Terbit: 23 Desember 2021 | Diperbarui: 3 Januari 2022
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Pernah menonton film The Devil Wears Prada? Di film itu Meryl Streep berperan sebagai bos wanita yang penuntut, tidak pernah puas, selalu menekan dan mengharapkan kesempurnaan dari para bawahan wanitanya namun nyaris tidak pernah mengapresiasi kerja keras mereka. Seperti itulah kira-kira perilaku mereka yang menyandang sindrom Ratu Lebah atau Queen Bee syndrome.

Queen Bee Syndrome: Pengertian, Ciri-Ciri, Dampak, dan Cara Mengatasi

Apa Itu Queen Bee Syndrome?

Queen bee syndrome mengacu kepada otoritas atau kekuatan seorang atasan wanita yang menekan dan memperlakukan bawahan wanitanya lebih keras dan lebih buruk daripada para bawahan pria.

Di dunia politik, mantan PM Inggris Margaret Thatcher dianggap sebagai salah satu contoh Queen Bee di tengah dominasi pria di dalam kabinetnya.

Sindrom ini telah banyak diteliti dan pertama kali dipublikasikan oleh T.E Jayarante, C. Tavris dan G.L. Staines pada tahun 1973. Beberapa studi selanjutnya menemukan bahwa sindrom ini bisa jadi menjadi alasan kenapa wanita kerap kali lebih stress bekerja di bawah atasan wanita daripada atasan pria.

Definisi lain Queen Bee syndrome adalah seorang wanita yang sukses secara karier dan kehidupan pribadi namun tidak mau membagi tips dan pengetahuan dengan wanita lain agar teman-teman wanitanya tidak bisa mencapai sukses mereka sendiri.

Pada tahun 2011, Profesor Ellemers dan timnya dari Utrecht University melakukan penelitian terhadap sejumlah polisi wanita di Belanda—terkait dengan pengalaman mereka mengenai diskriminasi gender.

Hasilnya ditemukan bahwa polisi wanita dituntut untuk tetap memiliki produktivitas setinggi polisi pria. Tanpa memandang keunikan gender mereka sebagai perempuan.

Hal ini menurut Ellemers adalah salah satu pencetus Queen Bee syndrome—di mana para perempuan secara ‘terpaksa’ menjadi lebih ambisius, lebih kuat, dan lebih tahan banting di dunia kerja yang keras. Mereka lantas memperlakukan bawahan serta kolega perempuan mereka dengan sama keras dan kritisnya.

“Saat Anda dituntut untuk sukses di sebuah organisasi yang didominasi pria, Anda harus bersikap seperti pria,” ujar Profesor Ellemer. “Akibatnya para perempuan ini mengalami bias gender dengan menunjukkan bahwa mereka berbeda dari perempuan lainnya. Mereka lebih kuat, lebih ambisius.”

Baca Juga: De Quervain Syndrome: Gejala, Penyebab, Pengobatan, dll

Ciri-Ciri Queen Bee Syndrome

Di dunia kerja, fenomena Queen Bee syndrome ini sering terjadi. Adapun ciri-ciri seseorang yang menyandang sindrom ini adalah:

  • Selalu lebih kritis kepada bawahan perempuan, namun tidak berperilaku demikian kepada bawahan laki-laki.
  • Sangat sulit memberikan apresiasi terhadap pencapaian bawahan perempuan.
  • Terus menuntut bawahan perempuan dengan target yang semakin tinggi.
  • Queen Bee syndrome juga bisa terjadi pada karyawan perempuan dengan tingkat jabatan yang sama. Berupa perundungan secara verbal dan non verbal, fisik maupun intelektual.
  • Seringkali seorang Queen Bee mencampurkan urusan pribadi dan pekerjaan.

Dampak Queen Bee Syndrome bagi Kesehatan Mental

Baik bagi penyandang atau para korbannya, Queen Bee syndrome dapat mengakibatkan hal-hal negatif. Misalnya:

  • Bawahan yang memiliki atasan Queen Bee relatif lebih mudah stres dan tertekan. Hal ini akan berdampak pada kesehatan fisik dan mental mereka. Tidak sedikit yang mengalami psikosomatis berupa sakit kepala, sesak napas, serta gangguan tidur.
  • Produktivitas pekerja akan menurun. Tentu saja karena suasana lingkungan kerja tidak kondusif dan terlalu keras, para pekerja perempuan yang tertekan akan kehilangan produktivitas mereka.
  • Turn over karyawan tinggi. Hal ini akan merugikan perusahaan juga karena membangun tim kerja yang kompak dan solid tidaklah mudah.
  • Seorang Queen Bee juga rentan terkena stres dan masalah mental. Tentu saja karena bersikap terlalu kritis dank eras kepada bawahan, mereka juga secara tidak langsung akan bersikap tidak puas diri, haus kekuasaan, dll. Akibatnya, sang Queen Bee rentan terkena masalah mental seperti sindrom overachiever.
  • Seorang Queen Bee rentan dikhianati dan ditikung. Sikapnya yang terlalu keras kerap kali menimbulkan sakit hati pada bawahan. Akan sangat mungkin mereka yang pernah disakiti akan mengkhianatinya suatu hari nanti.

Baca Juga: Ciri-Ciri Bos Toxic dan Cara Menghadapinya

Cara Mengatasi Queen Bee Syndrome

Berikut adalah cara mengatasi queen bee syndrome, dari segi korban maupun penyandang:

Jika Anda Adalah Korban

  • Bicara baik-baik dengan atasan. Usahakan ada orang lain yang bersama Anda, misalnya rekan sekerja yang dapat menjadi pendukung.
  • Beri tahu atasan batasan-batasan Anda dalam bekerja. Beri tahu pula prioritas Anda saat ini dan bersama cari cara untuk menyelaraskan prioritas tersebut dengan achievement yang diinginkan atasan.
  • Bicarakan baik-baik apa yang Anda alami kepada pihak HRD. Bagian ini adalah kanal resmi yang dapat memproses pengaduan Anda dan meneruskannya ke pihak manajemen perusahaan.
  • Jika tekanan sudah terlalu berat dan tidak kunjung ada tindakan dari manajemen dan atasan, pikirkan ulang prioritas dan alasan Anda untuk bertahan di perusahaan.

Jika Anda Adalah Penyandang

Hal baik bila kamu menyadari memiliki sindrom queen bee, lakukan cara ini untuk mengatasinya:

1. Kenali Identas Diri

Sebagai pemimpin, sejauh mana Anda dapat menggunakan kemampuan dan kekuatan? Seluas apa otoritas Anda? Pastikan peran Anda dapat memberikan manfaat dan kebaikan untuk bawahan dan rekan kerja.

2. Terbuka Terhadap Masukan dan Saran dari Orang Lain

Kemampuan menerima dan mengelola masukan serta kritik adalah kemampuan yang harus dilatih. Tentu tidak mudah ketika seseorang melihat Anda dari sisi yang buruk.

Namun, apa yang mereka sampaikan juga belum tentu salah. Jika seseorang memberi masukan tentang kepemimpinan dan kemampuan Anda, cernalah tanpa emosi dan pilah saran mana yang bisa dilakukan untuk memperbaiki diri.

3. Kembangkan Diri dengan Mengikuti Pelatihan Kepemimpinan

Bekal pengetahuan dan kemampuan untuk menjadi pemimpin yang baik adalah hal yang mutlak saat Anda adalah seorang atasan. Carilah mentor atau ikuti pelatihan kepemimpinan agar dapat lebih fokus membangun strategi yang lebih baik untuk kesuksesan bersama dan kemajuan perusahaan.

4. Melatih Empati dan Kepekaan Terhadap Perasaan Bawahan

Acara gathering, outbond, atau liburan bersama bawahan adalah cara asyik untuk meningkatkan kedekatan dan keakraban. Sekaligus meningkatkan empati serta kepekaan Anda terhadap perasaan bawahan.

Ketika atasan mereka menyediakan ruang dan waktu khusus untuk memahami isi hati mereka, para bawahan pasti merasa lebih nyaman.

Baca Juga: 10 Ciri-Ciri Rekan Kerja Toxic yang Perlu Dihindari!

Queen bee syndrome adalah hal yang kontroversial. Pada tahun 1980 hingga 1990-an sangat sulit bagi perempuan untuk menembus level manajemen atas suatu perusahaan. Namun seiring waktu, seperti yang diungkapkan oleh Sheryl Sandberg, COO Facebook dalam pengamatannya, “Kini perempuan bersikap jauh lebih baik kepada bawahan perempuannya”.

Kondisi ini didorong oleh kesetaraan gender dan semakin terbukanya kebanyakan perusahaan terhadap pimpinan perempuan. Namun, fenomena Queen Bee syndrome tidak lantas menghilang begitu saja.

Penelitian yang dilakukan oleh Workplace Bullying Institute tahun 2010 menunjukkan 80% perempuan pernah mengalami perundungan oleh atasan atau rekan sekerja dengan gender yang sama.

Jika mengalaminya, berdialoglah dengan manajemen agar didapatkan win-win solution yang menguntungkan semua pihak.

 

  1. BBC News. 2018. Queen bees: Do women hinder the progress of other women? https://www.bbc.com/news/uk-41165076. (Diakses pada 17 Desember 2021).
  2. Coetzer, Auguste. 2016. Are you a woman bully? Maybe you have the queen bee syndrome. https://www.news24.com/fin24/special-reports/womens-month-2016/are-you-a-woman-bully-maybe-you-have-the-queen-bee-syndrome-20160802. (Diakses pada 17 Desember 2021).
  3. HR Zone. 2020. What is Queen Bee Syndrome? https://www.hrzone.com/hr-glossary/what-is-queen-bee-syndrome. (Diakses pada 17 Desember 2021).


DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi