Terbit: 17 September 2021 | Diperbarui: 4 February 2022
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Orang tua penting untuk mengetahui cara mengatasi anak yang broken home. Hal ini untuk membantu mencegah anak mengalami dampak buruk dari orang tua yang memiliki konflik. Yuk, cari tahu bagaimana caranya dan apa saja dampak buruknya bagi anak!

8 Cara Mengatasi Anak yang Broken Home, Wajib Orang Tua Lakukan

Apa Itu Broken Home?

Broken home adalah masalah yang terjadi dalam sebuah keluarga, seperti perpisahan antara orang tua. Kondisi ini dapat disebabkan oleh konflik, keuangan, kekerasan, menelantarkan, perceraian, atau kematian, yang kemungkinan besar menyebabkan masalah tumbuh kembang anak. Hal ini dapat dianggap gagal dalam menjalankan peran sebagai orang tua terhadap anak.

Menurut Dr. Archibald Hart dalam bukunya bertajuk “Children and Divorce” mengatakan bahwa umumnya bukan perceraian atau kematian yang berdampak buruk pada anak-anak, tetapi konflik yang menyertainya, atau masalah pengasuhan yang berkepanjangan.

Ciri-ciri utama broken home, termasuk tidak bisa mengatasi pola asuh, kurangnya komunikasi, sering bertengkar, pelampiasan dengan marah pada anak, hubungan tidak harmonis, atau anak kurang kasih sayang atau perhatian.

Cara Mengatasi Anak yang Broken Home

Anak yang broken home karena perceraian orang tua dapat membuat anak kesulitan untuk mengembangkan keterampilan sosial dan bahkan dapat menghambat pencapaiannya. Tergantung pada usia anak, broken home dapat menyebabkan stres yang ekstrem, atau dalam kasus terburuk bahkan menyebabkan depresi pada anak.

Jika hal itu terjadi kemungkinan besar dapat membahayakan kesehatan mental anak. Oleh karenanya, sangat penting untuk memberikan perawatan dan pengobatan.

Berikut ini cara mengatasi anak broken home:

1. Bertanggung Jawab

Sebagai orang tua, Anda memiliki pilihan untuk mengatasi keadaan dalam keluarga, dan bertindak untuk menciptakan kondisi emosional yang sehat. Jadi, penting untuk bertanggung jawab atas tindakan yang Anda lakukan, dan belajar bagaimana memenuhi harapan yang diidamkan untuk Anda sendiri dan anak-anak. Mengingat anak yang paling terdampak dalam masalah keluarga.

2. Ajak Anak untuk Berpikir Positif

Meskipun dengan kondisi yang tidak stabil dalam keluarga, orang tua tetap harus menyisihkan waktu untuk memerhatikannya dengan mengajarkan anak berpikir positif. Ini terutama dalam situasi yang anak hadapi. Dengan begitu, secara perlahan anak mulai mampu menerima kenyataan yang terjadi pada orang tuanya.

Jika membiarkannya atau tidak mengajarkan dan memberikan pemikiran yang positif, kemungkinan akan berdampak buruk pada kesehatan mentalnya. Anak bisa saja merasa sedih, murung, atau berfikiran negatif. Untuk itu, pastikan Anda melakukan cara mengatasi anak yang broken home dengan sabar dan tekun.

3. Membangun Kepercayaan

Meskipun sulit untuk tumbuh dalam lingkungan tempat di mana terjadi broken home, kepercayaan sulit didapat di antara orang tua yang memiliki konflik.

Sebagai anak, jika tidak memiliki rasa percaya terhadap orang tua, ini mungkin menjadi kecenderungan yang akan bertahan hingga dewasa. Dengan penuh kesabaran dan waktu, belajar untuk membangun kepercayaan di antara orang-orang terdekat, sekalipun orang tua.

4. Membangun Kembali Hubungan dan Komunikasi

Keluarga yang broken home secara emosional tidak stabil, dan sebagai anak, Anda memiliki pilihan untuk membangun kembali hubungan yang buruk. Oleh karenanya, mulailah dengan melakukan langkah terkecil, dan sebisa mungkin cobalah untuk memaafkan dan mendukung keluarga dalam hal apa pun.

Terlepas dari posisi sebagai anak, pasti ada kesempatan untuk merenungkan dan memperbaiki keadaan, dan untuk menjalin hubungan yang bermakna dengan orang tua dan lainnya. Usahanlah meluangkan satu hari dengan semua anggota keluarga untuk memperbaiki hubungan dan komunikasi.

 

5. Mendapatkan Bantuan

Baik orang tua atau maupun anak yang mengalami broken home, penting untuk mendapatkan bantuan profesional seperti psikolog, atau bantuan dalam beberapa bentuk, untuk memperbaiki situasi.

Misalnya, mengatasi hilangnya rasa percaya diri bisa menjadi langkah yang sulit bagi orang tua dan anak. Oleh sebab itu, berusaha untuk mendapatkan dukungan dari keluarga dan teman selain dari psikolog.

6. Ajak Anak Mencoba Hal Baru

Terkadang, situasi yang bermasalah dapat membuka jalan bagi anak untuk kreatif dan ekspresif. Untuk membangkitkannya, cobalah mengajak anak untuk mencoba hal baru yang mungkin disenangi anak. Ini adalah cara yang bagus dalam mendidik anak broken home.

Dengan cara itu, anak dapat mengekspresikan dirinya secara sehat kepada keluarga dan orang-orang terdekat. Juga beri ia ruang untuk dapat membagi pemikirannya, dan diskusikan secara perlahan bagaimana anak dapat membangun kembali hubungan dengan orang tua dan lainnya.

7. Belajar Memaafkan

Setiap keluarga mungkin memiliki masalah, baik itu masalah kecil atau besar. Kapan pun masalah bisa muncul dalam keluarga, untuk itu saling memaafkan adalah cara yang perlu anak dan orang tua lakukan. Saling memaafkan akan mencegah perpisahan dan ini juga akan memperbaiki suatu hubungan.

8. Tidak Berselisih di Hadapan Anak

Ini adalah salah satu cara mengatasi anak broken home yang tidak kalah penting. Berselisih dan menunjukkan masalah orang tua pada anak hanya akan membuat anak merasa trauma.

Jika orang tua ingin menyelesaikan masalah, sebaiknya lakukan di ruang yang jauh dari anak, misalnya di dalam kamar. Langkah ini untuk meminimalisir dampak buruk dari broken home.

 

Dampak Buruk Broken Home pada Anak

Ada sejumlah dampak buruk yang terjadi akibat broken home, terutama bagi anak. Mulai dari kurangnya harga diri hingga masalah mental. Untuk memahami dan mengatasi rasa sakit dari masa kanak-kanak yang kurang sesuai, sebagai anak harus memahami efek dari pengasuhan orang tua pada kehidupan dan kepribadian.

Berikut ini beberapa dampak buruk broken home:

  • Berkurangnya rasa percaya diri. Ini adalah dampak terbesar dan paling sering terjadi dari pola pengasuhan dari broken home. Masa kanak-kanak terbentuk dasar harga diri, dan orang tua berperan penting dalam membantu mendefinisikan kepercayaan diri anak.
  • Hampa dan terkucilkan. Anak yang menjadi korban broken home mungkin merasa trauma atau merasa dirinya hampa. Seiring waktu, perasaan ini dapat bertambah dan membuatnya menyendiri, yang dapat menghambat dalam membangun hubungan dan kesenangan.
  • Menanggung beban keluarga. Orang tua yang memiliki konflik terkadang menyebabkan kanak-anak dipaksa menjadi pengasuh terhadap adik atau saudara kandungnya. Ini sering kali membuat anak terbebani tanggung jawab dari orang tua dan menyebabkan kelelahan dan tanggung jawab berlebihan.
  • Keterampilan komunikasi yang buruk. Anak yang dibesarkan dalam lingkungan bermasalah mungkin sulit dalam mengekspresikan diri atau keinginannya. Ini dapat menyebabkan anak memiliki keterampilan komunikasi yang buruk di kemudian hari.
  • Mental terganggu. Dampak buruk broken home yang mungkin sering terjadi adalah terganggunya mental dan emosional anak. Ketika anak dibesarkan di lingkungan yang membuat ia takut, ini dapat merusak siapa dirinya dan mengganggu cara memandang apa pun.

Itu dia penjelasan tentang dampak buruk dan bagaimana cara mendidik anak broken home yang bisa orang tua lakukan di rumah. Namun, langkah yang terpenting adalah mendapatkan bantuan seorang profesional atau psikolog untuk membantu mengatasinya dengan tepat!

 

  1. Anonim. 2017. Child Development and Behavior: Broken Homes, Hopes, and Dreams. https://www.youthvoices.live/child-development-and-behavior-broken-homes-hopes-and-dreams/(Diakses pada 17 September 2021)
  2. Arora, Mahak. 2018. Dysfunctional Family – Characteristics and Effects. https://parenting.firstcry.com/articles/dysfunctional-family-characteristics-and-tips-to-overcome-its-effects/ (Diakses pada 17 September 2021)
  3. Johnson, E.B. 2020. You’re not crazy. You came from a dysfunctional home. https://medium.com/lady-vivra/overcoming-a-dysfunctional-childhood-85b1785d89c2 (Diakses pada 17 September 2021)
  4. Saikia, Ruksana. 2017. Broken family: Its causes and effects on the development of children. https://www.allresearchjournal.com/archives/2017/vol3issue2/PartG/3-2-106-798.pdf (Diakses pada 17 September 2021)


DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi