Terbit: 28 February 2023
Ditulis oleh: Mutia Isni Rahayu | Ditinjau oleh: dr. Aloisia Permata Sari Rusli

Diabetes insipidus adalah kondisi langka yang menyebabkan penderitanya sering merasa haus dan ingin buang air kecil. Kenali lebih jauh mengenai penyakit ini, mulai dari gejala hingga pengobatannya dalam ulasan berikut.

Diabetes Insipidus: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatan

Apa itu Diabetes Insipidus?

Diabetes insipidus adalah kondisi dimana ginjal tidak dapat menyimpan cairan sebagaimana mestinya. Kondisi ini bisa membuat seseorang haus berlebihan dan sering buang air kecil.

Meski memiliki nama yang hampir serupa, diabetes insipidus tidak ada hubungannya dengan diabetes melitus. Apabila pada penderita diabetes melitus ada masalah pada hormon insulin, tubuh penderita diabetes insipidus terganggu karena hormon yang dikenal dengan hormon antidiuretik (ADH atau vasopresin).

Kondisi tersebut menyebabkan pengidap kondisi ini sering buang air kecil, bahkan hingga 20 liter setiap harinya. Sebagai catatan, orang dewasa yang sehat bisanya buang air kecil antara 1-3 liter per hari.

Gejala Diabetes Insipidus

Ada dua gejala utama dari kondisi ini, di antaranya:

  • Polidipsia: Rasa haus yang berlebihan sehingga penderita ingin minum dalam batas yang tidak wajar.
  • Poliuria: Produksi urine berlebihan di dalam tubuh mengakibatkan keinginan untuk buang air kecil yang berlebihan.

Sementara itu, diabetes insipidus yang menimpa anak-anak bisa mengakibatkan berbagai gejala berikut:

  • Rasa haus yang berlebihan.
  • Rewel dan mudah marah.
  • Dehidrasi.
  • Basah pada popok yang tidak biasa, mengompol, mengeluarkan urine secara berlebihan.
  • Kulit kering.
  • Demam tinggi.
  • Gangguan tumbuh kembang.

Apabila menimpa orang dewasa, gejala-gejala yang telah disebutkan di atas dapat terjadi. Selain itu, ada beberapa tanda lainnya, antara lain:

  • Pusing.
  • Kebingungan.
  • Lesu.
  • Dehidrasi berat yang mengarah pada kejang dan kerusakan otak. 

Apabila kondisi sudah parah dan dibiarkan tanpa penanganan, kematian bisa terjadi.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera kunjungi dokter jika Anda merasa haus terus-menerus. Meskipun penyebabnya belum tentu diabetes insipidus, kondisi ini perlu ditangani.

Pemeriksaan juga harus segera dilakukan apabila Anda buang air kecil lebih banyak dan lebih sering daripada biasanya; atau Anda selalu merasa harus buang air kecil, meskipun urine yang dikeluarkan sedikit.

Hal tersebut juga berlaku pada anak-anak. Meskipun ia memiliki kandung kemih yang lebih kecil sehingga sering buang air kecil, konsultasikanlah kepada dokter jika frekuensi berkemihnya melebihi 10 kali dalam sehari.

Baca Juga: Mengenali 3 Jenis Diabetes yang Bisa Menyerang Anda

Penyebab Diabetes Insipidus

Diabetes insipidus terjadi ketika hormon vasopresin (AVP) atau hormon antidiuretik (ADH) terganggu. Hormon ini berperan penting dalam mengatur jumlah cairan di dalam tubuh.

Kelenjar hipofisis akan mengeluarkan AVP ketika jumlah cairan di dalam tubuh sangat sedikit. Hormon ini dapat membantu mempertahankan cairan di dalam tubuh dengan mengurangi jumlah air yang keluar melalui ginjal. Kondisi ini mengakibatkan ginjal menghasilkan urine yang lebih pekat.

Pada penderita diabetes insipidus, tubuh tidak menghasilkan hormon AVP dalam jumlah yang cukup. Akibatnya, ginjal tidak menghasilkan urine yang pekat dan tubuh menjadi terlalu banyak mengeluarkan cairan.

Pada kasus yang jarang, organ ginjal tidak dapat menggunakan hormon AVP dengan baik. Kondisi ini dikenal sebagai diabetes insipidus nefrogenik.

Diagnosis Diabetes Insipidus

Sebelum menentukan diagnosis, dokter akan menanyakan gejala-gejala yang dialami. Setelah itu, beberapa tes pendukung dapat dilakukan guna menegakkan diagnosis.

Adapun sejumlah pemeriksaan pendukung tersebut, di antaranya:

1. Tes Gravitas Urine

Sampel urine akan diuji untuk mengetahui konsentrasi garam dan limbah lain yang terkandung di dalamnya. Tes ini juga dikenal sebagai tes berat jenis urine.

Jika terbukti mengidap diabetes insipidus, konsentrasi air akan lebih tinggi, sedangkan konsentrasi limbah lain lebih rendah. Selain itu, berat jenis urine Anda akan lebih rendah.

2. Water Deprivation Test

Sebelum melakukan tes ini, dokter akan meminta Anda untuk berhenti minum selama jangka waktu tertentu. Setelah itu, dokter akan mengambil sampel darah dan urine.

Dokter juga akan mengukur beberapa hal, seperti:

  • Natrium darah.
  • Osmolalitas darah.
  • ADH di dalam darah.
  • Komposisi urine.
  • Keluaran urine.
  • Berat badan.

Tidak hanya mengukur kadar ADH, dokter juga kemungkinan akan memberikan ADH sintetis selama tes. Ini dilakukan untuk melihat respons ginjal.

3. Magnetic Resonance Imaging (MRI)

Pemeriksaan MRI dapat dilakukan guna mengidentifikasi ada atau tidaknya kerusakan pada jaringan otak.

Selain itu, dokter juga dapat melihat gambaran kelenjar hipofisis atau hipotalamus untuk mengetahui kemungkinan kerusakan atau kelainan.

4. Skrining Genetik

Tes ini dilakukan untuk mengetahui jenis diabetes insipidus yang diturunkan dari keluarga.

Baca Juga: Kaitan Antara Diabetes dan Kadar Kolesterol Tubuh

Jenis-jenis Diabetes Insipidus

Diabetes jenis memiliki 4 jenis, di antaranya:

1. Diabetes Insipidus Sentral

Tipe diabetes insipidus yang satu ini paling umum terjadi. Penyebabnya adalah kerusakan pada kelenjar hipofisis atau hipotalamus.

Kerusakan menyebabkan hormon antidiuretik tidak dapat diproduksi, disimpan, atau dilepaskan seperti yang seharusnya. Kondisi tersebut pada akhirnya mengakibatkan sejumlah besar cairan dikeluarkan oleh tubuh melalui urine.

Terdapat beberapa kondisi yang memicu terjadinya diabetes insipidus sentral, antara lain:

  • Trauma di kepala.
  • Tumor otak.
  • Kondisi yang menyebabkan pembengkakan di otak.
  • Pembedahan yang memengaruhi kelenjaran hipofisis atau hipotalamus.
  • Kondisi genetik yang langka.

2. Diabetes Insipidus Nefrogenik

Diabetes tipe ini diwariskan melalui genetik. Adanya mutasi genetik tertentu dapat menyebabkan ginjal mengalami kerusakan sehingga tidak dapat merespons hormon antidiuretik dengan baik.

Beberapa kemungkinan pemicu kondisi ini, antara lain:

  • Obat-obatan tertentu, seperti lithium atau tetrasiklin (achromycin V).
  • Penyakit ginjal kronis.
  • Penyumbatan pada saluran kemih.
  • Ketidakseimbangan elektrolit.

3. Diabetes Insipidus Gestasional

Diabetes insipidus gestasional terjadi ketika enzim yang dihasilkan oleh plasenta menghancurkan hormon antidiuretik di dalam tubuh.

Kondisi juga dapat terjadi ketika tubuh memproduksi prostaglandin lebih banyak dari biasanya. Prostaglandin adalah bahan kimia yang mirip dengan horman di tubuh. Jika produksinya berlebihan, ginjal menjadi kurang sensitif terhadap hormon antidiuretik.

Kondisi ini dapat menimpa wanita hamil dan akan sembuh setelah kehamilan.

4. Diabetes Insipidus Dipsogenik

Diabetes insipidus dipsogenik atau dikenal sebagai polidipsia primer terjadi ketika adanya kerusakan pada mekanisme tubuh yang mengatur rasa haus.

Akibatnya, seseorang bisa merasa haus secara berlebihan sehingga minum terlalu banyak cairan.

Terlalu banyak cairan yang masuk ke dalam tubuh dapat menekan sekresi vasopresin. Kondisi ini mengakibatkan sering buang air kecil.

Diabetes insipidus dipsogenik sering kali dikaitkan dengan penggunaan obat-obatan dan kondisi tertentu, termasuk di antaranya gangguan mental.

Pengobatan Diabetes Insipidus

Pada dasarnya, perawatan untuk kondisi ini berbeda-beda tergantung pada tipe diabetes yang diderita. Beberapa perawatan yang umum dilakukan, di antaranya:

1. Diabetes Insipidus Sentral

Secara umum, pengobatan diabetes tipe ini adalah pemberian desmopresin, hormon buatan yang merupakan bentuk sintetis dari ADH.

Desmopressin tersedia dalam bentuk semprotan hidung, pil, dan suntikan.

Selama menggunakan obat ini, perhatikan kembali jumlah asupan cairan ke dalam tubuh dan hanya minum jika merasa haus.

2. Diabetes Insipidus Nefrogenik

Penanganan untuk diabetes tipe ini bisa dilakukan dengan mengatasi penyebabnya terlebih dahulu.

Secara umum, beberapa obat untuk diabetes insipidus nefrogenik yang kemungkinan diresepkan, antara lain:

  • Desmopressin dosis tinggi.
  • Diuretik yang aman dikonsumsi bersama aspirin atau ibuprofen.
  • Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID).

Penting diingat, ketika mengonsumsi jenis obat-obatan tersebut, minum air hanya boleh dilakukan ketika Anda merasa haus.

Apabila pencetus diabetes yang dialami adalah jenis obat-obatan tertentu, dokter biasanya akan mengganti atau menghentikan penggunaan obat.

Sebagai catatan, hindari mengurangi dosis obat atau menghentikan penggunaannya tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter.

3. Diabetes Insipidus Gestasional

Umumnya, diabetes tipe ini tidak memerlukan pengobatan khusus. Namun, pada kasus yang parah, dokter dapat meresepkan desmopressin.

4. Diabetes Insipidus Dipsogenik

Belum ada penanganan yang spesifik dapat mengobati kondisi diabetes jenis ini. Namun, beberapa gejala yang ditangani dengan baik dapat membantu.

Baca Juga: Perubahan Fisik yang Bisa Terjadi Saat Seseorang Terkena Diabetes

Komplikasi Diabetes Insipidus

Beberapa komplikasi yang bisa terjadi dari kondisi ini, di antaranya:

1. Dehidrasi

Cairan yang keluar terlalu banyak dari dalam tubuh bisa menyebabkan dehidrasi. Akibatnya, Anda bisa mengalami beberapa kondisi seperti:

  • Mulut kering.
  • Rasa haus.
  • Kelelahan.
  • Elastisitas kulit berkurang.

2. Ketidakseimbangan Elektrolit

Diabetes insipidus bisa mengakibatkan ketidakseimbangan mineral di dalam darah, seperti kalium dan natrium. Padahal, keduanya penting untuk menjaga keseimbangan cairan di dalam tubuh.

Beberapa gejala yang dapat muncul:

  • Mual.
  • Muntah.
  • Kehilangan nafsu makan.
  • Kebingungan.
  • Kelemahan.
  • Kram otot.

Demikian penjelasan mengenai diabetes insipidus, mulai dari gejala hingga pengobatan. Apabila mengalami beberapa gejala yang telah disebutkan di atas, jangan tunda untuk memeriksakan kondisi ke dokter.

 

  1. Anonim. 2022. Diabetes Insipidus. https://www.nhs.uk/conditions/diabetes-insipidus/. (Diakses pada 7 Februari 2023).
  2. Anonim. 2021. Diabetes Insipidus. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/diabetes-insipidus/symptoms-causes/syc-20351269. (Diakses pada 7 Februari 2023).
  3. Slightham, Cindie. 2022. Everything You Should Know About Diabetes Insipidus (DI). https://www.healthline.com/health/type-2-diabetes/diabetes-insipidus. (Diakses pada 7 Februari 2023).


DokterSehat | © 2024 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi