Terbit: 23 December 2021 | Diperbarui: 9 September 2022
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: dr. Sheila Amabel

Gangguan eksplosif intermiten atau intermittent explosive disorder adalah suatu kondisi di mana seseorang menjadi marah atau melakukan tindak kekerasan secara tiba-tiba. Simak penjelasan mengenai gejala hingga perawatan yang bisa dilakukan, selengkapnya di bawah ini.

Intermittent Explosive Disorder: Gejala, Penyebab, dan Penanganan

Apa itu Intermittent Explosive Disorder?

Intermittent explosive disorder adalah gangguan mental yang membuat seseorang marah dan melakukan tindakan kasar secara tiba-tiba. Reaksi-reaksi ini cenderung tidak rasional atau tidak proporsional dengan situasi.

Marah saat berkendara, kekerasan dalam rumah tangga, melempar/menghancurkan benda, atau amarah lainnya mungkin merupakan tanda gangguan eksplosif intermiten.

Gejala Intermittent Explosive Disorder

Episode impulsif dan agresif yang menjadi ciri intermittent explosive disorder (IED) dapat mengambil banyak bentuk.

Beberapa perilaku yang mungkin menjadi tanda IED meliputi:

  • Berteriak.
  • Argumen yang intens.
  • Mengamuk.
  • Mengancam.
  • Kemarahan di jalan.
  • Memukul dinding atau memecahkan piring.
  • Merusak properti.
  • Kekerasan fisik, seperti menampar atau mendorong.
  • Perkelahian atau tawuran.
  • Kekerasan dalam rumah tangga.
  • Penyerangan.

Meski berlangsung singkat (tidak lebih dari 30 menit), beberapa gejala di atas sering terjadi dengan atau tanpa peringatan. Selain itu, beberapa gejala mungkin muncul bersamaan dengan gejala fisik, seperti:

  • Peningkatan energi (adrenalin rush).
  • Sakit kepala atau tekanan kepala.
  • Palpitasi jantung.
  • Sesak dada.
  • Ketegangan otot.
  • Perasaan geli.
  • Gerakan gemetar tidak terkendali (tremor).

Perasaan jengkel, marah, dan kehilangan kendali biasanya dilaporkan sebelum atau selama episode. Orang dengan IED mungkin mengalami racing thoughts (pola pikir berulang) atau emotional detachment (keengganan untuk berhubungan dengan orang lain).

Setelah melakukannya, seseorang mungkin merasa lelah atau lega. Orang dengan IED sering melaporkan perasaan menyesal atau bersalah setelahnya.

Beberapa individu dengan IED, gejala bisa terjadi secara teratur. Bagi yang lain, gejala terjadi setelah perilaku tidak agresif selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan. Marah-marah dapat terjadi di antara tindakan kekerasan fisik.

Baca Juga: Macam-Macam Emosi pada Manusia dan Pengaruhnya pada Kesehatan

Kapan Waktu yang Tepat untuk ke Dokter?

Jika Anda mengenali perilaku orang lain atau Anda sendiri ternyata sesuai dengan gangguan eksplosif intermiten, konsultasi dengan dokter diperlukan mengenai pilihan pengobatan atau mintalah rujukan ke profesional kesehatan mental.

Penyebab Intermittent Explosive Disorder

Gangguan eksplosif intermiten dapat dimulai pada masa anak-anak—setelah usia 6 tahun—atau selama masa remaja. Usia dewasa muda juga lebih sering mengalami gangguan ini daripada orang dewasa yang lebih tua.

Penyebab pasti gangguan ini tidak diketahui, tetapi kemungkinan disebabkan oleh sejumlah faktor lingkungan dan biologis.

  • Lingkungan. Banyak orang dengan gangguan ini tumbuh dalam keluarga dimana perilaku eksplosif dan pelecehan verbal dan fisik biasa terjadi. Mengalami jenis kekerasan ini pada usia dini membuat anak lebih mungkin menunjukkan sifat-sifat yang sama ini saat dewasa.
  • Genetik. Mungkin ada komponen genetik yang menyebabkan kelainan ini diturunkan dari orang tua ke anak.
  • Perbedaan cara kerja otak. Mungkin ada perbedaan struktur, fungsi, dan kimia otak pada orang dengan gangguan ini dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki IED.

Faktor Risiko Intermittent Explosive Disorder

Berikut ini adalah beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengembangkan intermittent explosive disorder adalah:

  • Riwayat kekerasan fisik. Seseorang yang mengalami pelecehan saat masa kecil atau mengalami beberapa peristiwa traumatis, memiliki peningkatan risiko gangguan eksplosif intermiten.
  • Riwayat gangguan kesehatan mental lainnya. Seseorang yang memiliki gangguan kepribadian antisosial (antisocial personality disorder), gangguan kepribadian ambang (borderline personality disorder), atau gangguan lain yang mencakup gangguan perilaku seperti attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), memiliki peningkatan risiko juga mengalami IED.

Diagnosis Intermittent Explosive Disorder

Diagnosis diperlukan untuk menyingkirkan kondisi fisik atau gangguan kesehatan mental lainnya yang mungkin menyebabkan gejala. Sejumlah tes yang bisa dilakukan dokter, antara lain:

  • Pemeriksaan fisik. Dokter akan mencoba untuk mengesampingkan masalah fisik atau penggunaan zat yang dapat berkontribusi pada gejala. Anda mungkin disarankan untuk melakukan tes laboratorium.
  • Evaluasi psikologis. Dokter atau profesional kesehatan mental akan berbicara tentang gejala, pikiran, perasaan, dan pola perilaku Anda.
  • Menggunakan kriteria di DSM-5. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) sering digunakan oleh profesional kesehatan mental untuk mendiagnosis kondisi.

Baca Juga: 13 Cara Mengendalikan Emosi (Mudah Penerapannya)

Penanganan Intermittent Explosive Disorder

Tidak ada pengobatan tunggal yang terbaik untuk mengatasi gangguan mental ini. Perawatan umumnya meliputi terapi bicara (psikoterapi) dan konsumsi obat.

Psikoterapi

Sesi terapi individu atau kelompok yang berfokus pada membangun keterampilan dapat membantu mengatasi kondisi. Jenis terapi yang umum digunakan adalah terapi perilaku kognitif.

Metode ini membantu seseorang untuk:

  • Mengidentifikasi situasi atau perilaku mana yang dapat memicu respons agresif.
  • Mempelajari cara mengelola kemarahan dan mengendalikan respons yang tidak tepat menggunakan teknik seperti pelatihan relaksasi, berpikir secara berbeda tentang situasi (cognitive restructuring), atau menerapkan keterampilan komunikasi dan pemecahan masalah.

Obat-obatan

Tidak ada obat khusus untuk IED, tetapi obat-obatan tertentu dapat membantu mengurangi perilaku impulsif atau agresi, antara lain:

  • Antidepresan, khususnya selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI).
  • Penstabil suasana hati, termasuk lithium, valproic acid, dan carbamazepine.
  • Obat antipsikotik.
  • Obat antiansietas.

Diperlukan waktu hingga tiga bulan pengobatan untuk merasakan efek penuh SSRI, dan gejala cenderung muncul kembali setelah pengobatan dihentikan. Selain itu, tidak semua orang merespons dengan baik pengobatan.

Komplikasi Intermittent Explosive Disorder

Orang dengan gangguan eksplosif intermiten memiliki peningkatan risiko:

  • Hubungan interpersonal yang terganggu. Sering dianggap oleh orang lain sebagai orang yang selalu marah. Mereka mungkin sering bertengkar verbal atau mungkin ada kekerasan fisik. Tindakan ini dapat menyebabkan masalah hubungan, perceraian, dan stres keluarga.
  • Masalah di tempat kerja, rumah atau sekolah. Komplikasi lain dari gangguan ini mungkin termasuk kehilangan pekerjaan, masalah di sekolah, kecelakaan mobil, masalah keuangan,atau masalah dengan hukum.
  • Masalah dengan suasana hati. Gangguan mood seperti depresi dan kecemasan sering terjadi dengan kondisi ini
  • Penyalahgunaan alkohol dan zat. Masalah dengan obat-obatan atau alkohol sering terjadi bersamaan dengan gangguan eksplosif intermiten.
  • Masalah kesehatan fisik. Kondisi medis lebih umum misalnya, tekanan darah tinggi, diabetes, penyakit jantung, stroke, maag, dan nyeri kronis.
  • Menyakiti diri sendiri. Cedera yang disengaja atau upaya bunuh diri terkadang bisa terjadi.

Pada akhirnya, kombinasi perawatan mungkin dapat mencegah beberapa insiden menjadi tidak terkendali.

 

  1. Anonim. Intermittent explosive disorder. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/intermittent-explosive-disorder/symptoms-causes/syc-20373921. (Diakses pada 23 Desember 2021).
  2. Carly Vandergriendt. 2018. Intermittent Explosive Disorder. https://www.healthline.com/health/mental-health/intermittent-explosive-disorder. (Diakses pada 23 Desember 2021).


DokterSehat | © 2024 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi