Terbit: 1 Oktober 2021
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: dr. Eko Budidharmaja

Ada beberapa jenis vaksin COVID-19 yang dapat membantu menekan penyebaran virus dan menyelamatkan jutaan nyawa. Pemberian vaksin bekerja dengan melatih dan mempersiapkan sistem kekebalan tubuh untuk mengenali dan melawan virus. Selengkapnya simak beberapa jenis vaksin COVID di Indoneisa berikut ini! 

Mengenal 12 Jenis Vaksin COVID-19 dan Efikasinya

Jenis Vaksin COVID-19 di Indonesia

Ada sejumlah vaksin yang aman dan efektif mencegah orang mengalami gejala berat atau meninggal akibat COVID-19. Pemberian vaksin adalah salah satu bagian dari upaya memutus rantai penularan COVID-19, selain tindakan pencegahan utama dengan 3M: Memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak minimal 2 meter dari orang lain.

Berikut ini beberapa jenis vaksin COVID-19 di Indonesia:

1. Oxford-AstraZeneca

AstraZeneca atau Oxford-AstraZeneca (AZD1222) merupakan vaksin yang diproduksi oleh perusahaan biofarmasi Inggris dan Universitas Oxford. AstraZeneca mengandung vektor virus, yang nantinya ketika disuntikkan akan “diperkenalkan” kepada tubuh sebagai protein yang “menyerupai” protein virus Sars-Cov-2 sehingga tubuh bisa mempersiapkan diri untuk melawan Covid-19 ketika terinfeksi. 

Vaksin ini aman untuk orang usia produktif dan usia lebih tua. Namun prioritas pemberian vaksin ini kepada petugas kesehatan yang berisiko tinggi terpapar dan orang yang lebih tua, termasuk mereka yang berusia di atas 65 tahun.

Prioritas vaksin ini juga untuk orang dengan penyakit penyerta yang telah diidentifikasi meningkatkan risiko COVID-19 yang parah, termasuk obesitas, penyakit kardiovaskular, penyakit masalah pernapasan, dan diabetes.

Dosis vaksin ini adalah dua dosis secara intramuskular (masing-masing 0,5ml) dengan selang waktu 8-12 minggu. Vaksin AZD1222 memiliki efikasi (kemanjuran) melawan COVID-19 sekitar 63,09% terhadap infeksi SARS-CoV-2 yang bergejala.

Seperti vaksin lainnya, vaksin ini menimbulkan efek samping vaksin yang ringan hingga sedang, termasuk nyeri otot, gatal, kemerahan, bengkak di tempat suntikan, demam, sakit kepala, mual, muntah, flu, dan batuk.

2. Pfizer-BioNTech

Vaksin Pfizer merupakan jenis vaksin COVID-19 pertama di dunia untuk masyarakat umum. Vaksin ini adalah hasil kerjasama antara perusahaan bioteknologi Jerman, BioNTech, dan perusahaan farmasi Amerika, Pfizer.

Pfizer-BioNTech adalah vaksin jenis messenger RNA (mRNA) atau vaksin asam nukleat. Vaksin ini menggunakan materi genetik untuk menghasilkan protein jarum (spike) dari COVID-19 untuk memberikan instruksi kepada sel-sel tubuh guna membentuk antibodi. Dosis sebanyak dua kali secara intramuskular. 

Vaksin Pfizer-BioNTech memiliki efikasi sekitar 95% dan telah mendapatkan Emergency Use Authorized (EUA) dari WHO. Pendistribusian dan penggunaannya pertama kali di Inggris, kemudian oleh negara lain. 

Baca Juga: 10 Gejala Virus Corona Varian Baru yang Perlu Anda Kenali!

3. Sinovac

Produsen Sinovac atau CoronaVac oleh perusahaan biofarmasi China, Sinovac BioTech. Vaksin ini merupakan jenis vaksin whole virus yang menggunakan virus SARS-CoV-2 yang tidak aktif. Inactivated virus tidak lagi bisa menginfeksi tubuh, tetapi memicu pembentukan sistem kekebalan tubuh.

Jenis vaksin COVID-19 ini memiliki berbagai tingkat efikasi dari beberapa negara yang telah melakukan uji coba. Di Brazil, vaksin ini memiliki khasiat sekitar 50,65%. Di Turki, efikasi vaksin sekitar 91,25%. Sedangkan di Indonesia, efikasi vaksin Sinovac sekitar 65,3%.

Setelah mendapatkan Emergency Use Authorized (EUA) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), vaksin Sinovac memulai penggunaannya untuk program vaksinasi di Indonesia. 

4. Novavax

Novavax adalah vaksin produksi perusahaan biofarmasi, bernama Novavax. Ini adalah jenis vaksin berbasis protein, mengandung protein spike khusus Corona yang menggunakan teknologi perusahaan sendiri, sehingga bisa merangsang pembentukan antibodi di dalam tubuh.

Efikasi vaksin Novavax sekitar 89,3% pada uji coba ketiga di Inggris. Saat ini Novavax masih menunggu EUA dari United State Food and Drug Administration (FDA), sambil mempersiapkan produksi untuk pendistribusian ke berbagai negara, termasuk Indonesia.

5. Moderna

Produsen vaksin ini dari perusahaan bioteknologi asal Amerika Serikat, Moderna. Seperti vaksin Pfizer-BioNTech, vaksin ini adalah jenis messenger RNA (mRNA) yang menggunakan materi genetik untuk merangsang sel tubuh dalam membentuk antibodi.

Efikasi vaksin Moderna sekitar 95% dan telah mendapat EUA dari FDA. Pendistribusian dan penggunaan vaksin ini sebagian besar di negara asalnya, Amerika Serikat. Sementara negara lain yang menggunakan vaksin ini adalah Inggris, Israel, dan Singapura.

6. Shinopharm

Shinopharm (BBIBP-CorV) adalah vaksin produksi dari China. Vaksin ini berbasis virus Corona yang dimatikan (inactivated virus). Sinopharm bekerjasama dengan Sinovac, untuk memicu sistem kekebalan tubuh menghasilkan antibodi terhadap virus Corona menggunakan inactivated virus.

Ini adalah jenis vaksin di indonesia yang telah melalui 3 fase uji klinis dan memperoleh izin penggunaan dari otoritas kesehatan di China dan Arab. Pemberian dua dosis dengan jarak 21 hari untuk usia 18-85 tahun dan efikasi vaksin mencapai 79,34%. Pemberian vaksin Sinopharm aman dan tidak menimbulkan efek samping yang serius.

Baca Juga: 10 Varian Baru Virus Corona (COVID-19) yang Patut Anda Waspadai!

7. Vaksin Merah Putih

Vaksin buatan anak bangsa ini masuk dalam program vaksinasi pemerintah. Ini adalah vaksin buatan Universitas Airlangga, Surabaya. Namun, saat ini memasuki uji pra klinis pada hewan besar. Setelah uji pra klinis berhasil, maka akan melanjutkan uji klinis pada relawan.

Dalam upaya percepatan pengembangan Vaksin Merah Putih merupakan kolaborasi lembaga riset antara lembaga pemerintah non kementerian, dan perguruan tinggi, seperti LBM Eijkman, LIPI, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Airlangga dan Universitas Gajah Mada.

Masing-masing vaksin akan melalui pengembangan dari program yang berbeda, seperti protein rekombinan, viral vector, inactivated virus, atau menggunakan materigenetik seperti  DNA atau MRNA. 

Peneliti vaksin memprediksi uji klinis selesai pada tahun depan dan mendapatkan izin penggunaan darurat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada September 2022.

Baca Juga: Efek Samping Vaksin COVID-19 yang Bisa Terjadi pada Tubuh

8. CanSino

CanSino adalah jenis vaksin Corona yang diproduksi oleh kolaborasi antara perusahaan vaksin China, CanSino Biologics dan ilmuwan militer China. Vaksin CanSino atau yang memiliki nama dagang Convidecia, merupakan vaksin yang hanya memerlukan satu kali dosis dengan vaksin jenis vektor virus.

Vaksin ini menggunakan Adenovirus yang tidak aktif untuk menyuplai protein lonjakan dari Covid-19 ke sel, yang kemudian memicu pembentukan sistem kekebalan tubuh.

Efikasi vaksin CanSino mencapai 65,7% untuk mencegah gejala Covid-19, dan 90,98% dapat mencegah penyakit serius akibat Covid-19. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI telah mengeluarkan izin penggunaan darurat untuk vaksin Convidecia.

9. Vaksin Biofarma

Vaksin Biofarma adalah vaksin yang berisi vaksin Sinovac, itu artinya vaksin ini dibuat dari bahan baku (bulk) yang sama. Perbedaannya hanya terletak pada lokasi produksi dan kemasannya.

Meski vaksin Sinovac sudah mendapatkan izin penggunaan darurat (EUA) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), vaksin Biofarma juga mendapatkan evaluasi khusus dan pemberian EUA yang terpisah. Dengan begitu, vaksin yang menggunakan platform inactivated virus ini sudah dinyatakan aman untuk digunakan.

10. Vaksin Sputnik V

Vaksin Sputnik V (Gam-COVID-Vac) merupakan vaksin yang dikembangkan oleh The Gamaleya National Center of Epidemiology and Microbiology di Rusia yang menggunakan platform Non-Replicating Viral Vector (Ad26-S dan Ad5-S).

Vaksin ini juga didaftarkan oleh PT Pratapa Nirmala sebagai pemegang EUA dan bertanggung jawab untuk penjaminan keamanan dan mutu vaksin  ini di Indonesia.

Menurut BPOM, data uji klinik fase III menunjukkan vaksin ini memberikan efikasi sebesar 91,6 persen (dengan rentang confidence interval 85,6 persen-95,2 persen).

Pemberian izin penggunaan darurat untuk vaksin ini sudah melalui pengkajian secara intensif oleh BPOM bersama Tim Komite Nasional Penilai Khusus Vaksin Covid-19 dan Indonesia Tenchnical Advisory Group on Immunization (ITAGI).

11. Vaksin Janssen

Vaksin yang diproduksi oleh Janssen Biotech Inc ini sudah mendapat mendapatkan mendapatkan izin penggunaan darurat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Itu artinya vaksin ini sudah melalui pengkajian intensif terkait keamanan, khasiat, dan mutu.

Pemberian izin yang dilakukan BPOM pada vaksin ini melibatkan sejumlah pakar di bidang bidang farmakologi, imunologi, klinisi, apoteker, epidemiologi, virologi, dan biomedik, yang tergabung dalam tim Komite Nasional Penilai Khusus Vaksin Corona Virus Disease 2019 (COVID-19), Indonesia Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI), serta asosiasi klinis terkait.

Berdasarkan data interim studi klinis fase III pada 28 hari setelah vaksinasi, efikasi vaksin Janssen sebesar 67,2%. Sementara untuk mencegah gejala COVID-19 sedang hingga berat pada subyek berusia di atas 18 tahun sebesar 66,1%.

12. Vaksin Nusantara

Vaksin ini digagas oleh eks-Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto. Berbeda dengan vaksin lainnya, vaksin ini dapat diakses oleh masyarakat dalam bentuk pelayanan berbasis penelitian secara terbatas.

Penelitian tersebut berdasarkan nota kesepahaman atau MoU antara Kementerian Kesehatan bersama dengan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), dan TNI Angkatan Darat pada April lalu terkait dengan ‘Penelitian Berbasis Pelayanan Menggunakan Sel Dendritik untuk Meningkatkan Imunitas Terhadap Virus SARS-CoV-2’.

Perlu diketahui, sel dendritik bersifat autologus artinya materi yang digunakan berasal dari tubuh Anda dan digunakan untuk Anda sendiri, hal itulah yang membuat vaksin ini tidak dapat diproduksi secara massal. Saat ini, vaksin Nusantara sudah melalui uji klinis fase II dan sedang menunggu izin untuk melakukan uji klinis fase III.

paket obat isolasi mandiri doktersehat

  1. Anonim. Tanpa Tahun. COVID-19 advice for the public: Getting vaccinated. https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/covid-19-vaccines/advice (Diakses pada 29 Juni 2021).
  2. Anonim. 2021. Vaksin Merah Putih Masuk Program Vaksinasi Pemerintah. https://covid19.go.id/p/berita/vaksin-merah-putih-masuk-program-vaksinasi-pemerintah (Diakses pada 29 Juni 2021).
  3. Anonim. 2021. Badan POM Kembali Terbitkan EUA untuk Vaksin COVID-19 Sputnik-V. https://www.pom.go.id/new/view/more/pers/620/Badan-POM-Kembali-Terbitkan-EUA-untuk-Vaksin-COVID-19-Sputnik-V.html. (Diakses pada 1 Oktober 2021).
  4. Aditya, Dicky. 2021. Uji Klinis Fase III Vaksin Nusantara Dihambat Pemerintah? Peneliti Vaksin Nusantara: Belum Tahu Kenapa. https://galamedia.pikiran-rakyat.com/news/pr-352686476/uji-klinis-fase-iii-vaksin-nusantara-dihambat-pemerintah-peneliti-vaksin-nusantara-belum-tahu-kenapa. (Diakses pada 1 Oktober 2021).
  5. Anugerah, Pijar. 2021. Vaksin Merah-Putih: Bisakah kita berharap pada vaksin buatan Indonesia?. https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-58471713. (Diakses pada 1 Oktober 2021).
  6. McArthur, Rachel. 2021. The four types of COVID-19 vaccine – a snapshot. https://www.healthcareitnews.com/news/emea/four-types-covid-19-vaccine-snapshot (Diakses pada 29 Juni 2021).
  7. Nafizahni, Mike. 2021. Types of Covid-19 Vaccines: What Are The Differences?. https://corona.jakarta.go.id/en/artikel/kenalan-dengan-vaksin-vaksin-covid-19-yuk (Diakses pada 29 Juni 2021).
  8. Rokom. 2021. Vaksin Nusantara Bersifat Individual dan Tidak Dapat Dikomersialkan. https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20210828/5138349/vaksin-nusantara-bersifat-individual-dan-tidak-dapat-dikomersialkan/. (Diakses pada 1 Oktober 2021).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi