Terbit: 20 January 2018 | Diperbarui: 22 August 2023
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: dr. Aloisia Permata Sari Rusli

Terkadang konsumsi obat selama hamil tidak dapat dihindari. Namun, jika ingin bayi lahir sehat maka Anda tidak boleh sembarangan konsumsi obat. Simak penjelasan tentang konsumsi obat saat hamil, mudai dari pengaruhnya, jenis obat yang aman dan tidak, hingga tips minum obat saat hamil, di sini! 

Bolehkah Ibu Hamil Konsumsi Obat-obatan? Cek Jenisnya Dulu!

Pengaruh Obat Bagi Janin

Ketika Anda sedang hamil atau merencanakan kehamilan, maka penting untuk memerhatikan obat yang akan dikonsumsi. Kebanyakan obat resep atau obat bebas tidak dilakukan pengujian keamanan pada ibu hamil, sehingga efeknya tidak diketahui. 

Anda mungkin tidak merasakan masalah yang serius setelah konsumsi obat. Namun, ternyata obat ini dapat melewati plasenta dan masuk ke air ketuban. Bayi yang lahir dari ibu yang konsumsi obat tertentu, diketahui memiliki masalah pada pertumbuhannya. 

Studi menunjukkan bahwa konsumsi obat, baik legal maupun ilegal, selama hamil memiliki efek langsung terhadap janin. 

Beberapa efek yang dapat timbul pada janin akibat konsumsi obat saat hamil, antara lain:

  • Kelahiran prematur. Bayi lahir saat usia kehamilan kurang dari 37 minggu. Bayi yang lahir terlalu cepat dapat memiliki banyak masalah kesehatan saat lahir dan dikemudian hari.
  • Berat badan lahir rendah. Bayi yang lahir kurang dari 2.500 gram memiliki risiko kematian bayi yang lebih tinggi dibandingkan dengan bayi yang lahir dengan berat badan normal. 
  • Kelainan kongenital (cacat lahir). Kelainan pada struktur atau fungsi tubuh sejak dalam kandungan. Kelainan ini dapat memengaruhi penampilan, kesehatan, maupun cara kerja tubuh. 
  • Keguguran. Janin meninggal dalam kandungan pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu. 
  • Bayi lahir mati. Janin yang meninggal dalam kandungan pada usia kehamilan lebih dari 20 minggu.
  • Sudden infant death syndrome (SIDS). Kematian bayi di bawah 1 tahun yang tidak diketahui penyebabnya. Kematian ini biasanya terjadi saat bayi sedang tidur. 

Baca JugaMudah Dilakukan, Ini 8 Cara Mengatasi Sakit Punggung saat Hamil

Jenis Obat yang Aman Dikonsumsi saat Hamil

Sakit dan rasa tidak nyaman pada tubuh bisa menyerang siapa saja, tidak terkecuali ibu hamil. Oleh sebab itu, penting untuk mengetahui obat yang aman dikonsumsi saat hamil atau mempersiapkan kehamilan.

Beberapa obat yang diketahui aman dikonsumsi oleh bumil, antara lain:

1. Paracetamol

Paracetamol merupakan obat yang digunakan untuk mengatasi rasa nyeri dan demam. Obat ini dijual bebas di apotek dan tidak butuh resep dokter. 

Paracetamol sudah digunakan oleh wanita hamil selama bertahun-tahun dan hingga saat ini tidak dilaporkan adanya efek berbahaya pada perkembangan janin. Oleh sebab itu, obat ini umumnya direkomendasikan sebagai penghilang rasa sakit pada wanita hamil. 

Banyak studi yang menunjukkan bahwa wanita yang konsumsi paracetamol pada trimester pertama tidak memiliki risiko yang lebih tinggi untuk memiliki bayi dengan cacat lahir. 

2. Dextromethorphan

Jika Anda mengalami batuk yang mengganggu selama hamil, maka Anda dapat konsumsi obat dengan kandungan dextromethorphan. Kandungan ini umumnya ditemukan pada obat batuk yang dijual bebas di apotek. 

Beberapa penelitian pada manusia meneliti tentang keamanan dextromethorphan pada janin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ditemukan hubungan antara obat dan kenaikan risiko cacat lahir pada bayi yang ibunya konsumsi dextromethorphan selama hamil. 

3. Guaifenesin

Bumil yang mengalami batuk berdahak saat hamil dapat konsumsi obat yang mengandung bahan aktif guaifenesin. Kandungan ini diketahui aman untuk dikonsumsi selama hamil, kecuali saat trimester pertama.

Oleh sebab itu, jika mengalami batuk berdahak saat hamil trimester pertama sebaiknya Anda melakukan konsultasi ke dokter untuk mendapatkan obat dan penanganan yang tepat.

4. Chlorphenamine

Mengalami alergi sangat tidak nyaman dan dapat membahayakan nyawa. Beberapa orang mengalami gatal-gatal hingga sesak napas. Oleh sebab itu, alergi tidak boleh dianggap enteng.

Jika mengalami alergi saat hamil, Anda dapat konsumsi obat antihistamin berupa chlorphenamine. Bahan aktif ini diketahui tidak memiliki hubungan dengan cacat lahir, keguguran, dan bayi lahir mati, sehingga aman dikonsumsi oleh ibu hamil.

Namun, untuk memastikan keamanannya, Anda disarankan untuk melakukan konsultasi dengan dokter jika mengalami reaksi alergi saat hamil. Selain itu, Anda juga perlu menghindari pemicu alergi selama hamil. 

5. Lactulose

Sembelit atau konstipasi merupakan hal yang umum terjadi pada wanita hamil. Kondisi ini dapat terjadi karena kenaikan jumlah hormon progesteron pada tubuh. 

Obat yang diketahui aman dikonsumsi oleh bumil yang sembelit, salah satunya adalah lactulose. Obat ini merupakan jenis gula yang tidak dapat dicerna tubuh dan dapat menarik air ke usus. Akibatnya, feses menjadi lebih lunak dan dapat bergerak dengan lebih baik. 

Hingga saat ini, belum ada penelitian yang membuktikan bahwa konsumsi lactulose selama hamil menyebabkan masalah pada perkembangan janin dalam kandungan maupun saat lahir. 

Obat yang Harus Dihindari Ibu Hamil

Selain mengetahui obat yang aman untuk ibu hamil, Anda juga perlu waspada dengan obat yang perlu dihindari karena memberikan efek terhadap janin.

Beberapa jenis obat yang perlu dihindari oleh bumil, antara lain:

1. Ibuprofen

Ibuprofen merupakan obat penghilang rasa sakit yang dapat dibeli bebas di apotek dan tidak jarang dokter juga akan meresepkan obat ini. Ibuprofen termasuk dalam golongan obat non-steroidal anti-inflammatory (NSAID). 

Penggunaan ibuprofen selama kehamilan tidak dianjurkan, terutama pada usia kehamilan di 30 minggu ke atas, kecuali memang diresepkan oleh dokter. 

Konsumsi ibuprofen atau obat golongan NSAID lain saat usia kehamilan 30 minggu ke atas dapat menyebabkan pembuluh darah ductus arteriosus menutup selama dalam kandungan. Ductus arteriosus merupakan pembuluh darah yang mengalirkan darah keluar paru-paru janin. 

Jika pembuluh darah ini tertutup maka darah akan menumpuk di paru-paru, sehingga dapat menyebabkan tekanan berlebih di dalam paru paru, yang akhirnya terjadi kematian pada janin.

2. Aspirin

Aspirin juga merupakan obat yang dapat membantu menurunkan demam dan rasa nyeri. Obat ini umumnya tidak dianjurkan untuk dikonsumsi selama hamil, kecuali diresepkan oleh dokter. 

Terkadang, dokter akan memberikan aspirin kepada bumil dengan dosis yang rendah jika bumil menderita kelainan penggumpalan darah atau memiliki riwayat preeklampsia. 

Konsumsi aspirin dosis tinggi pada trimester pertama kehamilan dapat meningkatkan risiko keguguran. Selain itu konsumsi aspirin dan obat NSAID lain selama hamil dapat menyebabkan masalah ginjal langka pada janin. 

3. Dekongestan

Obat jenis ini banyak dikonsumsi saat sakit pilek. Pada umumnya, obat dekongestan mengandung pseudoephedrine yang dapat membantu melegakan hidung tersumbat dengan cara mempersempit pembuluh darah. 

Dekongestan tidak dianjurkan untuk dikonsumsi wanita yang sedang hamil karena obat ini dapat menurunkan aliran darah ke janin. Kurangnya aliran darah berarti aliran oksigen dan nutrisi juga terganggu, dengan demikian risiko gangguan perkembangan janin juga meningkat.

Jika mengalami pilek yang mengganggu, Anda disarankan untuk melakukan konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. 

Tips Minum Obat saat Hamil

Pada beberapa kondisi, sakit yang terus dibiarkan justru akan membahayakan ibu dan janin dalam kandungan. Beberapa kondisi memang perlu obat untuk membuat tubuh menjadi lebih baik. 

Beberapa hal yang perlu diperhatikan jika ingin konsumsi obat saat hamil, antara lain:

1. Hindari Konsumsi Obat Sembarangan

Kondisi hamil membuat Anda tidak bisa konsumsi sembarang obat. Oleh sebab itu, pastikan untuk selalu bertanya kepada dokter kandungan sebelum memutuskan untuk minum obat apapun. 

Jika mengalami tidak enak badan atau sakit yang mengganggu aktivitas, Anda perlu melakukan konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan obat yang tepat.

2. Perhatikan Label pada Kemasan Sebelum Konsumsi

Sebelum minum obat, Anda perlu melakukan pemeriksaan terhadap tanggal kadaluarsa, peringatan obat, komposisi obat, serta bentuk obat. Pemeriksaan ini dapat membantu Anda terhindar dari obat yang rusak atau obat yang tidak boleh dikonsumsi ibu hamil.

Jika dokter memberikan resep antibiotik, maka Anda perlu konsumsi sesuai dengan anjuran dokter. Pastikan untuk selalu menghabiskan obat antibiotik dan minum sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan dokter.

Baca JugaPayudara Sakit saat Hamil: Penyebab dan Cara Mengatasi

3. Informasikan Riwayat Alergi

Jika Anda memiliki riwayat alergi terhadap obat tertentu, maka penting untuk mencatat reaksi alergi dan obat yang pernah dikonsumsi. 

Langkah ini dapat membantu Anda untuk terhindar dari reaksi obat yang baru diresepkan oleh dokter. Beberapa reaksi alergi obat yang dapat timbul, antara lain muntah, sakit kepala, jantung berdebar, keringat dingin, mata bengkak, dan muntah.

4. Beli Obat yang Sudah Memiliki Sertifikasi

Pastikan Anda untuk membeli obat yang sudah terdaftar oleh Badan POM (Pengawas Obat dan Makanan), termasuk jika akan membeli obat herbal. 

Badan POM akan melakukan pengujian terhadap produk yang akan didaftarkan sehingga produk tersebut sudah dipastikan aman dan tidak memberikan efek buruk pada tubuh.

Konsumsi obat selama hamil memang tidak bisa sembarangan karena beberapa jenis obat dapat memberikan efek buruk pada kehamilan dan janin. Oleh sebab itu, penting untuk selalu menjaga kesehatan tubuh dan menghindari penyebab alergi. Jika sakit, Anda perlu melakukan konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan obat yang tepat dan aman untuk ibu hamil. 

  1. Bumps. 2017. Paracetamol. https://www.medicinesinpregnancy.org/Medicine–pregnancy/Paracetamol/. (Diakses pada 5 April 2023).
  2. Bumps. 2018. Treating Constipation during Pregnancy. https://www.medicinesinpregnancy.org/Medicine–pregnancy/Lactulose/. (Diakses pada 5 April 2023).
  3. Bumps. 2019. Chlorphenamine. https://www.medicinesinpregnancy.org/Medicine–pregnancy/Chlorphenamine/. (Diakses pada 5 April 2023).
  4. Bumps. 2019. Ibuprofen. https://www.medicinesinpregnancy.org/Medicine–pregnancy/Ibuprofen/. (Diakses pada 5 April 2023).
  5. Bumps. 2019. Treatment Of Allergic Rhinitis. https://www.medicinesinpregnancy.org/Medicine–pregnancy/Decongestants/. (Diakses pada 5 April 2023).
  6. Bruce, Debra Fulghum. 2021. Drug Use and Pregnancy. https://www.webmd.com/baby/drug-use-and-pregnancy. (Diakses pada 5 April 2023).
  7. Cleveland Clinic. 2018. Medicine Guidelines During Pregnancy. https://my.clevelandclinic.org/health/drugs/4396-medicine-guidelines-during-pregnancy. (Diakses pada 5 April 2023).
  8. Erebara, Aida, et al. 2008. Treating The Common Cold During Pregnancy. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2377219/. (Diakses pada 5 April 2023).
  9. March of Dimes. 2022. Prescription Medicine During Pregnancy. https://www.marchofdimes.org/find-support/topics/pregnancy/prescription-medicine-during-pregnancy. (Diakses pada 5 April 2023).
  10. Marnach, Mary. 2022. Is It Safe To Take Aspirin During Pregnancy? https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/pregnancy-week-by-week/expert-answers/aspirin-during-pregnancy/faq-20058167. (Diakses pada 5 April 2023).
  11. Mosley, Anita T. dan Amy P. Witte. 2013. Drugs in Pregnancy: Do the Benefits Outweigh the Risks? https://www.uspharmacist.com/article/drugs-in-pregnancy-do-the-benefits-outweigh-the-risks-43164. (Diakses pada 5 April 2023).


DokterSehat | © 2024 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi