Terbit: 6 Januari 2022
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Dampak pandemi terhadap kesehatan mental dapat memengaruhi banyak aspek yang penting untuk diwaspadai. Depresi, kecemasan, dan kesedihan bisa saja terjadi selama pandemi COVID-19! Selengkapnya ketahui dampak dan cara mengatasinya berikut ini.

Dampak Pandemi terhadap Kesehatan Mental dan Cara Mengatasinya

Dampak Pandemi terhadap Kesehatan Mental

Pandemi COVID-19 tidak hanya berdampak pada kondisi fisik, tetapi juga memengaruhi kesehatan mental orang dari berbagai kalangan. Akibat penularan virus corona yang begitu cepat, membuat perubahan kebiasaan (new normal) yang drastis.

Perubahan ini seperti isolasi, jaga jarak sosial, dan ditutupnya sekolah, tempat kerja, dan tempat hiburan mengharuskan orang tinggal di rumah untuk membantu memutus rantai penularan virus. Ini adalah langkah untuk menekan penularan virus.

Namun, langkah-langkah pembatasan aktivitas telah memengaruhi hubungan sosial dan kesehatan mental orang dari semua aspek.

Berikut ini dampak pandemi terhadap kesehatan mental:

1. Dampak pandemi pada kesehatan mental anak dan Remaja

Selama pandemi, anak-anak sekolah di rumah, sehingga jauh dari teman dan kolega, karena harus tinggal di rumah. Ini membuat anak memiliki banyak pertanyaan tentang wabah dan mengharapkan orang tua atau pengasuh menjawabnya.

Tidak semua anak dan orang tua menanggapi stres karena pandemi dengan cara yang sama. Anak-anak dapat mengalami kecemasan, kesulitan, isolasi sosial, dan lingkungan yang keras dapat memberikan efek jangka pendek atau panjang pada kesehatan mental anak.

Dampak pandemi terhadap kesehatan mental remaja dan anak, di antaranya:

  • Menangis berlebihan dan perilaku menjengkelkan.
  • Meningkatnya kesedihan, kekhawatiran, dan depresi.
  • Perubahan atau menghindari aktivitas yang disukai di masa lalu.
  • Kesulitan untuk konsentrasi dan perhatian.
  • Sakit kepala dan rasa sakit yang tak terduga di seluruh tubuh.
  • Perubahan kebiasaan makan.

2. Dampak pandemi pada kesehtan mental orang tua dan penyandang disabilitas

Orang tua cenderung lebih rentan terhadap wabah COVID-19 karena alasan klinis dan sosial, seperti sistem kekebalan tubuh yang lebih lemah, kondisi kesehatan mendasar lainnya, dan jauh dari keluarga dan teman karena kesibukan.

Menurut ahli medis, orang berusia 60 tahun ke atas lebih rentan terinfeksi COVID-19 dan dapat mengembangkan kondisi yang serius dan mengancam jiwa, bahkan jika dalam keadaan sehat.

Isolasi sosial atau jaga jarak akibat wabah COVID-19 memberikan efek negatif yang drastis pada kesehatan mental orang tua dan penyandang disabilitas. Isolasi mandiri di rumah di antara anggota keluarga dapat menempatkan orang tua dan penyandang disabilitas pada risiko kesehatan mental yang serius.

Hal tersebut dapat menyebabkan kecemasan, kesulitan, dan menyebabkan situasi traumatis bagi mereka. Orang tua biasanya bergantung pada orang muda untuk kebutuhan sehari-harinya, dan isolasi mandiri dapat mengganggu sistem keluarga secara kritis.

Sementara orang tua dan penyandang disabilitas yang tinggal di panti jompo berisiko mengalami masalah kesehatan mental yang ekstrem.

Pandemi COVID-19 juga dapat menyebabkan peningkatan stres, kecemasan, dan depresi di antara orang tua yang telah berurusan dengan gangguan kesehatan mental.

Akibat pandemi, ada beberapa perubahan perilaku yang mungkin dialami orang tua, termasuk:

  • Perilaku menjengkelkan dan berteriak.
  • Perubahan kebiasaan tidur dan makan
  • Mudah emosi.

Baca Juga: Mengenal Coronasomnia, Gangguan Tidur Selama Pandemi COVID-19

3. Dampak pandemi terhadap kesehatan mental tenaga kesehatan

Tenaga medis atau tenaga kesehatan, seperti dokter, perawat, dan paramedis, yang bekerja sebagai garis depan untuk memerangi wabah COVID-19 mungkin lebih rentan mengalami gejala kesehatan mental.

Sejumlah faktor bisa berdampak negatif pada kesehatan mental tenaga kesehatan, termasuk:

  • Takut tertular virus.
  • Jam kerja yang panjang
  • Kurang tersedianya alat medis dan alat pelindung diri (APD).
  • Beban pasien.
  • Tidak tersedianya obat COVID-19 yang efektif.
  • Kematian rekan kerja akibat terpapar COVID-19.
  • Jarak sosial dan isolasi dari keluarga dan teman.
  • Situasi mengerikan pada pasien dapat berdampak negatif pada kesehatan mental petugas kesehatan.

Efisiensi kerja para tenaga kesehatan bisa menurun secara bertahap seiring dengan merebaknya pandemi. Setidaknya tenaga kesehatan harus beristirahat sejenak di antara jam kerja dan menghadapi situasi dengan tenang dan santai.

Cara Mengatasi Dampak Pandemi terhadap Kesehatan Mental

Mendapatkan perawatan untuk kesehatan mental dan fisik dapat membantu Anda tetap berfungsi dalam hidup selama pandemi COVID-19. Menjaga tubuh dan pikiran, serta tetap menjalin hubungan dengan orang lain dapat memberikan manfaat bagi kesehatan mental.

Berikut ini beberapa cara mengatasi dampak pandemi terhadap mental:

1. Tidur yang cukup

Luangkan tidur dan bangun pada waktu yang sama setiap hari secara rutin. Pastikanlah tetap dengan jadwal tidur-bangun setiap hari, bahkan jika tinggal di rumah untuk isolasi mandiri.

2. Makan yang sehat

Pilihlah pola makan yang seimbang dan menyehatkan, dan penting untuk menghindari makanan cepat saji (junk food) dan gula rafinasi. Juga batasi minuman berkafein karena dapat memperburuk stres, kecemasan, dan gangguan tidur.

Baca Juga: 11 Cara Mengatasi Stres di Masa Pandemi COVID-19 (Ampuh)

3. Tetap aktif secara fisik

Aktivitas fisik dan olahraga secara teratur akan sangat membantu menurunkan tingkat kecemasan dan memperbaiki suasana hati (mood). Cobalah cari aktivitas yang disertai gerakan, misalnya menari, olahraga, jalan santai di halaman rumah.

4. Pertahankan aktivitas rutin

Menjalani jadwal harian secara teratur penting untuk kesehatan mental. Selain menjalani rutinitas waktu tidur yang teratur, penting untuk menjaga waktu yang konsisten untuk makan, mandi dan berpakaian, jadwal kerja, belajar, dan olahraga.

5. Batasi konsumsi media

Menyimak berita terus-menerus tentang pandemi COVID-19 dari semua jenis media dapat meningkatkan ketakutan tentang wabah ini. Sebaiknya batasi media sosial yang menampilkan rumor dan informasi palsu. Batasi juga membaca, mendengar, atau menonton berita lain, tetapi tetap ikuti imbauan dari pemerintah.

Baca Juga: Penyintas COVID-19, Lakukan 7 Hal Ini agar Tidak Terpapar Lagi

6. Tetap berpikir positif

Selama pandemi, sebaiknya berpikir positif dalam hidup, daripada memikirkan buruknya perasaan Anda. Mulailah hari dengan hal-hal yang Anda syukuri, tetap miliki harapan, dan beraktivitas untuk menerima perubahan.

7. Meningkatkan iman dengan ibadah

Meskipun dirundung pandemi, tetap kuatkan dan tingkatkan iman Anda dengan kehidupan spiritual. Ini dapat memberi kenyamanan selama masa-masa sulit dan tidak pasti.

Itulah dampak pandemi terhadap kesehatan mental anak, remaja, hingga yang patut diwaspadai! Semoga informasi ini bermanfaat ya, Teman Sehat!

 

  1. Javed, Bilal et al. 2020. The coronavirus (COVID?19) pandemic’s impact on mental health. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7361582/ (Diakses pada 6 Januari 2022)
  2. Mayo Clinic Staff. 2021. COVID-19 and your mental health. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/coronavirus/in-depth/mental-health-covid-19/art-20482731 (Diakses pada 6 Januari 2022)
  3. Panchal, Nirmita. 2021. The Implications of COVID-19 for Mental Health and Substance Use. https://www.kff.org/coronavirus-covid-19/issue-brief/the-implications-of-covid-19-for-mental-health-and-substance-use/ (Diakses pada 6 Januari 2022)


DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi