Terbit: 9 December 2022
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: dr. Sheila Amabel

Salah satu kondisi yang menyebabkan kantuk adalah ketika seseorang merasa capek. Namun, bagaimana jika badan lelah tapi Anda justru semakin sulit untuk tidur? Simak berbagai penyebabnya dalam ulasan berikut ini.

Badan Terasa Capek Tapi Susah untuk Tidur? Ini Penyebabnya

Penyebab Susah Tidur saat Badan Capek

Pada dasarnya, badan capek tapi susah tidur bisa disebabkan oleh berbagai hal, dari sesuatu yang ringan hingga yang didasari oleh penyakit tertentu.

Berikut ini adalah beberapa alasan susah tidur ketika badan lelah, di antaranya:

1. Kecemasan

Pikiran yang kian berpacu tidak akan kondusif untuk lekas tertidur dengan nyenyak. Tidak heran jika gangguan tidur merupakan gejala diagnostik untuk beberapa gangguan kecemasan; yang merupakan faktor risiko insomnia atau susah tidur.

Kecemasan juga dapat menyebabkan peningkatan gairah dan kewaspadaan. Hal inilah yang dapat menunda untuk tidur nyenyak.

2. Depresi

Menurut sebuah studi, sekitar 90% orang yang didiagnosis depresi juga memiliki kualitas tidur yang buruk. Gangguan tidur yang dilaporkan termasuk insomnia, narkolepsi, gangguan pernapasan saat tidur, dan sindrom kaki gelisah.

Hubungan antara masalah tidur dan depresi begitu rumit, di mana hal kemungkinan mengganggu ritme sirkadian, yaitu proses internal dan alami yang mengatur siklus tidur-bangun.

3. Tidur Siang

Menyempatkan tidur siang pada dasarnya tidak buruk. Padahal tidur siang memiliki beberapa manfaat bagi kesehatan. Namun, tidur siang yang salah bisa membuat Anda tetap terjaga di malam hari.

Sebuah penelitian mengungkapkan, tidur siang yang terlalu lama dapat membuat Anda membutuhkan waktu yang lebih lama untuk tidur di malam hari, waktu tidur berkurang, dan sering bangun di malam hari.

Oleh karena itu, sebaiknya tidur siang selama 20-30 menit dan tidur siang pada waktu yang sama setiap hari agar tubuh dapat mengantisipasinya.

4. Durasi Menatap Layar Gadget

Vahaya biru yang dipancarkan dari layar elektronik seperti gadget, tablet, laptop, dan layar TV akan menekan produksi melatonin di malam hari dan mengurangi rasa kantuk.

Melatonin adalah hormon alami tubuh yang berfungsi dalam mengatur pola tidur. Oleh karena itu, hentikan penggunaan perangkat apa pun dua jam sebelum tidur.

Anda juga bisa mempertimbangkan untuk mengenakan kacamata khusus yang menghalangi sinar biru yang dipancarkan perangkat digital.

5. Kafein

Efek kafein dalam kopi atau teh baru bisa hilang dari tubuh sekitar 5 jam. Maka, tidak heran jika penelitian menunjukkan bahwa konsumsi 200 miligram kafein dari kopi—sekitar 16 jam sebelum istirahat dapat mengganggu kualitas tidur.

Sementara itu, konsumsi 400 miligram kafein 6 jam atau kurang sebelum tidur dapat mengurangi kualitas tidur secara signifikan. Jadi, sebaiknya hentikan konsumsi kafein 4-6 jam sebelum tidur.

Baca Juga: 12 Jenis Insomnia dan Cara Mengatasinya

6. Pola Diet

Meskipun kaitan antara diet dan kualitas tidur tidak sepenuhnya jelas. Namun, sebuah penelitian mengungkapkan ada kaitan antara rasa kantuk dan diet yang berlebihan di siang hari.

Para peneliti menemukan bahwa mengganti 5% asupan kalori harian dengan lemak jenuh atau karbohidrat dalam jumlah yang sama akan meningkatkan risiko kantuk di siang hari.

Sebaliknya, mengganti lemak jenuh dengan lemak tak jenuh, protein, atau karbohidrat akan mengurangi risiko kantuk berlebihan di siang hari.

7. Ketidakseimbangan Hormon

Perubahan hormonal bisa menjadi alasan lain kenapa badan capek tapi susah tidur di malam hari.

Ketidakseimbangan hormon yang terjadi tepat sebelum menstruasi dapat mengurangi tidur REM (rapid-eye-movement), menurunkan produksi melatonin, dan menyebabkan perubahan suasana hati.

Kondisi tersebut akan menyebabkan kram menstruasi, migrain, dan meningkatkan suhu tubuh—yang semuanya dapat menyebabkan sulit tidur.

Mengalami gejala perimenopause juga dapat menjadi alasan mengapa Anda merasa lelah tetapi susah tidur.

8. COVID-19

Susah tidur adalah gejala umum COVID-19.Kondisi ini bisa disebabkan oleh faktor tertentu seperti stres atau respons autoimun terhadap virus.

Sebuah penelitian menemukan bahwa sekitar 5% dari orang dengan COVID-19 mengalami insomnia. Sekitar 10% dari partisipan dengan infeksi parah yang memerlukan rawat inap mengalami kesulitan tidur.

Sulit tidur mungkin lebih umum terjadi pada orang dengan long COVID-19, menurut analisis data di tahun 2022. Para peneliti menemukan bahwa dari 1.321 orang dengan gejala long COVID-19, lebih dari 40 persennya mengalami kesulitan tidur sedang hingga berat.

Baca Juga: 12 Cara Mengatasi Susah Tidur dan Penyebab yang Perlu Anda Ketahui

Cara Mengatasi Badan Capek tapi Susah Tidur

Apabila kondisi ini tidak mendapatkan penanganan dengan baik, beberapa masalah kesehatan yang bisa terjadi yaitu diabetes, penyakit jantung, kegemukan, hingga depresi. Oleh sebab itu, penting bagi Anda untuk mengetahui cara mengatasinya, antara lain:

  • Pastikan jadwal tidur dan bangun selalu konsisten.
  • Jaga agar kamar tidur dalam keadaan gelap dan sejuk, antara 15-19°C.
  • Pertimbangkan untuk meninggalkan gadget di ruangan lain.
  • Lakukan aktivitas yang menenangkan sebelum tidur, seperti membaca, menulis jurnal, atau meditasi.
  • Gunakan penyumbat telinga jika ada suara bising di sekitar.

Jika Anda sudah mencoba beberapa cara di atas dan masih sulit untuk tidur, sebaiknya konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

 

  1. Anonim. Tired but can’t sleep. https://www.sleepio.com/articles/cant-sleep/tired-but-cant-sleep/. (Diakses pada 8 Desember 2022)
  2. Olivia. Why can’t I sleep? 6 reasons you’re tired but can’t sleep. https://www.naturesbest.co.uk/pharmacy/sleep-health/why-cant-i-sleep-6-reasons-youre-tired-but-cant-sleep/. (Diakses pada 8 Desember 2022)
  3. Risher, Brittany. 2022. Why Am I So Tired, but Can’t Sleep?. https://www.healthline.com/health/healthy-sleep/tired-but-cant-sleep. (Diakses pada 8 Desember 2022)


DokterSehat | © 2024 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi