Terbit: 21 July 2022 | Diperbarui: 23 July 2022
Ditulis oleh: Wulan Anugrah | Ditinjau oleh: dr. Eko Budidharmaja

Varian baru virus corona BA.2.75 atau yang dikenal sebagai Centaurus menjadi ancaman baru bagi masyarakat di seluruh dunia. Kini, kasus covid-19 sub varian baru Omicron ini mulai masuk ke Indonesia. Kenali lebih jauh mengenai varian ini dalam ulasan berikut!

Mengenal Omicron Centaurus, Lebih Berbahaya dari Varian Delta?

Apa itu Omicron Centaurus?

Centaurus adalah varian baru virus corona yang lebih menular daripada varian Omicron. Varian ini pertama kali terdeteksi di India pada Bulan Mei yang lalu.

Kini omicron BA.2.75 ini mulai terdeteksi di 13 negara, termasuk di Indonesia. Pada Senin, 18 Juli 2022 lalu, Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Dante Saksono Harbuwono, menuturkan jika sejauh ini ada sebanyak 3 kasus BA.2.75 di Indonesia.

Centaurus mengandung mutasi yang serupa dengan varian BA.2, tetapi telah dilengkapi dengan sejumlah mutasi tambahan di atasnya. Oleh karena itu, varian ini bernama BA.2.75.

Adanya mutasi yang memisahkan varian omicron Centaurus ini dengan pendahulunya inilah yang menuai keresahan. Pasalnya, beberapa dari mutasi kemungkinan akan membuat protein pada virus meningkat sehingga dapat mengikat sel dengan lebih efisien.

Meskipun varian Centaurus sangat menular, sampai saat ini belum diketahui apakah varian ini dapat menyebabkan penyakit yang lebih serius dari varian corona lainnya atau tidak.

Sebagai catatan, omicron Centaurus diduga mampu menghindari perlindungan dari vaksin COVID-19 atau kekebalan tubuh yang sudah terbentuk pada pasien yang pernah terinfeksi.

Baca Juga: 15 Cara Isolasi Mandiri COVID-19 sesuai Protokol Kesehatan

Perbedaan Varian Centaurus dengan Varian Lain

Sampai saat ini belum diketahui apakah varian BA.2.75. ini lebih menular atau kurang menular dibandingkan dengan varian pendahulunya, yakni BA.4 dan BA.5.

Para ahli mengungkapkan jika gejala infeksi dari Centaurus serupa dengan Omicron. Beberapa gejala tersebut, yaitu:

  • Kehilangan rasa (ageusia), dan penciuman (anosmia)
  • Muntah.
  • Diare.
  • Batuk-batuk.
  • Sesak napas.
  • Suhu tubuh tinggi atau demam.
  • Rasa lelah.
  • Nyeri pada tubuh.
  • Sakit kepala.
  • Hidung tersumbat atau berair.
  • Kehilangan nafsu makan.

Kendati demikian, Dicky Budiman, seorang Epidemiolog dari Griffith University Australia, mengungkapkan jika centaurus lebih cepat menginfeksi, menulari, dan tumbuh bila dibandingkan dengan BA.5.

Bahkan, kasusnya di negara asal kemunculan varian, yakni India, sudah mendominasi kasus infeksi virus corona hanya dalam kurun waktu satu bulan.

Omicron Centaurus juga mempunyai kemampuan yang lebih kuat daripada varian Delta. Pasalnya selain menginfeksi, varian BA.2.75 ini dapat menginfeksi kembali penyintas COVID-19.

Baca Juga: Pentingnya Protokol Kesehatan 5M untuk Melindungi Anda dari COVID-19

Apakah Vaksin Berpengaruh terhadap Omicron Centaurus?

Meskipun data mengenai sub-varian ini masih kurang, tetapi para ahli berpendapat jika booster dapat mencegah seseorang terinfeksi.

Melansir 9 News, vaksin COVID-19 yang pada awalnya digunakan untuk mencegah infeksi virus Corona bentuk asli, masih efektif untuk mencegah gejala yang parah dan kematian terhadap varian BA.4, BA.5, dan sub-varian lain dari omicron.

Kendati begitu, Dicky Budiman, mengungkapkan jika varian Centaurus ini sudah dibekali dengan imunitas terhadap vaksin dan dapat menurunkan efikasi antibodi, bahkan menurunkan efikasi treatment.

Jika sebelumnya dosis kedua vaksin efektif mencegah serangan infeksi sebesar 80 persen, pada subvarian ini, efektivitas tersebut berkurang hingga 50 persen. Inilah yang pada akhirnya membuat sebagian masyarakat tidak mau melanjutkan vaksinasi sampai dosis ketiga (booster).

Padahal, meskipun efektivitas vaksin menurun, vaksinasi dapat membantu mencegah keparahan gejala dan kematian pada orang yang terinfeksi varian ini.

Itu dia serba-serbi omicron Centaurus yang sebaiknya Anda ketahui. Sebagai catatan, perilaku masyarakat yang sudah mulai abai terhadap protokol kesehatan menjadi faktor yang dapat meningkatkan penyebaran varian omicron ini.

Mengetahui fakta tersebut, tetaplah menerapkan protokol 5M dan dapatkan vaksinasi hingga dosis ketiga. Semoga bermanfaat!

 

  1. Arfiansyah, Taufieq Renaldi. 2022. Terdeteksi di Indonesia, Apakah Omicron Centaurus Lebih Berbahaya? https://www.kompas.com/tren/read/2022/07/19/160500465/terdeteksi-di-indonesia-apakah-omicron-centaurus-lebih-berbahaya-?. (Diakses pada 21 Juli 2022).
  2. Hurst, Luke. 2022. Will Covid Ever End? How ‘centaurus,’ the Latest Omicron Subvariant, Is Becoming the Dominant Strain. https://www.euronews.com/next/2022/07/15/is-covid-ever-ending-meet-centaurus-the-latest-omicron-subvariant-that-could-become-domina. (Diakses pada 21 Juli 2022).
  3. Jeffrey, Daniel. 2022. What is ‘Centaurus’, the Omicron Sub-variant that has Health Authorities on Alert? https://www.9news.com.au/health/ba275-centaurus-omicron-covid-19-sub-variant-explained-what-is-it-coronavirus-update/b9b288c0-411e-49ed-a35f-900892be1356. (Diakses pada 21 Juli 2022).
  4. Plater, Roz. 2022. Omicron 2.75: What You Should Know About the Latest Emerging COVID-19 Variant. https://www.healthline.com/health-news/omicron-2-75-what-you-should-know-about-the-latest-emerging-covid-19-variant#. (Diakses pada 21 Juli 2022).

DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi