Terbit: 28 October 2022 | Diperbarui: 3 November 2022
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: dr. Jati Satriyo

Leptospirosis adalah infeksi bakteri yang menjangkiti manusia dan hewan. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Leptospira interrogans yang dibawa oleh beberapa hewan dan berakhir di air atau tanah melalui urine. Simak penjelasan mengenai gejala, penyebab, hingga cara mengobatinya di bawah ini.

Leptospirosis: Gejala, Penyebab, Pengobatan, dan Pencegahan

Apa itu Leptospirosis?

Leptospirosis adalah penyakit yang dapat menyebabkan kerusakan ginjal, meningitis, gagal hati, gangguan pernapasan, hingga kematian. World Health Organization (WHO) memperkirakan bahwa penyakit yang lebih umum di daerah tropis ini menjangkiti 10 atau lebih dari 100.000 orang setiap tahun.

Perlu diketahui, hewan utama yang menyebarkan penyakit ini berasal dari anjing, tikus, dan hewan ternak. Saat Anda bersentuhan dengan tanah atau air yang tercemar urine hewan yang terinfeksi, bakteri dapat dapat masuk tubuh melalui kulit yang terluka, hidung, mulut, dan alat kelamin.

Meskipun bisa menular melalui hubungan seks atau menyusui, bakteri jarang menular dari manusia ke manusia. Namun, penyakit ini dapat menular saat melakukan kontak dengan binatang.

Gejala Leptospirosis

Pada umumnya, gejala terjadi secara tiba-tiba, biasanya sekitar 5 hingga 14 hari setelah mengalami infeksi bakteri Leptospira interrogans. Masa inkubasi berkisar antara 2 hingga 30 hari.

Berikut ini beberapa gejala dari yang ringan hingga berat:

1. Leptospirosis Ringan

Tanda dan gejala leptospirosis ringan adalah sebagai berikut:

  • Demam.
  • Batuk.
  • Muntah.
  • Diare.
  • Sakit kepala.
  • Mata merah dan iritasi.
  • Ruam.
  • Penyakit kuning.
  • Nyeri otot, terutama punggung bagian bawah dan betis.

Sebagian besar gejala tersebut akan pulih sekitar seminggu tanpa menjalani pengobatan, namun sekitar 10 persen penderita dapat mengalami kondisi yang parah.

2. Leptospirosis Berat

Gejala leptospirosis berat tergantung pada organ vital yang terkena. Gejalanya bisa menyebabkan gagal ginjal atau hati, gangguan pernapasan, dan meningitis.

Jantung, Hati, dan Ginjal

Jika leptospirosis menyerang jantung, hati, dan ginjal, penderitanya akan mengalami gejala berikut:

  • Kelelahan.
  • Mual.
  • Detak jantung cepat atau tidak teratur.
  • Nyeri otot.
  • Mimisan.
  • Sakit dada.
  • Tidak nafsu makan.
  • Pembengkakan pada tangan, kaki, atau pergelangan kaki.
  • Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
  • Penyakit kuning, tampak menguning pada bagian putih mata, lidah, dan kulit.

Jika dibiarkan tanpa perawatan, penyakit dapat menyebabkan gagal ginjal yang mengancam jiwa.

Otak

Jika menyerang otak atau sumsum tulang belakang, penyakit ini dapat mengembangkan meningitis, ensefalitis, atau keduanya. Meningitis adalah infeksi pada membran yang menutupi otak dan sumsum tulang belakang, sedangkan ensefalitis mengacu pada infeksi jaringan otak. Kedua kondisi tersebut memiliki gejala yang serupa.

Gejalanya leptospirosis yang menyerang otak termasuk:

  • Kebingungan atau disorientasi.
  • Kantuk berlebihan.
  • Kejang.
  • Mual.
  • Muntah.
  • Demam tinggi.
  • Leher kaku.
  • Kesulitan berbicara.
  • Masalah dengan gerakan fisik.
  • Perilaku agresif.
  • Fotofobia, atau kepekaan terhadap cahaya.

Meningitis atau ensefalitis yang tidak diobati dapat menyebabkan kerusakan otak, bahkan mungkin mengancam jiwa.

Paru-Paru

Jika bakteri Leptospira interrogans menyerang paru-paru, penderitanya tidak bisa bernapas dan mengalami gejala seperti:

  • Demam tinggi
  • Napas terengah-engah
  • Batuk darah

Penyebab Leptospirosis

Leptospirosis adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri Leptospira interrogans. Bakteri ini biasanya hidup pada ginjal hewan pembawa penyakit ini. Bakteri akan keluar melalui urine dan mengendap di tanah. Salah satu hewan yang biasa terjangkit penyakit ini adalah tikus.

Jika berada di sekitar tanah atau air tempat minum hewan yang terinfeksi urine, kuman ini bisa menyerang tubuh manusia melalui celah kulit, seperti luka goresan, luka terbuka, atau luka yang kering.

Faktor Risiko

Risiko tertular meningkat jika sering berada di lingkungan binatang atau di luar ruang yang sering dilintasi binatang. Selain itu, beberapa pekerjaan yang kemungkinan berisiko tertular leptospirosis adalah:

  • Petani.
  • Dokter hewan.
  • Pekerja bawah tanah (bekerja di saluran pembuangan atau tambang).
  • Pekerja rumah jagal.
  • Personel militer.

Penyebab atau penularannya juga bisa melalui kegiatan lainnya seperti olahraga rafting (arung jeram), berenang, atau berkemah di dekat danau dan sungai yang tercemar bakteri Leptospira interrogans.

Diagnosis Leptospirosis

Penyakit leptospirosis ringan sulit didiagnosis karena gejalanya menyerupai flu dan infeksi lainnya. Jika parah, penderitanya bisa menjalani tes diagnostik khusus. Dokter mungkin akan bertanya tentang aktivitas yang pasien jalani sebelumnya untuk membantu diagnosis.

Dokter mungkin akan bertanya tentang:

  • Apakah baru-baru ini Anda berenang di danau, kolam, kanal, atau sungai?
  • Apakah akhir-akhir ini Anda telah melakukan kontak dengan hewan, terpapar urine atau darah hewan?

Jika telah melakukan satu atau beberapa dari aktivitas tersebut, tes darah dan urine dapat memastikan atau menyingkirkan penyakit ini.

Jenis Leptospirosis

Leptospirosis adalah penyakit yang terbagi menjadi dua jenis utama, berikut penjelasannya:

  • Leptospirosis ringan: Ini merupakan jenis yang sering terjadi atau terjadi dalam 90 persen kasus. Gejalanya meliputi nyeri otot, kedinginan, dan sakit kepala.
  • Leptospirosis berat: Jenis ini termasuk jarang, antara 5 dan 15 persen kasus dapat berkembang menjadi berat. Jika bakteri menginfeksi hati, ginjal, dan organ utama lainnya, ini dapat menyebabkan kegagalan organ, pendarahan internal, hingga kematian.

Pengobatan Leptospirosis

Penyakit ini dapat diobati menggunakan obat-obatan antibiotik, seperti doksisiklin atau penisilin. Obat ini harus digunakan pada tahap awal penyakit berkembang.

Penderita yang mengalami gejala lebih parah, mungkin akan diberikan obat berupa antibiotik intravena. Sementara bagi penderita dengan gejala sugestif harus mendapatkan penanganan dokter.

Selama kehamilan, penyakit ini dapat memengaruhi janin. Wanita yang mengalami infeksi selama kehamilan harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.

Pencegahan Leptospirosis

Berikut ini adalah beberapa cara berikut ini mungkin bisa membantu mengurangi risiko terkenan penyakit ini, di antaranya:

1. Berenang atau Bermain Air

Bagi Anda yang sering melakukan olahraga air, melakukan tindakan pencegahan adalah sesuatu yang penting. Pastikan tubuh yang terdapat luka goresan sudah dibalut menggunakan perban anti air.

Cara ini bisa melindungi dari berbagai infeksi, termasuk penyakit hepatitis A dan giardiasis. Jangan lupa pula bersihkan badan dengan mandi setelah bermain di air tawar.

2. Pencemaran di Tempat Kerja

Bagi Anda yang bekerja berhubungan dengan hewan pembawa penyakit ini, air atau tanah yang rawan terkontaminasi bakteri, penggunaan pakaian pelindung adalah sesuatu yang penting. Selain itu, perlengkapan lain yang harus digunakan adalah sarung tangan, masker, sepatu bot, dan kacamata.

3. Saat Liburan

Jika bepergian ke tempat yang biasa terjadi leptospirosis, maka Anda harus mengambil langkah pencegahan berikut ini:

  • Menghindari berenang di air tawar.
  • Minumlah air yang direbus atau minum air kemasan tersegel.
  • Jika terdapat luka di tubuh, bersihkan dan balut dengan perban anti air.

4. Penanggulangan Bencana

Pekerjaan yang bersifat darurat seperti pada personel militer yang bertugas di zona bencana harus menggunakan antibiotik untuk tindakan pencegahan.

 

  1. Anonim. 2019. What Is Leptospirosis?. https://www.webmd.com/a-to-z-guides/what-is-leptospirosis. (Diakses 27 Maret 2020).
  2. Anonim. 2019. Leptospirosis. https://www.cdc.gov/leptospirosis/index.html. (Diakses 27 Maret 2020).
  3. Anonim. Leptospirosis. https://www.who.int/zoonoses/diseases/leptospirosis/en/. (Diakses 27 Maret 2020).
  4. Brazier, Yvette. 2018. Leptospirosis: What you need to know. https://www.medicalnewstoday.com/articles/246829. (Diakses 27 Maret 2020).


DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi