Terbit: 27 March 2022
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: dr. Aloisia Permata Sari Rusli

Migrain atau sakit kepala sebelah yang diiringi dengan gangguan penglihatan atau gerakan dalam dunia medis dikenal dengan sebutan migrain aura. Simak penjelasan mengenai gejala hingga penanganan migrain dengan aura, selengkapnya di bawah ini. 

Migrain Aura: Gejala, Penyebab, hingga Pengobatan

Apa itu Migrain Aura?

Migrain dengan aura adalah sakit kepala berulang yang menyerang sesaat sesudah atau di saat yang sama dengan serangan sensori yang disebut aura. Migrain ini juga disebut migrain klasik. 

Sakit kepala ini juga dapat diiringi dengan kilatan cahaya, titik buta, perubahan penglihatan, atau denging di telinga. Semua gejala pengiring ini bersifat sementara dan akan hilang saat sakit kepala reda. Secara umum, mengatasi kondosi ini sama dengan migrain tanpa aura (atau migrain biasa). 

Gejala Migrain Aura

Berikut ini adalah beberapa gejala yang bisa Anda kenali, di antaranya:

Gejala prodromal

Sepertiga pasien mengalami gejala peringatan sekitar 1 hingga 2 hari sebelum serangan terjadi. Gejala ini disebut prodromal atau fase pra-migrain. Seseorang akan merasakan:

  • Mengidam makanan tertentu.
  • Merasa tidak nyaman, resah, emosional, dan sangat sensitif.
  • Menjadi sangat lelah dan sering menguap.
  • Mengalami kaku di bagian leher
  • Lebih sering buang air kecil
  • Mengalami sembelit atau diare

Gejala sensory

Gejala aura biasanya berlangsung antara 5 hingga 20 menit dan berakhir kurang dari satu jam. Gejala ini dapat memengaruhi satu atau lebih panca indra, meliputi:

  • Terjadinya titik buta
  • Kehilangan penglihatan pada satu atau kedua mata
  • Melihat pola zig-zag
  • Melihat kilatan cahaya
  • Melihat, mendengar, atau mencium hal-hal yang tidak ada (berhalusinasi).
  • Rasa gatal, geli, kesemutan, atau malah mati rasa.
  • Tidak dapat bicara.
  • Sebagian gejala aura terus berlangsung saat tiba fase sakit kepala.
  • Melihat titik berkelap-kelip.

Gejala lainnya

Nyeri migrain dapat menetap atau berpindah-pindah. Biasanya serangan sakit terasa di sisi depan atau samping kepala serta di sekitar mata. Orang dewasa lebih sering mengalami sakit di hanya satu sisi. Sakit kepala sendiri dapat berlangsung selama satu hingga tiga jam. Selain itu, gejala yang mengiringi di antaranya adalah:

  • Perut terasa tidak nyaman.
  • Rasa panas.
  • Pilek.
  • Pusing atau kepala berputar.
  • Sakit pada leher dan rahang.
  • Sangat sensitif terhadap cahaya, suara, bau, gerakan dan sentuhan.
  • Kebingungan.
  • Otot terasa lemah

Migrain aura juga dapat berlangsung tanpa serangan sakit kepala, terutama pada pasien berusia 50 tahun ke atas.

Baca Juga: Migrain Okular: Gejala, Penyebab, Cara Mengobati, Pencegahan, dll

Penyebab Migrain Aura

Penyebab migrain aura adalah gelombang listrik atau kimia yang bergerak melintasi otak. Bagian otak yang terkena gelombang tersebut menentukan gejala yang akan dialami pasien.

Sering kali gelombang tersebut melintasi bagian otak yang memproses sinyal sensori, pusat bahasa, serta bagian otak yang mengontrol gerakan. Gelombang ini juga mengakibatkan berbagai kegiatan neurotransmiter di otak dan pusat saraf. Perubahan ukuran pembuluh darah, melepaskan lebih banyak neurotransmiter, serta menyebabkan proses inflamasi dan rasa sakit.

Tipe yang paling umum adalah aura visual, terjadi karena gelombang listrik menyebar melintasi korteks visual dan menyebabkan gejala visual.

Meski begitu, gelombang ini merupakan fungsi normal yang terjadi di saraf dan tidak menyebabkan kerusakan pada otak. Banyak faktor yang menyebabkan kondisi ini, mulai dari stres, paparan cahaya yang berlebihan, makanan, obat, menstruasi, atau kurang tidur.

Faktor Risiko

Walaupun tidak ada faktor khusus yang meningkatkan risiko migrain aura, penyakit migrain sendiri sepertinya terjadi pada seseorang yang memiliki riwayat migrain di keluarganya. Migrain juga lebih sering terjadi pada wanita daripada pria. Seiring waktu, serangan migrain akan berkurang setelah pasien berusia di atas 50 tahun.

Perlu diketahui juga, seseorang memiliki migrain dengan aura berpotensi lebih besar untuk mengalami stroke.

Baca Juga: 11 Obat Migrain yang Bisa Anda Konsumsi (Resep dan Nonresep)

Diagnosis

Dokter dapat melakukan tes fisik dan memeriksa otot, refleks, cara bicara, dan lain-lain. Selain itu, dokter juga mungkin menanyakan:

  • Apakah ada anggota keluarga yang memiliki riwayat migrain?
  • Obat apa yang sedang Anda konsumsi?
  • Apakah sakit kepala menyerang setelah bekerja keras, batuk, atau bersin?

Tes lain yang mungkin dilakukan untuk menegakkan diagnosis adalah tes darah, rontgen, CT scan atau MRI untuk mengetahui apakah ada infeksi atau pendarahan.

Pengobatan Migrain Aura

Saat migrain menyerang, berdiamlah di tempat yang sunyi dan gelap. Setelah itu, letakkan kompres dingin atau tekan bagian yang sakit. Anda juga dapat menggunakan obat penghilang rasa sakit seperti asetaminofenn, aspirin, ibuprofen, atau naproxen.

Cara lainnya adalah menggunakan alat transcranial magnetic stimulation (TMS) yang diletakkan di belakang kepala dan melepaskan energi magnetik.

Pencegahan Migrain Aura

Setelah mengetahui apa itu migrain aura, kini mari membahas cara mencegahnya. Pencegahan migrain dilakukan dengan obat-obatan. Jika pasien mengalami lebih dari 4 kali serangan sebulan, akan ada resep dokter yang mencegah terjadinya sakit kepala.

Umumnya resep tersebut terdiri dari obat tekanan darah, antidepresan, serta penghilang nyeri. Dokter juga mungkin merekomendasikan penggunaan Cefaly, yang dipakai seperti bando pada kening setiap hari selama 20 menit.

Pasien juga harus mengenali apa yang memicu sakit kepalanya. Bisa jadi gangguan tersebut disebabkan oleh makanan, obat tertentu, stres, kurang istirahat, perubahan hormon, atau perubahan tekanan udara. Sebaiknya catat kapan dan berapa lama migrain terjadi agar dokter lebih mudah menentukan pengobatan yang tepat.

 

  1. Anonim. 2021. Migraine with aura. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/migraine-with-aura/symptoms-causes/syc-20352072. (Diakses pada 25 Maret 2022).
  2. Moore, William. 2021. Migraines With Aura vs. Migraines Without Aura. https://www.webmd.com/migraines-headaches/migraine-auras-explained. (Diakses pada 25 Maret 2022).
  3. Taylor, Rebecca Buffum. 2020. Migraine With Aura. https://www.webmd.com/migraines-headaches/what-is-a-migraine-with-aura. (Diakses pada 25 Maret 2022).


DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi