Terbit: 14 February 2019 | Diperbarui: 9 June 2022
Ditulis oleh: Rhandy Verizarie | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com – Usus adalah organ tubuh yang memiliki fungsi untuk mencerna makanan dan minuman. Setelah masuk ke dalam tubuh, makanan dan minuman akan bergerak melewati saluran pencernaan dengan bantuan dari kontraksi otot usus. Kontraksi usus tersebut dinamakan gerakan peristaltik. Sayangnya, gerakan peristaltik bisa mengalami gangguan, yang kemudian disebut sebagai Ileus Paralitik.

Ileus Paralitik: Penyebab, Gejala, Diagnosis, Pengobatan dll.

Apa Itu Ileus Paralitik?

Ileus paralitik (adynamik ileus) adalah suatu kondisi di mana usus tidak dapat melakukan gerakan peristaltik sehingga makanan dan minuman tidak dapat dicerna dengan baik. Akibatnya, makanan dan minuman menumpuk di dalam usus. Puncaknya, usus akan mengalami kerobekan (perforasi) dan berisiko terhadap keselamatan jiwa.

Ileus paralitik sering disebut sebagai pseudo-obstruction. Hal ini merupakan suatu kekeliruan karena sebenarnya, keduanya merupakan jenis gangguan usus yang berbeda. Ileus paralitik berdampak pada seluruh bagian usus, sementara pseudo-obstruction hanya sebatas bagian usus besar (kolon).

Penyebab Ileus Paralitik

Ileus paralitik identik dengan efek pasca tindakan operasi, terutama operasi di area perut, yang terjadi selama kurang lebih 72 jam. Ileus paralitik adalah salah satu spectrum disfungsi traktus gastro intestinal posoperatif.

Pasca menjalani operasi, usus mengalami hipomotilitas dengan tanpa disertai obstruksi mekanik. Hal inilah yang lantas menyebabkan otot usus tidak dapat berkontraksi secara optimal dan terjadilah ileus paralitik. Ileus paralitik yang disebabkan oleh tindakan operasi akan pulih setelah 24 jam (usus halus), 24-48 jam (lambung), 48-72 jam (kolon atau usus besar).

Operasi memang menjadi penyebab umum ileus paralitik. Namun, ada juga faktor-faktor lainnya yang menyebabkan seseorang mengalami ileus paralitik.

1. Penyebab Intraabdomen

Penyebab intraabdomen ileus paralitik di antaranya terdiri dari:

  • Hambatan reflex (laparatomi, trauma abdomen, transplantasi renal)
  • Inflamasi (peritonitis empedu, perdarahan intraperitoneal, pankreatitis akut, luka penetrasi, kolesistitis akut)
  • Infeksi (peritonitis bakteri, herpes)
  • Iskemik (insufisiensi arteri, thrombosis vena, arteritis mesenterik)
  • Trauma radiasi akut
  • Alterasi sel interstitial cajal

2. Penyebab Ekstraabdomen

Penyebab ekstraabdomen ileus paralitik terdiri dari:

  • Hambatan refleks (Infark miokard, operasi bedah jantung, pneumonia, luka bakar, fraktur iga, trauma tulang belakang, emboli paru, tergigit laba-laba)
  • Metabolisme abnormal (Sepsis, diabetes melitus, SLE, hipotiroid, elektrolit tidak seimbang)
  • Obat-obatan (antikolinergik ganglionik, phenotiazines, agen kemoterapetik, opiate, trycyclic anti-depressants)

Gejala Ileus Paralitik

Penderita ileus paralitik umumnya merasakan lebih dari satu gejala ileus paralitik, artinya tidak hanya sebatas satu gejala yang biasanya terjadi di sistem gastrointestinal. Sejumlah gejala yang bisa jadi pertanda adanya penyakit ileus paralitik di antaranya:

  • Perut kram
  • Perut kembung
  • Pembengkakan perut
  • Konstipasi
  • Mual
  • Muntah
  • Tidak bisa buang angin
  • Sulit BAB
  • Demam
  • Tidak nafsu makan

Sekilas, gejala-gejala tersebut tampak seperti gejala penyakit umum. Untuk itu, alangkah baiknya saat Anda mengalami salah satu gejala tersebut, langsung periksakan diri ke dokter untuk dilakukan analisis apakah ini terkait dengan ileus paralitik atau tidak.

Komplikasi Ileus Paralitik

Apabila ileus paralitik tidak segera ditangani, maka penyakit ini menjadi berbahaya dan menimbulkan sejumlah komplikasi. Bahaya ileus paralitik bagi tubuh di antaranya:

  • Infeksi rongga perut
  • Dehidrasi
  • Kematian sel dan jaringan usus
  • Gangguan elektrolit
  • Kerusakan dinding usus

Diagnosis Penyakit Ileus Paralitik

Manakala Anda merasakan gejala ileus paralitik, segera kunjungi dokter terkait guna dilakukan pemeriksaaan lebih lanjut. Dokter akan melakukan sejumlah prosedur diagnosis untuk memastikan gejala-gejala tersebut berhubungan dengan penyakit ileus paralitik.

1. Anamnesis

Pertama-tama, dokter akan melakukan serangkaian wawancara (anamnesis) demi memperjelas kemungkinan risiko ileus paralitik ini. Umumnya, pasien ileus paralitik datang dengan keluhan perut kembung, mual, anoreksia, dan nyeri abdomen.

Selain itu, dokter akan meminta informasi riwayat penyakit keluarga pada pasien guna mendeteksi potensi miopati dan neuropati yang diakibatkan oleh penyakit herediter.

2. Pemeriksaan Fisik

Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dengan cara mendengarkan suara di dalam tubuh (auskultasi). Prosedur auskultasi ini dilakukan dengan sangat hati-hati karena ada kemungkinan suara usus terdengar lemah atau bahkan tidak dapat terdengar sama sekali.

Jika ada indikasi penyakit ileus paralitik, akan terdengar suara dentingan lemah (low pitched gurgle), atau suara air yang bergerak (succusion splash) pada perut.

Komplikasi ileus paralitik dapat terjadi kapan saja sehingga prosedur pemeriksaan fisik ini perlu dilakukan berulang kali untuk mengetahui dan mengantisipasi perubahan yang terjadi.

3. Pemeriksaan Penunjang

Dalam menangani pasien penderita ileus paralitik, dokter juga akan melakukan sejumlah pemeriksaan penunjang.

  • Laboratorium

Tujuan dilakukannya pemeriksaan laboratorium adalah mencari tahu penyakit apa yang menyebabkan ileus paralitik, berikut metode terapi yang nanti akan diterapkan. Pemeriksaan laboratorium ini meliputi cek leukosit, ureum, amilase, kadar elektrolit, dan gula darah.

  • Radiologi

Sementara itu, pemeriksaan radiologi dilakukan guna memastikan diagnosis penyakit ileus paralitik, alih-alih penyakit yang dialami ternyata jenis penyakit ileus lainnya yakni ileus obstruksi. Radiologi juga bertujuan untuk mengetahui penyebab pasti dari ileus paralitik yang diderita.

  • CT-Scan

Pemeriksaan CT-Scan lebih ditujukan untuk men-diferensiasi penyakit ileus paralitik dengan faktor nyeri abdomen lainnya.

  • Manometri Usus Halus

Prosedur pemeriksaan monometri usus halus berguna untuk memberikan tambahan informasi terkait pola motilitas usus. Kendati demikian, prosedur ini belum dilakukan secara masif karena manfaat klinisnya masih abu-abu, sehingga perlu evaluasi lebih lanjut.

Pengobatan untuk Penderita Ileus Paralitik

Sebelum mengambil langkah pengobatan, harus dipastikan terlebih dahulu apa penyebab ileus paralitik. Setelah itu, barulah dokter akan menjalankan prosedur pengobatan untuk penderita ileus paralitik sesuai dengan penyebabnya.

1. Dekompresi

Cara mengobati penyakit ileus paralitik yang pertama dengan melakukan pengosongan isi perut (dekompresi). Pasien akan menjalani rawat inap (opname) dan diberikan cairan infus. Selain itu, dokter juga akan memasang nasogratic tube (NGT) guna menunjang proses dekompresi ini. NGT adalah selang yang dimasukkan dari hidung ke lambung dan fungsinya untuk mengurangi distensi akibat gas, pun rasa mual dan muntah.

2. Terapi Farmakologi

Terapi untuk mengobati ileus paralitik ini dilakukan dengan cara memberikan sejumlah obat-obatan khusus, seperti alvimopan yang berfungsi untuk menghambat motilitas gastrointestinal, sehingga usus dapat bergerak lebih cepat.

3. Mengunyah Permen Karet

Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa mengunyah permen karet ditengarai dapat memancing motilitas usus pasca kolektomi laparoskopik bagi penderita kanker kolorektal. Hal ini dengan asumsi pasien mengonsumsi permen karet sebanyak 3 kali sehari, dan dilakukan sejak operasi selesai.

Pencegahan Ileus Paralitik

Hampir sebagian besar kasus ileus paralitik disebabkan oleh tindakan operasi yang dilakukan pada area perut. Satu-satunya cara mencegah ileus paralitik adalah sebisa mungkin menghindari diri dari penyakit yang mengakibatkan Anda harus menjalani operasi perut.

Jika ternyata Anda terpaksa harus menjalanui operasi pada perut, maka penanganan cepat pasca operasi jadi cara terbaik untuk menggagalkan ileus paralitik.

 

Sumber:

Dairi, Lenonardo basa dkk. Ileus. http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/63269/017%20.pdf?sequence=1 [Diakses pada 14 Februari 2019]


DokterSehat | © 2024 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi