Terbit: 22 Juni 2022
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: dr. Jati Satriyo

Mata juling atau strabismus adalah suatu kondisi yang ditandai dengan ketidaknormalan letak satu mata dengan mata lainnya. Selain membuat membuat penghilatan tidak sejajar, kondisi ini juga membuat kedua mata tidak melihat pada benda yang sama. Simak penjelasan mengenai penyebab hingga terapi yang bisa Anda lakukan, selengkapnya di bawah ini

Mata Juling: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatan

Apa itu Mata Juling?

Strabismus adalah kondisi yang lebih sering terjadi pada anak-anak, tetapi juga dapat terjadi pada orang dewasa di kemudian hari.

Penyebab mata juling pada anak-anak yang lebih besar dan orang dewasa, biasanya karena berbagai kondisi medis, seperti cerebral palsy atau stroke. Mata juling biasanya dapat dikoreksi dengan lensa korektif, pembedahan, atau kombinasi keduanya.

Ciri-ciri Mata Juling

Jika mengalami mata juling, mata Anda kemungkinan mengarah ke dalam atau ke luar, bahkan fokus ke arah yang berbeda. Berikut ini adalah beberapa tanda dan gejala lainnya yang bisa terjadi:

  1. Mata juling (pandangan menyilang).
  2. Mata tidak mengarah pada objek yang sama.
  3. Gerakan mata yang tidak terkoordinasi.
  4. Penglihatan ganda.
  5. Kelelahan mata atau sakit kepala.
  6. Ketajaman penglihatan menurun.

Gejala mata juling yang konstan biasanya membuat penderita mengalami kelelahan atau tidak enak badan.

Penyebab Mata Juling

Sebagian besar kondisi ini disebabkan oleh kelainan kontrol neuromuskuler gerakan mata. Strabismus adalah kondisi yang biasanya diwariskan dari anggota keluarga. Sekitar 30 persen anak-anak dengan kondisi ini memiliki anggota keluarga dengan masalah yang sama. Kondisi lain yang menjadi penyebab mata juling termasuk:

  • Kesalahan bias yang tidak dikoreksi.
  • Penglihatan yang buruk di satu mata.
  • Cerebral palsy.
  • Down Syndrome.
  • Hydrocephalus (penyakit bawaan yang menyebabkan penumpukan cairan di otak).
  • Tumor otak.
  • Stroke (biasanya penyebab mata juling pada orang dewasa).
  • Cedera kepala, yang merusak area otak yang berfungsi untuk mengontrol pergerakan mata, saraf yang mengontrol pergerakan mata, dan otot-otot mata.
  • Masalah neurologis (sistem saraf).
  • Penyakit Graves (produksi hormon tiroid berlebihan).

Diagnosis Mata Juling

Guna mencegah kehilangan penglihatan, diagnosis secara dini dan pengobatan adalah langkah yang penting. Jika mengalami beberapa gejala seperti yang dijelaskan di atas, segera periksakan ke dokter spesialis mata. Dokter akan melakukan serangkaian tes untuk memeriksa kesehatan mata dengan langkah berikut:

  1. Tes refleks cahaya kornea untuk memeriksa mata juling.
  2. Tes ketajaman penglihatan untuk menentukan seberapa baik mata dapat membaca dari kejauhan.
  3. Tes penutup atau buka untuk mengukur pergerakan dan ketidak normalan arah mata.
  4. Tes retina untuk memeriksa bagian belakang mata.

Bila merasakan gejala fisik lainnya disertai mata juling, dokter akan memeriksa otak dan sistem saraf untuk kondisi lainnya. Misalnya, dokter melakukan tes untuk memeriksa cerebral palsy atau sindrom Guillain-Barré.

Sementara itu, jika bayi baru lahir memiliki mata juling yang bertahan di atas usia tiga bulan, segera periksakan ke dokter. Bayi yang memiliki mata juling harus menjalani pemeriksaan mata sebelum berusia 3 tahun.

Baca Juga: Mata Juling pada Bayi: Penyebab dan Cara Mengatasinya

Jenis Mata Juling

Strabismus terbagi menjadi beberapa jenis, berikut di antaranya:

1. Esotropia Akomodatif

Jenis strabismus ini sering terjadi pada kasus rabun dekat yang tidak diobati dan kecenderungan genetik (keturunan dari keluarga). Karena kemampuan fokus terkait dengan di mana mata melihat, upaya lebih fokus diperlukan ketika melihat objek yang jauh dengan fokus yang jelas dapat menyebabkan mata berputar ke dalam.

Gejalan esotropia akomodatif meliputi penglihatan ganda, memicingkan kedua mata atau menutup satu mata saat melihat sesuatu yang dekat, dan memiringkan atau memutar kepala.

Jenis ini biasanya dimulai pada beberapa tahun pertama kehidupan. Kondisi ini biasanya diatasi dengan kacamata, tetapi mungkin juga memerlukan penutup mata, atau memerlukan operasi pada otot-otot satu atau kedua mata.

2. Exotropia Intermiten

Satu mata akan terpaku atau terkonsentrasi pada satu objek, sementara mata lainnya mengarah ke luar. Gejala dari jenis ini di antaranya penglihatan ganda, sakit kepala, kesulitan membaca, kelelahan mata, dan menutup satu mata saat melihat objek yang jauh atau ketika dalam cahaya terang.

Pasien penderita exotropia intermiten mungkin tidak memiliki gejala, sementara deviasi okular (perbedaan) dapat diperhatikan oleh orang lain. Eksotropia intermiten dapat diderita orang dengan usia berapapun. Perawatannya mungkin menggunakan kacamata, penambalan, latihan mata, atau operasi pada otot-otot satu atau kedua mata.

3. Esotropia Infantil

Jenis mata juling ini ditandai dengan beberapa putaran ke dalam pada kedua mata bayi yang biasanya dimulai sebelum usia enam bulan. Biasanya tidak ada jumlah rabun jauh yang signifikan dan tidak bisa diatasi dengan kacamata.

Pandangan mata yang membelok ke dalam mungkin mulai secara tidak teratur, tetapi sifatnya segera konstan. Ini terjadi ketika anak memandang jarak yang jauh dan dekat. Perawatan untuk kondisi ini adalah operasi pada otot-otot satu atau kedua mata untuk memperbaiki pandangan yang sejajar.

Meski jarang, orang dewasa juga dapat mengalaminya. Biasanya misalignment okular pada orang dewasa disebabkan oleh stroke, tetapi juga dapat terjadi akibat trauma fisik atau dari strabismus masa kecil yang sebelumnya tidak diobati atau telah kambuh atau berkembang.

Mata julling pada orang dewasa dapat diobati dengan berbagai cara, seperti pengamatan, penambalan, menggunakan kacamata prisma, atau operasi mata juling.

Perlu diketahui juga, kondisi ini dapat dibedakan dengan posisi mata, berikut di antaranya:

  • Hipertropia adalah ketika mata berbalik ke atas.
  • Hipotropia adalah ketika mata berbalik ke bawah.
  • Esotropia adalah ketika mata berputar ke dalam.
  • Exotropia adalah ketika mata berputar keluar.

Baca Juga: 13 Penyebab Pandangan Mata Kabur yang Jarang Disadari

Pengobatan Mata Juling

Keadaan ini dapat diatasi dengan berbagai cara, berikut di antaranya:

1. Pengobatan Secara Dini

Jika umur anak sampai usia 9 tahun tidak diobati, maka bisa terjadi gangguan penglihatan yang permanen pada mata yang terkena (ambliopia).

Pada anak-anak yang lebih kecil, ambliopia lebih cepat terjadi; sedangkan pada anak-anak yang lebih besar, penyembuhannya memerlukan waktu lebih lama. Karena itu semakin dini pengobatan dilakukan, maka gangguan penglihatan yang terjadi tidak terlalu berat dan respons yang diberikan akan lebih baik.

2. Terapi Tutup Mata

Menutup mata yang normal dengan sebuah penutup bisa memperbaiki penglihatan pada mata yang juling dengan cara memaksa otak untuk menerima suatu gambaran dari mata tanpa menghasilkan penglihatan ganda.

Terapi mata juling ini memberikan peluang yang lebih baik terhadap perkembangan penglihatan 3 dimensi yang normal.

3. Pembedahan

Setelah penglihatan pada kedua mata sejajar, bisa dilakukan pembedahan untuk menyesuaikan kekuatan otot mata sehingga dapat menarik mata dengan kekuatan yang sama.

4. Penggunaan Kacamata & Obat Mata

Esotropia akomodatif pada anak penderita rabun dekat bisa diatasi dengan kacamata sehingga pada saat melihat benda pada jarak jauh, mata tidak perlu berakomodasi. Cara mengobati mata juling tanpa operasi lainnya adalah obat tetes mata ekotiofat; yang membantu mata memfokuskan pada benda-benda jarak dekat.

Sementara srabismus paralitik bisa diatasi dengan kacamata yang terdiri dari lensa prisma (yang membiaskan cahaya sehingga kedua mata menerima gambaran yang hampir sama) atau bisa diatasi dengan pembedahan. Sampai umur 10 tahun, anak sebaiknya menjalani pemeriksaan mata secara teratur.

 

  1. Anonim. 2020. Strabismus (Crossed Eyes). https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/15065-strabismus?view=print. (Diakses 28 Agustus 2019)
  2. Badii, Chitra. 2019. Everything You Need to Know About Crossed Eyes. https://www.healthline.com/health/crossed-eyes#outlook. (Diakses 28 Agustus 2019)
  3. Nordqvist, Christian. 2017. What’s to know about squint, or strabismus?.  https://www.medicalnewstoday.com/articles/220429.php. (Diakses 28 Agustus 2019)


DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi