Terbit: 11 December 2022
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: dr. Sheila Amabel

Diabetes tipe 2 atau sering juga disebut diabetes melitus tipe 2 adalah gangguan metabolisme kronis yang terjadi karena resistensi insulin. Apakah diabetes tipe ini lebih berbahaya dibanding jenis lainnya? Simak penjelasan lengkapnya di bawah ini. 

Diabetes Tipe 2: Gejala, Penyebab, dan Pengobatan

Apa itu Diabetes Tipe 2?

Diabetes melitus tipe 2 adalah gangguan metabolisme kronis yang terjadi ketika kadar gula darah melebihi jumlah normal. Kondisi ini disebabkan oleh resistensi insulin.

Insulin adalah hormon yang bekerja dengan memasukkan gula ke dalam sel-sel di seluruh tubuh untuk digunakan sebagai energi. Namun, pada penderita diabetes tipe 2, sel-sel tidak merespons insulin dengan normal.

Akibatnya, pankreas akan memproduksi lebih banyak insulin untuk membuat sel-sel meresponsnya. Namun, pankreas tidak dapat mengimbangi hingga akhirnya gula dalam darah melonjak.

Gejala Diabetes Tipe 2

Gejala penyakit ini umumnya muncul secara perlahan sehingga penderita tidak menyadarinya. Adapun gejala diabetes melitus tipe 2 yang bisa terjadi, antara lain:

  • Sering merasa haus.
  • Kelelahan.
  • Sering buang air kecil.
  • Penurunan berat badan.
  • Sering merasa lapar.
  • Penglihatan kabur.
  • Mudah terinfeksi.
  • Luka membutuhkan waktu yang lama untuk sembuh.
  • Sering mati rasa atau kesemutan di tangan atau kaki.
  • Area pada kulit menghitam; biasanya di daerah leher dan ketiak.

Penyebab Diabetes Tipe 2

Penyebab penyakit ini belum diketahui secara pasti. Namun, resistensi insulin menjadi alasan mengapa diabetes melitus tipe 2 terjadi.

Resistensi insulin terjadi ketika sel-sel tubuh tidak mampu merespons insulin dengan baik. Pada akhirnya, gula di dalam darah yang tadinya akan digunakan menjadi energi akan menumpuk. Kondisi tersebut kemudian menyebabkan pradiabetes dan diabetes tipe 2.

Baca Juga15 Cara Mencegah Penyakit Diabetes (Tepat dan Mudah)

Faktor Risiko Diabetes Tipe 2

Meskipun penyebab tipe diabetes ini belum pasti. Ada sejumlah kondisi yang diketahui bisa meningkatkan risiko terjadinya kondisi ini, antara lain:

  • Riwayat keluarga dengan kondisi serupa.
  • Kelebihan berat badan atau obesitas, terutama jika lemak menumpuk di sekitar pinggang.
  • Aktivitas fisik yang kurang.
  • Diet yang buruk.
  • Berusia di atas 55 tahun.
  • Wanita yang mengalami diabetes gestasional.
  • Wanita dengan polycystic ovarian syndrome (PCOS).
  • Wanita yang melahirkan bayi dengan berat badan lebih dari 4.5 kg.

Diagnosis Diabetes Tipe 2

Jika seseorang dicurigai mengidap penyakit ini, dokter akan melakukan pemeriksaan darah untuk mengetahui jumlah kadar gula di dalam darah.

Pemeriksaan darah yang dapat dilakukan, di antaranya:

  • Tes gula darah puasa: Sebelum melakukan tes, pasien diimbau untuk berpuasa atau tidak makan dan minum (kecuali air putih) di malam harinya.
  • Tes toleransi glukosa oral (OGTT): Setelah berpuasa selama kurang lebih 8 jam dan melakukan tes gula darah puasa, pasien akan melakukan tes darah kembali 1 jam kemudian dan 2 jam kemudian.
  • HbA1c: Tes darah yang satu ini dilakukan untuk mengetahui kadar gula darah selama periode waktu tertentu. Pasien tidak perlu berpuasa terlebih dahulu.

Pengobatan Diabetes Tipe 2

Pengobatan untuk penyakit ini berupa perubahan pola hidup. Adapun sejumlah cara yang bisa dilakukan, antara lain:

  • Konsumsi makanan sehat. Hindari makanan yang mengandung lemak jenuh, karbohidrat olahan, dan sirup jagung yang memiliki fruktosa tinggi. Perbanyak serat dan lemak tak jenuh tunggal.
  • Rutin berolahraga. Latihan aerobik dengan durasi 90-150 menit setiap minggunya sangat disarankan.
  • Lakukan tes gula darah secara rutin.
  • Kenali tanda-tanda ketika gula darah sedang tinggi. Jika sudah mengetahuinya, ketahui langkah-langkah yang harus dilakukan, seperti memberikan suntik insulin.
  • Cermati adanya masalah pada kulit, kaki, dan mata untuk mendeteksi komplikasi sejak dini.
  • Kelola stres dengan baik.

Komplikasi Diabetes Tipe 2

Jika Anda tidak mengontrol penyakit ini dengan baik, sejumlah organ utama tubuh bisa terdampak, termasuk di antaranya pembuluh darah, jantung, saraf, mata, dan ginjal.

Berbagai komplikasi yang dapat terjadi, di antaranya:

  • Penyakit jantung dan pembuluh darah: Diabetes ini dikaitkan dengan penyakit jantung, stroke, tekanan darah tinggi, aterosklerosis (penyempitan pembuluh darah).
  • Kerusakan saraf pada tungkai: Tingginya kadar gula darah bisa merusak, bahkan menghancurkan saraf. Inilah yang menyebabkan penderita sering kesemutan, mati rasa, atau merasa nyeri pada kaki.
  • Kerusakan saraf jantung: Menyebabkan irama jantung tidak teratur.
  • Kerusakan saraf pada sistem pencernaan: Mengakibatkan mual, muntah, dan diare atau sembelit.
  • Kerusakan saraf pada pria: Menyebabkan disfungsi ereksi.
  • Penyakit ginjal: Diabetes bisa memicu penyakit ginjal kronis yang sulit untuk disembuhkan. Pasien mungkin memerlukan tindakan dialisis atau transplantasi ginjal,
  • Kerusakan mata: Berbagai penyakit mata yang serius bisa dialami, seperti glaukoma dan katarak. Diabetes juga bisa merusak pembuluh darah retina yang berpotensi mengakibatkan kebutaan.
  • Kondisi kulit: Penderita lebih rentan terhadap infeksi bakteri dan jamur sehingga lebih sering mengalami masalah pada kulit.
  • Sleep apnea: Kondisi ini umumnya terjadi pada penderita. Obesitas bisa menjadi faktor utama kejadian ini.
  • Penyembuhan lambat: Jika tidak diobati dengan baik, luka bisa memicu infeksi yang serius.
  • Gangguan pendengaran: Kondisi ini lebih sering terjadi pada penderita.
  • Demensia: Tipe diabetes ini meningkatkan risiko masalah fungsi kognitif.

Baca JugaWaspada, Ini Ciri-ciri Diabetes di Usia Muda

Pencegahan Diabetes Tipe 2

Diabetes melitus tipe 2 dapat dicegah dengan berbagai cara, seperti:

  • Batasi konsumsi makanan dan minuman manis.
  • Perbanyak konsumsi serat baik, seperti buah, sayur, biji-bijian utuh, dan legume.
  • Konsumsi lebih banyak lemak baik, seperti biji bunga matahari, kacang almond, dan ikan berlemak.
  • Diet untuk mendapatkan berat badan ideal.
  • Lakukan olahraga rutin selama 12-60 menit, minimal tiga kali dalam seminggu. Ini dilakukan untuk menurunkan berat badan dan gula darah, sekaligus meningkatkan sensitivitas insulin.
  • Periksa kadar gula darah secara berkala.

Demikian penjelasan seputar diabetes melitus tipe 2. Jika memiliki riwayat atau mengalami gejala yang sudah disebutkan seperti di atas, segera periksakan kondisi ke dokter.

 

  1. Anonim. 2021. Type 2 Diabetes. https://www.cdc.gov/diabetes/basics/type2.html. (Diakses pada 9 Desember 2022).
  2. Anonim. 2021. Type 2 Diabetes. https://www.healthdirect.gov.au/type-2-diabetes. (Diakses pada 9 Desember 2022).
  3. Anonim. 2021. Diabetes Prevention: 5 Tips for Taking Control. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/type-2-diabetes/in-depth/diabetes-prevention/art-20047639. (Diakses pada 9 Desember 2022).
  4. Anonim. 2022. Type 2 Diabetes. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/type-2-diabetes/symptoms-causes/syc-20351193. (Diakses pada 9 Desember 2022).
  5. Goyal, Rajeev & Jialal, Ishwarlal. 2022. Diabetes Mellitus Type 2. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK513253/. (Diakses pada 9 Desember 2022).


DokterSehat | © 2023 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi