Terbit: 11 July 2022 | Diperbarui: 21 July 2022
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: dr. Aloisia Permata Sari Rusli

Stimming adalah perilaku yang sering kali terjadi pada penderita autis. Meskipun kondisi ini umumnya tidak berbahaya, namun perilaku ini dapat memiliki efek yang merugikan orang lain. Simak penjelasan mengenai gejala hingga cara mengatasinya di bawah ini.

Stimming pada Autisme, Pola Perilaku yang Mengulang Gerakan Tertentu

Apa itu Stimming?

Stimming adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perilaku stimulasi diri. Perilaku ini biasanya melibatkan gerakan atau suara berulang.

Meskipun bisa terjadi pada seseorang yang tanpa autisme— seperti mengetuk pensil atau memutar-mutar rambut— tetapi istilah ini umumnya diterapkan pada perilaku berulang yang terlihat pada orang autisme.

Stimming adalah gejala autisme yang sering terjadi dan bagi sebagian orang, gejalanya paling jelas. Hal yang membedakannya dengan autisme adalah jenis atau kuantitas perilakunya, seperti mengepakkan tangan atau bergoyang-goyang.

Jenis dan Ciri-ciri Stimming

Perilaku ini memiliki beberapa jenis berdasarkan bentuk dan frekuensinya, berikut di antaranya:

1. Auditory

Stimulasi pendengaran menggunakan indra pendengaran dan suara orang tersebut. Hal ini mungkin termasuk perilaku seperti berikut:

  • Suara vokal, misalnya bersenandung.
  • Mengetuk benda, menutupi dan membuka telinga, atau menjentikkan jari.
  • Ucapan berulang.

2. Tactile

Jenis ini menggunakan indra peraba, yang mungkin ditandai dengan perilaku tertentu, meliputi:

  • Menggosok atau menggaruk kulit dengan tangan atau benda.
  • Menggerakkan tangan, seperti membuka dan menutup kepalan tangan.
  • Mengetukkan jari.

3. Visual

Visual stimming menggunakan indra penglihatan yang mungkin termasuk perilaku berulang, berikut ciri-cirinya:

  • Menatap objek, seperti kipas langit-langit atau lampu.
  • Berkedip berulang atau menyalakan dan mematikan lampu.
  • Penempatan objek, seperti mengurutkan objek.
  • Menggerakkan jari di depan mata diri sendiri.
  • Mengintip dari sudut mata.
  • Mengepakkan tangan.

4. Vestibular

Vestibular menggunakan indra pergerakan dan keseimbangan seseorang. Ciri-cirinya mungkin termasuk perilaku seperti berikut ini:

  • Bergoyang maju mundur atau ke kiri dan ke kanan.
  • Mondar-mandir.
  • Berputar-putar.
  • Melompat.

5. Olfactory atau taste

Olfactory atau taste menggunakan indra penciuman dan perasa. Jenis ini mungkin ditandai dengan perilaku berulang, di antaranya:

  • Menjilati.
  • Mengendus atau mencium orang atau benda.
  • Mencicipi benda dengan memasukkannya ke dalam mulut.

Baca Juga: 11 Ciri-Ciri Anak Autis yang Wajib Diketahui Orang Tua

Komplikasi Stimming

Meskipun sering kali bukan perilaku yang membahayakan, namun stimming dapat memiliki efek pada fisik, emosional, atau sosial yang merugikan pada beberapa orang.

Bagi sebagian orang, ini dapat mencakup perilaku berisiko lebih tinggi seperti membenturkan tangan, kepala, kaki, dan benda, yang mungkin berpotensi membahayakan fisik.

Terkadang, perilaku ini bukan stimming tetapi metode komunikasi nonverbal yang digunakan orang untuk membuat dirinya dipahami. Apabila seorang anak berperilaku seperti ini, lebih baik segera periksakan ke dokter.

Faktor yang Menjadi Penyebab Stimming

Orang autisme biasanya memiliki ketidakmampuan terhadap pemrosesan sensorik. Hal ini berarti bahwa mereka merespons secara berlebihan atau kurang merespons rangsangan seperti suara, tekstur, dan bau.

Misalnya, saat suara atau bau yang kuat mengganggu orang autisme, hal ini dapat dikatakan seseorang mengalami kelebihan sensorik. Respons ini disebut hipersensitif.

Apabila orang autisme kurang responsif terhadap rangsangan; seperti suara keras misalnya, respons ini disebut hiposensitif.

Meski begitu, perilaku ini dapat membantu penderita autisme, seperti:

  • Stimulasi berlebihan. Perilaku ini dapat menghambat input sensorik yang berlebihan pada seseorang yang hipersensitif.
  • Kurang stimulasi. Gerakan yang berulang dapat menyebabkan ketenangan dan memberikan stimulasi yang diperlukan untuk orang hiposensitif.
  • Pengaturan emosi. Stimming dapat membantu mengontrol emosi—baik yang positif maupun negatif—yang mungkin terlalu tinggi untuk orang autisme.
  • Pengurangan rasa sakit. Gerakan tubuh berulang juga membantu mengalihkan perhatian dari rasa sakit secara fisik.

Meskipun dapat membantu bagi orang autisme, tetapi stimming tidak dapat dianggap menguntungkan jika mengganggu kemampuannya untuk mengatur emosi dirinya sendiri.

Baca Juga: 10 Jenis Terapi Anak Autis (Aman dan Efektif)

Cara Mengatasi Stimming

Apabila membahayakan, perilaku ini harus segera diatasi. Dengan demikian, penanganan mungkin diperlukan jika perilakunya sudah mengganggu atau berpotensi membahayakan orang lain.

Berikut ini beberapa cara mengelola stimming, di antaranya:

1. Analisis perilaku terapan

Cara pertama adalah bentuk terapi perilaku yang dapat membantu anak autis beradaptasi dengan situasi sosial yang mungkin tidak  dipahaminya. Cara ini melibatkan penguatan positif untuk perilaku baik dan konsekuensi untuk perilaku buruk.

2. Diet sensorik

Diet sensorik adalah bentuk terapi okupasi yang bertujuan untuk mengurangi rangsangan dengan menjadwalkan aktivitas ke dalam keseharian anak. Ini berguna untuk memenuhi kebutuhan sensoriknya.

3. Perubahan lingkungan

Mengurangi tekanan lingkungan dan sosial bisa membantu mengurangi risiko kelebihan sensorik. Cara ini dilakukan dengan menempatkan anak di ruang kelas yang lebih kecil, jendela dan ruangan kedap suara, dan menghilangkan tekstur atau lampu yang mungkin mengganggu.

4. Alat manajemen stres

Apa anak memiliki kebiasaan goyang atau mengepakkan tangan? Jika iya, mungkin Anda perlu diajari untuk menggunakan bola untuk mengatasi stres atau gelisah. Selain itu, satu set ayunan atau ruang sunyi khusus juga bisa bermanfaat.

5. Obat-obatan

Jika diperlukan, obat obatan dapat diresepkan oleh dokter. Obat-obatan seperti Risperdal dan Abilify untuk mengurangi iritabilitas dan agresivitas yang dapat memicu perilaku stimming yang berlebihan.

Stimming tidak perlu diobati kecuali jika bersifat konstan, mengganggu, atau menyebabkan bahaya. Selalu konsultasikan kondisi ini dengan dokter terutama jika gejala ini mulai mengganggu penderita atau orang di sekitarnya.

Itulah penjelasan lengkap tentang stimming pada autisme yang mungkin perlu Anda kenali. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Teman Sehat!

 

  1. Pietrangelo, Ann. 2019. Stimming: Causes and Management. https://www.healthline.com/health/autism/stimming. (Diakses pada 11 Juli 2022)
  2. Rudy, Lisa J. 2022. Stimming in Autism. https://www.verywellhealth.com/what-is-stimming-in-autism-260034. (Diakses pada 11 Juli 2022)
  3. Smith, Lori. 2022. What is stimming?. https://www.medicalnewstoday.com/articles/319714. (Diakses pada 11 Juli 2022)


DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi