Terbit: 27 July 2022 | Diperbarui: 29 July 2022
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: dr. Aloisia Permata Sari Rusli

Posisi bayi yang baik untuk persalinan normal (pervaginam) adalah kepala bayi berada di posisi bawah atau vertex. Namun, pada beberapa kasus, posisi bayi melintang di dalam perut ibu hamil. Apa penyebabnya? Simak dalam ulasan berikut.

Penyebab Posisi Bayi Melintang dan Tips Stimulasi agar Normal

Posisi Melintang pada Kehamilan, Apa Itu?

Sebelum persalinan, bayi bisa berada dalam posisi yang beragam. Jika kepala bayi dekat dengan rahim, sedangkan kaki berada di atas, posisi ini disebut vertex.

Sementara itu, posisi sungsang terjadi ketika kaki bayi berada dekat dengan dinding rahim. Kondisi ini berbanding terbalik dengan posisi vertex.

Lantas, bagaimana dengan posisi melintang? posisi bayi melintang terjadi ketika bayi berada dalam posisi horizontal di dalam perut ibu hamil.

Pada umumnya, bayi akan memutar dan posisi kepalanya ketika mendekati jalan lahir menjelang waktu lahir. Posisi ini disebut vertex presentation dan merupakan posisi aman untuk kelahiran per vaginam (lahiran normal).

Terkait dengan kejadian posisi melintang sendiri, kasusnya relatif jarang terjadi. Mengutip Healthline, kejadiannya hanya menimpa satu dari sekitar 500 bayi pada minggu-minggu terakhir kehamilan. Sementara itu, sebelum usia kehamilan mencapai 32 minggu, perbandingan dapat menjadi satu dari sekitar 50 bayi.

Ini artinya, kejadian posisi bayi melintang di awal kehamilan sangat mungkin terjadi, sedangkan jika mendekati proses persalinan, kondisi ini sangat jarang terjadi.

Penyebab Posisi Bayi Melintang

Posisi bayi yang horizontal di dalam perut Bumil terkadang tidak diketahui penyebabnya. Namun, ada sejumlah faktor yang bisa memicu kondisi ini, di antaranya:

  • Cairan ketuban yang terlalu banyak di dalam rahim (polihidramnion): Kondisi ini memungkinkan bayi untuk bergerak lebih bebas sehingga posisinya dalam rahim mudah berubah. Namun, kasusnya hanya terjadi pada 1 hingga 2 persen kehamilan.
  • Kelainan pada rahim: Adanya kelainan pada rahim bisa mencegah posisi kepala bayi berada dalam posisi normal pada kehamilan selanjutnya.
  • Kehamilan kembar: Jika bayi lebih dari satu, sedangkan ruang di dalam perut bayi kurang, maka hal ini bisa membuat posisi bayi melintang.
  • Struktur panggul: Sama halnya dengan kelainan pada rahim, struktur panggul juga dapat memengaruhi posisi bayi di dalam perut Bumil.
  • Letak plasenta rendah (plasenta previa): Selain menyebabkan posisi melintang, kondisi ini berhubungan dengan kejadian sungsang atau transversal.
  • Fibroid atau kista ovarium: Adanya masalah kesehatan ini bisa menghalangi serviks sehingga memicu malposisi pada bayi di dalam kandungan.

Baca JugaHamil 36 Minggu, Posisi Kepala Bayi Sudah di Bawah

Apakah Posisi Bayi Melintang Berbahaya?

Posisi bayi melintang yang terjadi di awal kehamilan memang bisa memicu rasa tidak nyaman pada ibu hamil. Namun, hal ini bukanlah merupakan masalah serius.

Seiring bertambahnya usia kehamilan, biasanya posisi bayi akan normal. Melansir Very Well Family, sekitar 2-13 persen bayi mengalami malposisi pada kehamilan trimester ketiga. Namun, beberapa di antaranya akan kembali ke posisi vertex sebelum persalinan.

Kendati demikian, jika kejadian bayi dalam posisi horizontal terjadi pada akhir kehamilan atau beberapa minggu sebelum waktu persalinan, hal ini perlu diwaspadai.

Pasalnya, ada sejumlah komplikasi yang dapat terjadi, seperti kematian pada bayi atau perdarahan pada persalinan akibat dinding rahim yang robek (ruptur uteri).

Selain itu, ada juga kemungkinan terjadinya prolaps tali pusat. Ini adalah kondisi ketika tali pusat bayi turun melewati janin hingga menutupi jalan lahir bayi. Bahkan, tali pusat bisa keluar lebih dahulu sebelum bayi.

Bisakah Mengubah Posisi Bayi Melintang?

Mengetahui bahaya yang mungkin terjadi, posisi bayi melintang harus ditangani. Tak perlu khawatir, ada sejumlah cara yang bisa Anda lakukan, di antaranya:

1. Yoga

Latihan yoga bisa membantu memperbaiki posisi bayi di dalam kandungan. Anda bisa mencoba posisi inversi ringan, seperti Puppy Pose untuk mendorong posisi bayi agar ke posisi seharusnya.

2. Pijat dan Terapi Chiropractic

Selain latihan yoga, Anda juga bisa melakukan teknik pijat dan terapi chiropractic. Kedua tindakan ini dapat membantu ‘memanipulasi’ jaringan lunak sehingga dapat mendorong kepala bayi agar masuk ke daerah panggul.

Penting untuk Anda ingat, pijat dan terapi chiropractic sebaiknya dilakukan oleh tenaga ahli agar manfaatnya bisa diperoleh secara optimal.

3. Breech Tilt

Gerakan ini dapat membantu memperbaiki posisi bayi melintang. Breech tilt memungkinkan posisi pinggul Anda terangkat ketika dalam posisi berbaring.

Untuk melakukannya, Anda harus menyiapkan papan panjang dan bantal besar. Letakkan bantal di lantai dan tempatkan di depan sofa.

Topang papan menggunakan sofa dan bantal. Papan berada dalam posisi miring sehingga bagian tengah papan akan bertumpu pada dudukan sofa, sedangkan bagian bawah papan akan tertopang oleh bantal.

Posisikan diri di papan dengan kepala yang bersandar di atas bantal, sedangkan kaki berada di sofa sehingga posisi panggul berada di tengah papan.

Sebagai catatan, Anda bisa menggunakan lebih dari satu bantal untung mendapatkan dukungan lebih ketika berbaring.

4. Forward-leaning Inversion

Gerakan lain yang bisa membantu mengembalikan posisi bayi yang melintang adalah forward-leaning inversion. Posisi ini dapat Anda lakukan di atas sofa atau kasur. Berikut ini cara yang bisa Anda lakukan:

  • Posisikan tubuh berlutut di ujung sofa atau tempat tidur yang rendah.
  • Perlahan, turunkan tangan ke lantai di bawah. Posisikan hingga menjadi menyiku.
  • Bertumpulah pada lengan Anda, sedangkan kepala Anda mendekati lantai.
  • Ulangi gerakan hingga 7 kali. Lakukan selama 30-45 detik. Beri jeda selama 15 menit.

Baca JugaJanin Sering Aktif Bergerak di Malam Hari, Normalkah?

5. External Cephalic Version (ECV)

Dokter mungkin akan merekomendasikan tindakan external cephalic version (ECV). Cara ini bisa Anda pilih jika memang posisi bayi melintang terjadi pada trimester akhir kehamilan atau minggu ke-37.

ECV dilakukan secara eksternal, artinya dokter kandungan akan membantu posisi bayi kembali normal dari luar.

Dokter akan meletakkan tangan di perut, lalu memberikan tekanan kuat pada perut Anda. Efek yang bisa dirasakan dari prosedur ECV berupa kram pada rahim.

Tindakan ini berlangsung selama beberapa menit. Namun, jika menghitung rangkaian prosesnya, mulai dari pemantauan posisi bayi hingga selesai pemijatan, prosedur bisa memakan waktu hingga dua jam.

Pada beberapa kondisi, misalnya ketika posisi plasenta berada di lokasi yang tidak memungkinkan, dokter mungkin tidak akan melakukan prosedur ini.

ECV biasanya dilakukan di dekat tempat ruang operasi untuk mengantisipasi jika operasi caesar darurat sewaktu-waktu diperlukan.

Demikian penjelasan seputar posisi bayi melintang. Periksakan ke dokter kandungan atau bidan untuk mengetahui posisi bayi di dalam kandungan. Dengan begitu, posisi yang abnormal bisa terdeteksi sejak dini. Semoga bermanfaat!

 

  1. Anonim. 2022. External Cephalic Version (ECV). https://my.clevelandclinic.org/health/treatments/22979-ecv#. (Diakses pada 27 Juli 2022).
  2. Marcin, Ashley. Can You Turn a Transverse Baby? https://www.healthline.com/health/pregnancy/transverse-baby#. (Diakses pada 27 Juli 2022).
  3. Marsh, Lorna. 2019. What Happens When My Baby is in Transverse Lie? babycentre.co.uk/x25017771/what-happens-when-my-baby-is-in-transverse-lie. (Diakses pada 27 Juli 2022).
  4. Weiss, Robin Elise. 2021. Transverse Baby Position in Pregnancy. https://www.verywellfamily.com/transverse-lie-fetal-position-2758446. (Diakses pada 27 Juli 2022).


DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi