Terbit: 6 August 2018
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: dr. Sheila Amabel

Metode IVF atau bayi tabung menjadi harapan bagi banyak pasangan yang ingin memiliki keturunan. Namun, beberapa pasangan justru mengalami kegagalan pada program bayi tabung yang dijalani. Mengapa demikian? Artikel ini akan mengulas beberapa penyebabnya.

Tak Selalu Sukses, Ini 5 Penyebab Program Bayi Tabung Gagal

Penyebab Program Bayi Tabung Gagal

Banyak pasangan yang menghadapi masalah ketidaksuburan memilih metode bayi tabung untuk memiliki keturunan. Metode ini menjadi salah satu metode efektif untuk membantu pasangan mewujudkan mimpi untuk menjadi orangtua. 

Namun, terkadang beberapa pasangan juga menghadapi kegagalan pada program bayi tabung yang dijalani. 

Beberapa alasan yang menyebabkan bayi tabung gagal, di antaranya adalah:

1. Kegagalan Implantasi Embrio 

Selama proses In vitro fertilization (IVF) atau bayi tabung, sel telur yang sudah matang diambil dari indung telur dan dibuahi oleh sperma di laboratorium. Setelah itu, sel telur yang sudah dibuahi akan berubah menjadi embrio. 

Selanjutnya, embrio akan dipindahkan ke dalam rahim. Proses ini disebut juga dengan transfer embrio. 

Namun, terkadang embrio gagal untuk menempel di dinding rahim. Hal ini menjadi salah satu penyebab utama dari kegagalan program IVF. Hingga saat ini para ahli masih berusaha menemukan penyebab dari kegagalan implantasi embrio.

Beberapa hal yang mungkin menyebabkan kegagalan implantasi, antara lain polip pada rahim, lonjakan progesteron yang terlalu awan, dinding rahim yang terlalu tipis, atau infeksi rahim. 

Satu hal yang perlu diingat bahwa kegagalan implantasi terjadi di luar kendali manusia, sehingga tidak perlu merasa bersalah jika hal ini terjadi. 

2. Kualitas Embrio yang Kurang Baik

Selama proses bayi tabung, sel telur dan sel sperma akan diambil dan disatukan di laboratorium. Kadang kala, embrio bisa terlihat sehat selama di laboratorium, tetapi ada kemungkinan tetap gagal berkembang ketika sudah sampai di rahim akibat cacat yang tidak terlihat.

Embrio yang gagal berkembang dapat disebabkan oleh masalah kromosom. Dalam satu sel bisa saja terdapat terlalu banyak atau terlalu sedikit kromosom. Kondisi ini dapat menyebabkan keguguran pada awal kehamilan atau kegagalan IVF karena cacat kromosom. 

Baca Juga5 Macam Program Hamil yang Efektif untuk Punya Anak

3. Respon Ovarium yang Buruk

Pada awal proses bayi tabung, wanita perlu menerima injeksi hormon kesuburan yang disebut dengan follicle stimulating hormone (FSH). Hormon ini dapat meningkatkan produksi sel telur. 

Sayangnya, banyak tubuh wanita yang tidak memberikan respon baik terhadap obat IVF yang diberikan. Akibatnya, sel telur yang diproduksi jumlahnya sedikit atau tidak ada sel telur sama sekali. 

Jika tubuh tidak memberikan respon yang baik terhadap obat atau injeksi yang diberikan, maka dokter tidak dapat menyelesaikan proses pengambilan sel telur. Pada kasus ini, kemungkinan proses bayi tabung mengalami kegagalan akan meningkat. 

4. Usia Wanita

Semakin bertambah usia, kuantitas dan kualitas sel telur yang dihasilkan wanita akan semakin berkurang. Oleh sebab itu, semakin bertambah usia maka peluang wanita mengalami kehamilan kaan semakin berkurang. 

Penurunan kualitas dan kuantitas sel telur ini juga akan memengaruhi proses bayi tabung. Maka dari itu, tingkat keberhasilan bayi tabung dipengaruhi oleh usia wanita. 

Wanita yang berusia lebih muda memiliki peluang keberhasilan yang lebih tinggi. Pada umumnya, program bayi tabung tidak direkomendasikan untuk wanita usia 42 tahun ke atas karena peluang keberhasilannya sangat kecil.

Diketahui wanita di bawah 35 tahun yang menjalani program IVF memiliki peluang keberhasilan sebanyak 32 persen. Peluang ini akan semakin menurun seiring bertambahnya usia. Peluang keberhasilan program IVF pada wanita di atas 42 tahun hanya sekitar 5 persen. 

5. Gaya Hidup Tidak Sehat

Sama seperti kehamilan dengan cara alami, Anda juga perlu menjalani gaya hidup sehat sebelum dan selama proses bayi tabung. Langkah ini perlu dilakukan untuk membantu proses pembuahan dan kualitas embrio.

Merokok beberapa bulan sebelum menjalani program bayi tabung diketahui memiliki dampak negatif pada kesuburan. 

Anda perlu menjalani pola makan sehat penuh nutrisi serta olahraga secara teratur untuk bisa menjalani kehamilan yang sehat. 

Program bayi tabung bisa menjadi salah satu cara efektif untuk memiliki keturunan. Namun, cara ini perlu banyak pengorbanan, termasuk menjalani pola hidup sehat agar keberhasilan bayi tabung dapat meningkat. 

Jika ternyata program bayi tabung tidak berhasil, Anda dapat mencobanya kembali setelah melakukan evaluasi kegagalan. 

  1. Anonim. When An Embryo Has Chromosomal Abnormalities, A Healthy Pregnancy Cannot Develop. https://www.nashvillefertility.com/ivf-in-vitro-fertilization/chromosomal-abnormalities/. (Diakses pada 23 Mei 2023). 
  2. Mayo Clinic Staff. 2021. In vitro fertilization (IVF). https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/in-vitro-fertilization/about/pac-20384716. (Diakses pada 23 Mei 2023). 
  3. NHS UK. 2021. Overview – IVF. https://www.nhs.uk/conditions/ivf/. (Diakses pada 23 Mei 2023).
  4. Simon, Alex dan Neri Laufer. 2012. Assessment and treatment of repeated implantation failure (RIF). https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3510376/. (Diakses pada 23 Mei 2023). 


DokterSehat | © 2024 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi