Terbit: 28 September 2018
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.com – Muntah darah adalah ketika seseorang memuntahkan sesuatu dari mulutnya, yang disertai dengan darah. Muntah darah biasanya berasal dari saluran pencernaan bagian atas seperti lambung dan kerongkongan (esofagus), namun juga dapat berasal dari perdarahan hidung yang tertelan, yang menjadi penyebab muntah darah.

Penyebab Muntah Darah secara Tiba-Tiba

Pernahkah Anda melihat orang sehat tiba-tiba muntah darah? Apa yang terjadi dengan tubuhnya? Pada dasarnya gejala muntah darah setiap orang hampir sama, tetapi memiliki penyebab muntah darah yang berbeda-beda.

Terdapat penelitian yang mengungkapkan, penyebab muntah darah disebabkan oleh beberapa penyakit, salah satunya adalah sirosis hati. Penyakit muntah darah merupakan komplikasi akibat kerusakan organ hati atau lever.

 

Kondisi ini membuat organ hati sebagian besar sudah tidak berfungsi normal. Jaringan hati sudah berubah sifat, bukan lagi jaringan hati normal melainkan menjadi jaringan ikat yang disebut sirosis.

Penyebab sirosis harus diketahui melalui pemeriksaan laboratorium, perlu dilakukan pemeriksaan patologi anatomi (PA) untuk melihat jenis jaringan hati seperti apa persisnya. Dokter perlu mengambil serpihan jaringan dengan jarum khusus untuk diperiksa (biopsi hati).

Sirosis merupakan kondisi terakhir kerusakan hati oleh penyebab yang beragam. Mulai dari kelainan hati, bawaan lahir, penyakit infeksi hati (hepatitis), keracunan obat hingga keracunan bahan aflatoxin (kacang-kacangan, umbi-umbian busuk) dan alkoholik (peminum alkohol berat).

Dari riwayat orang yang mengidap sirosis akan terungkap apa penyebabnya. Sebagai contohnya, peminum jamu rumahan lebih rentan terkena kerusakan hati oleh aflatoxin karena bahan baku pembuat jamunya busuk.

Cara menyimpan bahan kacang-kacangan, umbi-umbian, padi-padian yang tidak benar, akan menumbuhkan jamur khusus yang memproduksi aflatoxin. Jamu dari bahan yang tercemar jamur umumnya mengalami perubahan rasa.

Sebagian pasien lain diduga sering mengonsumsi alkohol pada masa lalu, sehingga menyebabkan mengalami sirosis.

Pemeriksaan Laboratorium dan Diagnosis Muntah Darah

Organ hati adalah organ paling tangguh beradaptasi dengan kerusakan yang dialami akibat muntah darah. Meski begitu, sebagian besar pasien tidak merasakan keluhan meski organ hatinya mendadak rusak.

Rasa mual-mual seperti sakit maag atau perasaan mengganjal di perut kanan adalah beberapa gejala yang bisa dikenali. Oleh sebab itu, pemeriksaan laboratorium perlu dilakukan sebelum sebagian besar organ mengalami kerusakan, karena gejalanya sering kali tidak jelas.

Pada kasus yang lebih parah, tidak ada petunjuk jelas yang menandakan kalau penyakit muntah darah sudah dideritanya selama bertahun-tahun. Beberapa orang menyalahkan mengapa kerusakan hati tidak cepat disadari. Setelah muntah darah baru tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres di dalam tubuhnya.

Dengan membaca fungsi hati dari darah akan terungkap sudah seperti apa kondisi hati seseorang. SGPT dan SGOT yang meninggi menggambarkan kondisi fungsi hati bermasalah. SGOT dan SGPT adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui seberapa baik fungsi hati dan organ lainnya.

Apabila dokter mencurigai ada yang tidak beres dengan hati, perlu ditindaklanjuti pemeriksaan lab hati yang menjurus, misal GAMMA-GT dan ALPHA-FETO PROTEIN. Selain itu, pemeriksaan lanjutan bisa dilakukan dengan melihat dari hasil biopsi dan melihat patologi anatomi jaringan yang diambil dari hati.

Bendungan Pembuluh Darah Hati

Gejala muntah darah adalah salah satu komplikasi bila kerusakan hati sudah meluas. Karena jaringan hati berubah, darah yang mengalir memasuki hati mengalami hambatan.

Darah yang menuju ke hati berasal dari usus selain limpa. Bila di hati darah tidak bisa mengalir lancar karena pembuluh darah sudah mengalami perubahan sehubungan dengan kerusakan hati, darah terbendung pada seluruh saluran yang menuju dan keluar dari hati.

Bendungan darah menimbulkan pelebaran pipa pembuluh darah yang terkait dengan saluran darah yang menuju maupun yang keluar dari hati (sistem portal). Pipa pembuluh darah akan terus melebar sampai titik pelebaran tertentu, lalu tiba saatnya pecah. Salah satunya pembuluh darah yang berada pada dinding kerongkongan leher (esofagus).

Pecahnya pembuluh darah esofagus yang sudah berusaha melebar maksimal itulah yang menimbulkan gejala muntah darah. Ini adalah sebuah kondisi berbahaya yang harus segera ditanggulangi agar darah tidak terus terbuang.

Tindakan sementara yang bisa dilakukan adalah melakukan penekanan di daerah pecahnya pembuluh darah (tamponade). Selain itu, pemberian infus obat yang mengendurkan tekanan pembuluh darah hati yang meninggi akibat adanya bendungan darah di dalam hati (portal hypertension) juga diperlukan.

Selanjutnya, limpa sebagai pemasok darah ke hati perlu dikorbankan untuk dibuang, agar sumber curahan darah ke hati berkurang, dan tekanan pembuluh darah ke hati lebih mengendur, sehingga risiko pecahnya pembuluh darah lain bisa diredam.

Transplantasi Hati

Apakah jika muntah darah sudah teratasi, hal itu bisa menyelesaikan persoalan? Jawabannya adalah tidak.

Selama hati tidak mampu mengalirkan darah yang melaluinya agar bisa lancar, kemungkinan muntah darah berulang, atau pecahnya pembuluh darah lain di dalam pencernaan tidak terhindarkan.

Transplantasi hati diperlukan jika sebagian besar organ telah rusak. Organ hati yang sudah rusak tidak mungkin sembuh.

Organ hatinya diganti dari donor, tergantung seberapa besar kerusakan, penggantian organ hati bisa sebagian (dari donor hidup) dengan meminta sebagian hatinya, atau ganti seluruhnya (dari donor mati).

 

Selama hati belum diganti, bukan saja ancaman pecahnya pembuluh darah hati akan bermasalah, fungsi hati yang terus menurun juga berdampak pada kondisi tubuh lainnya. Menurunnya fungsi hati bisa menyebabkan koma.

Bendungan empedu menimbulkan penyakit kuning yang kemudian bisa menjalar pada ginjal, pencernaan, dan akhirnya menimbulkan koma—karena tubuh sudah keracunan akibat fungsi hati yang sudah sangat buruk.

Selain itu tungkai dan perut bengkak juga bisa terjadi akibat terbendungnya cairan (oedema) karena protein penahan cairan yang diproduksi hati menurun.


DokterSehat | © 2024 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi