Terbit: 31 Mei 2021 | Diperbarui: 9 Juni 2021
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: dr. Eko Budidharmaja

Altruisme adalah sebuah sikap peduli terhadap kesejahteraan orang lain. Tindakan ini dilakukan hanya karena keinginan untuk membantu, bukan karena kewajiban atau didorong alasan tertentu. Simak penjelasan lengkap mengenai altruisme dan pentingnya memiliki sikap ini.

Altruisme, Sikap Kepedulian yang Ternyata Menyehatkan Tubuh

Mengapa Altruisme Itu Penting?

Altruisme adalah bagian penting dalam merekatkan hubungan keluarga dan kelompok sosial. Dalam beberapa hal, seorang altruis menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingannya sendiri.

Bahkan jika seorang altruis tidak mengharapkan pengakuan atau imbalan atas perbuatan baiknya, ia tetap merasa bersemangat dan bahagia sesudahnya. Individu yang berusaha keras untuk membantu orang lain sering kali menerima sesuatu sebagai balasannya, bisa berupa dukungan materi atau rasa hormat.

Sikap ini dapat mencakup berbagai macam perilaku, mulai dari mengorbankan hidup untuk menyelamatkan orang lain, memberikan uang untuk amal, atau menjadi sukarelawan di dapur umum. Sering kali, orang berperilaku altruistik ketika melihat orang lain dalam keadaan kesusahan dan merasakan empati untuk membantu.

Sensasi yang Dirasakan Setelah Membantu Orang Lain

Saat seorang altruis tidak mengharapkan pengakuan atau imbalan atas perbuatan baik yang dilakukan, ia tetap bersemangat dan bahagia sesudahnya. Sensasi ini kadang-kadang disebut ‘helper’s high’ atau ‘warm glow’. Sensasi inilah yang mungkin membantu memperkuat perilaku ini pada mereka yang merasakannya.

Dalam beberapa kasus, sikap altruisme ini bisa membuat seseorang membahayakan diri sendiri untuk membantu orang lain. Perilaku ini sering dilakukan tanpa pamrih dan tanpa mengharapkan imbalan. Contoh lain yang dikenal sebagai altruisme timbal balik, yaitu tindakan untuk membantu orang lain dengan harapan mendapatkan bantuan sebagai balasannya.

Contoh Altruisme

Pada dasarnya, aktivitas sehari-hari selalu dipenuhi oleh perilaku ini, mulai dari menahan pintu agar orang lain masuk hingga memberikan uang pada mereka yang membutuhkan. Beberapa contoh altruisme lainnya:

  • Melakukan sesuatu untuk membantu orang lain tanpa mengharapkan imbalan.
  • Melupakan hal-hal yang dapat membawa keuntungan pribadi namun membuat orang lain mengeluarkan biaya.
  • Membantu seseorang meskipun Anda perlu mengeluarkan biaya atau risiko.
  • Berbagi sumber daya bahkan saat menghadapi kesulitan.
  • Menunjukkan kepedulian terhadap kesejahteraan orang lain.

Jenis Altruisme

Beberapa pakar telah mengidentifikasi beberapa jenis perilaku altruistik, di antaranya:

  • Genetic Altruism

Seperti namanya, jenis ini melibatkan keterlibatan dalam tindakan yang menguntungkan anggota keluarga dekat. Misalnya, orang tua sering melakukan pengorbanan untuk memenuhi kebutuhan anggota keluarga lainnya.

  • Reciprocal Altruism

Jenis ini didasarkan pada hubungan saling memberi dan menerima. Tujuan seseorang membantu orang lain dengan harapan pihak yang dibantu dapat membalas budi suatu hari nanti.

  • Group-Selected Altruism

Tindakan altruistik jenis ini dilakukan berdasarkan afiliasi kelompok. Jenis ini hanya membantu seseorang yang merupakan bagian dari kelompoknya saja atau mendukung kegiatan sosial yang menguntungkan kelompok tertentu.

  • Pure Altruism

Jenis ini juga dikenal sebagai moral altruism, di mana keinginan membantu orang lain meski berisiko atau tanpa imbalan apa pun. Sikap ini muncul akibat dimotivasi oleh penghayatan nilai-nilai moral.

Baca Juga: 4 Karakter Manusia, Anda Termasuk yang Mana?

Memahami Munculnya Perilaku Altruisme

Meski munculnya altruisme tidak diketahui dengan pasti, beberapa psikolog telah mengidentifikasi penyebab munculnya sikap ini, antara lain:

  • Evolusi

Sebuah teori yang menunjukkan bahwa altruisme dapat dipengaruhi oleh genetik. Seleksi kerabat adalah teori evolusi yang mengungkapkan bahwa orang lebih cenderung membantu mereka yang merupakan kerabat sedarah, karena hal itu akan meningkatkan kemungkinan transmisi gen ke generasi mendatang, sehingga memastikan kelanjutan gen bersama.

  • Brain-Based Reward

Ahli neurobiologi telah menemukan bahwa ketika seseorang berperilaku altruistik, pusat kesenangan di otak menjadi lebih aktif. Terlibat dalam tindakan welas asih mengaktifkan area otak yang terkait dengan sistem penghargaan. Perasaan positif yang diciptakan oleh tindakan welas asih kemudian memperkuat perilaku ini.

  • Lingkungan

Interaksi dan hubungan dengan orang lain memiliki pengaruh besar pada perilaku altruistik. Dalam sebuah penelitian, anak-anak yang mengamati tindakan altruisme timbal balik sederhana jauh lebih mungkin untuk menunjukkan tindakan altruistik. Di sisi lain, sikap ramah tetapi non-altruistik tidak menginspirasi hasil yang sama.

Mengamati perilaku prososial tampaknya juga mengarah pada perilaku menolong pada orang dewasa (meskipun sejauh mana hal ini terjadi bervariasi berdasarkan faktor-faktor seperti jenis kelamin, budaya, dan individu).

  • Norma Sosial

Aturan, norma, dan harapan masyarakat juga dapat memengaruhi apakah seseorang terlibat dalam perilaku altruistik atau tidak. Norma timbal balik, misalnya, adalah ekspektasi sosial di mana Anda merasa tertekan untuk membantu orang lain karena seseorang telah melakukan kebaikan untuk Anda.

  • Insentif

Meskipun definisi altruisme adalah kepedulian terhadap orang lain tanpa pamrih, mungkin masih terdapat insentif kognitif yang tidak jelas. Misalnya, membantu orang lain untuk meredakan kesusahan Anda sendiri, atau karena bersikap baik kepada orang lain menegakkan pandangan tentang diri sendiri sebagai orang yang baik.

Penjelasan kognitif lainnya meliputi:

  • Empati. Seseorang lebih cenderung terlibat dalam perilaku altruistik ketika mereka merasakan empati pada orang yang  kesusahan, sebuah sugesti yang dikenal sebagai hipotesis empati-altruisme. Anak-anak juga cenderung menjadi lebih altruistik saat rasa empati mereka berkembang.
  • Membantu meredakan perasaan negatif. Melihat orang lain dalam masalah bisa menimbulkan perasaan kesal, tertekan, atau tidak nyaman. Akan tetapi jika Anda membantu permasalahan yang dihadapinya, hal itu dapat mengurangi perasaan negatif.

Efek Positif Altruisme

Sikap ini memiliki berbagai macam manfaat, di antaranya:

  • Mendukung Kesehatan Tubuh Lebih Baik

Berperilaku altruistik dapat meningkatkan kesehatan fisik dengan berbagai cara. Orang yang menjadi sukarelawan dalam berbagai kegiatan memiliki kesehatan yang lebih baik secara keseluruhan. Jika Anda secara teratur terlibat dalam perilaku ini, hal tersebut dikaitkan dengan angka kematian yang jauh lebih rendah.

  • Kesejahteraan Mental yang Lebih Baik

Melakukan hal-hal baik untuk orang lain dapat membuat Anda merasa nyaman dengan diri sendiri dan lingkungan. Penelitian menunjukkan bahwa seseorang mengalami peningkatan kebahagiaan setelah melakukan hal-hal baik untuk orang lain.

  • Hubungan yang Lebih Baik

Bersikap baik dan penuh kasih juga dapat mengarah pada hubungan yang lebih baik dengan pasangan, karena kebaikan adalah salah satu kualitas terpenting untuk menciptakan hubungan yang romantis.

Selain beberapa manfaat di atas, terlibat dalam altruisme juga dapat membantu meningkatkan koneksi dan hubungan sosial, yang pada akhirnya berperan dalam meningkatkan kebugaran.

 

  1. Anonim. Altruism. https://www.psychologytoday.com/us/basics/altruism. (Diakses pada 31 Mei 2021).
  2. Cherry, Kendra. 2021. What Is Altruism?. https://www.verywellmind.com/what-is-altruism-2794828. (Diakses pada 31 Mei 2021).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi