Terbit: 18 Mei 2022
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Perdarahan yang terjadi di ruang sekitar otak disebut dengan perdarahan subarachnoid. Jika tidak tertangani dengan baik, dampaknya bisa sangat fatal. Simak selengkapnya melalui ulasan berikut!

Perdarahan Subarachnoid: Gejala, Penyebab, Pengobatan, dan Pencegahan

Apa itu Perdarahan Subarachnoid?

Perdarahan subarachnoid atau subarachnoid hemorrhage (SAH) adalah kondisi ketika terjadi perdarahan di area sekitar ruang yang mengelilingi otak dan lapisan pembungkus otak.

Lokasi tempat terjadinya perdarahan dikenal sebagai ruang subarachnoid. Pada ruangan ini, terdapat cerebrospinal fluid (CSF) atau cairan serebrospinal yang berfungsi mencegah otak dari cedera.

Perdarahan biasanya terjadi karena adanya trauma pada kepala. Kondisi ini muncul akibat area lemah di pembuluh darah—tepatnya di permukaan otak—pecah dan bocor.

Kondisi tersebut menyebabkan terjadinya penumpukan darah di sekitar otak dan di dalam tengkorak. Pada gilirannya, tekanan pada otak bertambah sehingga rentan memicu koma, komplikasi seumur hidup, kelumpuhan, bahkan kematian.

Gejala Perdarahan Subarachnoid

Gejala subarachnoid hemorrhage yang utama adalah sakit kepala hebat. Selain datang secara tiba-tiba, nyeri yang muncul juga biasanya terasa kuat di daerah dasar kepala.

Selain itu, sejumlah gejala lain yang dapat muncul, antara lain:

  • Hilang kesadaran.
  • Penglihatan ganda.
  • Penurunan penglihatan.
  • Hilang kewaspadaan.
  • Mual.
  • Muntah.
  • Kebingungan.
  • Kesulitan berbicara.
  • Mudah marah.
  • Kaku pada leher dan bahu.
  • Kejang.
  • Sensitivitas terhadap cahaya.
  • Kesemutan pada setiap bagian tubuh.

Karena gejala yang muncul sangat mirip dengan kondisi lain, periksakan kondisi ke dokter untuk memastikannya. Dengan demikian, diagnosis dan penanganan dapat dilakukan secara tepat.

Baca JugaAlami Darah Kental? Ini Penyebabnya yang Patut Diwaspadai!

Penyebab Perdarahan Subarachnoid

Perdarahan subarachnoid dapat terjadi sebagai komplikasi dari jenis stroke yang disebut stroke hemoragik.

Berbeda dengan stroke iskemik (pembekuan darah di otak), pada stroke hemoragik muncul pendarahan ke otak akibat pecahnya pembuluh darah.

Perdarahan akibat stroke hemoragik terkadang dapat menembus hingga ke jaringan otak dan bocor ke area di luar otak (ruang subarachnoid).

Selain itu, aneurisma berry juga berkaitan dengan subarachnoid hemorrhage. Aneurisma berry sendiri merupakan kondisi aneurisma pada dinding arteri di otak. Aneurisma adalah pembesaran arteri yang terjadi karena lemahnya dinding arteri.

Faktor Risiko

Perdarahan subarachnoid dapat terjadi pada siapa saja. Melansir Healthline, SAH dapat menimpa segala usia dan beberapa orang bahkan terlahir dengan aneurisma serebral, yakni pencetus kondisi ini.

Kendati demikian, faktor risiko dapat meningkat pada orang dengan berbagai kondisi berikut:

  • Perokok.
  • Konsumsi alkohol berlebih.
  • Penggunaan narkoba, terutama metamfetamin dan kokain.
  • Hipertensi.
  • Tumor otak.
  • Infeksi pada otak.
  • Riwayat keluarga dengan subarachnoid hemorrhage.

Diagnosis

Untuk menegakkan diagnosis, dokter kemungkinan akan melakukan berbagai tes berikut:

1. MRI scan

Tes ini bertujuan untuk menampilkan gambaran otak secara detail dengan menggunakan magnet besar, energi frekuensi radio, dan komputer.

2. CT scan

CT scan memanfaatkan sinar-X dan teknologi komputer untuk mendapatkan gambaran horizontal atau aksial (sering disebut irisan) otak. Kelebihannya adalah gambar yang dihasilkan lebih detail ketimbang rontgen umum.

3. Angiogram

Pada tes ini, dokter akan melakukan beberapa tindakan berikut:

  • Menyuntikkan tabung panjang dan sempit (kateter) ke dalam arteri atau pembuluh darah.
  • menyuntikkan pewarna kontras ke dalam kateter.
  • Melakukan rontgen pembuluh darah.

Hasil dari tes ini akan membuat pembuluh darah lebih terlihat pada gambar sinar-X.

4. Spinal tap

Spinal tap menggunakan jarum khusus yang ditempatkan pada punggung bawah, di dalam kanal tulang belakang. Tujuannya adalah untuk mengukur tekanan pada kanal tulang belakang dan otak.

Selain itu, pada tes ini juga dilakukan pengambilan cairan serebrospinal untuk mengetahui adanya darah.

Baca JugaSpider Vein (Pembuluh Darah Pecah) di Wajah? Ini 12 Cara Menghilangkannya

Cara Mengobati Perdarahan Subarachnoid

Subarachnoid hemorrhage adalah kondisi kegawatdaruratan medis sehingga membutuhkan penanganan segera. Penanganan cepat dan tepat dapat mencegah kerusakan otak secara permanen.

Penanganan utama dapat berupa tindakan pembedahan atau operasi. Dokter akan membuka tempurung otak, lalu mengidentifikasi perdarahan.

Bila menyebabkan hilang kesadaran, dokter akan menyarankan pasien untuk istirahat total. Anjuran lainnya, yaitu menghindari aktivitas yang mengakibatkan sering membungkuk karena dapat mengakibatkan tekanan pada otak.

Dokter juga dapat memberikan obat-obatan tertentu, seperti antihipertensi dan antinyeri.

Jika subarachnoid hemorrhage menyebabkan koma, peralatan medis diperlukan, seperti ventilator, pengaman jalan napas, dan penempatan tabung pada otak untuk menurunkan tekanan.

Tindakan Pencegahan

Cara mencegah perdarahan subarachnoid adalah dengan mendeteksi adanya masalah pada otak, misalnya aneurisma. Selain itu, periksakan tekanan darah Anda secara rutin untuk mendeteksi adanya hipertensi.

Kondisi hipertensi harus segera ditangani, salah satunya dengan pemberian obat antihipertensi. Hal ini dapat membantu mengurangi risiko subarachnoid hemorrhage.

Selain itu, hindari faktor risiko kondisi ini. Jika merasa memiliki salah satu faktor risiko di atas, Anda bisa mengonsultasikannya lebih lanjut kepada dokter.

 

  1. Anonim. Subarachnoid Hemorrhage. https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/subarachnoid-hemorrhage. (Diakses pada 18 Mei 2022).
  2. Anonim. Subarachnoid Hemorrhage. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/subarachnoid-hemorrhage/symptoms-causes/syc-20361009#. (Diakses pada 18 Mei 2022).
  3. Eske, Jamie. 2021. All You Need to Know About an Angiogram. https://www.medicalnewstoday.com/articles/326825. (Diakses pada 18 Mei 2022).
  4. Feigin, Valery., dkk. 2005. Risk Factors for Subarachnoid Hemorrhage: An Updated Systematic Review of Epidemiological Studies. https://www.ahajournals.org/doi/10.1161/01.str.0000190838.02954.e8#. (Diakses pada 18 Mei 2022).
  5. Kumar, Ajaya, & Mehta, Parth. 2022. Hemorrhagic Stroke. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK559173/. (Diakses pada 18 Mei 2022).
  6. Nunez, Kirsten. 2021. Subarachnoid Hemorrhage Overview. https://www.healthline.com/health/subarachnoid-hemorrhage. (Diakses pada 18 Mei 2022).


DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi