Terbit: 25 October 2022
Ditulis oleh: Wulan Anugrah | Ditinjau oleh: dr. Aloisia Permata Sari Rusli

Setelah melahirkan, seorang ibu bisa mengalami gejolak emosi karena penurunan hormon yang signifikan. Hal ini bisa berujung pada baby blues dan depresi postpartum. Ternyata, dua kondisi tersebut tidak sama. Yuk, kenali perbedaan keduanya di bawah ini!

Memahami Perbedaan Baby Blues dan Depresi Postpartum Lebih Dalam

Mengenal Baby Blues dan Depresi Postpartum

Kelahiran bayi merupakan momen berharga bagi para orang tua. Sayangnya, ibu bisa kewalahan menghadapi segala perubahan yang ada.

Kondisi tersebut tak jarang berujung pada gejala baby blues dan depresi pascamelahirkan (postpartum depression).

Baby blues bisa berlangsung di minggu pertama kelahiran si Kecil. Setelah bayi menginjak usia satu atau dua minggu, gejala yang akan dirasakan berangsur-angsur membaik.

Jika gejala menetap lebih lama, ini bisa menandakan depresi postpartum. Kondisi ini memang hanya menimpa sekitar 10 persen ibu melahirkan, tapi gejalanya akan berlangsung lebih lama jika tidak ditangani.

Perbedaan antara Depresi Postpartum dan Baby Blues 

Secara umum, dua kondisi tersebut sama-sama mendeskripsikan kondisi perubahan mood atau suasana hati yang buruk setelah melahirkan.

Namun, ada sejumlah perbedaan yang bisa diamati, antara lain:

1. Beda Gejala

Meski sama-sama membuat ibu mengalami gangguan mood, gejala depresi postpartum dan baby blues jelas berbeda.

Gejala Baby Blues

Baby blues bisa menyebabkan ibu mengalami sejumlah kondisi berikut:

  • Merasa gelisah dan cemas.
  • Menjadi tidak sabaran dan mudah marah.
  • Sering menangis tanpa sebab.
  • Merasa tidak menjadi diri sendiri.
  • Mengalami perubahan mood.
  • Merasa sedih.

Baca JugaKenali Apa itu Babymoon dan Manfaatnya bagi Ibu

Gejala Depresi Postpartum

Adapun berbagai gejala yang bisa muncul pada ibu yang mengalami depresi setelah melahirkan, antara lain:

  • Merasa bersalah, sedih, dan panik.
  • Takut ditinggal sendirian.
  • Sering menangis.
  • Muncul rasa cemas dan khawatir yang berlebihan.
  • Merasa putus asa atau merasa tidak cukup.
  • Kekurangan energi dan sulit untuk fokus.
  • Berat badan bertambah atau berkurang.
  • Perubahan nafsu makan.
  • Muncul pikiran negatif terhadap diri sendiri atau bayi.

2. Beda Durasi Kemunculan Gejala

Selain gejala, perbedaan depresi postpartum dan baby blues juga bisa terlihat dari lamanya gejala berlangsung.

Baby blues biasanya muncul pada minggu pertama kelahiran bayi. Gejalanya hanya berlangsung selama beberapa hari setelah kelahiran si Kecil. Setelah itu, gejala akan menghilang dalam beberapa minggu.

Sementara itu, depresi pascamelahirkan biasanya muncul pada minggu pertama hingga minggu ketiga setelah melahirkan. Kondisi ini bisa bertahan cukup lama, bahkan hingga setahun.

Jika mengalami depresi postpartum, penting untuk segera mendapatkan penanganan profesional.

3. Beda Penyebab

Bila melihat sekilas, tidak ada perbedaan yang jelas antara baby blues dengan depresi postpartum. Keduanya sama-sama terjadi karena perubahan hormon dan perubahan fisik setelah melahirkan.

Namun, pada depresi setelah melahirkan, Anda bisa mengalami stres karena merasa tertekan saat merawat bayi untuk pertama kalinya. Kondisi ini bisa diperparah dengan kurangnya durasi tidur.

Selain itu, ada berbagai kondisi yang dianggap dapat meningkatkan risiko terjadinya depresi setelah melahirkan, seperti riwayat depresi sebelumnya, memiliki bayi dengan kondisi khusus, memiliki bayi kembar, dan adanya masalah saat menyusui bayi.

4. Beda Tingkat Keparahan

Mengetahui fakta bahwa depresi postpartum bisa bertahan lebih lama daripada baby blues; ini menunjukkan perbedaan tingkat keparahan antara keduanya.

Baby blues dapat terjadi sementara di awal dan bisa hilang tanpa perawatan khusus. Sementara itu, depresi postpartum memerlukan penanganan tenaga profesional untuk mengurangi gejalanya.

Jadi, depresi postpartum adalah gangguan mental yang bisa dikatakan lebih parah dibandingkan dengan baby blues.

5. Beda Penanganan

Baik baby blues maupun depresi postpartum, keduanya merupakan kondisi yang sebaiknya mendapatkan perhatian. 

Penanganan Baby Blues

Berikut ini adalah berbagai cara untuk menangani baby blues:

  • Dapatkan istirahat yang cukup.
  • Konsumsi makanan bergizi.
  • Aktif bergerak.
  • Dapatkan paparan sinar matahari yang cukup dan udara segar.
  • Terima bantuan ketika seseorang menawarkan.
  • Cobalah untuk relaks, fokus pada diri sendiri dan bayi Anda.

Baca Juga10 Bahaya Aborsi bagi Kesehatan Wanita, Depresi hingga Kanker!

Penanganan Depresi Postpartum

Karena kondisi depresi setelah melahirkan lebih parah, penting bagi Anda untuk segera mendapatkan penanganan yang sesuai.

Mengutip National Health Service, ada tiga penanganan utama yang bisa diberikan pasien dengan depresi postpartum, di antaranya:

  • Self-help

Menceritakan kondisi Anda kepada orang lain mungkin tidak akan mudah. Namun nyatanya, hal ini penting untuk mendapatkan penanganan.

Selain itu, luangkanlah waktu untuk melakukan hal-hal yang Anda sukai, misalnya mendapatkan jam tidur yang cukup di malam hari, rutin olahraga, dan konsumsi makanan sehat.

  • Terapi Psikologis

Dokter kemungkinan akan merekomendasikan Anda untuk melakukan terapi, misalnya terapi perilaku kognitif (CBT).

  • Penggunaan Obat-obatan

Dokter biasanya meresepkan obat antidepresan jika gejala depresi lebih parah atau perawatan lain tidak membantu. Obat yang digunakan umumnya aman untuk dikonsumsi wanita menyusui.

Itulah penjelasan seputar perbedaan baby blues dan depresi postpartum. Jika mengalami dua kondisi tersebut, tak ada salahnya untuk berkonsultasi kepada psikiater atau psikolog.

 

  1. Anonim. 2021. Baby Blues After Pregnancy. https://www.marchofdimes.org/pregnancy/baby-blues-after-pregnancy.aspx. (Diakes pada 25 Oktober 2022).
  2. Anonim. 2022. Feeling Depressed After Childbirth. https://www.nhs.uk/conditions/baby/support-and-services/feeling-depressed-after-childbirth/. (Diakes pada 25 Oktober 2022).
  3. Anonim. 2022. Postpartum Depression and the Baby Blues. https://www.helpguide.org/articles/depression/postpartum-depression-and-the-baby-blues.htm. (Diakes pada 25 Oktober 2022).
  4. Fields, Lisa. 2021. Is It Postpartum Depression or ‘Baby Blues’? https://www.webmd.com/depression/postpartum-depression/postpartum-depression-baby-blues. (Diakes pada 25 Oktober 2022).
  5. Wisner, Wendy. 2022. Do I Have Postpartum Blues or Postpartum Depression? https://www.verywellfamily.com/postpartum-blues-vs-postpartum-depression-4770580. (Diakes pada 25 Oktober 2022).


DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi