Terbit: 4 Oktober 2021
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Gejala Post COVID Syndrome adalah kondisi yang dapat terjadi pada penyintas COVID-19 meski sudah dinyatakan sembuh atau negatif dari virus Corona. Kondisi ini patut diwaspadai! Simak penjelasan selengkapnya mengenai gejala hingga cara mengatasinya berikut ini.

Gejala Post COVID Syndrome dan Cara Mengatasinya

Apa Itu Post COVID Syndrome?

Post COVID Syndrome adalah kondisi di mana gejala infeksi virus Corona masih dirasakan meski sudah dinyatakan sembuh atau negatif dari COVID-19. Gejala yang juga disebut Long Covid Syndrome ini biasanya sebagai efek COVID-19 yang bertahan selama lebih dari empat minggu setelah didiagnosis positif COVID-19.

Kebanyakan orang yang terinfeksi virus Corona pulih sepenuhnya dalam beberapa minggu. Tetapi beberapa orang – bahkan mereka yang memiliki gejala ringan—terus mengalami gejala setelah pemulihan awal.

Jenis dan Gejala Post COVID Syndrome

Long covid syndrome terbagi menjadi dua jenis berdasarkan gejalanya, termasuk:

1. Gejala baru atau sedang berlangsung

Orang yang lebih tua dan orang dengan beberapa kondisi medis serius adalah yang paling mungkin merasakan gejala COVID-19 berkepanjangan. Namun, anak muda yang sehat pun juga bisa merasakan tidak sehat selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan setelah terinfeksi virus Corona.

Tanda dan gejala Post COVID Syndrome umum yang bertahan dari waktu ke waktu, berikut di antaranya:

  • Kelelahan ekstrem.
  • Sesak napas (dyspnea) atau kesulitan bernapas.
  • Batuk.
  • Nyeri dada atau sesak.
  • Masalah dengan memori dan konsentrasi (tidak fokus).
  • Sulit tidur (insomnia).

Gejala Post COVID Syndrome yang kurang umum, termasuk:

  • Nyeri sendi.
  • Nyeri otot atau sakit kepala.
  • Detak jantung cepat (takikardia) atau berdebar.
  • Kehilangan indra penciuman atau perasa.
  • Demam.
  • Tinnitus, sakit telinga.
  • Sakit perut.
  • Depresi atau kecemasan.
  • Pusing saat berdiri.
  • Rambut rontok
  • Mati rasa atau kesemutan di jari tangan dan kaki.
  • Post-traumatic stress disorder (PTSD) atau gangguan stres pascatrauma.
  • Gejala yang memburuk setelah aktivitas fisik atau mental.

2. Efek multiorgan dari COVID-19

Beberapa orang yang menderita penyakit parah akibat COVID-19 mengalami efek multiorgan atau kondisi autoimun dalam waktu lebih lama. Gejalanya dapat berlangsung berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan setelah sembuh dari COVID-19.

Meskipun COVID-19 sebagai penyakit yang sering kali menyerang paru-paru, tetapi penyakit ini juga merusak banyak organ lainnya. Kerusakan organ ini meningkatkan risiko masalah kesehatan jangka panjang.

Beberapa organ yang mungkin terkena COVID-19 antara lain:

  • Paru-paru. Jenis pneumonia yang sering kali dikaitkan dengan COVID-19 bisa menyebabkan kerusakan jangka panjang pada kantung udara kecil (alveoli) di paru-paru. Terbentuknya jaringan parut dapat menyebabkan masalah pernapasan jangka panjang.
  • Jantung. Tes pencitraan selama berbulan-bulan setelah pemulihan dari COVID-19 telah menunjukkan kerusakan permanen di otot jantung, bahkan pada mereka mengalami gejala COVID-19 ringan. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko gagal jantung atau bahkan komplikasi jantung lainnya di masa depan.
  • Otak. Tidak hanya orang yang lebih tua, orang muda yang terinfeksi COVID-19 dapat terserang stroke, kejang, dan Guillain-Barre syndrome – suatu kondisi yang menyebabkan kelumpuhan sementara. COVID-19 juga bisa meningkatkan risiko terkena penyakit Parkinson dan Alzheimer.

Beberapa orang dewasa dan bahkan anak-anak dapat mengalami sindrom peradangan multisistem setelah terinfeksi COVID-19. Dalam kondisi ini, beberapa jaringan dan organ menjadi sangat meradang.

 

Gejala Post COVID Syndrome yang Masih Belum Diketahui

Masih banyak yang belum diketahui tentang bagaimana COVID-19 memengaruhi seseorang dari waktu ke waktu, tetapi penelitian masih berlangsung. Banyak peneliti menganjurkan agar dokter memantau dengan cermat penyintas COVID-19 untuk melihat bagaimana organ mereka berfungsi setelah pemulihan dari penyakit ini.

Penting untuk Anda ingat bahwa kebanyakan penyintas COVID-19 sembuh dengan cepat. Tetapi potensi gejala jangka panjang dari COVID-19 penting untuk diwaspadai untuk mengurangi penyebaran COVID-19 dengan mengikuti tindakan pencegahan.

Tindakan pencegahan COVID-19, termasuk:

  • Memakai masker.
  • Menjaga jarak.
  • Menghindari kerumunan.
  • Menjaga kebersihan tangan.
  • Makan makanan bergizi.
  • Minum vitamin.
  • Olahraga.
  • Mendapatkan vaksin COVID-19 jika tersedia.

 

Kapan Waktu yang Tepat harus ke Dokter?

Jika dirasa mengalami gejala Post COVID Syndrome atau gejala yang berkepanjangan, segera periksakan ke dokter untuk mendapatkan diagnosis dan pengobatan yang tepat.

Terutama beberapa gejala berikut ini:

  • Nyeri dada yang tiba-tiba atau parah dan tidak kunjung hilang.
  • Nyeri dada secara tiba-tiba yang disertai muntah, mual, berkeringat, atau sesak napas.
  • Nyeri dada tiba-tiba yang disertai dengan hilangnya kesadaran.

Dokter mungkin akan bertanya tentang gejala yang dirasakan dan dampaknya terhadap hidup Anda. Selain itu, dokter mungkin menganjurkan beberapa tes untuk mengetahui lebih lanjut tentang gejalanya dan mengesampingkan kondisi lain yang dapat mendasarinya.

Beberapa tes untuk mendiagnosis long COVID syndrome mungkin termasuk:

  • Tes darah.
  • Memeriksa tekanan darah dan detak jantung.
  • Rontgen dada atau rontgen thorax.

Apakah Post COVID Syndrome Menular?

Biasanya, setelah empat minggu, tes polymerase chain reaction (PCR) jarak jauh adalah negatif, yang berarti tidak menular. Batas untuk menularkan gejala atau virus (dan mengakhiri karantina) adalah ketika seseorang dites negatif pada tes PCR.

Cara Mengobati Post COVID Syndrome

Gejala COVID-19 biasanya akan sembuh dalam waktu 2 sampai 6 minggu. Namun, bagi beberapa penyintas COVID-19 mungkin merasakan efek berkepanjangan setelah sembuh dari penyakit ini. Oleh karenanya, penting untuk segera mendapatkan pengobatan.

Pengobatan rumahan untuk mengendalikan gejala COVID yang berkepanjangan, yaitu dengan mengonsumsi obat pereda nyeri yang dijual bebas (seperti acetaminophen) untuk meredakan gejala nyeri atau demam, serta memperbanyak istirahat agar tubuh rileks.

Menjaga kesehatan secara umum juga penting sebagai penunjang, berikut langkah-langkahnya:

  • Menjalani pola makan sehat.
  • Tidur yang cukup dan berkualitas.
  • Membatasi asupan alkohol dan kafein.
  • Tidak merokok.

Mengingat gejala Post COVID Syndrome adalah kondisi yang tidak stabil dan bervariasi, penyintas mungkin memerlukan pemulihan khusus, bukan pendekatan satu prosedur umum. Perawatan ini dengan perubahan gaya hidup atau jangka panjang.

 

  1. Anonim. 2021. Post-COVID Conditions. https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/long-term-effects/index.html (Diakses pada 4 Oktober 2021)
  2. Anonim. 2021. Meski Tidak Menular, Long Covid-19 Tetap Diwaspadai. https://covid19.go.id/p/berita/meski-tidak-menular-long-covid-19-tetap-diwaspadai (Diakses pada 4 Oktober 2021)
  3. Anonim. 2021. Long-term effects of coronavirus (long COVID). https://www.nhs.uk/conditions/coronavirus-covid-19/long-term-effects-of-coronavirus-long-covid/ (Diakses pada 4 Oktober 2021)
  4. Mayo Clinic Staff. 2021. COVID-19 (coronavirus): Long-term effects. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/coronavirus/in-depth/coronavirus-long-term-effects/art-20490351 (Diakses pada 4 Oktober 2021)
  5. Sissons, Beth. 2021. What to know about long COVID. https://www.medicalnewstoday.com/articles/long-covid. (Diakses pada 4 Oktober 2021)


DokterSehat | © 2022 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi