Terbit: 23 Mei 2022
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Rahim membesar adalah kondisi yang umum terjadi ketika wanita sedang hamil. Namun, bagaimana jadinya jika kondisi ini terjadi tanpa adanya kehamilan? Apakah hal ini menandakan kondisi medis yang serius? Temukan jawabannya dalam ulasan berikut!

Rahim Membesar, Tapi Tidak Hamil? Ini Penyebabnya

Penyebab Rahim Membesar yang Perlu Diwaspadai

Kehamilan bukanlah satu-satunya kondisi yang dapat menjadi penyebab rahim membesar. Faktanya, rahim yang membesar bisa menandakan gejala dari berbagai kondisi medis. Bahkan, beberapa di antaranya memerlukan perawatan.

Berikut ini adalah hal-hal yang dapat menyebabkan pembesaran rahim pada wanita:

1. Fibroid rahim

Fibroid rahim merupakan tumor non-kanker yang muncul pada dinding otot rahim. Kondisi ini merupakan salah satu penyebab umum rahim membesar.

Melansir WebMd, sebanyak 70 hingga 80 persen wanita akan memiliki fibroid pada usia 50 tahun. Kondisi ini lebih berisiko terhadap wanita yang berusia di atas 30 tahun.

Selain itu, risiko mengalami fibroid akan meningkat pada berbagai kondisi, seperti ras Afrika-Amerika, kelebihan berat badan atau obesitas, dan genetik.

Benjolan akibat fibroid dapat muncul bergerombol ataupun hanya satu. Ukurannya juga bervariasi, mulai dari ukuran kecil, sedang, hingga besar.

Gejala fibroid bermacam-macam, mulai dari sangat samar—bahkan tidak terasa—hingga cukup parah. Wanita yang merasakan gejalanya kemungkinan dapat mengalami beberapa hal berikut:

  • Rahim membesar.
  • Tekanan pada kandung kemih atau rektum.
  • Frekuensi buang air kecil meningkat.
  • Konstipasi atau sembelit.
  • Nyeri pada daerah dubur.
  • Sakit punggung atau perut bagian bawah.
  • Perdarahan di antara waktu menstruasi.
  • Nyeri yang cukup parah ketika menstruasi. Kondisi ini bisa berlangsung lama. Terkadang dibarengi dengan keluarnya bekuan darah.
  • Nyeri saat berhubungan seksual.

Baca Juga8 Penyebab Nyeri pada Dubur saat Menstruasi

2. Adenomiosis

Penyebab rahim membesar berikutnya adalah adenomiosis. Sama dengan fibroid rahim, kondisi ini cukup umum ditemukan pada kasus rahim yang membesar. Adenomiosis bersifat non-kanker dan menyerupai gejala fibroid rahim.

Adenomiosis atau adenomyosis sendiri adalah kondisi penebalan pada dinding rahim akibat jaringan endometrium (jaringan yang melapisi rahim) bergerak ke dinding luarnya yang berotot.

Jaringan yang berpindah tersebut akan bekerja secara normal, yakni menebal, pecah, dan berdarah, selama periode menstruasi.

Penyebab adenomiosis belum diketahui secara pasti. Namun, wanita di atas 30 tahun yang sudah mempunyai anak lebih berisiko. Selain itu, kondisi ini sering kali terjadi pada wanita yang pernah menjalani operasi rahim, seperti caesar.

Selain pembesaran pada rahim, sejumlah gejala adenomiosis lainnya, antara lain:

  • Kram parah atau nyeri panggul yang cukup tajam selama menstruasi (dismenore).
  • Sakit saat berhubungan seksual.
  • Nyeri panggul kronis.
  • Perdarahan yang parah dan berkepanjangan.

3. Kista ovarium

Kista ovarium adalah kantung berisi cairan yang terdapat pada ovarium atau permukaannya. Umumnya, kondisi ini tidak berbahaya dan dapat menghilang tanpa perawatan khusus. Namun demikian, pada beberapa kasus, kista ovarium bisa saja pecah dan mengakibatkan komplikasi yang serius.

Kebanyakan kista tidak mengakibatkan gejala tertentu, kecuali jika ukurannya besar. Tak hanya rahim membesar, gejala yang dapat muncul, antara lain:

  • Nyeri panggul atau nyeri tajam di bagian bawah, tepatnya di sisi kista berada.
  • Rasa penuh atau berat di perut.
  • Perut kembung.

4. Kanker endometrium

Pembesaran pada rahim kemungkinan dapat terjadi karena adanya kanker endometrium. Kanker endometrium muncul ketika sel-sel di endometrium (lapisan dalam rahim) mulai tumbuh di luar kendali.

Selain rahim tampak membesar, sejumlah gejala lain akibat kanker endometrium, antara lain:

  • Perdarahan vagina setelah menopause.
  • Perdarahan di antara periode menstruasi.
  • Sakit panggul.

Kondisi ini dapat menyebabkan perdarahan pada vagina yang tidak normal sehingga dapat mudah terdeteksi. Apabila kondisi ini sudah disadari, maka pengangkatan rahim melalui pembedahan dapat dilakukan untuk mengatasinya.

Baca JugaCiri-Ciri Tuba Falopi Tersumbat dan Hubungananya dengan Kesuburan Wanita

Pada kebanyakan kasus, pembesaran rahim tidak membutuhkan pengobatan tertentu. Namun, jika penyebabnya cukup serius, penanganan yang tepat harus segera diperoleh. Cara mengatasi rahim membesar akan bergantung dari penyebabnya.

Jika rasa nyeri selama menstruasi Anda rasakan, obat pereda nyeri mungkin akan membantu. Selain itu, alat kontrasepsi atau pil KB dengan progesteron dapat meringankan gejala perdarahan pada menstruasi yang parah.

Sementara itu, pada pasien kanker, dokter mungkin akan menyarankan histerektomi (operasi pengangkatan rahim) atau pengangkatan pada bagian organ lain yang sudah dijalari kanker.

Selain itu, pasien juga sebaiknya menjalani perawatan kemoterapi dan terapi radiasi.

Konsultasikan kepada dokter apabila menemukan gejala-gejala pembesaran rahim. Dengan begitu, Anda dapat mengetahui penyebab dan cara untuk mengatasinya.

 

  1. Anonim. 2020. Slideshow: A Visual Guide to Uterine Fibroids. https://www.webmd.com/women/uterine-fibroids/ss/slideshow-fibroid-overview. (Diakses pada 23 Mei 2022).
  2. Anonim. Adenomyosis. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/adenomyosis/symptoms-causes/syc-20369138. (Diakses pada 23 Mei 2022).
  3. Anonim. Ovarian Cysts. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/ovarian-cysts/symptoms-causes/syc-20353405. (Diakses pada 23 Mei 2022).
  4. Anonim. What Is Endometrial Cancer? https://www.cancer.org/cancer/endometrial-cancer/about/what-is-endometrial-cancer.html. (Diakses pada 23 Mei 2022).
  5. Dunkin, Anne. 2021. Enlarged Uterus. https://www.webmd.com/women/guide/prolapsed-uterus. (Diakses pada 23 Mei 2022).
  6. Anonim. Endometrial Cancer. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/endometrial-cancer/symptoms-causes/syc-20352461. (Diakses pada 23 Mei 2022)

DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi