, penyakit ini juga dapat dicegah dengan vaksin Hepatitis A sebanyak dua dosis dengan jarak 6-12 bulan.

  • Vaksin dianjurkan untuk mereka yang berisiko infeksi Hepatitis A, terutama pelancong, pramusaji, pengguna narkoba, penderita penyakit hati, mereka yang bekerja dengan menangani hewan, dan peneliti virus Hepatitis A.
  • Penderita diabetes berusia 19-59 tahun atau berusia 60 tahun atas harus mendapatkan vaksin ini.

Baca Juga: Terlanjur Mendapatkan Vaksin Kedaluwarsa, Apa Bahayanya?

7. Hepatitis B

Hepatitis B adalah infeksi yang menyerang hati dan dapat menyebabkan penyakit kuning (jaundice) dan kanker hati.

Penyakit yang disebabkan virus hepatitis B ini dapat menular melalui hubungan seksual, jarum suntik, dan penularan pada janin saat wanita mengandung. Oleh karenanya, penting untuk mendapatkan vaksin hepatitis B.

Berikut ini fakta terkait vaksin hepatitis B:

  • Vaksin hepatitis B hanya diberikan untuk mereka yang belum terinfeksi virus ini.
  • Vaksinasi ini diberikan tiga kali penyuntikan, yaitu di awal, sebulan setelahnya, dan enam bulan berikutnya.
  • Orang yang berisiko tinggi hepatitis A harus mendapatkan vaksin ini, termasuk wisatawan mancanegara, pengguna narkoba, orang yang berisiko terpapar di pekerjaan, orang yang mengalami tunawisma.
  • Orang yang aktif secara seksual dan orang dengan lebih dari satu pasangan seks selama 6 bulan sebelumnya juga harus mendapatkan vaksin ini.

Itulah jenis vaksin untuk wanita yang dianjurkan sebagai pencegahan penyakit tertentu. Semoga Informasi ini bermanfaat ya, Teman Sehat!

 

  1. Anonim. 2017. 5 Vaccines Every Woman Needs. https://www.arobgyn.com/5-vaccines-every-woman-needs/ (Diakses pada 29 Desember 2021)
  2. Anonim. 2019. 7 Jenis Vaksin yang Dibutuhkan Wanita. https://rsud.bulelengkab.go.id/informasi/detail/artikel/7-jenis-vaksin-yang-dibutuhkan-wanita-92 (Diakses pada 29 Desember 2021)
  3. Anonim. 2021. Hepatitis B Vaccination of Adults. https://www.cdc.gov/hepatitis/hbv/vaccadults.htm (Diakses pada 29 Desember 2021)
  4. Anonim. 2020. Hepatitis A Questions and Answers for the Public. https://www.cdc.gov/hepatitis/hav/afaq.htm (Diakses pada 29 Desember 2021)


DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi