Terbit: 23 June 2019
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com – Tentunya, tidak ada orang yang ingin mengalami cedera kepala, terlebih jika itu adalah cedera kepala yang parah. Pada beberapa kasus, cedera kepala bisa mengakibatkan terjadinya Epidural Hematoma.

Epidural Hematoma: Penyebab, Gejala, Pengobatan, dan Lainnya

Kasus Epidural Hematoma adalah kasus yang bisa merenggut nyawa korbannya jika lambat ditangani. Oleh karena itu, penting bagi Anda untuk mengetahui beberapa informasi penting dan bermanfaat terkait Hematoma Epidural.

Penjelasan ini akan memaparkan apa itu Epidural Hematoma, penyebab, gejala, diagnosis, komplikasi, pengobatan, dan pencegahan Epidural Hematoma. Simaklah selengkapnya!

Apa itu Epidural Hematoma?

Epidural Hematoma adalah kasus pendarahan intrakranial akibat keretakan tulang tengkorak. Lokasi pendarahan yang terjadi pada kasus Hematoma Epidural terletak di antara tulang tengkorak dan duramater.

Duramater adalah lapisan yang menyelimuti otak dan terletak tepat di bawah tulang tengkorak. Keretakan tulang tengkorak karena alasan tertentu menyebabkan robeknya lapisan duramater, pembuluh darah, atau lapisan internal otak.

Akibatnya, darah di dalam pembuluh pun keluar dan menumpuk pada rongga di antara skull dan duramater. Pendarahan tersebut bisa membuat otak mengalami pembengkakan atau pergeseran yang bisa berakibat fatal pada otak bahkan kematian.

Penyebab Epidural Hematoma

Pada umumnya, Hematoma Epidural terjadi karena trauma fisik yang menyebabkan cedera kepala. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan penyebab Epidural Hematoma bersifat non-trauma seperti tumor otak, infeksi, malformasi pembuluh darah, dan koagulopati.

Trauma fisik pada cedera kepala yang bisa memicu terjadinya Epidural Hematoma adalah tabrakan atau kecelakaan, kekerasan fisik, jatuh, benturan, atau cedera saat berolahraga seperti senam, sepakbola, berkuda, dan lainnya.

Berikut ini adalah beberapa faktor risiko yang meningkatkan peluang terjadinya Epidural Hematoma:

  1. Usia – Semakin muda usianya, semakin rentan terkena Epidural Hematoma. Ini dikarenakan orang yang masih muda memiliki rongga yang lebih besar antara tulang tengkorak dan duramater, sehingga memudahkan terjadinyapendarahan. Orang dengan usia yang masih muda juga cenderung memiliki aktivitas fisik yang lebih banyak, sehingga meningkatkan peluang cedera kepala. Umumnya, usia pasien Epidural Hematoma adalah 20-30 tahun.
  2. Jenis kelamin – Laki-laki cenderung mengalami Epidural Hematoma karena tingkat aktivitas fisik yang lebih tinggi dan lebih berisiko.
  3. Aktivitas fisik yang tinggi dan berisiko – Atlit atau orang tertentu dengan pekerjaan berisiko meningkatkan peluang terjadinya cedera kepala.
  4. Bayi, balita, dan anak-anak – Bayi, balita, dan anak-anak memiliki risiko Epidural Hematoma yang lebih tinggi karena kemampuan fisiknya yang masih rendah, terlebih yang belum bisa berjalan. Anak-anak juga sering kali tidak memperhitungkan risiko ketika ingin melakukan sesuatu. Contohnya, melompat tanpa melihat ada benda di atas kepalanya.
  5. Lansia – Meskipun lansia memiliki rongga duramater dan skull yang sedikit, tetapi kelompok usia ini memiliki faktor risiko Hematoma Epidural yang tinggi. Pasalnya, lansia mudah terjatuh atau mengalami trauma fisik secara tidak sengaja.
  6. Ibu hamil – Sama seperti lansia dan anak-anak, ibu hamil juga rentan terjatuh yang memungkinkan terjadinya cedera kepala, sehingga faktor risiko Epidural Hematoma pun lebih tinggi.
  7. Berkendara secara tidak aman – Orang yang suka berkendara secara tidak aman memiliki peluang yang lebih tinggi untuk mengalami Epidural Hematoma. Contohnya, mengemudi motor tanpa helm, mengemudi mobil tanpa sabuk pengaman, mengendarai kendaraan melebihi kecepatan yang dianjurkan, dan lainnya
  8. Pengguna obat pengencer darah – Pasien yang sedang melakukan terapi obat pengencer darah cenderung mengalami pendarahan intrakranial yang lebih mudah bila terjadi cedera kepala karena darah dihambat pembekuannya.
  9. Pecandu alkohol atau narkoba – Para pecandu zat-zat tersebut sering kali tidak sadarkan diri, sehingga secara sengaja maupun tidak sengaja mengakibatkan trauma fisik di kepalanya yang berisiko menjadi kasus Hematoma Epidural.

Gejala  Epidural Hematoma

Gejala Epidural Hematoma yang dialami oleh pasien bervariasi. Hal tersebut tergantung pada tingkat keparahannya mulai dari ringan hingga berat. Gejala Hematoma Epidural bisa langsung terasa dalam hitungan menit tetapi juga baru terasa setelah beberapa jam.

Inilah beberapa gejala Epidural Hematoma yang umum terjadi:

  1. Pusing terus menerus
  2. Sakit kepala parah
  3. Muncul rasa kantuk
  4. Mual dan muntah
  5. Mengalami kebingungan
  6. Sesak napas
  7. Jatuh pingsan

Kapan harus ke dokter?

Segeralah memeriksakan diri ke dokter jika Anda mengalami gejala seperti sakit kepala yang parah, sesak napas, mual dan muntah pasca trauma di kepala. Hal ini bertujuan agar Epidural Hematoma bisa segera didiagnosis dan dilakukan pengobatan.

Diagnosis Epidural Hematoma

Dokter akan melakukan tindakan tertentu untuk menegakkan diagnosis Epidural Hematoma, terutama jika gejala-gejala yang dialami pasien cukup kuat mengarah pada kasus ini

Inilah beberapa tes diagnosis yang mungkin akan dilakukan oleh dokter:

1. CT Scan

CT scan merupakan diagnosis andalan yang paling tua di dalam dunia kedokteran. Diagnosis pencitraan dengan memanfaatkan sinar-X ini bisa membantu dokter untuk mengetahui kondisi pendarahan di dalam tulang tengkorak.

2. MRI (Magnetic Resonance Imaging)

Diagnsis Epidural Hematoma juga bisa dilakukan dengan menggunakan MRI otak. Tindakan ini dilakukan bila hasil pencitraan CT scan kurang jelas. Pasalnya, MRI memiliki hasil gambar yang lebih sensitif daripada CT scan.

3. Angiografi

Angiografi juga merupakan salah satu dari tindakan yang dipilih dokter untuk menegakkan diagnosis Epidural Hematoma. Tindakan Angiografi memiliki tujuan untuk mengetahui keberadaan luka di kepala.

Komplikasi  Hematoma Epidural

Hematoma Epidural bisa menimbulkan beberapa komplikasi yang serius bahkan berpotensi mengancam jiwa. Komplikasi Epidural Hematoma biasanya akan dialami oleh pasien jika insiden cedera kepala tidak segera ditangani dengan tepat.

Berikut ini adalah beberapa komplikasi dari kasus Epidural Hematoma:

  1. Kejang-kejang
  2. Gangguan penglihatan
  3. Salah satu sisi tubuh lebih lemah
  4. Pergeseran batang otak (kompresi otak)
  5. Kerusakan otak permanen
  6. Koma
  7. Kematian

Pengobatan  Epidural Hematoma

Orang yang telah didiagnosis mengalami Epidural Hematoma seharusnya segera mendapatkan pengobatan yang tepat. Ini bertujuan agar komplikasinya bisa dihindari dan pasien bisa kembali sehat.

Berikut ini adalah beberapa pengobatan Epidural Hematoma yang bisa dilakukan:

1. Operasi

Pada banyak kasus, tindakan operasi diambil sebagai pengobatan tahap akhir jika terapi obat-obatan dan lainnya tidak mampu mengatasi penyakit tersebut. Akan tetapi, ini tidak berlaku untuk kasus Hematoma Epidural karena operasi adalah satu-satunya jalan yang dinilai efektif untuk mengobati Epidural Hematoma.

Tindakan operasi sering direkomendasikan oleh dokter untuk segera mengangkat pendarahan yang terjadi di intrakranial pasien. Operasi yang dilakukan akan membedah tulang tengkorak pasien untuk menghilangkan pendarahan atau hematoma, sehingga komplikasi pun bisa dicegah.

2. Terapi obat

Terapi obat yang dilakukan merupakan obat pra-bedah atau obat simptomatik. Ada obat tertentu yang diberikan sebelum operasi. Obat yang diberikan bertujuan untuk mengurangi peradangan di intrakranial. Ada pula obat simptomatik, yaitu obat anti-kejang yang bisa mencegah gejala kejang.

3. Rehabilitasi

Pengobatan ini sebenarnya bersifat perawatan pasca operasi atau jika ternyata pasien sudah terlanjur mengalami komplikasi Epidural Hematoma. Rehabilitasi yang direkomendasikan seperti fisioterapi, terapi okupasi, dan lainnya.

Perawatan Epidural Hematoma ini bertujuan untuk membantu kemampuan fisik pasien yang mengalami kelemahan di salah satu sisi tubuh, susah berjalan atau lumpuh, atau inkontinensia (‘beser’).

Pencegahan Hematoma Epidural

Cukup menyeramkan bukan komplikasi yang bisa terjadi akibat kasus Epidural Hematoma? Terlebih lagi, mau tak mau Anda harus menjalani operasi bila ingin mengobati Hematoma Epidural secara efektif. Memang benar bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati.

Oleh karena itu, penting bagi Anda untuk mengetahui pencegahan Epidural Hematoma, inilah beberapa caranya:

  1. Fokuslah ketika melakukan sesuatu, sehingga sadar akan bahaya yang mungkin terjadi
  2. Selalu mematuhi aturan berkendara (memakai helm, sabuk pengaman, dan lainnya)
  3. Hindari penggunaan narkoba dan konsumsi alkohol
  4. Hati-hati beraktivitas jika sedang hamil atau menggunakan obat pengencer darah
  5. Awasi anak-anak Anda terutama yang masih bayi dan balita
  6. Perhatikan risiko bahaya yang mungkin terjadi pada aktivitas atau olahraga yang hendak dilakukan
  7. Istirahat yang cukup agar konsentrasi dan refleks ketika ada cedera
  8. Hindari kejadian yang berisiko terhadap kekerasan fisik
  9. Jangan melewati area yang rawan tindakan kriminalitas
  10. Menguasai bela diri bisa mencegah kekerasan fisik yang disengaja

 

Sumber:

  1. NCBI: Ali Khairat dan Muhammad Waseem. 2018. Epidural Hematoma. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK518982/ [diakses pada 21 Juni 2019]
  2. Healthline: Epidural Hematoma. https://www.healthline.com/health/epidural-hematoma
    https://www.healthline.com/health/epidural-hematoma [diakses pada 21 Juni 2019]
  3. MedicalNewsToday: Jenna Fletcher. What is an epidural hematoma?  https://www.medicalnewstoday.com/articles/320260.php [diakses pada 21 Juni 2019]

DokterSehat | © 2024 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi