Terbit: 29 September 2022
Ditulis oleh: Mutia Isni Rahayu | Ditinjau oleh: dr. Jati Satriyo

Stroke non-hemoragik (SNH) atau stroke iskemik merupakan jenis stroke yang paling umum. Stroke adalah salah satu kondisi darurat medis yang harus segera ditangani. Simak penjelasan lengkap mengenai gejala hingga penanganan penyakit SNH di bawah ini.

Stroke Non-Hemoragik: Gejala, Penyebab, dan Pengobatan

Apa itu Stroke Non-Hemoragik?

Secara umum jenis stroke dibagi menjadi dua: stroke hemoragik dan stroke non-hemoragik. Stroke jenis ini sebenarnya lebih ringan jika dibandingkan dengan stroke hemoragik. Meskipun begitu, keduanya merupakan kondisi darurat medis yang harus segera ditangani.

Perbedaan stroke iskemik dan hemoragik terdapat pada gangguan yang terjadi di pembuluh darah di otak.

SNH terjadi ketika pembuluh darah di otak tersumbat oleh gumpalan darah atau penumpukan plak. Sedangkan stroke hemoragik terjadi ketika pembuluh darah di otak atau sekitarnya melemah hingga kemudian pecah dan menyebabkan gangguan pada otak.

Stroke non-hemoragik adalah jenis stroke yang paling umum terjadi, jumlah kasusnya adalah 87% dari keseluruhan kasus stroke.

Gejala Stroke Non-Hemoragik

Stroke jenis ini ditandai dengan berbagai gejala seperti:

  • Mati rasa atau lemah pada wajah, lengan, atau kaki (biasanya terjadi pada satu sisi tubuh).
  • Kebingungan mendadak, kesulitan berbicara dan kesulitan memahami lawan bicara.
  • Kesulitan melihat pada salah satu atau kedua mata.
  • Kesulitan untuk berjalan.
  • Pusing, hilang keseimbangan dan koordinasi tubuh.
  • Sakit kepala berat tanpa sebab yang jelas.

Kapan Harus ke Dokter?

Stroke adalah kondisi darurat medis yang harus segera ditangani. Penyumbatan otak yang berlangsung beberapa menit saja dapat menyebabkan kerusakan pada otak. Segera hubungi penyedia layanan kesehatan jika Anda atau anggota keluarga mengalami gejala stroke iskemik seperti yang disebutkan di atas.

Penyebab Stroke Non-Hemoragik

Secara umum penyebab stroke non-hemoragik adalah kondisi tersumbatnya pembuluh darah di otak akibat adanya gumpalan darah atau bekuan darah. Terbentuknya bekuan darah umumnya akibat aterosklerosis.

Aterosklerosis adalah kondisi di mana terdapat plak yang menumpuk di pembuluh darah sehingga menyebabkan darah tidak dapat menuju ke organ vital. Selain itu, gumpalan darah yang bergerak melalui pembuluh darah dan menempel pada plak juga bisa menyebabkan penyumbatan.

Penyebab lainnya adalah tersumbatnya arteri karotid, yaitu arteri yang berada di leher dan memasok darah ke otak.

Baca Juga: Senam Anti Stroke: Manfaat, Jenis, dan Gerakan

Faktor Risiko

Selain penyebab di atas, terdapat juga beberapa kondisi yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kondisi  ini, antara lain:

  • Tekanan darah tinggi.
  • Diabetes.
  • Aterosklerosis.
  • Penyakit arteri karotis, adanya plak pada arteri karotis.
  • Atrial fibrilasi.
  • Tingkat LDL atau kolesterol jahat tinggi dan HDL atau kolesterol baik rendah.
  • Obesitas.
  • Usia di atas 55 tahun.
  • Memiliki riwayat TIA (transient ischaemic attack) atau serangan stroke ringan yang terjadi sementara.
  • Kurang gerak (yang dapat memicu darah tinggi, penumpukan kolesterol, dan obesitas)

Diagnosis Stroke Non-Hemoragik

Pemeriksaan fisik dan riwayat keluarga biasanya dapat membantu diagnosis penyakit ini. Dokter juga dapat melihat gejala untuk dapat memperkirakan di mana penyumbatan terjadi.

Selain itu, dokter mungkin akan menyarankan tes gula darah apabila Anda mengalami gejala seperti kebingungan dan bicara cadel; karena kondisi ini juga dapat mengindikasikan gula darah rendah.

Pemeriksaan yang biasanya dilakukan untuk mendukung diagnosis penyakit ini, antara lain:

  • CT scan kepala (cranial CT scan). Pemeriksaan ini dapat membantu membedakan antara stroke iskemik dan masalah lain yang dapat menyebabkan kematian jaringan otak; seperti tumor atau pendarahan otak.
  • MRI. Pemeriksaan ini dapat membantu menentukan kapan stroke ini dimulai.
  • Elektrokardiogram (EKG). Tes untuk menguji irama jantung abnormal; dilakukan untuk mengetahui penyebab stroke.
  • Ekokardiografi. Tes ini dilakukan untuk memeriksa adanya pembekuan atau kelainan pada jantung. Tes ini juga dilakukan untuk menemukan penyebab stroke.
  • Angiografi. Pemeriksaan untuk melihat arteri mana yang tersumbat dan seberapa parah penyumbatan tersebut.
  • Tes darah. Tes ini dilakukan untuk memeriksa kadar kolesterol dan masalah pembekuan darah.

Jenis Stroke Non-Hemoragik

Jika dibedakan berdasarkan terbentuknya gumpalan darah yang menyebabkan penyumbatan dan area di mana gangguan pasokan darah di mulai, stroke ini dibedakan menjadi:

1. Stroke Emboli

Stroke emboli adalah stroke iskemik yang gumpalan darah atau bekuan darahnya terbentuk di suatu tempat di dalam tubuh (paling umum adalah jantung) dan kemudian gumpalan tersebut menyebar hingga ke otak.

Ketika sampai di otak, bekuan darah ini akan menuju pembuluh darah yang cukup kecil dan menyumbatnya. Bekuan darah tersebut akan bersarang di pembuluh darah dan menyebabkan stroke. Bekuan darah pada stroke emboli disebut dengan embolus.

2. Stroke Trombotik

Stroke trombotik disebabkan oleh bekuan darah yang terbentuk di arteri yang memasok darah ke otak. Sebutan untuk bekuan darah yang terbentuk tersebut adalah trombus. Umumnya trombus terbentuk akibat kondisi seperti kolesterol tinggi dan aterosklerosis.

Terdapat dua jenis stroke trombotik yaitu:

  • Stroke trombotik besar. Stroke yang terjadi pada arteri yang lebih besar yang ada di otak. Paling umum penyebabnya adalah aterosklerosis yang dikombinasikan dengan pembekuan darah cepat.
  • Stroke trombotik kecil. Stroke yang terjadi pada arteri yang sangat kecil. Penyebabnya jarang diketahui, namun kondisi ini terkait erat dengan tekanan darah tinggi.

Apabila kondisi ini tidak ditangani dengan baik, komplikasi yang dapat terjadi adalah kerusakan otak hingga kematian.

Baca Juga: 12 Cara Mencegah Stroke yang Wajib Diketahui Sejak Dini

Pengobatan Stroke Non-Hemoragik

Terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan sebagai pengobatan stroke jenis ini, di antaranya:

1. Obat-obatan

Terapi dengan obat penghilang gumpalan darah harus dilakukan paling tidak pada 4,5 jam pertama. Obat dapat diberikan melalui vena. Lebih cepat obat diberikan maka lebih baik. Penanganan yang lebih cepat dilakukan untuk meningkatkan peluang bertahan hidup dan mengurangi potensi komplikasi.

Pemberian injeksi tPA (tissue plasminogen activator) mungkin diberikan. Pemberian tPA dianggap sebagai pengobatan standar emas untuk stroke. Pemberian tPA juga dapat dilakukan dengan cara mengirim langsung obat ini ke otak, perawatan ini disebut dengan trombolisis intra-arterial.

2. Bedah

Pada dasarnya tPA membantu pasien pulih dari stroke sepenuhnya. Namun terdapat juga beberapa kondisi di mana pasien harus menjalani prosedur untuk menghapus bekuan darah yang menyumbat sepenuhnya.

Penggunaan kateter digunakan untuk mengarahkan perangkat ke pembuluh darah dan mengambil bekuan darah yang menyumbat. Prosedur ini biasanya dilakukan jika gumpalan darah berukuran besar dan tidak dapat sepenuhnya larut dengan tPA.

Pencegahan Stroke Non-Hemoragik

Risiko stroke non-hemoragik dapat diturunkan dengan melakukan beberapa langkah seperti berikut ini:

  • Melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin, pemeriksaan tekanan darah dan kadar kolesterol dapat mendeteksi dini risiko stroke.
  • Olahraga secara teratur, ketika kita bergerak aktif, risiko penyakit seperti diabetes, obesitas, kolesterol tinggi, dan kondisi lain terkait stroke juga menjadi lebih rendah.
  • Menerapkan diet sehat jantung, perbanyak makanan seperti sayuran, buah-buahan, biji-bijian, lemak sehat, dan protein tanpa lemak.
  • Menjaga berat tubuh ideal.
  • Hindari atau berhenti merokok.
  • Ketahui riwayat kesehatan dalam keluarga.
  • Tidur cukup dan kelola stres

 

  1. Anonim. 2019. Stroke. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/stroke/diagnosis-treatment/drc-20350119. (Diakses 18 Maret 2019).
  2. Anonim. Ischemic Stroke. https://medlineplus.gov/ischemicstroke.html. (Diakses 18 Maret 2019).
  3. Berry, Jennifer. Ischemic stroke: Causes, symptoms, and risk factors. https://www.medicalnewstoday.com/articles/318098.php. (Diakses 18 Maret 2019).
  4. Hersh, Erica. 2018. Everything You Should Know About Ischemic Stroke. https://www.healthline.com/health/stroke/cerebral-ischemia. (Diakses 11 Desember 2019)

DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi