Terbit: 10 Februari 2018 | Diperbarui: 3 Januari 2022
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com- Banyak pasangan ingin memiliki anak kembar karena anak kembar tampak lucu dan menggemaskan saat mereka bermain bersama. Selain itu banyak juga ibu yang ingin hamil kembar karena tidak perlu melahirkan dua kali untuk punya dua anak. Apa pun alasannya, memiliki anak kembar merupakan anugerah tersendiri. Banyak pasangan ingin punya anak kembar meskipun tidak memiliki gen kembar. Bagaimana caranya?

Hamil Anak Kembar Tanpa Riwayat Keturunan Kembar, Mungkinkah?

Kelahiran kembar banyak dipengaruhi oleh riwayat genetik. Jika Anda atau pasangan memiliki riwayat kembar, maka peluang untuk hamil anak kembar secara alami akan lebih tinggi dibanding dengan pasangan yang tidak mewarisi gen kembar.

Ada dua jenis kembar, yaitu identik dan non-identik. Kembar non-identik berasal dari dua sel telur berbeda sedangkan kembar identik berasal dari satu sel telur yang memisah. Kembar identik biasanya bisa terjadi pada pasangan yang tidak memiliki gen kembar.

Untuk memperbesar peluang kehamilan kembar pada pasangan yang tidak memiliki gen kembar, cara yang bisa dilakukan antara lain:

Konsumsi obat penyubur
Normalnya, indung telur menghasilan satu sel telur matang. Namun dengan mengonsumsi obat penyubur, ovarium dapat melepas beberapa sel telur yang matang dalam satu waktu. Pada perempuan yang menggunakan obat penyubur klomifen sitrat atau pergonal memiliki kemungkinan untuk hamil kembar lebih dari dua.

Program bayi tabung
Wanita yang hamil lewat program bayi tabung memiliki 20-40% kemungkinan yang lebih besar untuk hamil bayi kembar. Bukan hanya kembar dua, namun juga bisa lebih, namun semua ini tergantung pada jumlah embrio yang dimasukkan ke dalam rahim.

Hamil di atas usia 35 tahun
Tahukah Anda, wanita yang hamil di atas usia 35 tahun memiliki peluang lebih besar mendapatkan anak kembar dibanding wanita yang hamil di usia sebelum 35 tahun. Wanita di usia ini cenderung melepaskan beberapa telur saat ovulasi. Jika Anda ingin menjalani program hamil di atas usia 35 tahun, pertimbangkan juga risiko tinggi pada kehamilan dan kelahiran bayi.


DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi