Terbit: 2 December 2022
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: dr. Sheila Amabel

Prehipertensi adalah kondisi ketika tekanan darah seseorang meningkat tetapi tidak cukup tinggi untuk dianggap sebagai hipertensi. Simak penjelasan mengenai gejala hingga penanganannya di bawah ini.

Hal-hal Penting Seputar Prehipertensi yang Perlu Anda Ketahui

Apa itu Prehipertensi?

Secara medis, prehipertensi bukanlah penyakit dan biasanya tidak menimbulkan gejala. Namun, prehipertensi bisa membuat seseorang berisiko terkena hipertensi dan masalah jantung.

Prehipertensi terjadi saat tekanan darah sistolik sekitar 120-139 mmHg dan tekanan darah diastolik sebesar 80-89 mmHg. Sebagai informasi, tekanan darah yang normal adalah di bawah angka 120/80 mmHg.

Gejala Prehipertensi

Pada umumnya, kondisi ini tidak menimbulkan gejala sehingga banyak orang tidak menyadari kondisi yang dialaminya.

Namun, jika seseorang mengalami krisis hipertensi dengan tekanan darah 180/120 mm Hg atau lebih tinggi, gejala yang bisa muncul adalah sakit kepala dan mimisan. Krisis hipertensi adalah keadaan darurat medis dan membutuhkan perhatian medis darurat.

Berbagai gejala yang berpotensi terkait dengan tekanan darah tinggi, termasuk:

  • Bercak darah di mata.
  • Kulit wajah kemerahan.
  • Pusing.

Baca juga: 11 Gejala Darah Tinggi (Hipertensi) yang Harus Diwaspadai

Penyebab Prehipertensi

Kondisi ini dapat berkembang karena berbagai alasan, berikut di antaranya:

  • Asupan natrium berlebih. Natrium dapat meningkatkan tekanan darah di arteri. Contoh makanan tinggi natrium termasuk daging olahan, sup, saus kemasan, dan makanan kemasan lainnya.
  • Kurangnya aktivitas fisik. Gaya hidup yang tidak banyak bergerak bisa meningkatkan kekuatan darah di arteri. Hal ini karena olahraga dapat memperkuat jantung, membantunya memompa darah dengan lebih efisien.
  • Kurang tidur. Tekanan darah secara alami akan menurun selama tidur. Tetapi jika tidak cukup tidur, tekanan darah mungkin akan tetap tinggi untuk waktu yang lebih lama.
  • Merokok. Bahan kimia dalam nikotin dapat menyebabkan penyempitkan pembuluh darah yang meningkatkan tekanan darah.
  • Alkohol. Konsumsi minuman beralkohol berlebih juga dapat meningkatkan tekanan darah dengan menyempitkan pembuluh darah Anda.

Faktor Risiko

Terdapat sejumlah faktor risiko terkait dengan prehipertei dan hipertensi, antara lain:

  • Lansia berusia lebih dari 65 tahun.
  • Kelebihan berat badan.
  • Berkulit hitam non-Hispanik.
  • Menderita diabetes.
  • Memiliki riwayat keluarga hipertensi.

Diagnosis Prehipertensi

Seperti dijelaskan sebelumnya, tekanan darah tinggi biasanya tidak menimbulkan gejala. Hal itu berarti seseorang tidak akan tahu jika tingkat tekanan darah meningkat.

Satu-satunya cara untuk mengetahui apakah Anda mengalami prehipertensi adalah dengan mengukur tekanan darah.

Untuk memeriksakan tekanan darah, lakukan langkah berikut ini:

  • Mengunjungi dokter.
  • Menggunakan mesin pengukur tekanan darah misalnya di rumah, apotik, klinik, ataupun rumah sakit.

Jika sudah lama tidak memeriksa tekanan darah, sebaiknya pertimbangkan untuk mengunjungi dokter. Dengan cara ini, Anda bisa memastikan pembacaannya dengan akurat.

Dokter juga dapat memberikan saran tentang cara bagaimana memeriksa tekanan darah di rumah dan apa yang harus dilakukan jika tekanan darah di luar batas normal.

Jika Anda memiliki tekanan darah tinggi, dokter mungkin merekomendasikan pemeriksaan yang lebih sering. Seberapa rutin pemeriksaan bergantung pada riwayat medis dan keluarga

Pengobatan Prehipertensi

Tidak ada pengobatan khusus untuk mengatasi kondisi ini, namun mendeteksi sejak dini bisa membantu mencegah seseorang terkena hipertensi dan risiko yang terkait.

Orang dengan prehipertensi mungkin memerlukan perubahan gaya hidup, termasuk:

  • Mengonsumsi makanan yang menyehatkan jantung seperti oatmeal, ikan salmon, buah berry, dan kacang-kacangan.
  • Mengonsumsi sayuran dan buah-buahan.
  • Menambahkan vitamin seperti potasium, magnesium, dan kalsium.
  • Meningkatkan aktivitas fisik.
  • Mengontrol stres.
  • Mempertahankan berat badan sedang.
  • Berhenti merokok.
  • Membatasi asupan alkohol.

Perlu diketahui juga, perawatan yang dilakukan bergantung pada kondisi seseorang saat menjalani perubahan gaya hidup. Dokter dapat mempertimbangkan untuk menggunakan perawatan tambahan, seperti meresepkan obat-obatan.

Baca Juga: Hipertensi (Tekanan Darah Tinggi): Penyebab, Gejala, Obat, dll

Pencegahan Prehipertensi

Berikut adalah berbagai langkah pencegahan yang bisa Anda lakukan, antara lain:

  • Kurangi asupan garam (natrium).
  • Menjaga berat badan yang sehat.
  • Berolahraga secara teratur.
  • Perbanyak makan buah dan sayuran sebagai bagian dari diet sehat.
  • Kurangi asupan lemak jenuh.
  • Kurangi asupan alkohol.
  • Berhenti merokok.

Penting diketahui, prehipertensi bisa berkembang menjadi hipertensi apabila tidak mendapatkan penanganan. Untuk mencegahnya, patuhi semua langkah-langkah pencegahan seperti di atas.

 

  1. Anonim. 7 Prehypertension Prevention Tips. https://www.healthxchange.sg/high-blood-pressure/prevention/pre-hypertension-prevention-tips. (Diakses pada 1 Desember 2022)
  2. Anonim. Prehypertension. https://www.baptisthealth.com/services/heart-care/conditions/prehypertension-and-lowering-your-blood-pressure. (Diakses pada 1 Desember 2022)
  3. Anonim. Prehypertension, what it causes and how to reverse it. https://www.qardio.com/healthy-heart-blog/prehypertension/. (Diakses pada 1 Desember 2022)
  4. Nunez, Kirsten. 2022. Prehypertension: Why It’s a Warning Sign Not to Ignore. https://www.healthline.com/health/high-blood-pressure-hypertension/prehypertension. (Diakses pada 1 Desember 2022)
  5. Sherrell, Zia. 2022. What is prehypertension?. https://www.medicalnewstoday.com/articles/pre-hypertension. (Diakses pada 1 Desember 2022)


DokterSehat | © 2023 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi