Terbit: 4 February 2018
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com – Beberapa orang masih memperdebatkan nasi putih dan gula perihal kemampuannya meningkatkan risiko diabetes. Padahal, dua makanan ini sama-sama memberikan pengaruh buruk kalau dikonsumsi dalam jumlah banyak. Gula darah dalam tubuh bisa meningkat signifikan sehingga diabetes bisa muncul kapan saja.

Nasi Putih atau Gula, Mana yang Tingkatkan Risiko Diabetes?

Untuk mengetahui peningkatan risiko diabetes pada nasi putih atau gula, coba simak ulasannya berikut ini.

Risiko nasi putih dan gula

Sebenarnya risiko dua makanan ini sama-sama besar, tapi karena kita adalah orang yang tinggal di kawasan Asia, nasi adalah biang keroknya. Di Asia khususnya Indonesia, nasi adalah makanan pokok sehingga penyebab terbesar diabetes adalah makanan ini. Bahkan dari sebuah penelitian didapatkan fakta kalau nasi bisa meningkatkan diabetes hingga 11%.

Berbeda lagi kalau kita hidup di kawasan Eropa atau Amerika yang merupakan negara penggemar soda dan aneka kue. Penyebab terbesar penduduk terkena diabetes di sini adalah karena gula. Setiap hari penduduk di sana mengonsumsi gula dalam berbagai bentuk sehingga diabetes dalam tubuh bisa terbentuk perlahan-lahan.

Baca juga: Mitos Seputar Aturan Makan Bagi Penderita Diabetes

Cara menurunkan risiko terkena diabetes

Untuk meringankan risiko diabetes sebenarnya cukup sederhana. Kita hanya disarankan untuk lebih aktif berolahraga dan mengatur pola makan dengan benar. Kalau kita pasif dan makannya juga asal-asalan, obesitas bisa terjadi. Dampaknya, diabetes bisa terbentuk dan membahayakan kesehatan.

Selain melakukan dua hal di atas, kita juga disarankan untuk lebih mengurangi asupan gula sederhana dan juga nasi. Untuk gula, disarankan menggunakan pengganti gula seperti gula jagung atau stevia yang rendah kalori. Lebih lanjut, untuk pengganti nasi putih Anda disarankan mengonsumsi nasi merah, ubi, singkong, atau oatmeal.

Mari lebih sadar diri terhadap apa yang kita makan agar risiko diabetes yang berbahaya bisa diturunkan.


DokterSehat | © 2024 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi