Terbit: 18 Januari 2022 | Diperbarui: 19 Januari 2022
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: dr. Eko Budidharmaja

Perut buncit dan susah BAB adalah kondisi yang saling terkait yang membuat ketidaknyamanan. Selengkapnya ketahui penyebab dan cara mengobatinya di bawah ini!  

Perut Buncit dan Susah BAB? Ketahui Penyebab dan Cara Mengatasinya

Benarkan Susah BAB Membuat Perut Buncit?

Sembelit atau susah buang air besar (BAB) adalah suatu kondisi yang dapat menyebabkan sejumlah gejala yang terkait dengan BAB, termasuk:

  • Merasa seolah-olah tidak bisa BAB sepenuhnya.
  • Tidak sering BAB, ini bervariasi tergantung pada orangnya, tetapi biasanya kurang dari tiga kali BAB dalam seminggu.
  • Feses yang keras.
  • Mengejan yang signifikan saat BAB.

Ketidakmampuan untuk BAB juga dapat mencegah sistem pencernaan mengeluarkan udara dan gas. Selain itu, feses tetap berada di usus lebih lama, yang memungkinkan bakteri melepaskan lebih banyak gas.

Beberapa orang melaporkan gejala tambahan, termasuk mual dan sakit punggung yang berhubungan dengan kembung dan sembelit.

Kembung tidak hanya membuat pakaian terasa sampit. Kondisi ini menyebabkan ketidaknyamanan perut, rasa sakit, dan kecemasan yang dapat memengaruhi kualitas hidup.

Baca Juga: Sembelit (Konstipasi): Penyebab, Gejala, dan Pencegahan

Penyebab Perut Buncit dan Susah BAB

Sembelit bukan satu-satunya kondisi yang menjadi penyebab perut buncit. Terdapat berbagai faktor yang dapat menyebabkan penumpukan gas berlebih di saluran pencernaan.

Berikut ini penyebab perut buncit dan susah BAB:

1. Bakteri usus

Terkadang bakteri tidak mampu memecah semua kelebihan karbohidrat di lambung dan usus kecil. Saat karbohidrat yang tidak tercerna mencapai usus besar, bakteri yang ada di sana akan melepaskan udara berlebih. Inilah yang membuat perut buncit.

2. Kondisi medis

Beberapa kondisi medis dapat meningkatkan terjadinya perut kembung. Kondisi medis ini termasuk sindrom iritasi usus, gastroesophageal reflux disease (GERD), intoleransi laktosa, dan penyakit celiac.

3. Menelan udara berlebih

Menelan terlalu banyak udara ketika mengunyah permen karet, minum minuman berkarbonasi, makan atau minum dengan sangat cepat, atau bahkan memakai gigi palsu yang longgar dapat meningkatkan jumlah udara yang menumpuk di saluran pencernaan. 

Tidak hanya perut kembung atau buncit, terlalu banyak udara dalam pencernaan juga menyebabkan susah BAB.

4. Kekurangan serat

Orang yang mendapatkan asupan tinggi serat makanan kecil kemungkinannya untuk mengalami sembelit. Hal ini karena serat mendorong untuk BAB secara teratur, terutama ketika tubuh cukup cairan.

Makanan berserat tinggi antara lain, buah-buahan, sayuran, biji-bijian utuh, dan kacang-kacangan

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, sembelit dapat meningkatkan risiko terjadinya perut buncit. Hal ini karena feses yang menumpuk dan susah dikeluarkan. 

5. Tidak aktif secara fisik

Kurangnya aktivitas fisik juga dapat menyebabkan susah BAB. Bukan tanpa alasan, beberapa penelitian telah menemukan bahwa orang yang sehat secara fisik, termasuk pelari maraton, lebih kecil kemungkinan mengalami sembelit daripada orang lain.

Sebuah penelitian dari tahun 2013 mencatat bahwa meningkatkan aktivitas dapat membantu memperbaiki sembelit di antara lansia.

Orang yang menghabiskan waktu beberapa hari atau minggu di tempat tidur atau duduk di kursi mungkin memiliki risiko sembelit yang lebih tinggi.

Baca Juga: 9 Penyebab Perut Kembung (Plus Cara Mengatasinya)

Cara Mengatasi Perut Buncit dan Susah BAB

Ketika mengalami perut kembung atau buncit terkait sembelit, mengobati penyebab sembelit biasanya dapat membantu mengatasi perut kembung.

Pilihan perawatan sembelit yang umum, termasuk:

1. Suplemen serat

Suplemen serat dapat menambah jumlah besar pada tinja. Kotoran besar akan lebih lembut dan lebih mudah untuk dikeluarkan. Suplemen serat termasuk psyllium, kalsium polikarbofil, dan metil selulosa.

Menambahkan serat ke dalam makanan juga dapat meningkatkan berat tinja dan mempercepat perjalanannya melalui usus. Cobalah mulai dengan memperbanyak makan buah dan sayuran segar setiap hari, atau pilih roti gandum dan sereal.

2. Berolahraga setiap hari

Aktivitas fisik dapat meningkatkan aktivitas otot di usus dan menstimulasi kontraksi usus. Otot susu yang berkontraksi akan membantu mengeluarkan feses dengan lebih lancar.

Cobalah mulai sekarang untuk berolahraga hampir setiap hari dalam seminggu. Jika belum berolahraga, konsultasikan dengan dokter apakah cukup sehat untuk memulai program olahraga.

Baca Juga: 10 Olahraga untuk Melancarkan BAB dengan Cepat dan Mudah

3. Osmotik

Pencahar osmotik dapat membantu mengatasi perut buncit karena susah BAB. Osmotik dapat membantu feses bergerak melalui usus besar dengan meningkatkan sekresi cairan dari usus dan membantu merangsang pergerakan usus.

Contoh pencahar osmotik, termasuk magnesium hidroksida oral, magnesium sitrat, laktulosa, dan polietilen glikol.

4. Pelunak feses

Stool softeners atau pelunak tinja, dapat menambahkan air dan lemak ke dalam feses, menghasilkan gerakan usus yang lebih lembut. Produk ini sering kali dianjurkan untuk mencegah mengejan saat BAB, yang mungkin penting jika baru saja menjalani operasi atau melahirkan.

Pelunak feses biasanya membutuhkan waktu 1 hingga 3 hari untuk diterapkan. Docusate adalah pelunak feses yang umum digunakan. Obat ini tersedia dalam bentuk tablet, kapsul, cairan, enema, dan suppositoria.

5. Obat pencahar herbal

Laxing adalah obat tradisional yang secara ampuh membantu melancarkan BAB. Obat pencahar ini ini terbuat dari bahan alami, termasuk lidah buaya, daun senna, dan biji adas, sehingga aman digunakan secara rutin untuk jangka panjang.

obat pencahar laxing doktersehat

Obat herbal Laxing hanya boleh dikonsumsi oleh anak berusia 12 tahun ke atas. Untuk mendapatkan hasil yang optimal, sebaiknya obat ini dikonsumsi sebanyak 1-2 kapsul setelah makan malam dan sebelum tidur.

 

  1. Felman, Adam. 2019. What to know about constipation. https://www.medicalnewstoday.com/articles/150322 (Diakses pada 17 Januari 2022)
  2. Mayo Clinic Staff. 2021. Constipation. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/constipation/diagnosis-treatment/drc-20354259 (Diakses pada 17 Januari 2022)
  3. Nall, Rachel. 2020. Constipation Bloating: How to Treat and Prevent. https://www.healthline.com/health/constipation-bloating (Diakses pada 17 Januari 2022)
  4. University of Illinois. 2019. Over-the-Counter and Prescription Constipation Medications. https://www.healthline.com/health/constipation-medication#TOC_TITLE_HDR_1 (Diakses pada 17 Januari 2022)


DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi