Terbit: 20 Februari 2018 | Diperbarui: 31 Desember 2021
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com- Selama kehamilan, plasenta berfungsi sebagai organ yang menyediakan oksigen dan nutrisi bayi untuk tumbuh kembang bayi di dalam kandungan. Oksigen dan nutrisi dibawa melalui aliran darah ibu yang kemudian menembus plasenta hingga sampai ke bayi. Begitu pentingnya plasenta saat kehamilan sehingga jika kondisi plasenta tidak baik maka dapat berpengaruh juga ke perkembangan anak. Salah satu gangguan plasenta yang sering terjadi adalah pengapuran plasenta.

Kenali Pengapuran Plasenta dan Risikonya Pada Janin

Pengapuran plasenta adalah penuaan plasenta akibat penumpukan kalsium yang disebabkan pecahnya pembuluh darah kecil di plasenta. Salah satu gejala pengapuran plasenta adalah munculnya bintik-bintik putih yang menyebar dari dasar plasenta hingga permukaannya. Untuk memantau kondisi plasenta bisa dilakukan melalui pemeriksaan USG.

Belum dapat diketahui dengan pasti penyebab pengapuran plasenta, namun umumnya hal ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti radiasi, frekuensi suara rendah, pengaruh obat-obatan tertentu atau infeksi bakteri.

Sebenarnya pengapuran plasenta merupakan hal yang normal terjadi, seiring dengan bertambahnya usia kehamilan. Pada usia kehamilan 31-32 minggu pengapuran plasenta masuk di tinkgkat 1, lalu tingkat 2 pada kehamilan 36-37 minggu, dan tingkat 3 pada kehamilan sekitar 38 minggu. Pengapuran plasenta tingkat 3 merupakan kondisi terberat dimana terbentuk lingkaran seperti cincin pda plasenta. Jika pengapuran terjadi sebelum waktunya, hal ini dapat menyebabkan gangguan pada kehamilan.

Apabila pengapuran plasenta tingkat 3 terjadi pada usia kehamilan menginjak 32 minggu, hal ini disebut sebagai pengapuran plasenta prematur. Pada pengapuran ini kelahiran cenderung akan mengalami komplikasi seperti pendarahan parah setelah melahirkan, abrupsi plasenta, bayi lahir prematur, hingga janin meninggal saat masih di dalam kandungan atau sillbirth.

Sedangkan jika pengapuran plasenta tingkat 3 terjadi pada usia 28-36 minggu, maka kehamilan membutuhkan pemantauan secara rutin. Beberapa contoh kehamilan yang memerlukan pemantauan rutin adalah komplikasi plasenta previa, diabetes, tekanan darah tinggi atau anemia parah.

Saat pengapuran plasenta tingkat 3 terjadi pada usia 36 minggu atau 37 – 42 minggu, hal ini biasanya akan memicu risiko tekanan darah tinggi yang berhubungan dengan kehamilan dan risiko bayi lahir rendah. Namun pada beberapa yang mengalami pengapuran di usia 37 minggu ke atas, hal ini dianggap tidak memiliki efek yang signifikan.

Untuk menjaga kesehatan plasenta selama kehamilan, sebaiknya lakukan pemeriksaan rutin pada dokter kandungan. Konsultasikan pada dokter jika ada obat-obatan yang perlu dikonsumsi atau dihindari.


DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi