Terbit: 1 April 2022 | Diperbarui: 2 Juni 2022
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Pernah membayangkan otak salah menangkap informasi? Ternyata kondisi ini dikenal sebagai sensory processing disorder. Kelainan proses berpikir ini umumnya menimpa anak-anak. Namun, orang dewasa juga bisa mengalaminya. Simak selengkapnya di sini!

Sensory Processing Disorder: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatan

Apa itu Sensory Processing Disorder?

Melansir WebMd, sensory processing disorder (SPD) atau gangguan pemrosesan sensorik adalah kondisi ketika otak kesulitan menerima dan merespons suatu informasi sensorik (indra).

Informasi sensorik ini mencangkup apa yang Anda lihat, dengar, cium, rasakan, atau sentuh. SPD dapat memengaruhi seluruh indra atau hanya salah satu.

Selain itu, orang dengan SPD akan lebih sensitif terhadap suatu rangsangan indra atau malah sebaliknya. Artinya, orang dengan gangguan ini bisa saja membutuhkan lebih banyak rangsangan.

Sensory processing disorder umumnya terjadi pada anak-anak. Namun, orang dewasa juga bisa mengalaminya. Hanya saja, pada dewasa gejala gangguan ini mungkin dapat disembunyikan dari orang lain.

Selain itu, SPD umumnya muncul sebagai bagian dari gangguan perkembangan, seperti autism spectrum disorder (ASD), obsessive-compulsive disorder (OCD), dan attention deficit hyperactivity disorder (ADHD).

Maka dari itu, kondisi ini bukanlah gangguan yang berdiri sendiri. Namun, para ahli berpendapat bahwa hal ini kemungkinan bisa berubah.

Gejala Sensory Processing Disorder

Secara umum, sensory processing disorder lebih sering menyerang anak-anak. Jika memiliki gangguan ini, mereka akan lebih sensitif terhadap suara, atau bisa sangat terganggu dengan pakaian yang sedang dikenakan.

Gejala yang muncul juga bisa berlaku sebaliknya. Artinya, anak dengan gangguan isi bisa berperilaku ‘kurang sensitif’. Berikut rinciannya:

1. Gejala Terlalu Sensitif

Anak-anak dengan SPD bisa lebih sensitif dan menganggap beberapa hal berikut mengganggu:

  • Lampu ruangan terlalu terang.
  • Suara bising.
  • Pakaian membuat gatal dan tidak nyaman.
  • Tekstur makanan membuat mereka muntah.

Baca JugaODD (Oppositional Defiant Disorder): Gejala, Penyebab, Pengobatan, dll

2. Gejala Kurang Sensitif

Di sisi lain, pada anak yang lebih besar, kondisi sensory processing disorder akan menyebabkan berkurangnya kepercayaan diri anak. Kondisi ini tentu membahayakan karena akan mengarah pada isolasi sosial dan depresi.

Anak yang memiliki SPD dengan gejala under-sensitive, dapat menunjukkan berbagai gejala berikut:

  • Tidak bisa diam.
  • Mencari sensasi dengan melompat, berputar, dan tindakan-tindakan lainnya.
  • Bisa berputar tanpa merasa pusing.
  • Tidak dapat menangkap isyarat sosial.
  • Sering mengunyah benda-benda.
  • Mencari simulasi visual, misalnya dari elektronik.
  • Memiliki gangguan tidur.
  • Tidak menyadari saat ada kotoran di wajah atau ketika hidung mereka meler.

3. Gejala Lain

Anak dengan sensory processing disorder mungkin akan menunjukkan beberapa kondisi berikut:

  • Memiliki keseimbangan yang buruk.
  • Takut bermain ayunan.
  • Bereaksi buruk terhadap gerakan tiba-tiba, sentuhan, suara keras, atau cahaya terang.
  • Memiliki masalah perilaku.
  • Mengalami keterlambatan berbahasa

Terkadang, SPD juga bisa ditunjukkan dengan kemampuan motorik yang buruk, misalnya:

  • Sulit menggenggam pensil atau benda lain.
  • Memiliki tonus otot (tegangan otot) yang lemah.
  • Kesulitan menaiki tangga.

Penyebab Sensory Processing Disorder

Sampai saat ini, penyebab sensory processing disorder belum dapat dipastikan. Namun, ada sebagian ahli menghubungkan hal ini dengan genetik alias keturunan.

Hal tersebut didukung oleh sebuah studi terhadap anak kembar. Para peneliti menemukan bahwa hipersensitivitas (reaksi alergi) terhadap cahaya dan suara mungkin memiliki komponen genetik yang kuat.

Selain itu, penelitian lain menunjukkan bahwa anak-anak dengan masalah pemrosesan sensorik memiliki aktivitas otak yang tidak normal ketika mereka secara bersamaan terkena cahaya dan suara.

Penelitian juga menemukkan, anak dengan SPD terus merespons dengan kuat ketika mendapat pukulan di tangan atau ada suara keras. Berbeda dengan anak-anak lain, mereka dengan cepat terbiasa dengan sensasi tersebut.

Di sisi lain, ada pula yang mengaitkan gangguan ini dengan autisme. Melansir Family Doctor, orang dewasa yang memiliki autisme memiliki kemungkinan lebih besar untuk memiliki anak dengan SPD.

Kendati demikian, kebanyakan orang yang memiliki SPD tidak memiliki autisme.

Bagaimana Cara Diagnosis SPD?

Dokter akan mengamati perilaku yang menunjukkan gangguan tersebut, lalu menentukan diagnosis. Selain perilaku, dokter juga akan melakukan pemeriksaan terhadap riwayat kesehatan anak secara keseluruhan.

Dokter atau tenaga medis mungkin akan melakukan pemeriksaan fisik, evaluasi psikologis, dan tes kemampuan berbicara serta bahasa.

Selain itu, sejumlah tes pendukung mungkin akan dilakukan. Melansir Very Well Health, ada berbagai tes skrining untuk SPD, termasuk Sensory Integration and Praxis Test (SIPT) dan Sensory Processing Measure (SPM).

Pengobatan Sensory Processing Disorder

Gangguan pemrosesan sensorik tidak dapat dicegah ataupun ditangani. Selama ini, penanganan gangguan ini hanya berupa terapi.

Terapis akan membantu anak belajar mengatasi sensory processing disorder yang dia alami. 

Sementara itu, jenis terapi akan bergantung pada gejala yang ditunjukkan, apakah terlalu sensitif, kurang sensitif, ataupun mengalami dua kondisi sekaligus.

Ada tiga jenis terapi untuk menangani SPD, di antaranya:

1. Sensory integration therapy (SI)

Terapi ini melibatkan aktivitas menyenangkan di lingkungan yang pastinya aman untuk anak. Terapis akan membantu anak belajar mengendalikan rangsangan yang muncul akibat gangguan ini.

Baca Juga15 Gejala ADHD pada Dewasa yang Menganggu Mental dan Fisik

2. Sensory diet

Meski dinamakan diet, sensory diet tidak sama sekali berhubungan dengan diet makanan. Sensory diet ini maksudnya adalah terapi berupa daftar kegiatan sensorik yang bisa dilakukan anak, baik di rumah maupun di sekolah.

Sejumlah kegiatan sengaja dirancang untuk membantu anak lebih fokus dan beraktivitas lebih teratur sepanjang hari.

Layaknya SI, sensory diet akan bergantung pada kebutuhan anak Anda.

Berikut ini beberapa contoh sensory diet di sekolah:

  • Ajak anak untuk berjalan-jalan (sekitar 10 menit).
  • Ajak anak dua kali dalam sehari bermain ayunan (selama 10 menit).
  • Biarkan anak mendengarkan musik lewat speaker.

3. Occupational therapy

Terapi ini baik untuk mendukung keterampilan motorik halus anak. Occupational therapy akan membantu gejala lain yang berhubungan dengan SPD. Contoh kegiatan yang bisa anak lakukan, yaitu menggunakan gunting, menulis, dan sebagainya.

Itu dia penjelasan seputar sensory processing disorder. Kondisi ini bisa menjadi tantangan bagi para orang tua. Oleh sebab itu, sadari kemunculan gejalanya agar terapi dapat dilakukan sejak dini.

 

  1. Anonim. Sensory Processing Disorder (SPD). https://familydoctor.org/condition/sensory-processing-disorder-spd/. (Diakses pada 31 Maret 2022).
  2. Cabrera, Sara Jorquera, dkk. 2017. Assessment of Sensory Processing Characteristics in Children between 3 and 11 Years Old: A Systematic Review. https://www.frontiersin.org/articles/10.3389/fped.2017.00057/full. (Diakses pada 31 Maret 2022).
  3. Goodman, Brenda. 2021. Sensory Processing Disorder. https://www.webmd.com/children/sensory-processing-disorder. (Diakses pada 31 Maret 2022).
  4. Rudy, Lisa Jo. 2020. What Is Sensory Processing Disorder? https://www.verywellhealth.com/what-is-sensory-processing-disorder-260517. (Diakses pada 31 Maret 2022).

DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi