Terbit: 8 Februari 2018
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com- Anda dan pasangan tentu merasa senang saat mengetahui bahwa Anda hamil anak kembar. Namun dalam perkembangannya, salah satu anak dapat lenyap dari kandungan. Apa yang sebenarnya terjadi? Kondisi tersebut adalah vanishing twin syndrome, di mana salah satu janin kembar menghilang dan tak tampak dalam pemeriksaan USG. Hal ini terjadi sekitar 20-30% pada kehamilan kembar di seluruh dunia.

Vanishing Twin Syndrome, Ketika Bayi Kembar Hilang Dari Kandungan

Hilangnya satu kembar selama kehamilan ini biasanya terjadi pada trimester pertama. Pada USG awal biasanya menunjukkan kehamilan kembar namun saat pemeriksaan USG berikutnya hanya satu janin yang tampak. Pada dasarnya vanishing twin syndrome adalah gugurnya salah satu bayi dalam kandungan. Jaringan yang mati tersebut kemudian diserap kembali oleh plasenta atau tubuh ibu. Hal ini yang mengesankan bahwa bayi hilang dari dalam kandungan.

Hingga saat ini belum dapat diketahui dengan pasti apa penyebab vanishing twin syndrome. Beberapa ahli menduga kondisi ini terjadi karena adanya kelainan kromosom pada kembar yang hilang, penempelan tali pusat yang tidak tepat pada janin, atau kelainan lainnya. Umumnya ibu hamil tidak merasakan apa-apa saat salah satu janin si kembar ‘hilang’, namun pada beberapa ibu ada yang menunjukkan gejala kram perut ringan, perdarahan vagina, atau nyeri panggul.

Hilangnya salah satu kembar dalam vanishing twin syndrome dapat dideteksi melalui USG. Jika usia kehamilan dua bulan Anda melakukan USG dan ditemukan dua janin, Anda masih perlu memonitor perkembangan janin saat melakukan pemeriksaan USH berikutnya. Untuk memastikan kondisi janin biasanya dilakukan pemeriksaan detak jantung bayi.

Jika vanishing twin syndrome terjadi pada trimester pertama, kehamilan dapat dilanjutkan seperti biasa. Namun jika kematian ini terjadi di trimester kedua atau ketiga, kehamilan ini dianggap berisiko bagi janin yang sehat. Beberapa risiko di antaranya janin yang hidup akan lahir dengan berat badan rendah, kemungkinan lahir prematur, dan persalinan yang macet.

Saat terjadi kematian janin, air dalam jaringan kembaran, cairan ketuban dan jaringan plasentanya akan diserap. Hal ini akan menyebabkan janin yang mati menjadi gepeng akibat tekanan dari janin yang hidup. Janin yang tertekan ini dikenal dengan istilah fetus compressus atau fetus papyraceous. Saat lahir, fetus compressus ini berbentuk tubuh rata setipis kertas karena kehilangan cairan dan jaringan lunak.

Untuk mengantisipasi risiko yang lebih besar, ibu hamil kembar perlu wasapada ketika merasakan tanda-tanda keguguran seperti kram perut, nyeri panggul dan perdarahan.


DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi