Terbit: 17 April 2023 | Diperbarui: 23 August 2023
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: dr. Aloisia Permata Sari Rusli

Fungsi plasenta bagi janin sangat penting karena organ ini menyediakan oksigen, nutrisi, serta membantu membuang produk limbah dari darah janin. Simak penjelasan mengenai fungsi lain dari organ yang populer dengan sebutan ari-ari dalam ulasan berikut.

Mengenal 11 Fungsi Plasenta Bagi Janin, Bumil Harus Tahu

Berbagai Fungsi Plasenta di Masa Kehamilan

Plasenta adalah organ yang menempel pada dinding rahim. Organ tersebut biasanya menempel di bagian atas, samping, depan, atau belakang rahim. Berikut adalah beberapa fungsi penting plasenta bagi janin, di antaranya:

1. Membantu Pertukaran Oksigen dan Karbon Dioksida

Paru-paru janin tidak ikut serta dalam pertukaran gas saat berada di dalam rahim, sehingga plasenta sepenuhnya bertanggung jawab atas transfer oksigen dan karbon dioksida ke-dan-dari janin yang sedang berkembang. Plasenta juga mencegah kemungkinan janin menghirup cairan ketuban.

Baca juga: Dinding Rahim Tipis Bikin Wanita Susah Hamil, Benarkah?

2. Menyaring Zat Berbahaya

Fungsi plasenta yang utama lainnya adalah memberikan nutrisi yang cukup untuk janin. Sebelum mencapai janin, darah dari ibu melewati plasenta kemudian ke tali pusat. Darah ini mengandung oksigen, glukosa, dan sederet zat gizi lainnya.

Sebelum darah mengalir ke janin, plasenta bekerja seperti ginjal untuk menyaring zat-zat berbahaya sekaligus membiarkan zat-zat yang baik untuk melewatinya.

3. Melindungi Janin dari Infeksi

Plasenta menghilangkan produk limbah dan karbon dioksida dari darah janin kembali ke darah ibu, hal itu membuat darah ibu dan darah janin terpisah. Keadaan ini membantu menjaga beberapa bakteri dan virus keluar dari rahim, sehingga janin terhindar dari infeksi.

4. Memproduksi Hormon Progesteron

Fungsi plasenta lainnya adalah menghasilkan hormon progesteron. Selain berfungsi menjaga kehamilan dan tumbuh kembang embrio, hormon ini berfungsi untuk mengatur siklus menstruasi dengan mengendalikan pertumbuhan jaringan dinding rahim (endometrium).

5. Memproduksi Hormon Estrogen

Saat seorang wanita dinyatakan hamil, tubuhnya akan menghasilkan lebih banyak estrogen. Peran hormon ini selama kehamilan sangat penting karena dapat mendukung pembentukan pembuluh darah baru dan membantu janin berkembang.

6. Mengeluarkan Oksitosin

Oksitosin adalah hormon alami dengan fungsi untuk membuat rahim berkontraksi. Hormon ini digunakan untuk memperkuat kontraksi persalinan. Bahkan, hormon ini juga dapat digunakan untuk merangsang kontraksi rahim pada wanita yang berisiko keguguran.

7. Memproduksi Human Chorionic Gonadotropin (hCG)

Hormon yang diproduksi oleh plasenta ini memberi instruksi pada tubuh untuk terus memproduksi progesteron untuk mencegah terjadinya menstruasi. Hal ini berguna agar janin yang sudah berkembang di dalam rahim terus terlindungi.

Pada umumnya, peningkatan dratis kadar hCG akan terjadi dalam 14 atau 16 minggu pertama setelah periode menstruasi terakhir kalinya.

8. Memproduksi Human Placental Lactogen (hPL)

Hormon yang juga dikenal dengan sebutan human chorionic somatomammotropin ini memiliki fungsi untuk menyiapkan nutrisi yang dibutuhkan janin dan merangsang kelenjar susu di payudara. Selain itu, hPL juga meningkatkan kadar kadar glukosa darah agar janin mendapatkan nutrisi ekstra.

9. Membantu Mengeluarkan Kotoran

Manfaat plasenta lainnya adalah membersihkan produk buangan, seperti urea, kreatinin, dan asam urat dari janin (ekskresi). Ketika plasenta mengeluarkan sisa metabolisme dari sirkulasi janin ke ibu, hal inilah yang melindunginya dari kemungkinan infeksi.

Baca juga: Bisakah Hamil Lagi Setelah Alami Plasenta Previa?

10. Melindungi Janin dari Xenobiotik

Xenobiotik adalah senyawa yang terdapat pada zat aditif makanan (pemanis, pewarna, dan pengawet), obat-obatan, dan polutan lingkungan. Organ yang sangat berperan dalam metabolisme adalah xenobiotik adalah hati. Namun karena fungsi organ hati janin belum berkembang sepenuhnya, maka hal itu digantikan oleh plasenta.

11. Menghasilkan Enzim

Plasenta mampu menghasilkan enzim yang berbeda seperti diamine oxidase and oxytocinase (enzymatic). Diamine oxidase adalah enzim pencernaan yang diproduksi di ginjal, timus, dan lapisan usus saluran pencernaan.

Fungsi utamanya adalah memecah histamin berlebih di tubuh. Histamin adalah senyawa alami yang membantu mengatur fungsi spesifik sistem pencernaan, saraf, dan kekebalan.

Sementara itu enzim oxytocinase mengatur tingkat hormon hipotalamus aminopeptidase. Di bawah pengaruh pembesaran gestasi rongga rahim, hipotalamus ibu menghasilkan peningkatan jumlah hormon; yang pada gilirannya menginduksi peningkatan sintesis oxytocinase di plasenta untuk mencegah hormon dalam darah mencapai tingkat yang dapat menyebabkan kontraksi rahim.

Nah, itulah berbagai fungsi plasenta yang wajib diketahui oleh ibu hamil.

Berbagai Faktor yang Memengaruhi Fungsi Plasenta

Berikut adalah beberapa faktor yang dapat memengaruhi plasenta selama kehamilan dan membuat ibu rentan terhadap risiko tertentu, antara lain:

  • Usia. Wanita yang hamil setelah usia 35 tahun cenderung mengalami masalah plasenta.
  • Kehamilan kembar. Mengandung lebih dari satu janin cenderung mengembangkan plasenta yang lemah. Hal ini dapat meningkatkan risiko pelepasan plasenta dini.
  • Ketuban pecah dini. Jika ketuban pecah atau bocor sebelum persalinan, Anda mungkin berisiko mengalami infeksi plasenta (korioamnionitis) dan solusio plasenta (pemisahan plasenta prematur dari rahim).
  • Gangguan pembekuan darah. Pembekuan darah akibat kerentanan genetik, obesitas, peningkatan usia ibu, penyakit medis, hingga imobilitas berkepanjangan. Kadang-kadang keadaan tersebut dapat memutus suplai darah dan membahayakan bayi.
  • Trauma perut. Jatuh atau segala jenis pukulan yang menyebabkan trauma perut meningkatkan risiko solusio plasenta.
  • Masalah plasenta sebelumnya. Jika Anda pernah mengalami masalah plasenta pada kehamilan sebelumnya, Anda mungkin mengembangkannya lagi.
  • Operasi rahim sebelumnya. Seperti operasi caesar atau operasi pengangkatan fibroid rahim, hal itu dapat meningkatkan risiko kondisi plasenta.
  • Tekanan darah. Tekanan darah tinggi dapat memengaruhi fungsi plasenta.
  • Penyalahgunaan zat. Jika Anda merokok atau menggunakan narkoba, Anda mungkin berisiko mengalami gangguan plasenta.

Jika Anda pernah mengalami masalah plasenta selama kehamilan sebelumnya dan sedang merencanakan kehamilan lagi, konsultasi dengan dokter diperlukan untuk mengurangi risiko mengalami keadaan yang sama. Selain itu, beri tahu dokter jika Anda pernah menjalani operasi pada rahim di masa lalu.

 

  1. Anonim. Pregnancy week by week. https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/pregnancy-week-by-week/in-depth/placenta/art-20044425. (Diakses pada 11 Desember 2020).
  2. Bisits, Andrew. The Role Of The Placenta In Pregnancy. https://www.childmags.com.au/the-role-of-the-placenta-in-pregnancy/. (Diakses pada 11 Desember 2020).
  3. Griffiths, Sarah K dan Jeremy P Campbell. 2015. Placental structure, function and drug transfer. https://academic.oup.com/bjaed/article/15/2/84/248526#2934973. (Diakses pada 11 Desember 2020).
  4. Lindberg, Sara. 2020. What You Need to Know About the Placenta. https://www.healthline.com/health/pregnancy/when-does-the-placenta-form#when-it-forms. (Diakses pada 11 Desember 2020).
  5. Malachi, Rebecca. 2020. Placenta During Pregnancy: Functions, Factors, And Related Problems. https://www.momjunction.com/articles/important-functions-of-placenta-during-pregnancy_00100937/#functions-of-the-placenta-during-pregnancy. (Diakses pada 11 Desember 2020).


DokterSehat | © 2024 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi