Terbit: 1 April 2023 | Diperbarui: 8 August 2023
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: dr. Sheila Amabel

Cara mendeteksi kanker serviks penting dilakukan sejak dini untuk mencegah kanker berkembang semakin parah. Deteksi dini juga dapat menjadi pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui jenis stadium kanker serviks yang diderita.

Beragam Cara Mendeteksi Dini Kanker Serviks

Berbagai Metode Deteksi Dini Kanker Serviks

Kanker serviks adalah jenis kanker yang menyerang leher rahim. Infeksi human papillomavirus (HPV) dan infeksi menular seksual menjadi penyebab sebagian besar kasus kanker ini.

Supaya kondisi ini tidak berkembang dan menyebabkan dampak yang fatal, pemeriksaan dini adalah sesuatu yang penting dilakukan. Beberapa cara mendeteksi kanker serviks, di antaranya:

1. Pap Smear

Salah satu tes untuk mendeteksi kanker adalah pap smear. Tes ini dilakukan untuk mendeteksi adanya sel-sel abnormal pada serviks (leher rahim).

Setelah diambil, sel tersebut akan diperiksa di laboratorium. Setelah itu, barulah dapat diketahui apakah sel tersebut termasuk normal, bisa berkembang menjadi kanker, atau sudah menjadi kanker.

Pap smear bisa dilakukan sejak usia 21 tahun. Bila hasilnya normal, tes bisa kembali dilakukan setelah 3 tahun.

Sementara itu, wanita yang berusia 30-65 tahun dapat melakukan tes ini setiap 5 tahun sekali. Namun, barengi tes ini dengan pemeriksaan HPV.

2. Tes HPV

Infeksi HPV merupakan salah satu penyebab kanker serviks. Ketika terinfeksi, virus bisa bertahan selama bertahun-tahun di dalam tubuh, lalu berkembang menjadi kanker.

Nah, tes yang dilakukan untuk mendeteksi adanya sel abnormal akibat infeksi tersebut adalah tes HPV. Biasanya tes ini direkomendasikan bersama dengan pap smear. 

Apabila kedua hasil tes normal, Anda bisa menunggu sekitar lima tahun untuk melakukan deteksi dini kanker serviks selanjutnya.

Cara mendeteksi kanker serviks ini dianjurkan pada wanita dengan rentang usia 30-65 tahun. Jadi, tidak direkomendasikan untuk wanita di bawah 30 tahun yang memiliki hasil tes pap smear normal.

3. Kolposkopi

Apabila pap smear dan tes HPV mendeteksi adanya sel yang abnormal di dalam leher rahim, dokter akan merekomendasikan kolposkopi. Tes ini bertujuan untuk melihat lebih dekat kondisi leher rahim.

Selama tes berlangsung, alat berbentuk tabung yang halus akan dimasukkan ke dalam vagina untuk membukanya. Dokter kemudian akan melihat menggunakan mikroskop kondisi vagina pasien.

Setelah itu, sampel dari leher rahim akan diambil untuk diperiksa di laboratorium. Tindakan ini disebut sebagai biopsi.

Baca JugaPantangan Penderita Kanker Serviks, dari Makanan hingga Gaya Hidup

4. Kuretase Endoserviks (ECC)

Pemeriksaan ini dilakukan jika saat tes kolposkop ada bagian leher rahim yang tidak terjangkau. Saat melakukan pemeriksaan ini, alat khusus akan digunakan untuk ‘mengikis’ endoserviks (bagian dalam serviks). Setelah terambil, sampel kemudian akan diperiksa lebih lanjut.

5. Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA)

Pemeriksaan inspeksi visual asetat (IVA) bisa dilakukan untuk mendeteksi kanker serviks. . Pemeriksaan ini dilakukan dengan mengoleskan asam asetat atau cuka dapur encer (konsentrasi 3-5 persen) pada serviks (leher rahim).

Setelah cairan dioleskan, tunggu selama sekitar satu menit. Apabila terdapat bercak putih, ini bisa menandakan adanya sel-sel displasia (tahapan awal kanker).

Sebaliknya, jika hasilnya normal, Anda bisa melakukan tes skrining kanker tiga tahun kemudian.

6. Inspeksi Visual Lugolidodin (VILI)

Pemeriksaan VILI atau dikenal juga sebagai tes Schiller hampir dengan metode IVA. Tes ni memungkinkan suatu cairan dioleskan langsung pada leher rahim.

Bedanya, pada metode VILI, cairan yang dioleskan adalah lugol iodine, bukan asam asetat. Pemeriksaan dengan metode ini bisa menjadi alternatif deteksi dini kanker serviks selain metode IVA.

7. Biopsi kerucut (Cone Biopsy)

Cone biopsy adalah salah satu cara mendeteksi kanker serviks yang bisa dilakukan. Pemeriksaan bisa dilakukan jika hasil dari tes pap smear tidak normal.

Dokter akan mengambil sampel pada jaringan di sekitar serviks. Bentuk sampel akan menyerupai kerucut (cone). Setelah itu, barulah jaringan tersebut diperiksa lebih lanjut.

8. Biopsi Punch (Punch Biopsy)

Pada pemeriksaan ini, dokter akan mengambil sampel jaringan yang memang diperlukan dengan menggunakan pisau bundar. Tindakan ini dapat dilakukan hingga beberapa kali di sekitar serviks.

Jaringan kulit yang sudah diambil kemudian akan diperiksa di laboratorium untuk mendeteksi adanya sel-sel kanker yang berkembang.

Selain pemeriksaan kanker serviks, punch biopsy juga dapat dilakukan untuk mendeteksi kanker lainnya seperti kanker kulit dan vulva.

Baca Juga: Imunoterapi Kanker: Cara Kerja, Jenis, Manfaat, dan Efek Samping

Pemeriksaan Stadium Kanker Serviks

Apabila hasil dari pemeriksaan terbukti positif, ada beberapa tes yang perlu dilakukan untuk mengetahui stadium kanker yang diderita.

Serangkaian tes bertujuan untuk membantu menyesuaikan jenis perawatan yang akan dijalani, seperti kemoterapi, radioterapi, dan operasi.

Berikut beberapa pemeriksaan untuk mendeteksi stadium kanker serviks, di antaranya:

1. Pemeriksaan Panggul

Pemeriksaan ini dilakukan untuk membantu mengetahui stadium kanker yang diderita. Pertama-tama, pasien akan diberikan anestesi. Setelah itu, dokter akan memeriksa bagian perut, vagina, sampai ke kandung kemih.

2. Tes Darah

Cara mendeteksi stadium kanker serviks selanjutnya adalah dengan tes darah. Tujuan tes ini adalah untuk mendeteksi apakah sel kanker sudah menyebar hingga organ ginjal, hati, dan sumsum tulang belakang.

3. Tes Pencitraan

Tes ini dilakukan untuk mendeteksi apakah kanker sudah menyebar ke jaringan di sekitarnya atau jaringan lain di luar leher rahim.

Sejumlah tes pencitraan yang dapat dilakukan, di antaranya:

  • Computerized tomography (CT) scan.
  • X-ray.
  • Magnetic resonance imaging (MRI).

Tips Mencegah Kanker Serviks

Selain deteksi dini, ada beberapa hal yang penting diperhatikan untuk mencegah kanker serviks, di antaranya:

1. Lakukan Vaksinasi

Infeksi HPV menjadi salah satu pemicu kejadian kanker serviks. Oleh karena itu, Anda disarankan untuk mendapatkan vaksin HPV bila sudah aktif secara seksual.

Terdapat lebih dari 100 jenis HPV, tetapi dua yang paling sering menyebabkan penyakit ini yaitu tipe 16 dan 18. Vaksinasi akan menargetkan dua jenis HPV tersebut.

Bagi Anda yang tinggal di Jakarta dan ingin mendapatkan vaksin HPV, bisa kunjungi apotek Farmaku. Untuk info lebih lanjut klik vaksin HPV Apotek Farmaku Kelapa Gading Square.

2. Hindari Berhubungan Seksual yang Berisiko

Bila Anda memiliki penyakit menular seksual, risiko untuk terinfeksi virus HPV menjadi tinggi. Oleh sebab itu, hindarilah hubungan seksual yang berisiko.

3. Berhenti Merokok

Kebiasaan merokok berhubungan dengan peningkatan risiko kanker serviks. Pasalnya, kebiasaan ini dapat menyebabkan sistem imun tubuh melemah sehingga lebih rentan terserang virus HPV.

4. Jaga Berat Badan Tetap Ideal

Cara mencegah kanker serviks bisa dilakukan dengan menjaga agar berat badan tetap ideal. Anda bisa mulai rutin berolahraga dan rajin bergerak agar berat badan tetap normal.

5. Konsumsi Makanan Bergizi Lengkap dan Seimbang

Gaya hidup sehat adalah salah satu jalan untuk menurunkan risiko terkena kanker serviks dan berbagai penyakit lain. Jadi, mulailah menerapkan kebiasaan sehat dengan mengonsumsi makanan bergizi lengkap dan seimbang.

Perbanyak konsumsi buah dan sayur. Sebaliknya, batasi konsumsi makanan olahan atau makanan yang mengandung kalori yang rendah nutrisi.

Apabila masih bingung dengan tindakan pencegahan yang paling tepat dilakukan, tak ada salahnya untuk berkonsultasi dengan dokter.

 

  1. Anonim. 2021. Skrining dan Deteksi Dini Kanker Leher Rahim. https://p2ptm.kemkes.go.id/infographic-p2ptm/penyakit-kanker-dan-kelainan-darah/page/2/skrining-dan-deteksi-dini-kanker-leher-rahim. (Diakses pada 20 Februari 2023).
  2. Anonim. Human Papillomavirus (HPV) Test. https://medlineplus.gov/lab-tests/human-papillomavirus-hpv-test/. (Diakses pada 20 Februari 2023).
  3. Anonim. Kenali dan Cegah Kanker Serviks. 2021. https://ners.unair.ac.id/site/lihat/read/2048/kenali-dan-cegah-kanker-serviks. (Diakses pada 20 Februari 2023).
  4. Anonim. Punch Biopsy. https://www.cancer.gov/publications/dictionaries/cancer-terms/def/punch-biopsy. (Diakses pada 20 Februari 2023).
  5. Anonim. 2022. What Should I Know About Screening? cdc.gov/cancer/cervical/basic_info/screening.htm. (Diakses pada 20 Februari 2023).
  6. Anonim. 2022. Cervical Cancer. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/cervical-cancer/symptoms-causes/syc-20352501. (Diakses pada 20 Februari 2023).
  7. Anonim. 2022. Pap Smear. https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/pap-smear/about/pac-20394841. (Diakses pada 20 Februari 2023).
  8. Anonim. 2022. Pap Smear. https://www.webmd.com/women/guide/pap-smear. (Diakses pada 20 Februari 2023).


DokterSehat | © 2024 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi